
Happy Reading 😊
Felicia mengingat dulu ibunya audah putus asa karena sakitnya itu yang semakin hari semakin parah, kondisi gagal ginjal yang di alaminya sudah sangat lemah, sampai memutuskan untuk pergi dari rumah sakit karena biaya pengobatan yang semakin besar.
Hanya berpangku pada sang putri untuk biaya pengobatan karena Jane sudah tidak memiliki keluarga yang mau membantunya. Tetapi Felicia selalu memberi semangat pada Ibunya, dan berjanji akan terus mencari biaya untuk pengobatan sang Ibu.
Felicia masih terus berusaha mencari ibunya, dia berjalan ke arah kamar mandi dan menghela nafas lega ketika terdengar ada suara gemericik air dari dalam.
Ternyata apa yang di takutkan tidak terjadi. Sepertinya sang ibu sedang membersihkan diri. Felicia sungguh merasa takut kalau ibunya pergi dari rumah sakit seperti keinginannya yang sebelum-sebelumnya.
Felicia berjalan ke arah ranjang dan meletakkan bekal makanan di tangannya di meja samping tempat tidur, kemudian ia berjalan ke arah pintu kamar mandi sambil tersenyum.
Tok, tok, tok!
"Bu, apa ibu sedang mandi?" Teriak Felicia dari luar pintu.
"Tidak sayang, ibu hanya mencuci muka, masuklah." Jawab Jane.
Felicia membuka pintu kamar mandi, dan melihat apa yang di lakukan ibunya membuat Felicia langsung tercengang.
"Ibu? Apa yang ibu lakukan?" Felicia melihat Ibunya sedang merapikan rambut, dan memakai riasan tipis di wajahnya.
"Kenapa ibu berdandan seperti ini?" Lanjut Felicia memandang penampilan ibunya dari atas sampai ke bawah. Tidak seperti biasanya yang hanya berpenampilan biasa. Felicia tidak mengerti kenapa ibunya semangat seperti ini.
Jane mencuci tangannya di wastafel, kemudian menoleh dan menatap putrinya sambil tersenyum.
"Ibu ingin pergi berbelanja hari ini, kamu mau nemenin ibu kan?" Ucap Jane tersenyum lebar.
Felicia terkejut mendengar ucapan ibunya, kenapa tiba-tiba saja ibunya ingin berbelanja, apalagi penampilan nya sekarang sungguh sangat cantik. Memang wajah Jane masih terlihat cantik walaupun sudah tidak muda lagi.
__ADS_1
Mungkin itulah dulu yang menjadikan Ayahnya tergoda dengan sang ibu yang memiliki wajah cantik alami, banyak pria yang mendekati ibunya tapi ia tidak mau mengenal pria lagi di dalam hidupnya. Trauma luar biasa saat di bohongi oleh Ayahnya membuat ibu Felicia menutup diri.
"Feli, kamu mau, kan? ibu ingin jalan-jalan hari ini, menghirup udara segar di luar, sudah lama sekali ibu tidak pergi berbelanja." Ucap Jane menatap Felicia lekat.
'Apa ibu tahu kalau hari ini aku gajian, hingga mengajakku untuk pergi berbelanja?' Batin Felicia.
Gadis itu merasa ada yang aneh tiba-tiba melihat ibunya yang berdandan tidak seperti biasanya.
"Bagaimana ibu bisa tahu bahwa hari ini aku gajian?" tanya Felicia. Jane menoleh. "Apakah hari ini kamu gajian?" Jane balik bertanya heran.
Jujur ia tidak tahu kalau putrinya itu sudah gajian.
Felicia mengambil dompet di dalam tasnya, kemudian mengeluarkan beberapa lembar uang dan dengan bangga memamerkan gajinya kepada sang ibu.
Bulan ini Felicia memperoleh gaji yang cukup besar karena mendapat bonus dari pekerjaannya yang telah berhasil mengatasi masalah dengan cukup baik.
Jane membelalakkan matanya melihat uang yang begitu banyak di tangan Felicia.
"Feli mendapatkan bonus, Bu. Karena berhasil mengamankan beberapa mafia yang akan bertindak rusuh di tempat kerja dengan membuat keonaran. Feli juga mendapat banyak bonus dari si Bos. Bos baik banget pokoknya!" seru Felicia dengan wajah sumringah.
Jane menatap putrinya dengan tatapan sedih dan khawatir. Felicia sudah banyak mengalami hal-hal yang tidak baik sejak kecil. Apalagi setelah bekerja dan menjadi tulang punggung keluarganya, sejak Jane sakit, putrinya itu harus bekerja keras membanting tulang untuk membiayainya.
"Sayang, sebaiknya kamu berhenti dari pekerjaanmu itu, meskipun gajinya tinggi, tapi pekerjaan itu sangat berbahaya dan tidak cocok untuk anak gadis sepertimu." Ucap Jane menatap putrinya dengan tatapan khawatir.
Felicia tidak terkejut dengan ucapan Ibunya. Sudah sering Jane menyuruh Felicia berhenti sari pekerjaannya itu dan mencari pekerjaan lain yang lebih aman. Tapi bagi Felicia hanya pekerjaan itu yang mampu membayarnya dengan gaji yang besar. Felicia juga sudah cocok bekerja di sana.
"Tapi bu, Feli sudah nyaman bekerja di sana. Pekerjaan Feli hanya mengandalkan kekuatan, dan Feli gak bisa dapetin kerjaan yang sama dengan jati diri Feli di tempat lain."
"Tapi di sana juga banyak pria hidung belang yang mencari mangsa, kamu itu perempuan, Nak. Ibu takut akan terjadi apa-apa dengan mu," lirih Jane menatap putrinya tidak tega.
__ADS_1
Ibu mana yang ingin anak-anaknya menjadi wanita tidak jelas yang nantinya akan membuat hidupnya menderita. Seperti dirinya yang sampai sekarang masih sering di hina sebagai pelakor dan wanita penggoda. Padahal Jane bukan wanita seperti itu. Pria itulah yang awalnya merayu dan menggoda Felicia.
"Bu, jangan takut kalau Feli akan terjerumus ke jalan yang salah, meskipun Feli bekerja di Bar, Feli tidak akan tergoda dengan para pria hidung belang, dan Feli mempunyai pengawal yang akan menjaga sewaktu bekerja. Bos juga sangat menghargai Feli," jawab Felicia menjelaskan.
"Tapi Ibu tetap tidak setuju kalau kamu bekerja di tempat itu, Nak, besok Morgan akan merawat mu dan juga menjagamu, memberimu uang yang cukup dan kamu tidak perlu bekerja keras lagi untuk mencari uang dan dapat meneruskan kuliahmu," ucap Jane.
Felicia mengerutkan keningnya mendengar nama seorang pria yang di sebutkan oleh sang Ibu. Gadis itu tidak mengerti siapa yang dibicarakan oleh Ibunya itu.
"Hari ini Morgan datang menjenguk Ibu dan membelikan banyak hadiah," lanjut Jane menceritakan Morgan di mana Felicia masih bingung dengan nama itu. Sejak tadi Ibunya hanya mengatakan Morgan dan Morgan.
"Bu, siapa yang ibu bicarakan? Morgan itu siapa?" tanya Felicia bingung, karena dia memang tidak tahu mana panggilan dari Morgan.
Setahu Felicia nama CEO Sky Alvares Group adalah Fernando Alvares.
Jane memelototi putrinya ketika mendengar pertanyaan Felicia. "Apa kamu tidak tahu siapa nama tunangan mu, Feli?" tanya Jane bersedekap dada.
'Tunangan? apa? tunangan yang di maksud Ibu adalah Fernando Alvares?'
Felicia baru mengerti bahwa sang ibu sedang bercerita tentang pria yang telah merenggut keperawanannya, serta pria yang sok berkuasanya itu.
"Oh, Tuan Fernando Alvares? maksudku Morgan Fernando Alvares?" Felicia yang langsung mendapatkan tepukan di jidatnya.
Memang benar nama kebesaran Morgan adalah Fernando Alvares sedangkan panggilan Morgan sendiri di pakai oleh orang terdekat untuk memanggilnya.
"Memangnya siapa lagi tunangan kamu kalau bukan Morgan Fernando Alvares." Ucap Jane. Felicia meringis sambil mengelus jidatnya.
'Kapan tuan Morgan Fernando Alvares datang menjenguk ibu, dan apa yang telah di katakan olehnya kepada Ibu, mengapa Ibu begitu berbeda dari sebelumnya.'
Jane berpikir dia harus mencari Morgan untuk bertanya tentang kedatangan nya di rumah sakit.
__ADS_1
Bersambung.