Khilaf Terindah

Khilaf Terindah
Felicia & Jane


__ADS_3

Happy Reading 😉


Jane menggeliatkan dan membuka matanya perlahan, wanita itu terbangun dari pingsannya yang lumayan cukup lama.


Masih berusaha menetralkan pandangannya dengan cahaya lampu yang masuk ke retina mata. Setelah bisa membuka mata dengan sempurna wanita itu merasa ada yang asing dengan kamarnya. Jane sedikit mengangkat tubuhnya untuk bangkit dan duduk bersandar si ranjang.


Lagi-lagi Jane merasa berbeda dengan tempat tidurnya, kasurnya sangat empuk dan lebih besar. Jane mengedarkannya pandangannya dan melihat bahwa kamarnya telah berubah.


Wanita itu mengerjabkan matanya berkali-kali, berusaha menetralkan pandangannya dan menatap sekeliling sekali lagi.


"Astaga, aku ada di mana?" seru Jane menyadari bahwa kini dia telah berada di sebuah kamar yang luas dengan interior yang luar biasa.


Ada ranjang untuk tidur keluarga pasien, ada beberapa sofa besar dan banyak di letakkan vas bunga di berbagai sudut, bahkan ada televisi besar di sudut ruang. Aromanya pun tercium begitu harum dengan wangi yang menenangkan.


Jane mencari putrinya yang ternyata sedang ketiduran di ranjang sebelahnya, tempat tidur khusus untuk keluarga pasien. Benar-benar berbeda dengan kamarnya yang dulu. Felicia sudah tidak perlu repot-repot tidur di lantai saat menjaga Ibunya.


"Feli, bangun, Nak! kenapa kita pindah ke tempat seperti ini?" seru Jane mencoba membangunkan putrinya.


Felicia yang mendengar namanya disebut perlahan membuka matanya.


"Kamar ini pasti sangat mahal, kan? kenapa kamu harus repot-repot untuk menyewanya! Tanya Jane kepada putrinya yang sudah duduk itu.


Sungguh Jane tidak pernah menyangka akan bisa masuk ke dalam kamar rawat VVIP di rumah sakit besar seperti ini. Biayanya pasti tidak murah.


Felicia bangkit dan berjalan mendekat ke arah ranjang ibunya, dia merasa sangat bahagia melihat ibunya yang sudah siuman.


"Akhirnya ibu sadar, Feli bahagia sekali, bu,"


ucap Felicia tidak menjawab pertanyaan dari sang ibu


Jane masih bingung dengan situasi yang terjadi. "Jawab pertanyaan ibu, Feli!"

__ADS_1


Felicia tersenyum lebar memperlihatkan gigi putihnya. "Tenang Bu, jangan panik, yang penting Ibu bisa pindah di kamar yang lebih bagus dan ibu juga senang." Jawab Feli tersenyum. Berbeda dengan Jane yang merasa sangat khawatir.


"Nak, kamu tidak perlu mengeluarkan uang sebanyak itu untuk ibu, kamar yang kemarin sudah jauh lebih baik," ujar Jane.


Felicia memegang tangan ibunya dan menciumi punggung tangannya dengan hormat.


"Ibu tidak perlu khawatir, uang Feli masih utuh kok,, Semua ini bukan Feli yang membayar, tapi calon menantu ibu yang telah menyiapkan semuanya," Jawab Felicia masih tersenyum lebar.


Jane terlihat sangat bingung, apa maksud dari Felicia mengatakan calon menantu?


"Feli, apa yang kamu katakan? Calon menantu apa? Jangan-jangan kamu hanya di tipu orang, atau dia hanya memanfaatkan mu saja, ibu tidak ingin kamu terjebak seperti ibu, nak!" Seru Jane.


Felicia mengerti ketakutan dan trauma yang di alami oleh ibunya. Sepertinya dia harus menelepon Morgan kembali menyuruh pria itu sendiri yang menjelaskan agar membuat ibunya percaya bahwa dia tidak sedang di tipu ataupun di manfaatkan. Karena sejatinya Felicia lah yang memanfaatkan Morgan.


Felicia mengambil ponsel dan membuka layarnya, sebenarnya ia masih sedikit marah dengan pria itu, tapi mau tidak mau Felicia harus menurunkan egonya demi sang ibu agar tidak khawatir, Felicia kemudian memencet nomer Morgan dan meneleponnya.


"Halo, tuan Fernando Alvares? apa saya mengganggu waktu anda?"


"Tolong jelaskan pada calon ibu mertua anda ini yang sejelas-jelasnya bahwa anda yang telah membantu ku, sehingga ibuku bisa menggunakan semua fasilitas di rumah sakit ini, dan kita juga akan menikah, masa ibu ku mengira kalau kamu ini tukang pembohong, kan aku gak terima?" Ucap Felicia.


Diseberang telepon Morgan mengernyit mendengar ucapan Felicia yang tidak memakai bahasa formal. Tapi tentu saja dia langsung paham akan maksud dari wanita itu.


"Baiklah, apakah ibu ada di sana? tolong berikan teleponnya pada ibumu," ucap Morgan.


Felicia menatap ibunya yang hanya memberikan tatapan datarnya.


"Ibu, calon menantu mu ingin bicara," Felicia langsung memberikan teleponnya kepada sang ibu. Jane menerima telepon itu dan langsung mendekat kan ponsel Felicia ke telinganya.


"Halo." Sapa Jane.


"Halo bu, saya adalah Fernando Alvares, apakah ibu tidak percaya kalau saya yang telah memindahkan anda di kamar kelas VVIP.

__ADS_1


"Siapa kamu?" tanya Jane.


"Saya adalah calon menantu ibu, sebenarnya saya melakukan semua ini bukan karena ingin memanfaatkan Felicia ataupun membohongi nya, tetapi saya telah berhutang budi pada Feli karena ia telah menyelamatkan saya, dan demi membalaskan budi, mau tidak mau saya harus menikahi putri anda."


'Jangan bicara kebablasan, donk, takutnya kamu ceritakan waktu malam itu,' batin Felicia.


Jane masih menyimak penjelasan dari Morgan sambil menatap ke arah putrinya itu. Sedangkan Felicia tersenyum penuh kemenangan.


"Jadi ibu tenang saja, tidak usah meragukan Felicia, karena saya sudah bertanggung jawab penuh untuk seluruh biaya pengobatan ibu, jadi mulai sekarang berfokus lah untuk kesembuhan anda, agar bisa segera menyaksikan pernikahan kami."


"Terima kasih nak, anda begitu baik terhadap kami, entah bagaimana saya bisa membalas budi pada anda."


"Ibu tidak perlu memikirkan hal itu, pokoknya sekarang ibu hanya boleh memikirkan untuk kesembuhan ibu saja, Felicia dan saya sangat menanti kesembuhan ibu." Ucap Morgan.


"Sekali lagi terima kasih, sepertinya anda ini adalah pria yang sangat baik sekali, sepertinya Felicia bertemu dengan pria yang tepat."


"Ya, tapi sebenarnya Feli yang memaksa saya untuk menikahinya bu," ucap Morgan jujur.


Jane langsung menatap tajam ke arah Feli setelah mendengarkan ucapan Morgan.


"Benarkah nak Fernando, Feli yang memaksa anda?? sepertinya anak itu harus di beri pelajaran." Ucap Jane merasa tak enak hati.


Jane langsung menatap tajam ke arah putrinya. Menurutnya Felicia tidak perlu meminta seorang pria untuk menikahinya dengan cara seperti itu.


Felicia menelan saliva ketika melihat tatapan ibunya yang seperti ingin menelannya hidup-hidup.


"Ibu, kenapa?"


Bersambung.


Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya akak reader semuanya 🥰

__ADS_1


__ADS_2