
Happy Reading 😊
Sebulan kemudian.
Usia kandungan Felicia sudah memasuki trimester kedua. Rasa mual dan muntah sudah tidak begitu terasa. Malah sekarang Felicia semakin doyan makan. Apa-apa maunya di makan, seperti ice cream, salad dan sosis bakar yang dulunya sangat dia hindari.
Kemarin siang, baru habis makan satu piring spaghetti bolognese, selang beberapa menit dia sudah meminta pie buah yang di bikin di samping kolam renang.
Morgan benar-benar merasa istrinya ini begitu ajaib. Padahal sebelumnya dia begitu kesusahan membujuk Felicia untuk makan, tapi akhir-akhir nafsu makan sang istri meningkat drastis.
Seperti saat ini, Morgan baru saja pulang dari kantor dan melihat istrinya sedang makan cemilan satu toples kentang goreng rasa rumput laut sambil menonton film kesukaannya.
"Sayang, kamu sudah pulang?" tanya Felicia ketika melihat Morgan duduk di sampingnya sambil melepaskan dasi di kerah kemejanya.
"Aku tidak ada lembur, sayang," jawab Morgan menarik sang istri mendekat. Mencium pipi dan menghisap bibirnya sebentar.
"Sayang, bibirmu asin," ucap Morgan membuat Felicia tertawa.
"Aku kan baru saja makan kentang goreng, sayang," jawab Felicia.
Sepertinya mereka sudah semakin terbiasa memanggil sayang satu sama lain, dan hal itu membuat Morgan semakin menyukainya.
"Aku ada sesuatu untukmu," Morgan menyodorkan amplop putih ke arah Felicia.
"Apa ini?" tanya Felicia menatap Morgan.
"Buka dan bacalah, kamu pasti akan tahu," jawab Morgan.
Felicia membuka amplop putih itu dan menarik isinya, membaca sambil mengerutkan dahinya. "Tiket liburan ke Maldives?" ucap Felicia masih belum bisa mencerna.
"Iya, sayang, lusa kita akan bulan madu ke sana," jawab Morgan tersenyum.
__ADS_1
Felicia menatap Morgan dengan mengerjabkan matanya. Masih tidak percaya dengan apa yang dia dengar.
"Bulan madu? Lusa? Ke Maldives?" tanya Felicia melebarkan kedua matanya.
Morgan menahan tawa saat melihat ekspresi sang istri yang terlihat sangat menggemaskan.
" Iya, sayang, apa kamu menginginkan pergi ke tempat lain? Seperti Eropa atau Bali?" Felicia merasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh suaminya.
Bisa pergi ke luar negeri saja sama sekali tidak pernah ada dalam angan-angan nya, apalagi ini harus pergi sejauh itu, ke tempat yang sangat indah.
Siapa yang tidak kenal dengan Maldives, surga dunia tempatnya para pasangan yang ingin berbulan madu.
Sudah tidak di ragukan lagi bagaimana keindahan Maldives, yang pernah Felicia lihat lewat ponselnya. Tetapi sekarang ada dua tiket liburan ke Negara di Asia tenggara itu.
"Bagaimana, sayang? Apa kamu tidak suka? Atau kita ke Korea atau Rusia? Kemanapun kamu inginkan, aku pasti menurut," ucap Morgan saat melihat Felicia hanya diam saja.
"Tidak, eh maksudku iya, aku mau ke Maldives untuk bulan madu, setelah itu aku juga mau keliling Eropa, ke Bali juga, tapi aku tidak mau nanti uangmu habis, jadi kita ke Maldives saja," ucap Felicia antusias.
Ah, Felicia lupa bahwa suaminya ini adalah seorang konglomerat, yang hartanya tidak akan habis sampai 7 turunan.
"Apakah kalau aku meminta ini dan itu padamu, kamu masih menganggap ku cewek matre?" tanya Felicia.
Morgan sedikit terkejut dengan ucapan istrinya. Ya, dulu dia memang selalu berpikiran bahwa Felicia adalah cewek matre dan sama saja dengan wanita lainnya.
"Ehemm,, kalau kamu matre padaku tidak masalah, kamu tahu apa yang menjadi keinginan ku sekarang?" tanya Morgan.
Felicia menggeleng pelan. "Tentu saja aku tidak tahu, aku kan bukan paranormal," ucap Felicia mengerucutkan bibirnya.
"Saat ini yang aku pikirkan yaitu bagaimana memberikan mu segala kemewahan yang ku punya, aku ingin kamu dan anak-anak kita nanti menikmati kekayaanku ini, jadi biarkan aku memanjakan mu dengan segala bentuk perhatian dan kemewahan harta kekayaan Alvares," jawab Morgan.
"Tidak, aku tidak menginginkan semua itu, aku bahkan bingung harus memakai sepatu yang mana saat harus pergi bersamamu, sepertinya lemari sepatu itu sudah seperti penjual sepatu di Mall, banyak banget, aku kan gak bisa memakai semuanya, kasian kan yang lain, bagus dan mahal tapi tidak pernah di pakai, mending uang nya buat nyumbang di panti asuhan atau untuk orang yang kurang mampu," ucap Felicia.
__ADS_1
Morgan tersenyum mendengar ucapan istrinya, ternyata Felicia bukan hanya baik tetapi dia memang benar-benar orang yang dermawan.
"Kalau masalah itu aku setiap bulan sudah menyiapkan seperempat gaji ku untuk yayasan anak-anak yatim, jadi semuanya sudah aku bagi rata," jawab Morgan.
"Benarkah? wah,, ternyata suamiku ini benar-benar orang baik, kalau begitu aku mau siap-siap dulu," ucap Felicia berdiri dari duduknya.
"Bersiap-siap kemana, sayang?" tanya Morgan.
"Tentu saja berkemas, katanya lusa mau bulan madu ke Maldives? apa kamu cuma nge prank aku?" Morgan berdiri dan merangkul bahu Felicia.
"Tentu saja ini bukan bohongan, ya sudah aku juga mau mandi, apa kamu tidak menyiapkan air hangat untuk suamimu ini?"
"Eh, iya-iya, aku akan siapkan dulu, sebentar, ya?" Felicia berjalan dengan tergesa masuk ke dalam kamarnya untuk menyiapkan air hangat.
####
Felix menatap Morgan dan Felicia dengan tatapan tajam. Mereka baru saja turun dari dalam mobil dan akan segera menuju ke pesawat pribadi yang akan membawa mereka ke Maldives.
"Kenapa paman menatap kami seperti itu?" tanya Morgan.
"Aku ingin menuntut pada istrimu itu!" seru Felix mengeraskan rahangnya. Mengingat perlakuan Felicia yang kedua kalinya membuat Felix harus masuk rumah sakit kembali.
Felicia bersedekap dada. "Paman? apa yang ingin kamu tuntut? oh, apakah paman ingin aku benar-benar membuat burung mu itu tidur selamanya?"
Felix langsung menutup area sensitifnya ketika mendengar ancaman Felicia yang tidak tanggung-tanggung.
"Morgan! beri aku 20% saham milik ayahku kalau kamu tidak ingin aku menuntut istrimu!!"
Bersambung.
Maaf baru bisa update 🙏🤧
__ADS_1