
Happy Reading 😊
"Apa,,, apa yang akan anda lakukan! Hei dasar pria mesum!" teriak Felicia menutupi tubuhnya dengan tas kecil miliknya. Bersiap melempar tas itu ke wajah Morgan dan akan menendang miliknya kalau sampai hal itu terjadi.
Morgan memundurkan tubuhnya seraya tersenyum puas karena sudah mengerjai Felicia.
"Jangan bertingkah kekanakan, aku tahu kamu juga menikmatinya," Felicia membelalakkan matanya.
"Itu kan,, waktu itu aku hanya berusaha menolong mu," seru Felicia.
Morgan hanya diam.
"Kalau seandainya kamu bertemu dengan wanita lain, pasti wanita itu juga akan melakukan hal yang sama!" lanjut Felicia.
Morgan berjalan ke arah meja kerjanya dan duduk di kursi kebesarannya.
"Aku sudah selesai makan, kamu beresi semuanya dan silahkan keluar dari ruangan ku!" ucap Morgan tenang.
Padahal sebenarnya hatinya merasa kesal dengan penolakan Felicia. Selama ini belum pernah ada yang menolaknya, bahkan banyak para wanita yang menginginkan bercinta dengannya dengan suka hati, tapi Morgan bukan pria yang seperti itu.
Kalau saja seandainya Felicia tahu bahwa malam itu juga yang pertama untuknya, pasti wanita itu tidak akan percaya.
"Tuan, aku keberatan dengan perjanjian yang itu."
BRAKK!
Felicia terkejut melihat Morgan yang tiba-tiba menggebrak mejanya.
"Keluar! Aku sedang sibuk!" seru Morgan.
Felicia bisa melihat wajah Morgan yang berubah menjadi sangat menakutkan.
'Pria ini, kenapa tiba-tiba saja marah!'
"Apa kamu tuli!"
"Tidak tuan, saya akan membereskan ini dulu," ucap Felicia.
__ADS_1
"Tidak perlu, nanti akan ada yang membereskan, lebih baik kamu segera keluar dari sini!" seru Morgan menatap Felicia dengan tatapan dingin.
'Dasar pria menyebalkan!' batin Felicia beranjak dari tempat tersebut.
"Dasar cewek matre!! Apa yang dia tahu hanya uang dan kekuasaan! Aku juga pria normal yang tidak bisa diam saja melihat istrinya di dalam kamar, dengan seenaknya menolak ku!" gumam Morgan kesal setelah kepergian Felicia.
Meskipun Morgan tidak menyukai wanita itu, tapi melihat tubuh Felicia yang terbilang seksi dan juga mulus bisa membuat hasratnya kapan saja bisa timbul, apalagi kalau mereka sudah menikah.
Tentu saja merasakan bercinta dengan wanita yang pertama kali untuknya membuat Morgan menginginkan lagi, apalagi setelah mengetahui bahwa hal seperti itu ternyata nikmat, membuatnya bisa melayang terbang.
Selama ini tidak ada wanita yang bisa membuatnya berhasrat, meskipun para wanita itu sudah menanggalkan pakaiannya di hadapan Morgan, tetapi tidak ada yang bisa membuat hasratnya naik.
"Sialan!" Morgan melempar pulpen ke atas meja.
Dia tidak menyangka, ternyata Felicia sangat jual mahal. Harga dirinya sebagai laki-laki merasa terinjak.
"Jimmy!!" teriak Morgan.
Sang sekretaris pribadi yang ada di luar langsung masuk ketika mendengar teriakan atasannya itu.
"Ada apa, tuan?" tanya Jimmy.
"Tiga hari, tuan?"
"Jimmy! Kau tidak tuli, kan?" tanya Morgan menahan amarah.
"Tidak tuan, baik, akan saya lakukan!" Jimmy memberi hormat, kemudian keluar dari ruangan Morgan.
Sedangkan di sisi lain.
Felicia keluar dari kantor Morgan sambil menggerutu kesal akibat ulah Morgan yang dengan mudahnya mengatakan harus melayani hasratnya setelah menikah.
"Dasar pria gila, mesum, kenapa juga aku harus terikat dengan orang seperti itu!"
Felicia bergidik ngeri membayangkan Morgan yang menjamahnya, bahkan mungkin dia sudah sering melakukan hal itu dengan wanita lain, mengingat kejadian di bar waktu itu.
"Aku tidak sanggup!!" seru Felicia.
__ADS_1
"Feli, bagaimana dengan pertemuan mu dengan Morgan?" Felicia berhenti ketika melihat ibunya sudah berada di depan kantor perusahaan Sky Alvares.
Jane menarik Felicia dengan senyum mengembang ke arah taksi yang sudah di pesannya.
"Ibu, sejak kapan ibu berada di depan perusahaan ini?" tanya Felicia.
"Tadi kan ibu menunggumu di kafe depan, ibu merasa bosan dan memutuskan untuk ke perusahaan," Felicia mengangguk paham.
"Bagaimana tanggapan Morgan tentang masakan mu?" tanya Jane yang saat ini sudah duduk di dalam taksi bersama putrinya.
Felicia mendesah kasar. "Dia menyukainya, bu," jawab Felicia tidak bersemangat.
"Benarkah? itu artinya dia benar-benar menyukaimu," ucap Jane tersenyum lebar.
Felicia menoleh dan melihat wajah ibunya yang sudah semakin terlihat merona, bibir pucat nya sudah tidak ada lagi, berganti dengan bibir yang terlihat pink segar.
"Bu, bagaimana kalau Feli tidak jadi menikah dengan Morgan?" Jane langsung menoleh.
"Kenapa kamu bicara seperti itu, nak? apa kalian sedang bertengkar? apa Morgan tidak baik padamu?" Felicia menggeleng.
"Lalu kenapa tiba-tiba kamu bicara seperti itu?" tanya Jane penasaran.
"Entahlah, bu,, sepertinya pernikahan ini tidak bisa di teruskan, apalagi ini terjadi karena kesalahan," ucap Felicia sendu.
Entah kenapa tiba-tiba keinginannya untuk menjadi istri CEO lenyap begitu saja.
"Semuanya yang terjadi karena kesalahan harus di luruskan, Morgan sepertinya orang yang baik, aku yakin kalau dia itu pria yang bertanggung jawab, Feli,, lihatlah ibu, bagaimana nasib ibu yang tidak pernah di nikahi secara resmi oleh Ayahmu? Morgan bersedia menikahi mu karena telah terjadi kesalahan di antara kalian, dan dia bersedia, jadi jangan sampai ketika kamu hamil, Morgan sudah tidak mau lagi bertanggung jawab!"
Felicia terkejut mendengar ucapan ibunya. Kenapa kisahnya hampir sama dengan kisah ibunya. Namun bedanya di sini Morgan mau bertanggung jawab, sedangkan Ayahnya malah menelantarkan dia dan ibunya.
'Apa aku harus menikah dengan Morgan? bagaimana kalau aku hamil?' batin Felicia.
Bersambung.
Hai akak reader semuanya 😁
Mana nih dukungan nya buat author 🥺
__ADS_1
jangan lupa meninggalkan jejak ya di kolom komentar, like, bunga dan kopinya jangan lupa. 🥰🥰