Khilaf Terindah

Khilaf Terindah
Masih salah paham


__ADS_3

Jangan bosan ya dengan alurnya ๐Ÿ˜


Happy Reading ๐Ÿ˜Š


Alice masih berteriak-teriak tidak terima karena di usir oleh Morgan.


"Lepaskan aku!! Apa kalian berdua tidak tahu siapa aku? Hah!! apa kalian tidak takut bisa menyinggung keluarga Bellerick jika kalian memperlakukan ku seperti ini!! Teriak Alice kepada pengawal Morgan yang sedang berusaha menyeretnya


Wanita itu masih meronta berusaha di lepaskan, apa lagi saat di hadapan Jane yang notabene adalah musuh utamanya, Alice tidak mau di permalukan seperti ini.


"Lepaskan aku! Akan ku tuntut kalian semuanya! Memangnya siapa kamu berani mengusir ku dari rumah sakit ini! Apa kamu tahu kalau Felicia itu adalah anak haram?" Alice mengancam dan menatap Morgan.


Morgan sedikit terkejut mendengar ucapan wanita itu. Tapi sedetik kemudian dia sudah bisa menguasai dirinya lagi


"Aku tidak peduli, nyonya!"


"Aku akan melaporkan kalian pada pemilik rumah sakit!!" Alice masih meronta berharap para pengawal itu takut dan melepaskan nya, tetapi paraย  pengawal itu tidak peduli sama sekali.


"Cepat bawa dia, kalau perlu seret sekalian!!" Seru Morgan.


"Baik tuan Fernando Alvares." Ucap para pengawal.


Alice baru saja teringat bagaimana pengawal memanggil pria itu.


'Apa tadi yang mereka bilang? Fernando Alvares? Nama itu, bukankah??' Alice membatin.


Tiba-tiba dia teringat rumah sakit milik siapa. Nama itu begitu familiar, dan seketika Alice tahu bahwa pria yang berada di hadapannya itu adalah Morgan Fernando Alvares, pemilik rumah sakit ini.


'Ya Tuhan, ternyata pria itu adalah pemilik rumah sakit ini!' Batin Alice malu


Akhirnya Alice pun terdiam dan merasa tidak punya muka lagi karena telah membawa nama pemilik rumah sakit yang ternyata ada di depannya saat ini.


"Ayo, Nyonya jangan menyulitkan kami!" seru salah satu pengawal.

__ADS_1


Alice memilih patuh karena dia sudah tidak bisa berkutik di depan Morgan ketika diusir oleh pengawal. "Lepaskan tanganku, aku akan pergi dari sini!" pengawal tersebut melepaskan tangan Alice yang sudah tidak melawan lagi.


Alice terlihat sangat buru-buru dan malu karena telah berurusan dengan pemilik rumah sakit yang tidak lain adalah Morgan Fernando Alvares.


Sekarang hanya tinggal Morgan dan Jane yang berada di depan pintu, menyaksikan kepergian wanita itu dengan perasaan sedikit lega. Jane menoleh menatap Morgan yang terlihat tampan dan berwibawa.


"Tuan, silahkan masuk." Ucap Jene.


"Morgan, panggil saja saya Morgan, Ibu." Sela Morgan dan Jane hanya mengangguk.


"Baiklah, Morgan, ayo masuk,,, terima kasih ya sudah memberikan ruangan mewah ini, dan juga dengan perawatan dokter luar biasa yang kamu berikan, sekarang keadaan ku semakin membaik," ucap Jane tersenyum.


"Iya, Ibu,, aku senang bisa membantu anda, cepatlah sembuh ya, nanti anda harus sehat agar bisa menyaksikan pernikahan ku dengan Felicia, pasti Feli juga ingin anda segera sembuh."


Morgan masuk ke dalam ruang rawat itu di ikuti oleh Jane. Ruangan yang benar-benar mewah dengan berbagai fasilitas di dalamnya, kelas satu kamar VVIP di rumah sakit itu bisa membuat suasana hati Jane bahagia. Sakit yang dia rasakan juga sudah mulai membaik. Bahkan saat ini Jane merasa sudah sangat sehat


Suasana tiba-tiba berubah agak canggung, karena Jane masih bingung harus memulai pembicaraan dari mana. Mengingat pria di depannya ini adalah seorang CEO nomer satu di kota itu.


Morgan yang melihat hal itu berinisiatif mencari topik pembicaraan.


"Felicia ada di rumah, dia masih tidur jam segini." Jawab Jane.


'Apa-apaan gadis itu, ibunya di rumah sakit tapi dia malah enak-enakan tidur di rumah.' Batin Morgan memandang rendah Felicia.


Jane menatap Morgan dan seketika tahu apa yang dipikirkan olehnya.


"Feli biasanya pergi ke rumah sakit pada siang hari karena bekerja shift malam, jadi paginya dia tidur dulu." Jane menjelaskan.


Tapi Jane tidak mengatakan pekerjaan Felicia sebagai pengawal di sebuah bar, tentu saja Jane tidak mau kalau sampai Morgan tahu pekerjaan putrinya itu. Meskipun pekerjaan Felicia bukan sebagai wanita penghibur tapi tetap saja kalau tahu kata-kata klub malam atau bar yang ada nanti Morgan akan berfikir yang tidak-tidak.


Tapi sepertinya Morgan sudah terlanjur mengecap Felicia sebagai cewek matre.


'Pasti pekerjaannya sangat memalukan,' batin Morgan.

__ADS_1


Jane masih bercerita tentang kehidupan Jane dan Morgan diam saja, Jane mengira kalau Morgan mendengar kan ceritanya dengan serius, padahal dalam hati Morgan malah mengolok Felicia.


"Feli adalah anak yang penurut, dia bekerja keras demi menghidupi kami dan untuk biaya pengobatan rumah sakit yang mahal, dengan segala cara Feli harus mendapatkan uang yang banyak, jadi aku minta tolong padamu nak Morgan, jagalah Felicia, karena sebentar lagi dia akan menjadi istrimu." Ucap Jane menatap Morgan.


'Gadis itu bisa dapat banyak uang karena dia matre, bahkan dia meminta aku menikahinya hanya menginginkan gelar nyonya CEO,' batin Morgan.


Pria itu tidak bisa menahan diri untuk tidak mengejek Felicia di dalam hatinya.


Tapi kemudian Morgan memikirkan janjinya, ini adalah hutangnya pada pada Felicia karena telah menyelamatkannya. Morgan terlihat menyugar rambutnya.


"Baiklah bu, aku berjanji padamu akan menjaga Felicia dan membahagiakan nya." Jawab Morgan.


"Terima kasih, nak Morgan." Ucap Jane berbinar. Dia sangat bahagia ketika melihat pria yang akan menjadi menantunya itu telah berjanji padanya akan menjaga Felicia.


"Bu, saya mau tanya, apakah Felicia itu anak haram? Tadi aku mendengar wanita yang ku usir berteriak seperti itu?" Tanya Morgan.


Jane langsung merubah mimik wajahnya, dia hanya diam saja setelah mendengar pertanyaan dari Morgan.


Tidak ada yang tahu apa yang dibicarakan oleh Morgan dan Jane di dalam. Morgan keluar sesaat kemudian dan Jimmy yang tadinya menunggu di luar mengikuti langkah atasannya itu.


Para Pengawal itu hanya melihat Jane yang berada di dalam masih terdiam untuk waktu yang lama.


Di sisi lain, Felicia bangun dan langsung membersihkan diri, setelah selesai gadis itu memutuskan pergi ke pasar untuk membeli sayuran dan membuat makan siang yang mewah untuk sang Ibu.


"Akhirnya, semuanya sudah siap." Ujar Felicia menatap kotak makanan di atas meja.


Akhirnya Felicia pergi ke rumah sakit dengan perasaan yang bahagia. Gadis itu dalam suasana hati yang baik karena baru gajian hari ini.


Felicia datang ke rumah sakit dengan wajah berseri-seri dan memasuki ruang rawat Ibunya.


"Ibu?" Felicia tidak melihat ibunya di dalam kamar. Pikirannya pun langsung kemana-mana. Dia berpikir bahwa ibunya telah kabur dari rumah sakit.


"Tidak, ibu tidak boleh pergi dari rumah sakit!"

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2