Khilaf Terindah

Khilaf Terindah
Hubungan Rahasia


__ADS_3

Happy Reading


Felicia menghela napas dalam-dalam. Memangnya kenapa Morgan berucap seperti itu, apakah pernah ada yang terjadi di antara dia dan Katrina. Rasa penasaran menyelimuti seluruh hatinya saat ini. Felicia tidak akan bisa tidur kalau belum bisa memecahkan apa yang mengganjal di hatinya.


"Sebenarnya aku tidak terlalu suka orang berbicara tidak jelas, atau bisa di sebut bertele-tele, jadi sebaiknya kamu jelaskan sekarang juga padaku, sebenarnya apa yang terjadi antara kamu dan Katrina? jujur saja, aku bukan tipe wanita yang bisa menahan diri dari rasa ingin tahu, aku tidak perlu menjaga image ku apabila itu malah membuat ku semakin terpuruk dari rasa penasaran!" ucap Felicia menatap Morgan.


Terdengar helaan napas yang keluar dari dalam mulut pria itu, sedetik kemudian Morgan menepikan mobilnya agar dia bisa leluasa untuk bicara pada calon istrinya itu.


'Ternyata rasa ingin tahu mu besar sekali, tapi aku suka,' batin Morgan.


Morgan mematikan mesin mobilnya setelah mendapatkan tempat yang bagus untuk memberhentikan mobil.


Sejurus kemudian di menoleh ke arah Felicia dengan tatapan yang sulit di artikan. Morgan memajukan wajahnya dan mencium bibir Felicia yang sejak tadi sangat menggoda. Bibir merah merekah seolah-olah memanggilnya untuk di cicipi.


"Morgan!"


"Cium dulu baru aku akan cerita!" ucap Morgan tersenyum miring.


Felicia membuang muka ke arah jendela karena merasa malu.


"Baiklah, kalau kamu mau mati penasaran aku akan melajukan mobilnya sekarang, dan jangan harap aku akan bercerita," ucap Morgan membuat Felicia langsung menoleh dan menatap wajah Morgan.


"Oke, aku akan mencium mu!"


Wow! ini luar biasa, bahkan tanpa Morgan yang memulai, Felicia dengan sendirinya akan mencium Morgan.


Morgan merasakan benda kenyal dan basah itu menempel pada bibirnya, Morgan membuka mulutnya agar Felicia lebih leluasa menjelajahi nya. Akhirnya ciuman itu berlangsung agak lama dan Morgan segera menyudahi karena kalau di teruskan bisa-bisa Mujo yang sejak tadi sudah bangun memberontak minta yang lebih.


Felicia menggigit bibir bawahnya karena merasa sedikit malu dengan tingkah lakunya, tapi dia tidak peduli, bukankah tadi Morgan sendiri yang meminta dan memulai.

__ADS_1


"Cepat ceritakan!" seru Felicia tanpa menoleh.


"Aku harus mulai dari mana?" Morgan mengusap wajahnya.


Felicia bersedekap dada dan siap mendengar jawaban dari pria yang hari ini terlihat begitu tampan. Sebenarnya Felicia mengakui bahwa Morgan adalah pria yang tampannya di atas level rata-rata.


"Kamu tahu kan kalau Katrina adalah sepupu ku, putri dari Pamanku, lebih tepatnya Ayah Katrina adalah saudara sepupu Ibuku. Katrina adalah Putri dari Paman Rigen dan Bibi Emma."


"Langsung saja, aku tidak kenal siapa itu keluarga mu," sela Felicia tidak sabar.


"Baiklah," jawab Morgan.


"Sejak kecil aku dan Katrina selalu bersama, karena memang usia kami tidak jauh beda, setiap aku berkunjung ke Washington DC, aku dan Katrina selalu menghabiskan waktu dengan jalan-jalan, nonton atau makan malam di restoran mewah yang romantis, persis seperti orang yang sedang berpacaran, sampai saat Katrina melarikan diri ke Florida pada waktu dia kuliah, dan bersembunyi di apartemen ku, setelah itu kami lebih sering bersama karena hampir dari beberapa bulan Katrina selalu mengunjungi ku, sampai kami sudah sama-sama bekerja dan dia menjadi lebih sering datang ke Florida." Morgan menarik napasnya.


Sedangkan Felicia semakin penasaran dengan hubungan calon suaminya itu dengan sepupunya sendiri.


"Kedekatan kami di ketahui oleh semua orang, bahkan semuanya menganggap bahwa kami saling mencintai secara lebih, bukan hanya sebagai saudara sepupu, melainkan sebagai kekasih. Awalnya kami hanya cuek dengan anggapan itu, sampai kejadian dua tahun lalu membuat seluruh keluarga kami shock saat di ketahui kalau Katrina mengalami pendarahan pada saat dia berada di Washington DC, setelah dua bulan sebelumnya dia masih menginap di apartemen ku di sini, dan yah, kamu tahu sendiri bahwa semua orang beranggapan bahwa itu adalah perbuatan ku, aku diam bukan berarti membenarkan tuduhan mereka," jelas Morgan dan sampai di titik ini Felicia menjadi sedikit paham.


Hari ini Felicia membawa Ibunya pulang dari rumah sakit di antar oleh Morgan, setelah dua bulan lebih Jane di rawat dan berhasil melakukan pencangkokan ginjal, akhirnya setelah di nyatakan sembuh total, Jane sudah di perbolehkan untuk pulang.


Setelah tadi Morgan menjelaskan semua masalah, yang nantinya akan di harapkan bisa membuat hubungannya dengan Morgan tidak akan ada kesalahpahaman di kemudian hari, entah kenapa sekarang Felicia malah semakin ingin tahu mengenai sepupu dari Morgan itu.


'Nanti aku ingin berkenalan lebih dekat dengan Katrina, sepertinya dia gadis yang baik, tapi sayang, kisah cintanya benar-benar tragis,'


"Feli, kenapa bengong! bantu ibu membereskan ini!" seru Jane membuyarkan lamunan Felicia.


"Iya, bu," Felicia mengambil tas besar milik Ibunya dan di bawa ke kamar sang Ibu.


"Kata Morgan, pernikahan kalian akan di laksanakan seminggu lagi? kenapa sangat terburu-buru?" tanya Jane membuat Felicia menghentikan gerakannya yang akan memasukkan beberapa pakaian Jane ke dalam lemari.

__ADS_1


Apakah Felicia harus jujur pada sang ibu bahwa dirinya telah hamil? apa yang akan di dapat Felicia dari respon ibunya?


"Ehhmm, sebenarnya ini, itu,,, ehmm,"


"Felicia, sejak kapan bicaramu menjadi tidak jelas seperti itu!" seru Jane.


"Bu, jangan marah-marah, ibu baru saja sembuh, nanti kalau marah-marah terus, bisa berbahaya bagi kesehatan ibu!" Jane hanya bisa mengatur napasnya. Kemudian Felicia menuntun ibunya menuju ke ranjang, membiarkan sang ibu agar beristirahat.


Felicia memasak bubur kesukaan ibunya, dia belum mampu bicara terus terang kepada sang ibu perihal masalah kehamilannya yang benar-benar tidak pernah dia duga sama sekali.


Felicia ingat, malam itu Morgan memang tidak hanya sekali mengeluarkan benihnya ke dalam rahim Felicia, melainkan dua kali, Morgan meminta bermain sekali lagi saat dia sudang melakukan pelepasan yang pertama.


Ah, membayangkan malam itu saja kenapa rasanya dia begitu malu. Apakah dia akan menjadi seperti ibunya yang tidak pernah di nikahi secara resmi oleh Ayah kandungnya. Tidak, nasib Felicia tidak sama dengan ibunya. Di mana kalau dulu ibunya hanya di jadikan pelarian oleh Ayahnya, tetapi kali ini Felicia bertemu Morgan dan menolongnya.


Morgan ingin bertanggung jawab atas Felicia karena malam itu Morgan sadar bahwa dia telah mengambil kesuciannya. Bahkan sebelum Morgan tahu kalau dirinya hamil.


Mungkin saja dia bernasib lebih baik dari pada sang ibu.


Di sisi lain.


Morgan menghampiri Katrina yang sedang duduk bersama Jimmy di ruang kerjanya sehabis mengantarkan Felicia dan calon ibu mertuanya pulang ke rumah.


Jimmy dan Katrina saling berpegangan tangan, keduanya terlihat saling memandang dengan tatapan yang mendamba.


"Eghem!! Kalian berdua di larang berbuat mesum di kantorku!!" seru Morgan yang membuat kedua orang itu terkejut dan saling melepaskan tautan tangan mereka


Jimmy langsung berdiri dan menunduk melihat Morgan datang. Tentunya dia pasti sangat malu sekali sekarang. Morgan berjalan mendekati sekretaris sekaligus asisten pribadinya itu.


"Jim, ini sudah dua tahun berlalu dan kamu masih belum bisa melepaskan gadis kecil ini!! kenapa kalian tidak berusaha terang-terangan di depan semua orang? apakah masih butuh waktu lama lagi kalian akan menyembunyikan hubungan?"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2