
Happy Reading 😊
"Bos, sebenarnya ada masalah apa? kenapa aku harus berangkat kerja sekarang?" tanya Felicia.
"Tamu kita kali ini ingin di jaga oleh pengawal perempuan, karena dia akan mengadakan pertemuan dengan kepala mafia dan tidak ingin terlalu mencolok, kalau dia sebenarnya di kawal olehmu, yang penting kamu harus datang, cepat sedikit, sebentar lagi tamu kita akan datang, aku tunggu!" Felicia menjauhkan ponselnya dari telinga.
"Dasar bos pemaksa dan suka perintah! eh kalau tidak suka perintah itu namanya bukan bos, ya? untung dia gak pelit!" gerutu Felicia.
Akhirnya Felicia dengan terpaksa menerima tawaran dari bosnya dan segera bersiap-siap untuk pergi ke tempat bekerja.
Biasanya kalau kebanyakan wanita di luar sana pasti berlomba-lomba ingin tampil cantik dan sempurna ketika berada di hadapan orang lain atau pada saat dirinya bekerja, tetapi tidak dengan Felicia. Dia akan berdandan sebaliknya, sejelek mungkin. Karena tempat kerja dia yang mengharuskan dia berdandan seperti itu.
Kalau dia berdandan cantik, sudah bisa di pastikan bahwa dia akan mengalahkan kecanduan para wanita penghibur di bar itu.
Felicia menyiapkan peralatan make up yang biasa ia pakai saat bekerja dengan berdandan sangat jelek.
Semuanya sudah ia persiapkan, tinggal memasukkan bajunya yang biasa ia pakai saat bekerja, yaitu baju seragam pengawal.
"Bu, di mana baju seragam ku bekerja?" seru Felicia ketika melihat Ibunya baru saja bangun.
"Kenapa kamu tanya Ibu? bukankan kamu sendiri yang memakainya?" jawab Jane.
Felicia mondar mandir mencari seragamnya dan alhasil dia ingat bahwa pakaiannya ia cuci tadi pagi dan sekarang masih di jemur. "Seragam yang satunya aku tinggal di loker. Huh, barus memakai kaos dulu kalau begitu!" gerutu Felicia.
Sedangkan di sisi lain.
Morgan dan Regina sudah sampai di ujung jalan depan gang kecil yang menghubungkan jalan ke rumah Felicia.
"Ma, rumahnya ada di ujung gang sana, gang sempit itu hanya bisa di lewati 1 motor dan mobil tidak bisa masuk. Kalau Mama keberatan untuk jalan kaki ke sana lebih baik kita urungkan saja,"
"Eh, siapa yang keberatan? Mama tidak keberatan jika harus berjalan kaki sebentar ke ujung sana, ayo cepat turun!" Regina membuka pintu Mobil dan keluar.
Morgan mendesah pelan. Tentu dia tahu kalau Mamanya tidak akan merasa jijik atau risih di tempat seperti ini. Mama Regina ini jenis orang kaya yang bisa langsung beradaptasi dengan lingkungan baru, tidak pernah membeda-bedakan mana orang kaya dan orang miskin.
"Morgan!! ayo cepat keluar, kenapa kamu lemot sekali!!" seru Regina yang sudah berada di luar.
Akhirnya Morgan keluar dari dalam mobil dan mengajak sang Mama berjalan melewati gang sempit menuju rumah Felicia.
__ADS_1
"Kenapa Mama jadi deg-degan, ya?" ucap Regina menyentuh dadanya.
"Memangnya kenapa?" tanya Morgan.
"Entahlah, Mama juga tidak tahu, hanya antusias saja!" jawab Regina.
Setelah beberapa saat akhirnya mereka sampai di depan rumah yang tidak terlalu besar tetapi nampak asri dan nyaman.
Morgan memutuskan untuk mengetuk pintu, setelah beberapa saat pintu pun terbuka dan menampilkan Felicia yang sudah berpenampilan rapi.
"Morgan! Nyonya Regina!"
"Hai calon menantu, apa kamu sedang sibuk, sayang?" tanya Regina ketika melihat Felicia yang sudah siap dengan tas jinjingnya.
"Saya mau berangkat bekerja, Nyonya," jawab Felicia melirik ke arah Morgan yang sedang meneliti penampilan Felicia.
"Eh, kenapa masih bekerja? kamu tidak perlu bekerja setelah menjadi istri Morgan, sekarang kamu harus fokus mengurus pernikahan kalian, ayo aku juga ingin bertemu dengan ibumu?"
"Tapi saya sudah di tunggu sama bos,,,"
"Morgan, kamu ini bagaimana? lihat istrimu? kenapa kamu membiarkan calon istrimu bekerja? padahal kamu tidak akan kekurangan uang sampai sepuluh turunan, ibu malu sekali!" seru Regina.
"Itu karena kamu tidak tegas sebagai pria? apa kamu lupa kalau istrimu ini sedang hamil?"
"Apa? siapa yang hamil?" ketiga orang itu langsung menoleh ketika mendengar suara dari arah dalam.
"I_ibu?" Felicia tidak menyangka bahwa ibunya mendengar ucapan Regina.
"Jane?" gumam Regina.
Ibu Felicia nampak terkejut melihat siapa yang ada di hadapan saat ini.
"Re_regina?" Morgan dan Felicia hanya bisa melongo ketika melihat kedua ibu mereka ternyata saling mengenal.
###
"Halo, bos! iya bos saya akan berangkat sekarang!" Felicia mematikan panggilan dari bosnya.
__ADS_1
"Ibu, aku akan pergi bekerja!" ucap Felicia dengan wajah yang panik.
"Feli, sebaiknya kamu tetap di sini karena Mama akan mengajakmu pergi ke butik untuk melihat gaun pengantin, apa kamu tidak ingin melihat bagaimana gaun mu nanti?" tanya Regina.
"Tapi Nyonya?"
"Sudah ku bilang jangan panggil Nyonya tapi Mama, dan biar Morgan yang akan mengurus bos mu!" ucap Regina menatap sang putra yang sudah menunjuk wajahnya sendiri. Regina mengangguk dan memaksa Morgan untuk pergi ke tempat kerja Felicia dan menyampaikan pengunduran dirinya.
"Baiklah," jawab Morgan kemudian berjalan keluar.
"Halo, Jimmy, sebaiknya kamu pergi ke Bar xx sekarang, aku tunggu kamu di sana,"
"Baik, bos."
Setelah menghubungi Jimmy, akhirnya Morgan memutuskan untuk langsung pergi ke bar yang tidak begitu jauh dengan rumah Felicia.
Sedangkan di dalam Bar, seorang pria tengah menunggu dengan gelisah kedatangan wanita yang beberapa hari ini mengusik pikirannya.
Sungguh tidak menyangka bahwa wanita yang membuat hatinya tidak tenang adalah calon istri dari sahabat baiknya sendiri.
"Mana nona Felicia? Kenapa dia blm datang?"
"Maaf, tuan Alexander, saya baru saja meneleponnya, katanya dia sudah di jalan," ucap bos Felicia menunduk.
'Awas kamu Felicia, sangat memalukan, aku akan menghukum mu!"
Alexander menunggu dengan tidak sabar, sebenarnya dia hanya ingin bisa bicara dengan Felicia lebih leluasa, karena di jam seperti ini, tempat ini sebenarnya masih belum buka untuk umum.
Hanya tamu tertentu yang bisa datang dengan alasan yang tepat.
"Apakah Felicia masih lama!!" seru Alex.
"Felicia tidak akan datang karena dia sudah bukan pegawai di sini lagi!" seru sebuah suara yang berasal dari pintu masuk.
"Morgan!" gumam Alex.
"Tuan, tuan Morgan?"
__ADS_1
Bersambung
Mana nih dukungannya🥰