
Happy Reading 😊
Alice menoleh setelah mendengar sebuah suara bariton tegas yang datang dari arah belakang. Sedangkan Jane memandang Morgan dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Dasar pengganggu!" Gerutu Alice dalam hati.
Ketika Alice menoleh dengan memasang raut wajah yang sangat tidak enak di pandang dan melihat Morgan dengan tatapan yang tidak ramah, tiba-tiba dia pun tertegun. Memandang seorang pria yang sangat tampan di hadapannya. Mulutnya sampai melongo membentuk huruf O, tapi sesaat kemudian dia sadar dan menormalkan ekspresi wajahnya. Alice menatap kagum pada Morgan, apalagi melihat penampilan Morgan yang seperti bukan orang biasa.
Siapa pria ini? Penampilannya seperti pria kaya yang berkelas, tampan dan berwibawa, apakah dia dari kalangan orang atas. Batin Alice.
"Siapa kamu?" Tanya Alice memicingkan matanya. Bersikap tidak ramah kepada orang yang sudah mengganggunya.
Morgan memasukkan salah satu tangannya ke dalam saku dan berjalan mendekati Alice dengan sedikit angkuh. Matanya tajam memandang wanita itu.
"Aku adalah pria sial yang baru saja anda katakan, Nyonya," jawab Morgan dengan tenang dan datar. Ekspresi wajahnya terlihat begitu angkuh.
Alice dan Jane langsung tercengang mendengar jawaban dari pria asing itu. Apa mereka tidak salah dengar? Alice lebih terkejut ketika mengetahui bahwa pria tampan dan nampak seperti orang kaya itu adalah calon menantu Jane yang artinya dia adalah calon suami dari Felicia.
"Hahahaha, Tuan, anda jangan mengada-ada, tidak mungkinkan kalau anda yang telah membantu wanita sial ini bisa mendapatkan kamar kelas VVIP, kalau benar itu artinya anda adalah calon suami dari anak haram itu, eh maksudku Felicia," Morgan menatap wanita itu dengan tatapan tidak suka.
Meskipun dia tidak tahu ada masalah apa di masa lalu mereka tapi menurutnya menyebut nama orang dengan sebutan seperti itu sangat tidak bermoral dan Morgan sangat tidak menyukai orang yang seperti itu.
Sedangkan Alice masih menatap Morgan dengan tatapan yang sulit di artikan, bahkan dia masih belum percaya bahwa pria tampan ini adalah calon suami Felicia.
Apa yang di gunakan anak haram itu untuk menggoda pria tampan ini. Batin Alice.
Pikirannya pun menjadi mengada-ada, merasa bahwa Felicia bukanlah wanita yang spesial tetapi bisa mendapatkan pria seperti ini, pasti Felicia sudah menggodanya, mungkin dengan tubuhnya? apalagi yang di punya dari Felicia kalau bukan tubuh yang indah, karena semua orang yang melihat perawakannya Felicia tentu mereka langsung bisa melihat bahwa wanita itu memiliki bentuk tubuh yang proporsional.
__ADS_1
Sedangkan Jane menatap Morgan dengan tatapan takut dan was-was setelah mendengar pengakuan dari pria yang ada di hadapannya saat ini. Jane menatap Morgan dari atas hingga ke bawah. Dari penampilan Morgan sudah jelas dia memang dia berasal dari kalangan orang kaya. Mengingat orang kaya yang menyukai gadis miskin seperti putrinya, itu mengingatkan dia dengan masa lalunya. Jane takut kalau Morgan hanya menipu Felicia dengan rayuan mautnya. Melihat betapa angkuhnya pria itu pasti wataknya juga sangat keras.
Morgan menatap ke arah Jane dan berjalan mendekatinya, dia tahu kalau wanita yang baru saja di maki itu adalah ibunya Felicia dan dari tatapannya, Morgan bisa melihat kalau Ibu Felicia sedang mengatainya dalam hati. Yah, pria itu paham dengan situasi dan kondisinya karena mereka memang belum pernah bertemu sebelumnya. Morgan tersenyum kemudian memberi salam kepada Jaen
"Selamat pagi calon ibu mertua, bagaimana keadaan anda?" sapa Morgan ramah dan sopan pada Jane.
"Selamat pagi, ada keperluan apa anda ke sini?" Tanya Jane memicingkan matanya.
Entah kenapa perasaan Jane menjadi tidak menentu ketika melihat penampilan Morgan. Jane langsung ingat pada Felicia, apakah putrinya itu tidak salah memilih calon suami. Melihat penampilan Morgan yang tampak seperti bukan orang biasa, Jane menjadi was-was.
"Saya kesini khusus untuk mengunjungi anda, calon ibu mertua. Putri anda mengatakan bahwa ibunya sedang sakit, jadi saya menyempatkan diri untuk mengetahui keadaan anda." Jawab Morgan tersenyum ramah.
Senyum yang sangat jarang di perlihatkan oleh Morgan kepada orang lain, bahkan tidak sembarang orang yang bisa melihat senyumannya.
"Terima kasih." Jawab Jane.
"Felicia begitu menyayangi anda, saya merasa terharu dengan sikap Felicia yang tulus kepada ibunya," ucap Morgan.
Sepertinya pria ini orang yang baik dan sopan, mudah-mudahan Feli tidak salah memilih calon pendamping hidup. Batin Jane.
"Apakah Felicia sering menceritakan kondisi ku?" tanya Jane.
"Betul bu." Jawab Morgan sopan. Sepertinya Morgan harus bersipa
"Kalau begitu silahkan masuk nak, aku sangat senang dan merasa terharu kamu mau menjenguk ibu di rumah sakit." Ucap Jane tersenyum.
Sedangkan Alice menatap tidak suka ke arah Morgan. Wanita paruh baya itu berdecak seakan meremehkan Jane dan putrinya.
__ADS_1
"Hei, dasar wanita tidak tahu malu, berani sekali kamu memasukan seorang pria muda yang tidak di kenal ke dalam kamar rawat, atau jangan-jangan kalian akan melakukan sesuatu?" Seru Felicia menahan amarahnya.
Jane tidak memperdulikan.
"Ayo masuk, nak." Morgan mengangguk
"Ternyata dugaan ku benar, ya? berapa kamu hargai Felicia dengan servis nya?" Tanya Alice mengejek Morgan.
Jane menatap tajam istri sah dari Ayah putrinya itu. "Diam kamu, jangan pernah menghina putriku lagi!"
"Tapi memang putrimu pantas di hina, dia memang wanita penggoda seperti mu, lihatlah bahkan putrimu bisa menggoda pria ini, aku yakin Felicia memberikan tubuhnya sebagai jaminan." Ucap Alice.
Jane yang merasa sangat marah kepada Alice ingin sekali menjambak rambut wanita itu. Entah kenapa wanita itu masih suka sekali mengusik kehidupannya, padahal dia dan putrinya sudah lama pergi dari kehidupan suaminya itu.
"Tutup mulutmu! Sekali lagi kamu menghina putriku, aku tidak akan tinggal diam!"
Morgan yang melihat pertengkaran dua wanita paruh baya itu menjadi geram. Pria itu menatap tajam Alice dan langsung memerintahkan pengawalnya untuk mengusir Alice dari depan kamar rawat Jane.
"Cepat bawa wanita itu pergi dari sini!"
"Baik tuan Fernando Alvares." Jawab para pengawal.
Dengan sigap kedua pria berbadan kekar itu langsung menarik Alice untuk pergi dari tempat tersebut.
"Hei, lepaskan aku!! Kalian lihat saja nanti apa yang akan ku lakukan!" Seru Alice meronta minta di lepaskan.
Wanita itu tidak terima kalau harga dirinya di rendahkan di depan Jane yang notabene adalah musuh terbesar nya. Masih berusaha meronta Alice menghina Jane.
__ADS_1
"Dasar wanita penggoda, murahan, awas kamu Jane, aku akan membunuhmu! Kamu dan anakku sama-sama wanita penggoda, pelakor!!" Teriak Alice masih memaki saat diseret oleh pengawal.
Bersambung.