
Happy Reading 😊
Felicia terkejut mendengar ucapan Morgan. Yah, memang dirinya saat ini tengah mengandung anak dari Morgan, yang itu artinya bayi yang ada di dalam kandungannya kelak akan menjadi pewaris dari F.A Grup.
"Tapi aku tetap tidak akan memakai uangmu, itu adalah janjiku, aku menikah dengan mu hanya karena menginginkan jabatan sebagai istri CEO, dan setelah aku bisa bangkit sendiri, nanti kita bisa berpisah, aku..!"
"Siapa yang yang ingin berpisah?! apa kamu pikir pernikahan ini hanya untuk main-main?" Morgan mendekati Felicia dan menghapus jarak di antara mereka.
"Aku kira,,!"
"Tidak akan ada perpisahan ataupun perceraian di dalam pernikahan ini, karena aku tidak pernah menganggap pernikahan kita ini main-main, jadi mulai saat ini kamu juga jangan pernah berpikir seperti itu, aku ingin membangun pernikahan kita ini menjadi pernikahan impian ku dan juga impian mu, menjadi impian kita, Felicia Alvares!" ucap Morgan datar dan penuh penekanan.
Felicia menelan salivanya saat wajah Morgan semakin mendekat, bahkan Feli bisa merasakan hembusan napas Morgan yang wangi dan segar itu.
'Kejadian seperti ini sudah sering terjadi, tetapi kenapa aku masih merasa gugup! Aduh jantungku jangan berdebar dulu!' batin Felicia.
Morgan menyentuh dagu Felicia dan langsung menautkan bibirnya pada bibir pink itu, menyesap dan memagut hingga saling bertukar saliva. Felicia bisa merasakan ciuman Morgan kali ini terasa begitu lembut, tanpa adanya paksakan dan kekasaran.
Morgan menarik Felicia masuk ke dalam rumah, dan dengan lancang membawa Felicia ke dalam kamarnya yang dulu pernah menjadi saksi bisu saat Morgan menjamah wanita itu sampai menghasilkan benih di dalam rahim Felicia.
Dengan cekatan Morgan mengunci pintu kamar itu membuat Felicia terkejut. Saat ingin protes, Morgan kembali mencium bibir mungil itu sambil menekan tengkuknya.
Felicia tidak bisa melawan serangan Morgan yang tiba-tiba itu. Diapun pasrah saat Morgan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.
"Setelah malam itu, setiap malam aku selalu terbayang-bayang wajahmu, hampir tidak bisa tidur saat memikirkan dirimu, bahkan dalam mimpi pun kamu selalu hadir," ucap Morgan dengan pandangan sayu.
Felicia bisa melihat sisi lain dari Morgan kali ini, begitu lembut dan tenang, matanya memancarkan sebuah perasaan yang mendamba, bahkan sentuhan Morgan kali ini membuat darah Felicia berdesir hebat.
"Mungkin kita bertemu secara tidak sengaja, dan semuanya di awali dengan kesalahan pahaman, bahkan aku menyuruhmu untuk tidak mencintai ku, tapi malam ini, di atas ranjang ini, tempat di mana tubuh kita pernah bersatu, aku ingin mengatakan bahwa mulai saat ini belajar lah mencintai ku, karena aku juga akan belajar mencintai mu," ucap Morgan.
"Apakah kamu termakan omonganmu sendiri?" tanya Felicia.
__ADS_1
"Ya, mungkin saja." Felicia terkikik.
"Jadi sekarang kamu mulai mencintai ku?" Morgan mengangguk masih dengan menatap mata Felicia.
"Apakah kamu menyuruhku untuk tidak jatuh cinta padamu karena ada wanita lain di hatimu?" akhirnya keluar juga kata-kata yang selama ini membuat Felicia penasaran.
"Tidak, aku tidak punya wanita lain di dalam hidupku, kamulah wanita pertama dan terakhir dalam hidupku," jawab Morgan jujur.
Kali ini dia menghilangkan sikap egois dan sombongnya karena tidak ingin melakukan kesalahan pada wanita yang mulai menguasai pikirannya itu.
Felicia tersenyum saat mendengar jawaban dari Morgan. Kemudian dengan penuh keberanian Felicia mengecup bibir Morgan sekilas.
"Hey, kenapa kamu memancingku!"
"Karena aku suka,"
"Baiklah, jangan salahkan aku kalau berbuat lebih!" bisik Morgan di telinga Felicia.
Felicia pun juga menikmati setiap sentuhan dari Morgan, merasakan perasaan yang berbeda saat pertama kali Morgan menjamahnya.
"Aku menginginkan mu!" bisik Morgan.
Felicia mengangguk ragu. Akhirnya malam itu mereka kembali berbuat khilaf terindah di tempat yang sama.
Keesokan harinya.
Regina (Mamanya Morgan) mendatangi Jane kembali di rumahnya pagi ini, memastikan keadaan sahabat lamanya itu sudah semakin sehat.
Dulu Jane dan Regina pernah satu sekolah ketika High school (SMA) di Washington DC. Mereka pernah sangat dekat waktu itu dan ketika setelah lulus, Regina dan Jane hampir tidak pernah bertemu lagi karena mereka berbeda universitas dan di kota yang berbeda.
Jane kembali ke Florida dan kuliah di kota kelahirannya itu. Kemudian ia bertemu dengan Ayahnya Felicia setelah lulus kuliah. Dan dari situlah awal kisah kelam Jane terjadi.
__ADS_1
Regina masih ingat betul bahwa Jane berasal keluarga yang terpandang, dulu Jane juga gadis yang cantik dan ramah, humble terhadap semua orang. Mereka pernah satu kelas selama dua tahun, tentu saja hal itu tidak pernah di lupakan oleh Regina karena dulu Jane juga merupakan tempat curhat Regina saat masih remaja. Regina selalu menceritakan kisahnya di mana dia begitu mengagumi seseorang pria yang saat ini sudah menjadi suaminya (Ayah Morgan)
"Bagaimana keadaanmu Jane? aku harap kamu segera pulih kembali seperti sedia kala, lihatlah di mana Jane yang dulu cantik dan suka tersenyum?" ucap Regina menggoda.
"Aku sudah semakin sehat sekarang, ini juga berkat putramu Morgan yang membantuku mencarikan dokter terbaik di kota ini, sungguh tidak pernah menyangka ternyata pria yang sangat baik itu adalah putramu, Regina, aku sangat bahagia. Terima kasih Regina, aku banyak berhutang budi padamu," ucap Jane tersenyum tulus sambil menitikkan air matanya.
"Sstt, kenapa menangis? jangan menangis, dulu kamu juga begitu baik kepadaku, mungkin Tuhan telah membalas kebaikanmu melalui putraku. Ayo aku ajak kamu jalan-jalan ke Mall, kita bersenang-senang seperti dulu, ingat waktu dulu kita sering menghabiskan uang jajan kita di Mall tetapi ternyata tidak habis-habis," Regina tertawa kecil. Sedangkan Jane hanya tersenyum menanggapi.
"Tapi sekarang keadaan ku sangat berbeda, Re, aku sudah bukan anak orang kaya bahkan suami pun tidak punya," ucap Jane sendu.
"Maksudmu? apakah orang tuamu bangkrut?" Jane menggeleng.
"Ceritanya panjang," Regina mengangguk pura-pura paham.
"Semua orang pasti mempunyai masalah dalam hidupnya, begitu juga denganku yang juga pernah menghadapi masalah, tapi tergantung masalah yang kita hadapi ini besar, sulit atau mudah, yang pasti semuanya akan mendapatkan jalan keluarnya kalau kita mau berusaha," ucap Regina.
"Iya, betul," jawab Jane singkat.
Regina menatap sahabatnya itu dan merasa bahwa sepertinya selama ini Jane hidup dengan kondisi yang tidak baik, ingin sekali Regina menanyakan banyak hal pada calon besannya ini. Tapi dia harus mencari waktu dan tempat yang tepat.
"Ayo kita jalan-jalan, aku harap kamu mau sedikit berbagi nanti setelah kita bisa bersama-sama, sekarang kamu bersiap-siap," Regina menarik lengan Jane untuk berdiri dan membimbingnya untuk ke kamar agar Jane mau mengganti pakaian dan sedikit berdandan.
Saat Regina dan Jane keluar dari dalam kamar, mereka di kejutkan dengan Morgan dan Felicia yang juga keluar dari dalam kamar.
"Mama! kenapa ada di sini?" tanya Morgan.
"Justru Mama yang bertanya, kenapa kamu ada di sini!"
Bersambung.
Mana bunganya 🤧🤧🥺🥺
__ADS_1