
Hamiz melihat ke arah kaca spion, Andara mengatakan hal sebenarnya. Kyra tengah berlari mengejar mobil yang dikendarainya. Hamiz segera menepikan mobilnya kemudian keluar dari dalam mobil. Sementara sang adik hanya menjadi penonton dari dalam mobil.
" Om... Om Doteng... " panggil Kyra, tak lama ia langsung memeluk Hamiz.
" Kyra... " ucap Hamiz lirih saat Kyra kini menempelkan wajah ke dada bidang milik Hamiz.
" Om... Om jangan tinggalin Kyra ! Kyra gak peduli yang terjadi di masa lalu. Meskipun Om itu mantan tunangan mami, Kyra gak peduli... Kyra sayang sama Om " ucap Kyra sambil mengeratkan pelukan ke tubuh Hamiz.
Hati Hamiz menghangat mendengar pengakuan gadis cantik itu. Hamiz membalas pelukan Kyra dengan memeluk erat gadis cantik itu.
" Om... Om cinta kan sama Kyra ? Om mau kan perjuangin cinta kita sama-sama ? " tanya Kyra yang kini mendongakkan wajah menatap wajah tampan Hamiz.
Hamiz mengurai pelukannya kemudian menatap Kyra dengan lembut.
" Aku mencintaimu Kyra... Dengan segenap hati dan perasaanku " ungkap Hamiz lalu kembali membawa Kyra ke dalam dekapannya.
Kyra tersenyum penuh kemenangan.
" Kalau begitu, kita hadapi sama-sama keluarga Kyra ! " ucap Kyra dengan rasa percaya diri.
Pelan-pelan Hamiz melepaskan pelukannya.
" Maaf, aku tidak bisa Kyra " lontar Hamiz penuh sesal.
" Apa ? Kenapa Om ? Om menyerah gitu aja ? " tanya Kyra.
Hamiz menggelengkan kepala, kemudian menatap bola mata Kyra.
" Untuk kebaikanmu... Aku sadar kita akan selalu terhubung dengan masa lalu. Dan aku tidak mau kamu terus menentang mereka. Biarlah aku yang mengalah... " jelas Hamiz dengan suara yang lemah juga sedikit tertahan.
" Apa maksud Om ? " tanya Kyra menatap dengan pandangan tak percaya.
Hamiz menghela nafasnya, segera ia memalingkan muka tak ingin bersitatap dengan Kyra.
" Om... " Kyra meraih lengan Hamiz.
" Kyra... Sebaiknya kita tidak meneruskan hubungan kita " ucap Hamiz dengan berat hati.
__ADS_1
" A... Apa ? " ucap Kyra tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Hamiz.
" Ma... Maksud Om, Om mau berhenti berjuang ? Om gak cinta sama Kyra ? Selama ini Om bohongin Kyra ? " tanya Kyra memundurkan langkahnya tetapi pandangan matanya tetap menatap pria itu.
" Bukan begitu, Kyra... Aku benar-benar memcintai kamu. Aku tidak pernah berbohong tentang perasaanku... " jawab Hamiz menatap Kyra kembali.
" Lalu kenapa Om... ? Dengan mudahnya Om bilang untuk berhenti... " pekik Kyra kini air mata meluruh kembali di kedua pelupuk matanya.
" Kyra... Maafkan aku ! Aku tidak mau kamu menentang keluarga kamu. Mereka menyayangi kamu, mereka ingin yang terbaik untuk kamu. Dan aku merasa tidak layak untuk mendampingimu " ucap Hamiz lirih. Kedua matanya menatap Kyra dengan tatapan sendu.
" Demi Om, Kyra rela menentang keluarga Kyra. Jangankan keluarga Kyra, bahkan jika seluruh dunia menentang hubungan kita... Kyra akan tetap bertahan. Kyra akan tetap memperjuangkan cinta kita. Mereka ingin yang terbaik untuk Kyra... Tapi mereka lupa bertanya siapa yang terbaik menurut Kyra. Dan Kyra sepenuhnya yakin, Om lah yang paling layak mendampingi Kyra... " jelas Kyra.
Hamiz tak bisa berkata apapun lagi... Ia ingin berjuang namun ia tahu ke depannya halangan akan lebih banyak merintangi hubungan mereka.
Sehingga ia memutuskan untuk berhenti saat ini sebelum semakin jatuh ke dalam lubang asmara yang ia gali bersama Kyra hingga ia tak kuasa mencari jalan untuk keluar.
" Kyra... Lupakan saja aku ! Anggap saja hubungan kita tidak pernah ada ! " seruHamiz kemudian kembali masuk ke dalam mobil.
Kyra terkesiap, nafasnya menderu. Ia tidak mengira Hamiz akan berkata seperti itu padahal ia telah mengatakan banyak hal agar Hamiz mau berjuang bersamanya.
" Ok... Kalau Om mau begitu... Tapi Kyra gak akan berhenti berjuang Om. Kyra akan mempertahankan hubungan kita ! " ucap Kyra sambil menatap Hamiz yang kini berada di dalam mobilnya, bersiap untuk melajukan kendaraannya.
Maafkan aku Kyra... Maaf... ! Ini jalan terbaik bagi kita berdua
Andara hanya bisa menatap sahabatnya itu dari spion mobilnya. Ia bisa mengerti kekecewaan Kyra. Yang ia tidak mengerti, mengapa sang kakak memutuskan untuk menghentikan hubungan mereka. Padahal Andara tahu betul jika Hamiz sudah menyiapkan cincin untuk melamar Kyra yang tersimpan di dalam saku celananya.
Andara menatap sang kakak yang hanya bisa mengurut pangkal hidungnya. Seolah masalah yang menghimpitnya begitu besar. Namun Andara tak berani bertanya. Ia menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan semua ini.
Sementara itu, Adinda dan Zaid kini berada di tempat Kyra bersimpuh. Adinda begitu sedih melihat keponakannya yang terlihat begitu pilu. Adinda membantu Kyra untuk berdiri, lalu memapahnya, membawa Kyra kembali ke dalam rumah.
Kyra hanya diam. Ia tak mengatakan apapun. Seolah hati dan pikirannya mati rasa.
Adinda membawa Kyra ke kamar yang biasa ditempati Kyra, kemudian membaringkan Kyra di tempat tidur.
Adinda mengusap wajah sendu Kyra yang penuh dengan air mata itu. Rasa bersalah terbit di hatinya. Adinda menatap sang suami yang sedari tadi mengekorinya.
" Gimana ini, Mas ?" tanya Kyra pada Zaid.
__ADS_1
" Sudah, biarkan dulu Kyra sendiri... " jawab Zaid.
Zaid meninggalkan kamar Kyra diikuti oleh Adinda. Setelah menutup pintu, Adinda bertemu dengan Evan yang baru saja keluar dari kamarnya.
" Ada apa sih Bun ? Andara sama kakaknya udah pulang ? " tanya Evan yang justru semakin heran karena melihat raut wajah kedua orang tuanya yang bersedih.
" Iya... Mereka sudah pulang " jawab Adinda lirih.
" Evan... Tolong temani Kyra sebentar... Tolong hibur Kyra. Bunda tahu Kyra akan berbicara dengan kamu, nak " pinta Adinda lirih.
Evan mengernyitkan kening mendengar permintaan sang ibu. Ia yakin ada sesuatu yang tidak beres dengan Kyra.
Akhirnya Evan menganggukkan kepala, menyetujui permintaan sang ibu.
" Terima kasih, ya sayang ! " ucap Adinda kemudian berlalu menuju kamarnya bersama sang suami. Adinda percaya jika Kyra akan bicara dengan Evan karena sejak kecil mereka selalu bersama, sudah seperti saudara kembar meskipun terpaut usia 6 bulan.
Sepeninggal orang tuanya, Evan lantas menuju kamar Kyra. Evan membuka pintu kamar yang tidak terkunci itu. Ia begitu terkejut melihat Kyra yang nampak sangat sedih. Kedua lututnya ditekuk hingga ke dada, tangannya memeluk lutut sementara kepalanya menunduk.
Evan bergegas menghampiri Kyra. Ia menyentuh bahu Kyra.
" Ra... Lo kenapa ? " tanya Evan khawatir.
Kyra mengangkat wajahnya saat mendengar suara Evan.
" Evan... " rengek Kyra sambil memeluk Evan.
" Lo kenapa Ra ? Cerita sama gue ada apa ? " tanya Evan lagi sambil mengusap punggung Kyra.
" Om Doteng... Om Doteng... Van " ucap Kyra sambil terisak.
" Om Hamiz ? Emang dia kenapa ? " tanya Evan lagi, semakin tidak mengerti.
" Om Doteng minta gue buat lupain dia, Van... Gue gak mau... " jawab Kyra semakin terisak.
" Kok bisa ? Perasaan tadi pas datang ke sini baik-baik aja " tanya Evan heran.
Kyra melepaskan pelukannya dari tubuh Evan.
__ADS_1
" Ternyata... Om Doteng itu... Mantan tunangannya Mami Tiwi " jelas Kyra sambil menyeka air mata di pipinya.
" Hah ??? "