Khilaf Terindah

Khilaf Terindah
Lamaran untuk Jane


__ADS_3

Happy Reading 😊


Felicia menatap ragu pada tangan yang masih menggantung di depannya itu.


"Aku Davis, putra kedua tuan Ferdinand, pasti kamu terkejut dengan kedatangan ku, kan?" ucap pria itu tersenyum manis, melihat ekspresi Felicia yang kebingungan dia langsung memperkenalkan dirinya.


"Owh, iya, maaf aku tidak tahu, aku Felicia," jawab Felicia lega.


Ternyata pria itu adalah putra calon Ayahnya dan sebentar lagi mereka akan menjadi saudara tirinya.


"Aku kesini di suruh Ayah dan nyonya Jane untuk menjemput mu, berhubung suamimu juga sedang ada meeting dengan klien penting, makanya aku yang di suruh menjemput mu," ucap Davis membuat kening Felicia mengkerut.


"Aku sudah meminta izin Morgan, aku mengenalnya, tenang saja," lanjut Davis saat melihat raut wajah Felicia yang terlihat seperti kebingungan.


Akhirnya Felicia kembali menampilkan raut wajah yang biasa. "Ehm, memangnya kita mau kemana?" tanya Felicia memastikan kembali.


"Kita menemui Ayah dan nyonya Jane," Felicia mengangguk paham.


"Sebentar, aku akan bersiap-siap dulu," Felicia berjalan kedalam dan bersiap-siap untuk pergi bersama Davis, tapi sebelum itu Felicia akan menelepon suaminya untuk menanyakan kebenarannya.


Bukannya dia tidak percaya dengan Davis, bahkan dia tidak takut sedikitpun dengan pria itu apabila dia menyakiti nya, di pastikan Felicia akan membuatnya masuk rumah sakit.


Tetapi dia hanya ingin tahu apakah Morgan benar-benar mengizinkan nya pergi dengan pria lain.


"Halo, sayang, apa kamu mengizinkan Davis menjemput ku dengar Zidane?"


"Oh, iya sayang, maaf aku tidak mengatakannya padamu, tadi Paman Ferdinand menyuruh ku dan kamu untuk ke tempatnya, tetapi aku mengatakan sedang ada meeting, dan kebetulan salah satu sahabat ku itu adalah putra kedua Paman, jadi sekalian aku menyuruh Davis menjemputmu, nanti setelah selesai aku langsung ke tempat kalian,"


"Oh, baiklah kalau begitu, aku akan bersiap-siap, Zidane juga baru saja terlelap."


"Hati-hati ya, sayang, tunggu aku, aku menyayangi kalian!"


Setelah berbincang sebentar dengan suaminya, Felicia mengganti pakaiannya dengan kaos hitam dan celana jeans panjang. Menyisir rambutnya dan mengucir kuda.


Felicia tidak memakai make up karena tadi setelah mandi pagi hari, ia sudah memakai bedak tipis-tipis.


Kemudian dia menggendong Baby Zidane yang masih terlelap dengan begitu nyaman.

__ADS_1


"Ayo Davis, kita berangkat sekarang," ucap Felicia tersenyum sambil mendekap Zidane di dalam gendongannya.


Davis menatap Felicia dengan tatapan terpana, wanita itu terlihat lebih awet muda dengan dandanan yang seperti itu. Davis kagum dengan calon saudara tirinya ini, biasanya istri dari seorang CEO berdandan dengan memakai dress dan make up yang menunjang penampilan nya, tetapi Felicia benar-benar tampak lebih santai.


"Baiklah, ayo!" ucap Davis.


Felicia masuk ke dalam mobil Davis setelah di bukakan pintu mobilnya oleh pria itu. "Sepertinya Zidane akan memiliki paman yang baik dan pengertian," ucap Felicia membuat Davis menoleh sekilas dan tersenyum.


"Ehm, jujur aku sangat menyukai anak kecil," ucap Davis.


Felicia menoleh. "Apa kamu sudah menikah?" tanya Felicia basa-basi, padahal dia sudah tahu kalau Davis masih single karena Ferdinand sudah memberitahu nya.


"Belum, aku sedang mengejar seorang wanita, tapi dia susah sekali untuk taklukkan," jawab Davis sambil menghela napas.


Felicia menatap ekspresi wajah Davis yang terlihat frustrasi. "Kenapa wanita itu sulit di taklukkan? apakah kamu pernah menyakiti nya?" tanya Felicia.


Davis tidak langsung menjawab, dia mengusap wajahnya kasar dan terlihat sangat frustasi. "Aku pernah menyakitinya, memutuskan hubungan dengan sepihak karena sebuah alasan, tapi kini aku menyesal! Felicia, bagaimana caranya agar aku bisa mendapatkan hatinya kembali?" Felicia terlihat menahan tawanya mendengar keluh kesah Davis.


Pria yang baru saja dia kenal itu ternyata sangat melo, tapi Felicia senang memiliki saudara tiri seperti ini.


###


Felicia masuk ke dalam sebuah restoran bintang lima yang telah di sewa oleh Ferdinand untuk acara makan siang bersama dengan keluarga calon istrinya.


Morgan terlihat masuk di belakang istrinya bersama dengan Jeremy, sekretaris baru Morgan pengganti Jimmy yang sudah berhenti karena menikah dengan Katrina.


"Apakah akan ada acara penting di sini?" tanya Felicia menatap semua orang secara bergantian.


"Paman ingin kita berkumpul untuk makan siang bersama, karena siang ini adalah hari yang istimewa," jawab Ferdinand sambil menatap Jane penuh cinta.


"Wah, apa akan ada lamaran romantis?" goda Felicia.


Jane tersenyum malu-malu, sepertinya dugaan Felicia memang benar. Ferdinand mengeluarkan sebuah kotak dari dalam saku celananya.


Felicia, Morgan dan Davis sangat terkejut ketika melihat apa yang di lakukan Ferdinand kemudian. Pria paruh baya yang masih terlihat gagah dan tampan itu berlutut di depan Jane sambil menyodorkan kotak yang berisi cincin berlian itu.


"Jane, kamu akan selalu memberiku kekuatan, sebelum atau setelah menikah. Karena itulah aku memilihmu untuk hidup hingga tua bersama. Maukah sayang, menjadi teman hidupku? Maukah kau menjadi pendamping hidupku sampai usai waktu? Maukah kamu menikah dengan ku, Jane?" ucap Ferdinand membuat mata Jane berkaca-kaca.

__ADS_1


Semua orang menunggu jawaban Jane dengan cemas. Tentunya Felicia ingin ibunya bisa menerima Ferdinand dan membangun rumah tangga yang bahagia.


"Baiklah, aku mau!" jawab Jane malu-malu.


Semuanya langsung bersorak senang, membuat Zidane yang masih terlelap di gendongan Felicia terbangun dan menangis.


"Cup, sayang, lihatlah Oma akan segera kasih teman untuk Zidane bermain," ucap Felicia menenangkan putranya.


Zidane tidak mau diam, Morgan yang melihat hal itu langsung mengambil alih Morgan dan menggendongnya.


"Didi," ucap Zidane memanggil Daddy-nya.


"Iya, sayang, gendong Daddy, ya?" Morgan menjawab celoteh putranya yang sudah berhenti menangis itu.


"Silahkan di teruskan lamarannya, maaf terganggu," Felicia menyuruh Ferdinand memakaikan cincin berlian itu ke jari manis Jane.


Setelah cincin berlian itu bersemat di jarinya, Jane langsung memeluk putrinya dengan di iringi tangis haru.


"Terima kasih, sayang, kamu adalah permata hati ibu, yang selalu bisa memberi kekuatan sampai di sini, maaf jika selama ini ibu tidak bisa menjadi ibu yang baik, tapi ibu sangat bahagia ketika kamu memberikan restu mu pada kami," ucap Jane melepaskan pelukannya dan menggandeng tangan Ferdinand.


"Tentu saja, kebahagiaan ibu adalah kebahagiaan ku, aku tidak akan seperti ini tanpa ibu dan juga suamiku," jawab Felicia ikut menitikkan air mata.


Air mata bahagia tentunya. Setelah acara lamaran itu tiba-tiba datang beberapa pelayan sambil membawa beberapa macam menu makanan.


Sepertinya siang itu awal dari sebuah proses menuju bahagia. Kebahagiaan yang akan datang setelah mendung hitam pergi. Semua kesakitan yang telah di lalui dengan sabar pasti akan berbuah manis.


Kebahagiaan pasti akan datang pada waktu yang tepat, dan semua yang di lalui oleh Felicia dan Jane akhirnya bisa mencapai puncak di mana semuanya terasa lengkap dengan cinta dan kasih sayang.


Selesai.


Boleh tanya-tanya ya? di kolom komentar, nanti akan othor jawab satu persatu.


Nanti akan ada kisah Zidane dewasa juga, jadi jangan merasa kehilangan mereka. Maaf kalau ending nya kurang seru 🙏🙏🥰🥰


Terima kasih karena telah mengikuti kisah perjalanan cinta Morgan dan Felicia 🤗🤗


See you next time... masih ada beberapa ekstra part ya

__ADS_1


__ADS_2