Khilaf Terindah

Khilaf Terindah
Penolakan Morgan


__ADS_3

Happy Reading


Jane menatap putrinya yang sedang melamun. "Feli, apa yang kamu pikirkan?" tanya Jane.


Felicia menoleh dan tersenyum hambar. "Tidak ada, bu. Felicia hanya merasa bingung, apakah harus menikah dengan Morgan, tapi melihat keuntungan dari pernikahan ini, lebih baik memang Feli tetap pada rencana semula," jawab Felicia.


"Ini demi kita semua, nak. Ibu tidak bermaksud menggunakanmu sebagai alat untuk balas dendam, tapi ibu yakin bahwa Morgan memang jodohmu, dia pria yang baik, meskipun memiliki karakter yang dingin, ibu yakin, suatu saat nanti kalian pasti akan saling mencintai," ucap Jane mebuat Felicia memutar bola matanya.


'Terus saja berhayal, bu. Bagaimana kami bisa saling mencintai, kalau Morgan sendiri mengatakan bahwa di dalam pernikahan kita tidak boleh melibatkan tentang cinta, dia hanya berusaha bertanggung jawab karena telah menodaiku, sedangkan aku hanya ingin mendapatkan gelar sebagai istri CEO, jadi pernikahan ini hanyalah saling menguntungkan,' batin Felicia.


"Ajaklah Morgan besok ke acara pertunangan Veronica, agar mereka tidak merendahkanmu, sekalian perkenalkan Morgan pada Ayahmu," ucap Jane.


Felicia merasa bingung bagaimana harus mengajak Morgan untuk pergi ke acara pertunangan Veronica besok malam.


Setelah tadi Felicia di usir oleh Moran karena menolak ajakannya melakukan pemanasan, entah kenapa sekarang dia merasa tidak enak hati untuk menemui Morgan kembali.


"Bu, sebaiknya Feli pergi ke pesta pertunangan Veronica sendiri saja, sepertinya Morgan sangat sibuk, dia tidak bisa di ganggu saat ini," ucap Felicia memohon.


Jane yang mendengar hal itu merasa sedikit kecewa karena calon menantunya sibuk, dia ingin kalau putrinya bisa mengajak Morgan ke acara pesta itu agar semuanya tahu kalau Felicia bisa mendapatkan pria yang baik dan dari kalangan atas.


Tiba-tiba sebuah ide terlintas di kepala Jane.


"Bagaimana kalau ibu yang meminta Morgan dan menyuruhnya langsung agar dia meninggalkan pekejaanya untuk calon istrinya, dan menemanimu ke acara pesta pertunangan kakak tirimu, Veronica?" Felicia yang mendengar hal itu langsung menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu, bu. Biar Feli yang menghubungi Morgan sendiri," seru Felicia.


Tentu saja dia tidak ingin ibunya tahu kalau dia telah berbohong mengenai Morgan. Felicia mengambil ponselnya di tas kecilnya, rasanya dia tidak ingin menghubungi nomer Morgan, tetapi melihat tatapan ibunya yang tersenyum dan mengisyaratkan dengan anggukan kepala, membuat Felicia membuang napas pelan.


'Ayolah, Feli,, kamu hanya cukup mengatakan ingin mengajaknya ke pesta pertunangan kakak tirimu, itu saja,, terserah dia mau atau tidak, yang penting kamu sudah menuruti permintaan ibumu!' batin Felicia.


Felicia menekan nomer Morgan, tersambung. Wanita itu merasa sangat gugup, entah karena apa, biasanya dia begitu berani menghadapi banyak orang, entah kenapa bersama Morgan dia merasa kehilangan kata-kata.


Atau mungkin karena masalah tadi pagi, Morgan merasa tersinggung dengan ucapannya, setelah Felicia mengatakan masalah siapa yang menolong Morgan waktu itu. Setelah mengatakan itu, ekpresi wajah Morgan lansung berubah.


Felicia merasa sedikit lega karena Morgan tidak mengangkat teleponnya. "Bu, sepertinya Morgan sedang sibuk, dia tidak mengangkat teleponnya," ucap Felicia memperlihatkan layar ponselnya.

__ADS_1


Jane menghela napas, memang calon menantunya itu orang yang sangat sibuk, dua perusahaan besar berada di tangannya. Dengan kegigihannya, Morgan berhasil membuat perusahaan menjadi berkembang pesat.


"Ibu punya ide, bagaimana kalau kamu kembali ke perusahaan Morgan dan mengatakan secara langsung untuk mengajaknya ke acara pertunangan Veronica," ucap Jane membuat Felicia menepuk jidat.


"Tapi, bu," Jane lansung memasang mimik wajah yang sedih sambil duduk di pinggiran ranjang, wajah sendunya sungguh membuat Felicia merasa tidak tega.


Lagi-lagi Felicia harus menghela napas. "Baiklah, Bu,, Feli akan kembali ke kantor Morgan," Jane kembali berbinar mendengar bahwa putrinya bersedia.


"Oh, ya,, sekalian kamu ambil kotak bekal makanan yang kamu bawa tadi, ibu melihat kamu tidak membawanya, pasti tertinggal di kantor Morgan," ucap Jane.


Felicia baru sadar bahwa dia lupa membawa kotak bekal makanan miliknya, sepertinya dia mempunyai alasan untuk bertemu dengan Morgan di kantornya.


###


Perusahaan S.A Grup


"Tuan, anda tidak lupa dengan undangan pesta pertunangan tuan Alexander besok malam," ucap Jimmy mengingatkan.


"Hemm, aku tidak lupa, kalau dia tanya jawab saja aku pasti akan datang," jawab Morgan masih fokus dengan berkas-berkas di atas meja.


Morgan menatap Jimmy sekilas, kemudian melihat ke arah meja kotak bekal makanan milik Felicia yang tadi tertinggal.


'Apakah dia akan kembali untuk mengambil kotak bekalnya?' batin Morgan.


Ponselnya di atas meja berdering. Morgan menatap layar dan tersenyum saat membaca siapa yang telah meneleponnya.


'Biarlah, tidak akan aku angkat, dia pasti ingin menanyakan kotak bekal itu,' Morgan tersenyum puas. Pasti sekarang Felicia akan segera muncul di hadapannya lagi.


Jimmy bisa melihat senyum menawan yang tercetak jelas di bibir atasannya itu. Sungguh hal yang luar biasa dan sangat langka bisa melihat Tuan Morgan Fernando Alvares tersenyum lepas.


Felicia turun dari dalam taksi dan berjalan masuk ke dalam perusahaan. Resepsionis yang mengenal Felicia sebagai tamu spesial dari CEO mereka langsung hormat dan menunduk.


"Saya akan langsung naik ke ruangan tuan Alvares, tidak perlu di antarkan," ucap Felicia.


"Baik, Nona. Silahkan," jawab resepsionis itu.

__ADS_1


Felicia masuk ke dalam lift dengan hati yang berdebar.


'Tenang saja, kamu hanya tinggal bilang akan mengambil kotak bekal makanan dan berbasa basi akan mengajakku ke acara pertunangan Veronica.'


Terdengar seseorang mengetuk pintu, Jimmy langsung sigap membuka pintu dan sedikit terkejut melihat siapa yang ada di depannya saat ini.


"Bolehkah saya masuk?" Jimmy menoleh ke arah Morgan dan langsung mendapatkan anggukan darinya.


"Silahkan masuk, Nona,"


"Terima kasih," jawab Felicia tersenyum manis ke arah Jimmy, dan hal itu tidak lepas dari pandangan Morgan.


"Eghem!" Morgan berdehem membuat Jimmy kembali menunduk setelah sadar telah terpesona dengan sosok Felicia.


"Ada apa?" tanya Morgan saat melihat Felicia yang menundukkan kepalanya.


"Saya ingin mengambil kotak bekal makanan," jawab Felicia.


"Ada di atas meja," jawab Morgan memandang wanita itu.


Setelah mengambil kotak makanan nya, Felicia terlihat ragu untuk mengatakan pada Morgan tentang tujuannya yang lain.


"Eh, anu,, Tuan. Sebenarnya saya ingin mengatakan sesuatu pada anda," ucap Felicia.


"Hemm, katakanlah," jawab Morgan kembali fokus ke laptopnya.


"Apakah besok malam anda ada acara, tuan? saya ingin mengajak anda pergi menghadiri pesta keluarga kami," ucap Felicia mantap.


Morgan menatap Felicia, sebenarnya dia tidak keberatan kalau di ajak oleh wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya itu.


Tapi janjinya pada sahabatnya Alexander tidak bisa di batalkan begitu saja.


"Maafkan aku, besok malam aku ada acara, jadi sepertinya aku tidak bisa ikut bersamamu," Felicia terlihat kecewa mendengar jawaban Morgan yang menolaknya.


Tapi bukankah hal itu yang dia inginkan, pergi sendiri tanpa Morgan, tetapi kenapa sekarang saat pria itu menolaknya justru Felicia merasa sedikit kecewa.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2