
Happy Reading ☺️
Jane menutup teleponnya setelah mendengar ucapan Morgan bahwa putrinya itu memaksa Morgan untuk menikahinya. Wanita paruh baya itu merasa malu karena merasa tidak bisa mendidik Felicia dengan baik. Kenapa harus memaksa seorang pria kalau dia bisa mendapatkan pria dengan mudah! kali ini Jane akan memarahi putrinya karena bertingkat sangat memalukan.
Jane memanggil putrinya dengan lambaian tangan. Felicia menatap sang ibu yang menyuruhnya mendekat lewat gerakan tangannya itu. Akhirnya gadis itu berjalan mendekati sang ibu yang wajahnya tampak tidak bersahabat.
"Aduh, ibu sakit, kenapa memukuli Feli!" Seru Felicia tiba-tiba saat Jane memukuli lengan putrinya itu.
"Kenapa kamu mempermalukan ibu dengan cara memaksa orang untuk menikahi mu? Memangnya kamu tidak laku? Apa sudah hilang harga dirimu sebagai seorang perempuan? Hah!" Seru Jane masih memukuli putrinya.
Felicia melotot sempurna ketika mendengar ucapan ibunya. Dia tidak menyangka Morgan akan mengatakan hal yang sebenarnya.
'Dasar pria gila!!' Jerit Felicia dalam hati.
"Bu, dengarkan Feli dulu, jangan main hakim sendiri donk!" seru Felicia menyuruh ibunya berhenti.
Tetapi karena masih kesal, Jane melampiaskan dengan masih memukul lengan yang putrinya. Meskipun pukulan itu tidak terlalu keras tapi lama kelamaan tangan Jane menjadi sedikit kebas dan sakit.
Sedangkan di sisi lain, Morgan merasa senang bahwa dia akhirnya bisa membalas dendam pada Felicia karena telah mengatainya jelek dan tua dengan mengatakan bahwa Felicia memaksanya untuk menikahinya. Padahal sejak awal memang Morgan berniat untuk bertanggung jawab dengan Felicia karena telah merenggut keperawanannya.
Morgan tersenyum sendiri di kursi kebesarannya dengan membayangkan hukuman untuk Felicia dari ibunya.
"Siapa suruh berani mengatai seorang Morgan Fernando Alvares, bilang aku jelek dan tua? hah! belum tahu saja dia siapa aku dan betapa tampannya diriku, padahal saat di bawah kukungan ku dia hanya pasrah saja sambil mendesah," gumam Morgan masih dengan smirk di wajahnya mengingat saat malam panas bersama Felicia. Sejak awal Morgan sadar bahwa sebenarnya dialah orang yang pertama untuk Felicia karena saat menembus pertahanan milik wanita cantik itu masih terhalang dinding pertahanan yang masih kokoh belum pernah dimasuki oleh benda apapun.
Apalagi melihat bercak darah di sprei itu benar-benar membuktikan bahwa Felicia masih virgin alisa masih perawan.
Tapi ternyata gadis itu sangat keras keras kepala, membuat Morgan menjadi sangat kesal. Apalagi Felicia berani mengatainya tua dan jelek. Belum tahu saja aslinya Morgan Fernando Alvares itu seperti apa. Kamu tidak bisa melawanku, Felicia. Batin Morgan.
__ADS_1
Tentu saja membalas gadis itu adalah hal yang menyenangkan untuk Morgan dan akan membuat Felicia terkena hukuman tanpa dia ikut menyentuh Felicia.
Di rumah sakit.
"Ibu, dengarkan penjelasan Feli terlebih dahulu, jangan main pukul seperti ini!" Seru Felicia menghindar dari kemarahan ibunya. Dia pun berlari ke belakang sofa menghindar dari pukulan ibunya.
"Sebenarnya tuan Fernando Alvares sendiri yang mengatakan pada Feli, bahwa dia mau bertanggung jawab dengan apa yang telah di perbuatannya, jadi Feli hanya menagih janjinya saja, bu!" jelas Felicia.
Jane yang mendengar kata bertanggung jawab langsung menghentikan pukulannya. Memandang sang putri dengan tatapan yang aneh.
Dia teringat bahwa ayah Felicia dulu juga berjanji dengan cara yang sama sebelumnya, entah kenapa bayang-bayang masa lalunya tiba-tiba terlintas di pikiran Jane. Masa lalu yang membuat hidup Jane hancur dan berantakan.
Jane merasa kepalanya mulai pusing karena memikirkan hal-hal yang selalu membuatnya sedih, seakan menggores luka lama yang tidak akan pernah kering. Jane memegang kepalanya. "Aarrggkk!!"
"Ibu..!" teriak Felicia.
Felicia yang melihat ibunya kembali tertekan menjadi tidak tega dan membuatnya mengurungkan niat untuk menjelaskan kepada ibunya tentang masalah apa yang membuatnya harus menerima ajakan menikah dengan Fernando Alvares. Felicia ingat kata-kata dokter untuk tidak membuat ibunya drop lagi. Dan hal itu harus di hindari Felicia saat ini, dia tidak ingin melihat sang ibu kesakitan lagi hanya karena dirinya.
Akhirnya Felicia memutuskan untuk keluar dari ruang rawat itu. Felicia melewati lobi dan menyapa perawat dan beberapa pengawal lalu kemudian pergi dari rumah sakit.
Felicia melihat pergelangan jam di tangannya, dia memutuskan untuk pergi bekerja.
Felicia bekerja sebagai pengawal di sebuah bar, dengan kepiawaian berbela diri karena memang Felicia sudah belajar jurus sejak masih kecil untuk melindungi dirinya dan juga ibunya. Dia pun di terima bekerja sebagai pengawal di bar dengan gaji yang lumayan besar. Tetapi pekerjaannya terkadang membawa dirinya dalam berbagai hal yang sedikit berbahaya.
Pulang larut malam sudah hal biasa dan karena itu juga dia bisa menyelamatkan Morgan Fernando Alvares malam itu karena saat itu kebetulan dia habis pulang kerja dan lewat sana.
Felicia sudah sampai di bar, ada beberapa orang yang menyapanya dan gadis itu membalasnya dengan senyuman. Felicia masuk ke dalam toilet untuk berganti pakaian dan sengaja merias dirinya menjadi jelek.
__ADS_1
Hal itu memang sudah sejak awal dia lakukan agar menghindari tatapan mata genit dari para pria hidung belang yang datang di bar itu. Setelah semua siap gadis itu pergi keluar dari dalam toilet dan melihat kondisi.
Felicia berkeliling bar untuk berpatroli, itu juga adalah pekerjaannya. Menjadi mata-mata dan mengamankan tempat.
Tiba-tiba matanya memicing, melihat seseorang yang sangat dia kenal.
Ya, pria itu adalah Fernando Alvares, Felicia melihat Morgan masuk ke dalam salah satu ruangan di bar itu. Felicia tersenyum penuh arti. Dia memikirkan kesempatan untuk membalas dendam pada Morgan karena telah membuatnya di pukuli ibunya.
Felicia ingat malam itu, saat sebelum pulang bekerja, dia melihat Morgan dan beberapa orang berada di bar itu termasuk dengan beberapa perempuan di sana, dan sebenarnya Felicia melihat salah satu dari mereka memasukkan sebuah obat ke dalam minuman Morgan pada saat Morgan tidak mengetahuinya.
Ya, orang seperti Morgan memang biasa menjadi sasaran musuh untuk bisa membuatnya menjadi hancur dengan cara apapun, sehingga malam itu Felicia bersedia membantu Morgan.
Akhirnya Felicia meminta bawahannya untuk memperhatikan ruangan Morgan.
"Jika ada gerakan di ruangan itu, maka segera laporkan padaku. Kalian mengerti?" Ucap Felicia.
"Siap, kami mengerti bos!" Felicia tersenyum dan menyuruh anak buahnya pergi.
Tidak lama kemudian, bawahannya tiba-tiba melaporkan terjadi masalah disebuah ruangan lain.
"Bos ada masalah!"
"Apa yang terjadi?" Seru Felicia.
"Sebaiknya bos periksa sendiri ke dalam ruangan itu." tunjuk pengawal di salah satu ruangan.
Bersambung.
__ADS_1
Mana nih bunganya untuk Felicia eh othor maksudnya 😁🌹