
Happy Reading 😊
Alice dan Veronica di usir dari rumah keluarga Alvares setelah mereka membuat keributan di halaman depan rumah mewah bergaya Eropa tersebut. Entah dari mana mereka tahu bahwa Jane tinggal di rumah itu dan mereka mencari Jane untuk membuat perhitungan.
"Tenanglah Jane, kamu aman di sini, mereka tidak akan melukai mu," ucap Regina menenangkan sahabat sekaligus besannya itu.
"Mereka selalu membuat ku tidak tenang, aku harus bagaimana, Re?" Jane mendesah pelan.
"Aku akan memberikan dua pengawal untuk mu, kamu tidak perlu khawatir, Jane, kalau mereka berbuat macam-macam, aku pastikan mereka akan mendekam di penjara," ucap Regina.
"Dasar jal*ng tidak tahu diri!! lihat saja aku akan membuat hidup mu menderita!! dasar pelakor!!" Jane masih bisa mendengar Alice berteriak lantang di luar pagar yang menjulang tinggi itu.
Alice di seret dan di dorong oleh penjaga sampai terjatuh. Veronica langsung membantu ibunya dan merasa para penjaga sangat keterlaluan.
"Kenapa kalian bersikap seperti pengecut!! kami adalah wanita yang tidak seharusnya di perlakukan seperti ini!!" seru Veronica.
"Nyonya, apakah anda ingin di bawa ke kantor polisi? anda mengganggu ketenangan keluarga Alvares di sini!!" seru salah seorang penjaga membuat Veronica langsung menutup mulutnya rapat.
"Tidak!! aku tidak akan pergi sebelum aku bertemu dengan jal*ng itu!"
"Kalau anda tetap tidak mau pergi, jangan salahkan kami kalau sebentar lagi akan ada polisi yang membawa kalian!! seru salah satu penjaga. Mereka juga tidak ingin menyakiti dua wanita itu. Akhirnya hanya ancaman polisi agar mereka jera.
"Ma, ayo pergi dari rumah ini, apa Mama akan berbuat hal-hal yang memalukan, ingat Mama berhadapan dengan siapa! bisa saja besok kita sudah mendekam di penjara!" bisik Veronica.
Wanita itu menarik Mamanya pergi dari halaman rumah mewah tersebut dan segera masuk ke dalam mobil. Veronica melajukan mobilnya secepat mungkin agar bisa pergi dari tempat itu.
__ADS_1
"Aaagggrrkkk!! Kenapa aku tidak pernah mendapatkan hal-hal yang baik di hidupku!! kenapa wanita itu selalu mendapat segalanya!!" seru Alice menarik rambutnya.
Veronica hanya diam saja tidak menanggapi, lama-lama dia juga bisa stres kalau terus seperti ini.
###
Beberapa hari kemudian.
Morgan menatap istrinya yang sejak tadi merasa gelisah. Mereka baru saja melakukan hubungan suami istri setelah tidur siang. Morgan sudah kembali ke apartemennya dan mengajak ibu mertuanya.
Morgan mengambil cuti satu Minggu setelah menikah, dia ingin menikmati masa-masa pengantin baru bersama sang istri. Maklum, pria itu belum pernah berpacaran, jadi baru bisa merasakan indahnya memiliki seseorang dalam hidupnya, dan juga tambatan hati yang kini memenuhi jiwanya membuat Morgan tidak ingin jauh-jauh dari Felicia.
Tetapi saat ini Morgan di buat bertanya-tanya dengan Felicia yang sejak tadi gelisah setelah mendapatkan telepon dari seseorang.
"Feli, kenapa dari tadi kamu terlihat tidak tenang? apakah ada yang mengusik mu?" tanya Morgan mendekati Felicia yang tengah duduk di sofa kamarnya.
Morgan merangkul bahu Felicia dan membawa kepalanya ke dada bidang pria tersebut. "Kenapa ayahmu masih saja mengusik ibu? kemarin-kemarin Nyonya Alice yang mengusik kalian, tapi orang-orang ku sudah membuat mereka jera. Sekarang ayah kandungmu, apa yang sebetulnya mereka inginkan?" Felicia menggeleng pelan.
"Aku tidak tahu, mereka benar-benar seperti benalu, seandainya semuanya bisa di ubah, takdir manusia bisa kita atur, aku gak ingin memiliki ayah seperti dia, aku ingin merasakan keluarga yang utuh, ayah yang selalu ada untuk kita, melindungi kita, dan juga selalu tersenyum saat kita pulang setelah bekerja." Felicia mendongakkan kepalanya dan menatap wajah Morgan.
"Aku ingin memiliki keluarga yang utuh, ayah dan ibu yang saling menjaga dan menyayangi anak-anaknya. Tidak seperti yang aku rasakan selama ini, sejak kecil aku dan ibuku selalu mendapatkan hinaan dan cacian dari tetangga, mereka hanya tahu luarnya saja, ibuku hanya berusaha melindungi ku dan menjadikan ku sosok yang kuat, kamu tahu apa yang semakin membuat ku merasa tertekan?" tanya Felicia masih menatap Morgan.
"Ibu tidak bisa melihat ayah dan tidak mau membuka hatinya untuk orang lain, padahal aku ingin ibu bisa merasakan bahagia, memiliki suami dan keluarga yang utuh, tapi nyatanya sampai sekarang ibu tidak mampu menghilangkan pikiran tentang ayah!" Felicia menangkup wajahnya. Membuat Morgan langsung memeluk istrinya itu erat.
"Aku tahu apa yang kamu rasakan, Feli. Tapi jangan menjadi terbebani hanya karena masalah itu, yakinlah bahwa Tuhan tidak mungkin membuat mu selalu tersiksa, percaya bahwa kamu pasti akan bahagia suatu saat nanti, dan sekarang kamu sudah menjemput kebahagiaan mu," ucap Morgan membuat Felicia tersenyum.
__ADS_1
Melepaskan diri dari pelukan sang suami, Felicia memegang pipi Morgan dan menariknya perlahan. "Tapi aku bersyukur dengan kehidupanku saat ini, aku bisa mengenal mu dan menjadi istri dari Morgan Fernando Alvares, di mana posisi ku ini pasti banyak yang menginginkan." Ucap Felicia tersenyum.
Morgan merasa sangat senang mendapatkan pujian seperti itu dari Felicia.
"Aku juga sangat senang bisa bertemu dengan perempuan tangguh dan kuat seperti dirimu, jadi apakah kamu sudah mulai memiliki perasaan padaku? apakah kamu sudah mulai mencintai ku?" tanya Morgan.
Felicia menatap wajah Morgan dengan intens. Dia memang sudah mulai merasakan cinta terhadap suaminya, cinta itu datang kapan saja dan tidak bisa di cegah. Saat orang yang berada di dekat kita bisa selalu membuat kita nyaman, kenapa kita tidak bisa mencintainya dengan mudah.
"Kalau begitu bagaimana dengan mu? apakah kamu sudah memiliki perasaan itu padaku?" Felicia berbalik bertanya.
Morgan menangkup kedua pipi istrinya. "Aku sudah mencintaimu sebelum kita menikah, saat malam itu, ketika aku menginap di rumah mu, waktu itu aku melakukan nya dengan perasaan, aku sudah mencintaimu sejak saat itu, istriku," jawab Morgan kemudian menjadi mencium bibir sang istri.
"Aku juga mencintaimu, suami ku," jawab Felicia.
"Ayo kita mandi, malam ini aku akan mengajakmu ke suatu tempat," Morgan menggendong Felicia dan membawanya ke dalam kamar mandi.
Malam ini, Morgan akan mengajak Felicia menghadiri sebuah pesta ulang tahun sahabatnya.
Setelah selesai mandi, Felicia di kejutkan dengan kehadiran tiga orang di depan kamarnya.
"Mereka siapa?" tanya Felicia saat ada tiga orang yang sudah menunggunya.
"Mereka yang akan mendandani mu, tenang saja, mereka ini sudah sangat profesional, aku ingin kamu tidak terlalu lelah, akhir-akhir kamu selalu mengeluh bahwa kaki dan tanganmu capek dan pegal-pegal, jadi aku mengundang langsung, oh ya, salah satu mereka ini adalah make up artis, yang wanita itu akan memijit mu agar badanmu rilex," ucap Morgan.
"Wah, kebetulan sekali, terima kasih, sayang!" ucap Felicia mencium pipi kiri Morgan di depan ketiga orang itu. Dan hal itu membuat Morgan sangat senang.
__ADS_1
"Sama-sama, aku suka dengan panggilan darimu, sayang," ucap Morgan membelai pipi Felicia dan langsung mencium nya gemas.
Bersambung.