
Happy Reading 😊
"Morgan! beri aku 20% saham milik ayahku kalau kamu tidak ingin aku menuntut istrimu!!"
Felicia membelalakkan matanya mendengar ucapan Felix, wanita itu akan melangkah menghampiri Felix untuk menghajarnya, bila perlu membuat burungnya patah agar pria itu tidak berulah lagi.
Tetapi Morgan langsung menahan tangan sang istri sambil menggelengkan kepalanya. Morgan tahu Felix itu orang seperti apa. Dia bahkan tidak segan-segan menyakiti wanita apabila merasa sudah sangat marah dengan wanita itu.
"Jimmy, urus Paman Felix, aku tidak ingin ada yang menggangguku berbulan madu, pastikan dia beres dalam waktu sehari," ucap Morgan.
"Baik, Tuan," jawab Jimmy menunduk.
Morgan langsung memeluk pinggang Felicia dan membawanya pergi dari tempat itu.
"Mari tuan Felix, tuan Morgan sudah menyiapkan sesuatu untuk anda," ucap Jimmy.
"Baiklah, aku harap itu hal baik dan 20% saham Morgan harus di serahkan, kalau kalian tidak ingin aku menuntut istri Morgan!" jawab Felix.
Jimmy mengajak Felix untuk ikut masuk ke dalam mobil. Sepertinya Felix benar-benar merasa di atas angin. Dia mengira Morgan takut dengan nya karena mengancam dengan menuntut Felicia.
Tetapi sepertinya semua pemikiran Felix salah besar, Morgan akan membuat pamannya itu merasakan sesuatu yang selama ini sangat dia takutkan.
Apakah Felix meragukan kekuasaan Morgan? Tidak akan ada yang bisa menindas nya meskipun itu pamannya sendiri, apalagi orang itu mengancam menggunakan nama Felicia, tentu saja Morgan sangat murka mendengar hal itu.
"Apa yang akan kamu lakukan kepada Paman Felix, sayang?" tanya Felicia menoleh ke arah Morgan.
Mereka saat ini sudah berada di dalam pesawat pribadi milik keluarga Alvares.
"Aku hanya akan memberikan paman sedikit hadiah yang tidak akan pernah dia lupakan," jawab Morgan tersenyum.
Felicia hanya mengangguk, dia percaya bahwa suaminya pasti bisa mengatasi Felix dengan mudah. Felix sama sekali tidak memiliki kekuasaan apapun untuk bisa menjatuhkan Morgan.
__ADS_1
Sepertinya sudah cukup bagi Felix berfoya-foya menghabiskan harta kekayaan keluarga Morgan yang selama ini masih menggelontorkan dana asuransi untuk kakek.
Dan tentu saja Felix juga ikut menggunakan uang itu.
Sekarang saatnya menghentikan semua fasilitas yang selama ini di gunakan oleh Felix. Mungkin setahu pamannya itu, uang yang dia dapat dari sang ayah adalah uang Ayahnya sendiri. Felix tidak tahu kalau sebenarnya semua yang di pakai olehnya itu adalah harta dari Morgan.
"Baguslah, sekali-kali dia harus mendapatkan pelajaran yang membuatnya jera," ucap Felicia.
"Oh, ya, sayang, kapan Jimmy pensiun? bukankah sebentar lagi dia juga akan menikah, kasian loh dia, sudah lama berpacaran dengan Katrina, apa kamu masih tetap akan menjeratnya sebagai asisten mu?"
"Tidak, aku sudah menyuruhnya berhenti dan mencarikan penggantinya, dia hanya mengatakan akan berhenti bekerja kalau sudah mendapatkan pengganti nya yang tepat, sepertinya dia memang benar-benar bertanggung jawab," ucap Morgan.
Memang sudah lama Jimmy bekerja sebagai asisten sekaligus sekretaris pribadi Morgan, pria yang sangat setia dan juga sangat bisa di andalkan itu selalu tahu mana yang bisa membuat perusahaan menjadi semakin berkembang.
Perkembangan Sky Alvares Grup juga tidak lepas dari tangan dingin Jimmy Hendrix.
"Apakah nanti kita akan memiliki resort pribadi? Seperti cerita-cerita di novel atau film-film di bioskop?" tanya Felicia antusias.
"Benarkah? Ah,, aku jadi tidak sabar, ternyata punya suami kaya itu memang enak, ya? Bisa pergi bulan madu ke Maldives, bisa punya barang mewah, bisa makan apa saja yang kita inginkan. Aku kira hanya di cerita novel kalau seorang CEO itu memang benar-benar kaya, bahkan bisa membeli pulau pribadi," ucap Felicia tertawa lirih.
Morgan hanya menggelengkan kepalanya, tingkah istrinya itu benar-benar menggemaskan, seperti anak kecil.
"Eh, tunggu dulu, kenapa kamu memiliki Resort pribadi? apakah kamu sering membawa wanita pergi ke sana?" Felicia memicingkan matanya.
Morgan kali ini mencubit hidung Felicia dan menariknya sedikit keras. "Enak saja, itu baru di sewa Jimmy kemarin malam, aku tidak pernah pacaran apalagi bermain dengan wanita, yang ada mereka hanya akan mendengar ocehan ku tentang pergerakan saham di table datanya, aku sama sekali tidak pernah memikirkan hal-hal seperti itu," jawab Morgan.
"Ehm, ya biasanya kan kalau orang-orang seperti mu itu suka melakukan one night stand kalau sedang suntuk dan banyak masalah pekerjaan, Aduh!" Felicia memegang keningnya yang mendapatkan sentilan dari sang suami.
"Aku bukan orang seperti itu, bukankah kamu juga sudah tahu kalau kamu adalah wanita pertama ku, sayang? apa kamu meragukan ku?" tanya Morgan dengan tatapan yang lembut.
"Tidak, aku tahu kamu tidak berbohong," jawab Felicia ketika melihat mata Morgan.
__ADS_1
"Lalu apa yang kamu rasakan setelah menikah dengan seorang CEO?"
"Ehm, rasanya luar biasa, jujur, di awal aku memang hanya ingin memanfaatkan jabatan istri CEO, tapi ternyata setelah menikah denganmu, aku berpikiran lain," jawab Felicia.
"Apa itu?" tanya Morgan mengerutkan keningnya.
Felicia menghadap ke arah suaminya dan menyentuh wajah sang suami.
"Aku ingin cinta darimu, perhatian mu, kasih sayangmu dan aku ingin menjadi ibu dari anak-anakmu," jawab Felicia tersenyum.
Morgan menyentuh tangan Felicia yang masih berada di pipinya, kemudian berganti mencium bibir sang istri dengan lembut.
"Aku juga ingin cinta darimu, kasih sayangmu dan perhatian mu, sayang," ucap Morgan kemudian mencium bibir Felicia kembali.
###
"Wow, Maldives!! it's My Dream!"
Felicia begitu bahagia saat melihat pemandangan yang begitu indah di depan matanya itu. Setelah menempuh perjalanan belasan jam, akhirnya mereka sampai di Maladewa pagi hari.
Morgan membawa beberapa pengawal untuk memberikan keamanan kepada mereka selama liburan.
"Apa kamu suka, sayang?" tanya Morgan sambil merangkul pinggang istrinya.
"Suka sekali, aku tidak menyangka bisa menginjakkan kaki di sini, ahh, terima kasih, sayang!" Felicia memeluk suaminya dari samping dan memberi kecupan di pipi Morgan yang di tumbuhi bulu tipis itu.
"Aku senang kalau kamu senang, sayang, sekarang ayo kita masuk ke Resort, nanti kamu akan lihat pemandangan yang menakjubkan," ucap Morgan.
Ah, sepertinya Felicia sedang bermimpi.
Bersambung.
__ADS_1