Khilaf Terindah

Khilaf Terindah
Salah Paham


__ADS_3

Jangan lupa untuk meninggalkan jejak ya di kolom komentar 😁


Like, bunga dan kopi juga 🄰


Happy Reading 😊


"Rasakan, dasar pria hidung belang!" Gerutu Felicia setelah berhasil mematikan saklar kamar mandi. Felicia akan memberi pelajaran kepada Morgan karena berani mempermainkannya. Meskipun mereka akan menikah karena suatu kesepakatan, seharusnya Morgan tidak melakukan hal itu kalau memang dia pria sejati.


"Cih, menjijikkan sekali, membawa perempuan masuk ke dalam kamar mandi, kenapa tidak menyewa hotel saja!" gerutu Felicia.


Gadis itu memutuskan untuk masuk ke dalam toilet pria itu kembali. Karena Felicia mematikan seluruh lampu di toilet pria tersebut, membuat tempat itu terlihat sangat gelap, dan tidak ada yang bisa melihat dengan keadaan seperti itu, tentu saja dua orang di dalam toilet tersebut tidak berani berteriak karena keadaan yang tidak menguntungkan, sungguh cerdik bukan, batin Felicia.


Misalkan wanita di dalam toilet itu berteriak, akan datang orang-orang masuk ke dalam dan langsung mengira bahwa dia gadis murahan. Dan bisa di pastikan bahwa karir Morgan akan hancur dengan berita besar seperti itu.


Felicia tersenyum sinis, kemudian dia mengenakan kacamata night vision agar bisa melihat dalam keadaan gelap. Meskipun dia tidak bisa melihat wajahnya secara jelas, tapi Felicia masih bisa melihat bentuk tubuh dari manusia melalui kacamata itu.


'Ingin berbuat mesum di dalam kamar mandi, lihat saja aku akan memberikan mu sebuah hadiah, tuan Fernando Alvares!'


Felicia masuk ke dalam kamar mandi yang di pakai Morgan dan melihat pria yang di duga Morgan ada di sudut ruangan, gadis itu berjalan mengendap mendekati pria tersebut, ketika sudah dekat, Felicia langsung memukul pria itu dan menendang kuat bagian bawahnya hingga membuatnya berteriak.


"AAGGHHRRKK!! Sialan, siapa kau!" Pria yang mirip Morgan itu meringis kesakitan. Felicia mengangkat kakinya dan menendangnya lagi dengan sangat keras.


Dugh!


"Aaaggrrkk!! siapa yang melakukan ini!!" teriak pria itu menahan juniornya yang sudah sangat kesakitan. Gadis yang bersama pria itu nampak ketakutan dan tidak berani bersuara.


Sedangkan Felicia langsung keluar setelah mengesekusi bagian berharga pria tersebut.


"Lihat saja, juniormu pasti tidak akan bisa berdiri untuk beberapa waktu yang lama, jurusku tidak main-main dan kamu pasti akan merasakan stres luar biasa, enak aja mau menyelingkuhi aku dengan gadis seperti itu!!" Geram Felicia.

__ADS_1


Karena tidak ingin di curigai, Felicia memutuskan masuk ke dalam toilet wanita, merapikan penampilannya sebentar dan mencuci tangannya di wastafel.


Setelah beberapa saat Felicia keluar dari dalam toilet wanita dan berjalan ke arah toilet pria yang tadi telah terjadi drama eksekusi itu.


Gadis itu berdiri di luar toilet pria dan mengambil walkie-talkie untuk menghubungi anak buahnya.


"Halo, sepertinya terjadi masalah di dalam toilet pria, tadi aku baru saja keluar dari dalam toilet wanita dan mendengar teriakan di toilet dari dalam terdengar suara minta tolong, kalian segera ke sini karena aku tidak mungkin masuk ke dalam toilet pria kan?"


"Baik bos, kami akan segera ke sana!"


Felicia tersenyum penuh kemenangan karena telah berhasil mengerjai Morgan


Seminggu kemudian.


Rumah sakit F.A Hospital.


Di koridor di luar bangsal kelas VVIP di lantai dua rumah sakit, Morgan Fernando Alvares berjalan begitu cepat dengan tidak sabar, diikuti oleh sekretaris pribadinya, seorang pria elit berusia tiga puluhan yang bernama Jimmy.


"Di mana dia, Jimmy?" Tanya Morgan pada sekretarisnya.


"Ada di kamar depan itu, Tuan." Jawab Jimmy menunduk sambil terus mengikuti langkah lebar sang atasan.


"Cih, sangat merepotkan, kalau bukan keinginan kakek Edward, aku tidak sudi melakukan hal ini."


Edward adalah adik dari Darren dan sejak Morgan kecil sudah di asuh olehnya. Edward sangat menyayangi Morgan seperti cucu kandungnya sendiri. Sama halnya dengan Morgan yang begitu menyayanginya.


Apapun yang di katakan dan di inginkan oleh Kakek Edward, selalu di penuhi oleh pria itu.


Seperti saat ini, Morgan dipaksa oleh kakek Edward untuk mengunjungi pamannya yang bernama Felix di rumah sakit keluarganya. Sebenarnya Morgan sangat enggan tapi karena kakek Edward memaksa akhirnya Morgan mengalah demi keinginan sang kakek.

__ADS_1


Ketika dia sampaiĀ di luar kamar kelas VVIP yang di tunjuk oleh Jimmy, Morgan berdiri dan memperhatikan ke dalam ruang rawat yang tampak pintunya terbuka itu.


Di dalam, seorang pria yang terlihat beberapa tahun lebih tua dari Morgan dan postur tubuh dan wajahnya agak mirip dengannya sedang memarahi seorang dokter.


"Kalian memang tidak becus, tidak berguna! Sampai sekarang aku belum sembuh juga, bagaimana tangung jawab kalian di sini sebagai dokter!" Seru seorang pria yang memakai pakaian pasien.


"Maaf tuan Felix, anda terluka di bagian bawah sensitif anda dan butuh waktu sebulan baru bisa sembuh, jadi mohon bersabar. Kami sudah melakukan berbagai cara untuk membuatnya normal kembali, tetapi memang itu sedikit sulit." Jawab dokter itu menunduk.


Felix tidak terima, dia menyuruh seluruh rumah sakit mengeluarkan alat-alat tercanggihnya agar bisa dapat segera menyembuhkan miliknya itu.


"Rumah sakit terbesar di kota ini tidak bisa menyembuhkan lukaku dengan cepat!! lebih baik kalian para dokter tidak usah bekerja di sini lagi!!"


Morgan masih menatap Felix dari luar kamar dengan tatapan datar dan dingin. Ketika menyadari ada atmosfir yang aneh, Felix menoleh ke arah pintu dan melihat Morgan berdiri di luar kamar rawatnya dengan tatapan datar.


Felix tampak semakin emosi ketika melihat Morgan datang.


"Hei, kau Morgan Fernando Alvares,Ā apa kamu yang menyuruh orang untuk menghajar ku? Hah!" Felix menunjuk Morgan.


"Apa maksudmu?" Morgan menaikkan sebelah alisnya.


"Alah, tidak perlu mengelak!! Aku tahu kalau kamu sengaja menyuruh orang-orang mu untuk datang melukaiku seperti ini!!" Bentak Felix.


Morgan menatap tajam. "Kalau aku pelakunya, aku akan langsung membunuhmu! dari pada repot-repot menyuruh orang memukulmu seperti ini!" Jawab Morgan dingin.


Felix terlihat berpikir, dia mengingat kejadian di toilet pria di klub malam waktu itu saat ada seseorang yang memukul bagian sensitifnya sangat keras hingga mengakibatnya dirinya harus dirawat dirumah sakit seperti ini. Pria itu berfikir kenapa hanya bagian sensitifnya saja yang di serang dan merasa jika memang Morgan yang melakukannya, seharusnya Morgan memang bisa langsung membunuhnya.


'Sepertinya memang benar yang di katakan pria ini, kalau memang waktu itu pelakunya Morgan pasti pria itu sudah menyuruh orang untuk membunuhku, apalagi dalam keadaan yang benar-benar membuat ku tidak bisa berkutik.' Batin Felix.


Bersambung.

__ADS_1


Info: Di sini Darren sama Candy sudah meninggal sejak Morgan masih kecil ya. Jadi jangan ada yg nyariin Darren dan Candy di cerita ini.


__ADS_2