Khilaf Terindah

Khilaf Terindah
Alice & Veronica


__ADS_3

Happy Reading 😊


Morgan dan Felicia terkejut ketika melihat Mama Regina keluar dari dalam kamar Ibu Jane.


"Mama! kenapa ada di sini?" tanya Morgan.


"Justru Mama yang bertanya, kenapa kamu ada di sini!" tanya Regina melototkan matanya.


Morgan dan Felicia terlihat salah tingkah, apalagi dengan Felicia yang sudah bingung bagaimana harus menjelaskan kepada Ibunya dan Mama Regina. Kenapa Morgan baru keluar dari dalam kamarnya, apakah dia harus berbohong dan mengatakan bahwa Morgan baru datang, oh tidak, Felicia tidak bisa berbohong, saat ini dirinya benar-benar gugup setengah mati.


Jane dan Regina memicingkan matanya. "Sejak kapan kamu ada di sini, Nak Morgan?" tanya Jane.


Ibu Felicia ini juga terkejut melihat Morgan yang keluar dari dalam kamar putrinya.


"Ehm, sejak semalaman, bu!" jawab Morgan jujur dan hal itu langsung membuat Regina menjewer telinga putranya.


"Oh, pantesan di ujung jalan sana Mama melihat seperti mobilmu, pas Mama mau ke sini! jadi benar ternyata itu mobil kamu, kenapa kamu malam-malam ke rumah Felicia?" seru Regina.


Felicia dan Jane hanya bisa melongo melihat CEO Morgan Fernando Alvares yang terkenal Arrogan dan kejam bisa takluk di tangan sang Mama.


"Ma, lepas donk! malu di lihat calon istri sama calon ibu mertua, masa Mama tidak malu, putranya di permalukan seperti ini!" Regina melepaskan tangannya dari telinga sang putra.


Istri dari Aland itu mendengus kesal melihat tingkah putranya yang sangat keterlaluan. Dulu bersama Katrina, sekarang dengan Felicia. Apakah dia tidak bisa menunggu beberapa hari saja untuk mendapatkan akte nikah dan setelah itu bisa sepuasnya bermain di atas ranjang.


"Tadi malam aku menginap di rumah calon istri, apa ada yang salah? bahkan aku bisa tinggal bersama dengan Felicia di apartemen kalau Feli mau, bahkan sebelum kita menikah," ucap Morgan membela diri.


Felicia langsung melotot mendengar hal itu.


Memang di USA sudah menjadi hal biasa tinggal serumah bersama dengan kekasihnya, bahkan sampai ada yang memiliki anak tapi status mereka belum menikah.


Tapi bagi Regina Alvares, hal itu tidak di benarkan sama sekali. Sejak dulu keluarga Alvares selalu menjunjung tinggi kehormatan wanita, maka dari itu Regina begitu marah ketika sang putra melakukan hal itu.


Ini sudah yang kedua kalinya dia menghamili anak gadis orang, sepertinya Regina harus cepat-cepat menikahkan mereka berdua agar tidak terjadi hal-hal yang di inginkan.


"Baiklah, Mama ingin mulai besok Felicia dan Jane tinggal di rumah Mama," ucap Felicia menatap sahabatnya.


"Loh, kenapa jadi aku ikut tinggal di rumah mu, Re?" tanya Jane.

__ADS_1


"Kita harus mengurus acara pesta pernikahan putra dan putri kita, jadi aku ingin kamu tinggal di rumah kita," ucap Regina.


"Kalau begitu aku juga akan tinggal di rumah," sela Morgan.


"Kenapa? bukankah kamu lebih suka tinggal di apartemen?" sindir sang Mama.


"Kalau calon istriku tinggal di rumah, aku juga akan tinggal di rumah, iya kan, sayang, jadi aku tidak akan kesulitan untuk menemui mu kalau aku kangen," ucap Morgan merangkul bahu Felicia dan langsung mendapatkan cubitan si perutnya.


Regina terlihat berpikir, sepertinya rencananya untuk sang putra agar terhindar dari Katrina berhasil. Regina tahu kalau keponakannya itu datang ke Florida dan menginap di apartemen Morgan. Meskipun Katrina belum bertemu dengannya langsung tetapi Regina tahu dari para Mata-mata yang di tugaskan untuk mengawasi sang putra.


"Baiklah, kamu sebaiknya juga pulang ke rumah, mau menikah itu banyak rintangan dan cobaan, jangan sampai nanti akan ada halangan untuk kalian, ayo Feli, kamu juga bersiap-siap, hari ini kamu dan ibumu pindah ke rumahku," Felicia dan Jane terlihat bingung.


"Tapi, Re. Kita boleh kembali ke sini lagi, kan?" tanya Jane.


Regina tersenyum. "Mau kembali lagi boleh, tidak juga boleh, seenaknya kamu saja, Jane, aku pasti akan sangat senang kalau kamu mau tinggal di rumah ku," jawab Regina.


"Hahaha, itu tidak mungkin, nanti bagaimana dengan suamimu, lebih baik aku kembali ke rumah ini kalau acara pesta pernikahan putra putri kita sudah selesai," jawab Jane yang mendapatkan anggukan dari Regina.


####


Tiga hari menjelang pernikahan.


Setelah tinggal di rumah Regina, Morgan malah semakin kesulitan untuk bertemu dengan Felicia. Ada saja ide Regina untuk membuat Felicia sibuk dan Morgan tidak akan bisa berdekatan dengan calon istrinya.


Tapi kali ini dia harus mengajak Felicia keluar dari dalam rumah untuk kepentingan yang penting.


"Kita mau kemana?" tanya Felicia.


"Kamu pasti akan tahu, sebelumnya kita akan mengambil cincin pernikahan kita," jawab Morgan.


Mereka sudah sampai di sebuah toko perhiasan yang terkenal di kota itu. Felicia dan Morgan menjadi pusat perhatian, dimana pasangan itu terlihat sangat serasi sekali. Apalagi Morgan sangat posesif terhadap Felicia.


Tiba-tiba Morgan mendapatkan telepon dari Pamannya Rigen, Papanya Katrina.


"Aku angkat telepon dulu, kamu di sini saja," Felicia mengangguk.


Sambil menunggu pegawai mengambilkan cincin pesanannya, Felicia melihat-lihat perhiasan yang terpajang di etalase.

__ADS_1


"Wah, ternyata anak haram dan miskin bisa masuk ke toko perhiasan mewah seperti ini, pasti dia sudah menjual tubuhnya, oh atau jangan-jangan dia juga sudah mengandung anak haram dan menjebak tuan Alvares untuk bertanggung jawab!" tiba-tiba Veronica datang bersama Alice sambil mengejek Felicia.


Felicia menatap kedua wanita yang selalu mengurusi kehidupannya itu dengan tatapan tajam.


"Oh, tebakan kalian salah, aku tidak pernah merayu tuan Alvares ataupun menggodanya, kami berdua saling mencintai, jadi jangan iri, ya? Oh ya, Veronica, sebaiknya kamu harus sedikit waspada kepada tunangan mu, atau perlu selidiki dia, siapa tahu dia punya wanita lain, atau anak haram dengan wanita di luar sana, jangan terlalu suka mengejekku, siapa tahu kamu adalah korban seperti ibumu!!" jawab Felicia tersenyum sinis.


Alice langsung berjalan menghampiri Felicia dan mengangkat tangannya untuk menampar Felicia. Tapi Felicia sudah bisa membaca pergerakan Alice yang sudah sering dia lihat di bar kala menghadapi pasangan yang sedang bertengkar.


Felicia langsung mengunci tangan Alice ke belakang. "Sekarang aku tidak akan tinggal diam kalian perlakuan seperti ini, kali ini aku akan memperlihatkan siapa Felicia yang sebenarnya," bisik Felicia di telinga Alice.


"BRENGSEK! lepaskan! Dasar anak haram!" seru Alice meronta.


"Dasar perempuan tidak tahu diri!" Veronica langsung mendorong tubuh Felicia dengan sangat kuat.


Membuat tubuh Felicia langsung terhuyung ke belakang. Felicia yang tidak siap langsung oleng, tetapi pada saat akan jatuh tiba-tiba ada sebuah tangan yang menangkapnya.


"Feli, apa kamu tidak apa-apa?" tanya Morgan panik.


"Aku, aku kesakitan, sayang. Mereka yang melakukannya!" tunjuk Felicia ke arah Alive dan Veronica.


Alhasil hal itu membuat kedua anak dan ibu itu sangat terkejut.


"Tuan Alvares, tidak tuan!" ucap Veronica panik.


Begitupun dengan Alice yang merasa sudah seperti mayat hidup sekarang.


"Maaf, tuan, kami tidak sengaja, maafkan kami, maaf Felicia," Alice langsung memegang tangan Felicia untuk meminta maaf.


Dia tidak mau berurusan dengan Morgan Alvares karena tahu bahwa perusahaan Bellerick berhutang banyak terhadap perusahaan Alvares.


"Mama!" Alice langsung menatap tajam Veronica, seakan mengatakan harus menurut.


"Felicia, maaf, kami benar-benar tidak sengaja, tolong maafkan Mama ya, nak?" Felicia mengangkat sebelah alisnya, menikmati adegan yang sangat menarik ini.


Veronica terpaksa menuruti Mamanya meskipun dengan hati yang dongkol karena baru kali ini dia kalah dari Felicia.


Bahkan mereka sekarang sudah tidak memperdulikan tatapan mata mengejek mengarah padanya karena telah berurusan dengan seorang Alvares.

__ADS_1


Bersambung.


kopi dan bunga sekebon, othor janji ntar up lagi 🥰


__ADS_2