
Happy Reading 😊
"Nona Felicia?"
Felicia merasa sedikit terkejut ketika ada seseorang yang memanggil namanya. Wanita itu pun menoleh dan dia melihat siapa pria yang ada di hadapannya saat ini.
"Tuan Alexander, calon tunangannya Veronica, kan?" tanya Felicia tersenyum sopan.
"Ah, iya betul, apakah anda masih ingat dengan saya?" tanya Alexander tersenyum lebar.
Felicia mengernyit mendengar ucapan Alexander, tentu saja dia ingat, Felicia tahu betul siapa Alexander itu, dia adalah kekasih Veronica setahun belakangan dan mereka memutuskan untuk melakukan acara pertunangan malam ini
"Kita sudah pernah bertemu sebelumnya, Nona. Di sebuah bar di mana anda bekerja," lanjut Alexander.
Morgan mengerutkan dahinya ketika Alexander menceritakan hal tersebut. Meski Morgan sudah tahu apa pekerjaan Felicia, tetapi Morgan merasa tidak suka melihat tatapan Alexander kepada calon istrinya itu.
Sedangkan Felicia sendiri langsung terkejut mendengarnya ucapan Alexander.
'Apakah Tuan Alex mengingat diriku? bukan kah waktu itu kita bertemu di klub malam aku sedang bekerja dan merias wajahku dengan sangat jelek?' batin Felicia.
"Anda tahu kalau itu saya, tuan?" Alexander mengangguk.
"Aku sangat hafal bagaimana bentuk wajah anda, meskipun saat itu anda menutupi wajah cantik anda dengan dandanan seperti laki-laki," jawab Alexander terkekeh.
"Apa kamu pernah bertemu dengannya di bar?" tanya Morgan.
"Iya, saat itu aku sedang bekerja," jawab Felicia jujur.
"Apa kamu tahu apa pekerjaan Felicia? aku sungguh kagum terhadap Nona ini, pertemuan pertama yang membuatku langsung berkesan," Felicia hanya tersenyum kaku.
"Apakah itu sebuah pujian untuk saya?" tanya Felicia.
"Tentu saja, bahkan saat itu kamu tidak mau memberikan nomor telepon mu, aku merasa sedikit kecewa," jawab Alexander tertawa lirih.
Morgan merasa sudah tidak tahan dengan obrolan tidak berguna antara sahabatnya dan Felicia.
Dengan posesif, Morgan melingkar kan tangannya ke pinggang Felicia.
"Felicia sedang bekerja, jadi dia tidak akan sembarang memberikannya nomer ponselnya," Morgan menatap Felicia. "Aku tidak tahu kalau kamu mengenal Alex, sayang," ucap Morgan memanggil Felicia dengan sebutan sayang.
Sontak membuat Felicia merasa terkejut, tetapi sekali lagi dia sadar bahwa saat ini Morgan sedang berakting sebagai seorang pria yang sangat mencintai dirinya.
__ADS_1
"Sayang?" cicit Alexander.
"Ya, dia adalah calon istriku, Alex. Dan sebentar lagi kami akan menikah, mungkin kami akan selangkah lebih dulu darimu," jawab Morgan yang kali ini terlihat lebih dingin.
Alexander merasa kecewa, ternyata Felicia adalah calon istrinya Morgan.
"Wah, ternyata kamu sudah move on dari dia, ya? selamat Morgan, aku rasa kamu sangat beruntung bisa mendapatkan yang lebih baik dari yang dulu," ucap Alexander sengaja membuka luka lama sahabatnya itu.
'Oh, jadi Tuan Morgan pernah patah hati? siapa wanita yang pernah menyakiti pria hebat seperti Tuan Morgan Alvares?' batin Felicia.
Morgan tertawa lirih. " Semua itu hanya masa lalu, aku tidak pernah merasa tersakiti oleh siapapun, bahkan cintaku kali ini lebih besar untuk Felicia, jadi untuk apa aku harus Move On!" ucap Morgan menatap Felicia dari samping.
Alexander tersenyum sinis. Bahkan senyum itu terkesan mengejek. "Benarkah? aku kira dia sangat spesial untukmu, Morgan!"
"Tidak, tidak ada seorang pun yang spesial dalam hidupku, kecuali Felicia, calon istriku, jadi jangan membuat seolah aku pria yang pernah terluka!" jawab Morgan menatap Alexander tajam.
Morgan merasa Alex hanya ingin memanasi Felicia agar wanita itu mundur seperti yang dulu, tetapi tentu saja hal itu tidak akan ia biarkan, Felicia adalah wanita yang spesial untuknya, melebihi 'Dia'.
"Oh, benarkah?" balas Alexander sinis.
Felicia meneguk ludahnya kasar, sikap kedua pria ini seakan menabuh genderang perang.
'Ya Tuhan, kenapa situasinya jadi seperti ini, rasanya aku ingin segera pulang... Ibu, kalau bukan demi dirimu, aku tidak mau terlibat dalam hubungan yang begitu rumit seperti ini!' batin Felicia menjerit di dalam hati.
Veronica datang dan langsung menggandeng lengan Alex. "Sayang, ayo sudah waktunya kita melangsungkan acara ini, lihatlah para tamu undangan sudah menunggu acara puncaknya," ucap Veronica.
Alexander menatap calon tunangannya itu dan tersenyum. "Baiklah, tidak perlu terburu-buru, Veronica," wanita itu hanya memanyunkan bibirnya.
Biasanya Alexander akan merasa gemas dengan tingkah laku calon tunangannya itu, tetapi entah kenapa malam ini rasanya dia sangat tidak menyukai tingkah manja Veronica.
Alexander kembali menatap Felicia yang merasa sedikit tidak nyaman dengan tingkah Morgan.
"Nona Felicia, setelah ini kita bisa saling mengenal lebih dekat, bukan?" Felicia melotot sempurna mendengar ucapan Alexander yang sangat terang-terangan itu. Padahal sudah jelas yang di katakan oleh Morgan bahwa dia adalah calon istrinya.
"Tidak perlu, Alex, sebaiknya kamu cepat lanjutkan acara mu saja," jawab Morgan tidak suka.
Veronica langsung menarik Alexander dan membawakan ke depan, seluruh tamu undangan yang melihat dua pasangan yang akan melangsungkan acara pertunangan itu memilih fokus kepada mereka.
"Tuan, lepaskan tangan anda," bisik Felicia.
Morgan tidak menanggapi dan dia memilih merapatkan dirinya pada tubuh Felicia.
__ADS_1
"Aku tidak suka dengan interaksi kalian tadi," jawab Morgan.
"Kenapa anda tidak suka?" Morgan tidak menjawab, dia lebih memilih fokus untuk melihat pemandangan ke depan di mana Alexander dan Veronica sedang bertukar cincin.
###
"Terima kasih tuan Alvares, anda telah datang ke acara keluarga kami, dan terima kasih karena telah memilih Felicia sebagai calon istri anda, saya benar-benar merasa bangga ternyata putri saya bisa membuat seseorang yang hebat seperti anda menjadikan dia sebagai pendamping hidup," ucap Brandon tersenyum.
Veronica dan Alice hanya memutar bola matanya, sungguh mereka merasa sangat malu dengan tingkah Brandon yang seperti ini. Padahal selama ini Brandon selalu memperlakukan Felicia bukan layaknya seperti putri kandung.
'Cih, lihatlah tuan Brandon yang terhormat, di mana dirimu yang biasanya selalu bertingkah menyebalkan seperti dulu, sekarang saja baru bertingkah seperti ini! benar-benar penjilat!' batin Felicia.
"Putri anda adalah wanita yang sangat saya cintai, tiga hari lagi kami akan melangsungkan pernikahan, saya mengundang anda beserta keluarganya besar, biar bagaimanapun anda adalah Ayah kandung Felicia, ya meskipun selama ini hubungan anda dan Felicia tidak pernah akur, tapi saya harap anda merestui kami!" ucap Morgan membuat semua orang membelalakkan matanya.
"Tiga hari lagi!"
"Ya, tiga hari lagi, apakah anda merestui hubungan kami tuan Brandon?" tanya Morgan.
"Tentu saja, saya sangat merestui kalian, semoga ini semua bisa menjadikan kesalahpahaman keluar kita bisa lebih mencair," jawab Brandon gugup.
####
Di perjalanan pulang.
Felicia saat ini tengah berada di dalam mobil Morgan, pria itu memaksa Felicia untuk ikut bersamanya.
"Terima kasih, karena tadi kamu telah membantuku membungkam mulut orang-orang itu," ucap Felicia memecah keheningan.
"Hemm! bukankah itu yang kamu mau? mengajakku menikah karena ingin membalas mereka," jawab Morgan.
Felicia diam saja, entah kenapa tiba-tiba dia merasa ada yang mengganjal di hatinya.
"Apakah kamu sedang berusaha Move on, Tuan?" Morgan menoleh sekilas kemudian fokus kembali ke depan.
"Tidak perlu tahu masalah pribadi ku, kita menikah hanya karena saling membantu bukan?" ucap Morgan membuat Felicia sadar sepenuhnya.
"Ya, betul," jawab Felicia mengalihkan pandangannya ke luar jendela.
"Yang pasti apa yang di ucapkan Alex tadi tidaklah seperti yang kamu bayangkan," ucap Morgan.
'Hei, apa maksudnya memberitahu ku? bukankah tadi dia bilang aku tidak boleh ikut campur urusan pribadinya, lalu kenapa sekarang seakan dia mengkonfirmasi agar aku tidak salah paham!'
__ADS_1
Bersambung.