Khilaf Terindah

Khilaf Terindah
Rasa Yang Tidak Bisa Di Kontrol


__ADS_3

Happy Reading 😊


Plak!


Sebuah tamparan keras mengenai pipi kiri Morgan, dan yah, bisa di pastikan itu pasti sangat sakit, bahkan pipinya langsung memerah karena tamparan itu.


Morgan tidak bisa marah, pria itu hanya memegang pipinya yang memanas akibat perbuatan dari seorang wanita yang sangat dicintainya.


Morgan tahu bahwa akibat dari perbuatannya membuat orang-orang terdekatnya sangat kecewa.


"Kamu menghamilinya, Morgan!!" seru wanita itu dengan menarik kerah baju Morgan, seakan mengeluarkan segala kekesalannya.


"Ya, aku yang melakukannya, maaf!" jawab Morgan menunduk.


Morgan tahu bahwa dia telah Khilaf, melakukan hal itu terhadap anak gadis yang saat ini terbaring lemah di dalam kamarnya. Siapa lagi kalau bukan Felicia.


"Kenapa kamu tega menghamilinya, bagaimana kalau keluarganya tahu bahwa seorang Morgan Fernando Alvares telah menodai anak gadisnya hingga hamil!" seru Regina yang benar-benar merasa geram terhadap putra tunggalnya itu.


"Ma, cukup, turunkan emosimu, kalau Mama marah-marah terus, nanti kerutan di bawah mata Mama akan bertambah," Regina langsung menoleh ke arah suaminya dengan tatapan tajam.


Aland yang melihat itu langsung menelan salivanya, takut kalau sang istri marah hanya karena dia mengatakan hal yang sangat konyol. Tentu saja Regina tidak memiliki satu kerutan pun di wajahnya, kulit Regina masih begitu kencang, bahkan kecantikan nya tidak pernah pudar sedikitpun, itulah kenapa alasan Aland yang kadang tidak suka sang istri keluar rumah atau ikut ke acara-acara resmi perusahaan.


Aland tidak mau kecantikan Regina di nikmati oleh pria lain, dan maka dari itu Aland memutuskan untuk memberikan posisi CEO untuk putranya itu, menggantikan dirinya.


"Oh, jadi Mama makin tua dan jelek kalau marah-marah!" Regina menghirup napas dalam-dalam. "Mama tidak Marah, Mama hanya kesal dengan tingkah putramu itu!" tunjuk Regina pada Morgan.


Aland menatap Morgan dan menggelengkan kepalanya. Sedangkan Morgan masih diam tanpa ingin memberikan penjelasan pada sang Mama mengenai kejadian di mana dia berhasil menabur benih ke dalam rahim Felicia.


Saat itu Morgan ingat dengan betul bahwa dia tidak memakai pengaman, dan ternyata rahim Felicia sangat subur, hingga benih itu tumbuh menjadi calon bayi sekarang.

__ADS_1


"Kalau kamu mencintai Felicia, tidak perlu melakukan hal ini, sayang. Bicara baik-baik pada kami, pasti semuanya bisa mengerti, kenapa juga mesti membuat Felicia hamil," ucap Regina sudah merasa pusing.


Tidak menyangka bahwa putranya tega melakukan hal nekat seperti itu. Morgan menghela napas, ternyata Mamanya marah karena merasa dirinya sangat pengecut dan tidak memberitahu soal kedekatannya dengan Felicia.


Sungguh semuanya menjadi semakin rumit, tetapi tidak apa bagi Morgan, lagi pula mereka juga akan segera menikah.


"Mama malu kalau sampai memiliki seorang putra yang tidak berani seperti itu, kenapa kamu tidak memperkenalkan Felicia sebelumnya, Mama kira kamu masih mencintai Katrina!"


Morgan akan membuka mulutnya tetapi tidak jadi karena melihat pergerakan dari Felicia.


Perlahan mata Felicia mengerjab dan hal itu di saksikan oleh Regina dan Morgan. "Nak, kamu sudah bangun?" Regina duduk di samping ranjang dan tersenyum menatap Felicia.


Felicia sedikit mengingat dengan kejadian sebelumnya, kenapa ia bisa terbaring seperti ini.


Yah, tadi setelah melihat perdebatan antara Morgan dan Felix, tiba-tiba Felicia langsung merasa pusing dan pingsan.


Terlihat kakek Edward dan Morgan sangat khawatir saat melihat Felicia yang tiba-tiba jatuh tepat di depan Morgan. Untung saja Morgan sigap menangkap tubuh Felicia.


Morgan langsung menggendong Felicia menuju lantai atas dan membawanya ke dalam kamar pribadinya.


"Panggilkan dokter!" seru kakek Edward pada para pengawalnya.


Felix hanya menanggapi cuek ke arah Felicia dan Morgan. Dia bukan pria yang ingin sok ikut campur urusan keponakannya itu, tetapi hanya di depan saja. Kalau di belakang Morgan, Felix sebenarnya selalu mencari cara agar bisa menjatuhkan Morgan.


Flashback off.


Kembali saat sekarang.


Felicia melihat Morgan yang sedang menatapnya penuh kekhawatiran. Tetapi tiba-tiba dia teringat kata-kata yang terakhir di ucapkan oleh wanita cantik yang memperkenalkan dirinya sebagai Mama dari Morgan.

__ADS_1


Mama kira kamu masih mencintai Katrina!


Itulah kata-kata yang Felicia dengar, entah kenapa ada rasa tidak suka saat ia mendengar hal itu.


"Sayang, maafkan putra Tante, ya? dia pasti akan bertanggung jawab, jadi kalian berencana menikah secepatnya karena kamu sudah hamil?" Felicia membelalakkan matanya.


"Ha_hamil?" ucap Felicia dengan jantung yang berdegup kencang.


"Iya, sayang, selamat ya? nanti acara pernikahan nya akan tante urus, kamu pasti kelelahan, kan? apalagi di usia kandungan mu yang masih sangat rawan, tante ingin menemui orang tuamu dulu, agar kita bisa membicarakan konsep pernikahan kalian," ucap Regina.


Dia merasa senang akhirnya putranya itu akan menikah, hal yang selama ini di takutkan tidaklah terjadi, yaitu hubungan nya dengan Katrina yang benar-benar sudah kandas.


Felicia menoleh ke arah Morgan yang sedari tadi hanya diam saja tanpa berucap apapun. Sebenarnya Morgan masih sedikit shock mendengar kabar kehamilan Felicia, entah kenapa dia merasakan sebuah perasaan yang tidak bisa ia kontrol menyeruak di dalam hatinya.


'Aku akan menjadi seorang Ayah?' batin Morgan sedikit menarik ke-dua sudut bibirnya.


Berbeda dengan Felicia, yang merasa kediaman Morgan karena mungkin pria itu telah kecewa karena harus memiliki anak dari wanita yang tidak di cintainya.


'Pantas saja dia melarang ku untuk jatuh cinta padanya, ternyata dia masih memiliki perasaan pada wanita itu, Katrina,'


Bersambung.


Siapa sih Katrina? anaknya siapa ya? dan ada apa dengan masa lalu Morgan dan Katrina, sehingga semua orang mengatakan bahwa mereka saling mencintai 😁


Tunggu di next episode 🥰🥰


Mohon tinggalkan jejak ya😁


like komen kasih bunga juga boleh 🥰

__ADS_1


__ADS_2