
Happy Reading π
Felicia menggerutu kesal sejak masuk ke dalam kamarnya yang sekarang ia tempati. Gara-gara aksi Morgan yang tiba-tiba menggendongnya di tempat umum bahkan sampai di rumah pun Morgan masih memaksa Felicia dan menggendongnya dengan alasan ia tidak mau terjadi apa-apa dengan calon baby-nya.
"Aku benar-benar tidak menyangka bahwa orang seperti Morgan mempunyai sisi yang sangat menyebalkan!! si tukang paksa!" gerutu Felicia.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu kamar. Felicia membuka pintunya dan melihat Jane berdiri di luar pintu dengan senyum yang sendu.
"Bu, ada apa?" tanya Felicia menatap sang ibu yang terlihat tidak baik-baik saja. Meskipun Jane saat ini tersenyum tetapi Felicia bisa melihat sorot mata kesedihan yang nampak di kedua bola matanya.
"Bolehkah ibu masuk?" Felicia langsung mengangguk.
"Tentu saja boleh, bu? Masuklah!" gadis itu menarik tangan sang ibu untuk masuk ke dalam kamarnya.
Kamar ini sangat besar, lima kali lipat lebih besar dari pada kamar di rumahnya yang kecil dan sempit itu.
"Ibu hanya ingin mengatakan padamu bahwa besok dia ingin menjadi pendamping pengantin untukmu, bagaimana, Feli? apakah kamu mau?" tanya Jane kepada putrinya.
Felicia nampak menghela napas panjang.
"Apakah kita bisa tidak melibatkan orang-orang itu? aku tidak mau ibu di sakiti lagi oleh mereka, aku tidak akan membiarkan mereka menghina kita lagi, bu!" seru Felicia menggebu.
"Tapi, nak,, biar bagaimanapun, dia adalah Ayah kandungmu, kamu harus bisa menghormati dia," Felicia menggeleng.
"Apakah pantas pria seperti dia di hormati! padahal jelas-jelas dia dan anak istrinya yang menyakiti kita!" Jane mengerti dengan perasaan Felicia.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau, ibu tidak akan memaksa, ibu hanya akan memberikan izin kalau kamu mengizinkan," ucap Jane.
Felicia memeluk ibunya, dia tahu kalau sang ibu baru saja bertemu dengan Ayahnya. Ibunya memang selalu seperti ini saat setelah bertemu dengan Ayahnya.
__ADS_1
###
Morgan menatap Felicia yang berada di atas balkon rumahnya sedang menangis. Mungkinkah calon istrinya itu sedang memikirkan masalah pernikahan mereka yang di adakan esok siang?
Morgan berjalan mendekati Felicia dan langsung mengulurkan tangannya. Felicia sangat terkejut ketika merasakan ada sebuah tangan yang melingkar di perutnya. Hembusan nafas hangat dapat Felicia rasakan mengenai pucuk telinganya.
Tentu saja wanita itu tahu siapa yang sedang memeluknya saat ini, tercium dari aroma parfum yang sangat familiar.
"Apa yang sedang kamu pikirkan?" tanya Morgan berbisik.
"Tidak, ada!"
"Lalu kenapa kamu menangis?" Felicia langsung menghapus sisa air matanya.
"Tidak, aku tidak menangis," jawab Felicia.
"Ada apa? apa kamu sedih dan tidak senang dengan pernikahan ini?" Felicia langsung menggeleng cepat. Tidak mau kalau Morgan berpikiran yang tidak-tidak.
"Bukan, aku senang kok!"
"Lalu kenapa kamu menangis? hem?"
"Aku hanya teringat Ayahku, aku sangat membencinya, aku tidak ingin dia dan keluarganya muncul di pernikahan kita!" Morgan langsung memeluk Felicia dan merasa lega karena calon istrinya itu tidak sedih karena pernikahan.
"Baiklah, aku akan melakukan apapun agar Ayahmu tidak datang, sekarang tenangkan dirimu, tidak boleh menangis lagi!" Morgan mengusap bekas air mata di pipi Felicia.
Kemudian dengan gerakan cepat, Morgan mencium bibir Felicia dan memagutnya lembut.
Felicia mengalungkan tangannya ke leher Morgan dan mereka berciuman di bawah sinar rembulan, menikmati momen-momen mesra mereka sebelum menjadi suami istri yang sah.
__ADS_1
###
Hari ini adalah hari yang di tunggu-tunggu oleh semua orang, terutama oleh dua pasangan baru baru saja mengucapkan janji suci pernikahan mereka.
Meskipun pesta pernikahan tidak mengundang banyak orang, tetapi acara pernikahan dari salah satu cucu Alvares tentu saja akan langsung menjadi perbincangan trending topik.
Banyak para sahabat dari kalangan bisnis dan klien penting ikut hadir walaupun tanpa di undang. Sepertinya kakek Albert dan Papa Aland harus menyewa sebuah stadion untuk menampung para tamu yang membludak tanpa di duga-duga.
Semuanya memberi selamat kepada kedua pasangan yang malam ini tampil dengan sangat serasi. Felicia terlihat dua kali lebih cantik dari biasanya dengan gaun pemberian ibunya gaun yang dulu di pakai Jane menikah dengan Brandon dengan sederhana.
Morgan juga nampak gagah dan tampan dengan menggunakan setelah tuxedo hitam dan kemeja putih.
Pestanya pun tampak begitu meriah, meskipun keluarga Alvares mengatakan bahwa mereka menggelar acara pesta pernikahan yang sederhana, tetapi tetap saja tidak akan sesederhana yang orang-orang bayangkan.
Pada saat semua sedang menikmati pesta itu, tiba-tiba semua orang di kejutkan dengan kehadiran dua orang yang membuat semuanya langsung menatap ke arahnya.
Regina dan Aland sangat terkejut melihat siapa yang datang. Terlebih lagi Rigen dan Emma. Mata mereka bahkan melotot sempurna saat melihat putrinya menggandeng lengan seorang pria yang mereka kenal sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi Morgan.
Berbeda dengan Morgan dan Felicia yang terlihat biasa saja karena memang keduanya sudah tahu hubungan antara Katrina dan Jimmy.
"Katty! apa-apaan ini!!" seru Rigen menatap sang putri dengan tatapan terkejut.
"Pa, Ma, Katty mau jujur pada kalian semuanya," ucap Katrina menatap kedua orang tuanya.
"Maaf tuan Rigen dan Nyonya Emma, saya dan Katrina sebenarnya sudah menjalin hubungan yang lama, saya sangat mencintai putri anda dan di malam pernikahan tuan Morgan saya juga ingin mengatakan pada seluruh keluarga Alvares bahwa saya dan Katrina akan mengumumkan hubungan kami," ucap Jimmy.
Bersambung.
Jangan lupa bunga dan kopinya ya akak2 reader semuanya π₯Ίπ₯ΊπΉπΉβββ
__ADS_1