Khilaf Terindah

Khilaf Terindah
Penyesalan Alice


__ADS_3

Happy Reading 😊


Morgan baru saja selesai memakai baju formalnya setelah baru menyelesaikan mandinya beberapa menit yang lalu, sedangkan Felicia bergantian mandi setelah menyusui Baby Zidane.


Morgan menyisir rambutnya ke belakang setelah memakai pomade agar rambutnya tertata rapi. Pria itu selalu menjaga penampilan agar terlihat menyenangkan di mata kliennya.


Bukan untuk tebar pesona terhadap lawan jenis, dia hanya ingin terlihat tidak memalukan saat memimpin rapat ataupun bertanya dengan para kolega bisnisnya.


Saat sudah selesai meletakkan sisir ditempatnya, Morgan mendengar sayup-sayup suara tangisan bayi di kamar sebelah, kamar untuk sang putra, meskipun di dalam kamar mereka tersedia box bayi dan kadang Baby Zidane juga tidur bersama mereka, tetapi Morgan tetap menyediakan kamar khusus untuk putranya itu kalau sewaktu-waktu mereka ingin berduaan dan Baby Zidane bisa bersama dengan asisten rumah tangga nya istirahat di kamar sebelah.


Felicia memang belum menggunakan jasa babysitter karena dia ingin mengasuh putranya itu sendiri, meskipun sekarang di bantu oleh ibu dan Mama mertuanya.


Suara tangisan baby Zidane semakin kencang, akhirnya Morgan memilih berlari keluar kamar dan langsung masuk ke dalam kamar sang putra.


Seorang asisten rumah tangga yang terlihat masih muda itu langsung menatap siapa yang datang ke salam kamar tersebut.


"Kenapa Baby Zidane menangis? katanya tadi sedang tidur?" tanya Morgan mendekati asisten itu.


"Maaf tuan, baru saja tuan muda Zidane terbangun, saya kasih susu formula tidak mau, saya gendong semakin kencang nangisnya," ucap asisten itu menundukkan tidak berani menatap tuannya yang terlihat sangat tampan itu.


Baby Zidane masih menangis dan meronta, Morgan yang melihat hal itu langsung berinisiatif mengambil nya dari gendongan sang asisten.


"Biar saya gendong, Mommy-nya sedang mandi," ucap Morgan mengulurkan tangannya.


Wanita muda itu memberikan Baby Zidane yang masih menangis itu dengan hati-hati kepada Morgan. Dan ajaibnya tangisan Baby Zidane langsung berhenti begitu saja saat sudah berada di dalam dekapan Morgan.


Tentu saja hal itu membuat asisten rumah tangga itu sangat terkejut, padahal tadi Baby Zidane sama sekali tidak bisa diam dan semakin menjerit saat ia gendong.


"Cup, cup, cup,, anak Daddy, mau di gendong sama Daddy, ya? pinter banget kamu, nak! ayo kita susul Mommy, pasti sudah selesai mandinya," ucap Morgan mengajak bicara baby Zidane yang saat ini menatap wajah Daddy-nya dengan intens.

__ADS_1


Usianya belum genap satu bulan, tetapi Baby Zidane sudah mulai aktif, apalagi ASI-nya juga kuat, kadang sampai dua jam tidak mau lepas.


"Loh, sayangnya Mommy kok udah bangun?" Felicia baru saja keluar dari kamar mandi dan melihat suaminya yang sedang menggendong Baby Morgan.


"Iya, tadi nangis pas kamu baru masuk ke kamar mandi, tapi setelah aku gendong langsung berhenti nangisnya, keren gak, sih? Baby Zidane tau kalau lagi di gendong Daddy-nya, ya?" ucap Morgan sumringah.


"Mungkin Baby Zidane belum paham, tapi dia bisa merasakan kehangatan saat kamu gendong, itulah yang di sebuh darah lebih kental, dia bisa merasakan itu semua," jawab Felicia sambil memakai bajunya dengan cepat.


Dia tidak ingin terlalu lama membiarkan putranya itu bersama dengan Morgan karena sebentar lagi Morgan akan segera berangkat ke kantor.


"Sini Baby Zidane biar sama Mommy, Daddy mau siap-siap berangkat ke kantor, nanti kalau Baby Zidane sudah besar, ikut Daddy ke kantor, ya?" Morgan tersenyum sambil memperhatikan interaksi istri dan putranya.


Dia pun mendekat dan mencium pipi gembul Baby Zidane yang saat ini sudah berada di dalam pelukan sang istri. Setelah puas menciumi wajah putranya, Morgan menegakkan tubuhnya dan mencium bibir Felicia lembut.


###


Jane mengajak Regina duduk di kursi paling belakang yang dekat dengan jalan menuju dapur, dia ingin memastikan kalau yang di lihatnya kemarin tidak salah.


"Masa Alice bekerja di tempat ini? rasanya tidak mungkin, aku tahu Alice itu wanita seperti apa? wanita yang suka hidup mewah dan glamor, pakainya harus mahal dan juga wajahnya yang selalu perawatan dengan harga yang tidak murah," ucap Regina yang memang sedikit mengenal Alice saat mereka ada jamuan pertemuan para istri dari orang-orang penting seperti mewakili para suami.


Ya, perkumpulan para istri CEO di kota itu memang terkadang di adakan setiap beberapa bulan sekali.


"Makanya, aku ingin membuktikannya, sekarang panggil pelayan dan kita tanya apakah ada yang namanya Alice bekerja di restoran ini?" ucap Jane kemudian memanggil salah satu pelayan.


"Silahkan di pilih data menu yang ada di restoran kami," ucap pelayan yang memberikan daftar menu pada Jane dan Regina.


"Kami pesan makanan favorit di tempat ini, dan dua jus alpukat," ucap Regina.


"Baik, Nyonya, mohon di tunggu sebentar," jawab pelayan itu segera berbalik.

__ADS_1


"Oh, sebentar, saya mau bertanya," Jane mengehentikan pergerakan pelayan tersebut.


"Iya Nyonya, ada yang bisa saya bantu?" jawab pelayan itu.


"Apakah di sini ada salah satu pelayan yang bernama Alice? usianya seumuran dengan kita?" tanya Jane.


Pelayan itu terlihat sedikit berpikir, kemudian dia mengangguk.


"Ada Nyonya, dia pegawai baru, mungkin baru sebulan bekerja di sini, dia melamar bersama putrinya," jawab pelayan itu.


Jane dan Regina saling memandang, ternyata benar dugaan Jane kalau memang dia tidak salah lihat. "Bisakah kami bertemu Alice? atau suruh dia yang mengantarkan makanan kepada kami nanti?"


"Baik Nyonya, nanti akan saya sampai, mohon di tunggu sebentar," pelayan itu akhirnya pergi meninggalkan meja Jane dan Regina.


Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Alice datang dengan membawa nampan berisi pesanan kedua wanita itu.


"Alice? kenapa kamu bekerja di tempat seperti ini?" tanya Jane sedikit terkejut dengan sikap Alice yang menampilkan sikap ramah dengan senyuman di wajahnya.


"Tidak ada salahnya kan, kalau aku bekerja di tempat ini? uangku sudah habis, jadi mau tidak mau aku dan Veronica harus bekerja, selama beberapa bulan ini aku menyadari bahwa mungkin ini adalah karma untuk ku dan Veronica, karena sikapku yang selalu membuatmu sakit hati," jawab Alice menundukkan kepalanya.


Jane memegang tangan Alice, dia merasa kasihan dengan mantan madunya itu.


"Aku sudah memaafkan mu, Alice. Jujur aku sedih melihat mu bekerja seperti ini, jangan anggap aku sok kasian karena memang aku memang merasa kasian," ujar Jane menegaskan kalau dia tidak ingi di anggap mengejek Alice atau bagaimana.


Jane sudah sangat hapal bagaimana watak Alice. Tapi ekspresi yang di tunjukkan Alice lagi-lagi membuat Jane terkejut. Alih-alih memaki atau menghina seperti biasanya, Alice justru menangis. Apakah sekarang Alice sudah benar-benar berubah?


"Aku malu pada diriku, aku malu padamu, Jane. Aku yang selalu membuatmu sengsara, bahkan saat kamu sakit aku ingin mengusir mu dari rumah sakit agar keadaan mu semakin buruk, tapi nyatanya nasib baik selalu memihak mu, kini aku sadar, aku memang orang jahat, aku menyesal, Jane. Lihatlah sekarang kamu semakin terlihat baik, dan aku sebaliknya."


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2