
Hamiz menghela nafasnya, setelah mereka sarapan tadi, kini keduanya duduk di halaman belakang rumah. Hamiz bersiap menceritakan segala hal di masa lalu kepada Andara.
Andara mendengarkan semua cerita Hamiz, terkadang ia menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang didengarnya. Kenyataan pahit jika sebenarnya ia terlahir bukan karena kasih sayang tetapi lebih karena nafsu.
Andara meneteskan air matanya, ia sedih karena ternyata masa lalu yang tercipta di keluarganya sangatlah buruk. Wajar saja jika keluarga Kyra begitu menentang hubungan Kyra dengan sang kakak. Ternyata dikarenakan kebobrokan akhlak mereka di masa lalu.
" Kakak minta, kamu jangan pernah membenci kakak, ibu dan ayahmu... Kami memang melakukan kesalahan besar, bahkan dipenuhi dosa. Tapi setelah kehadiranmu, kami berubah. Ibumu sangat mencintaimu, ia bisa saja menggugurkanmu dulu. Tapi ia berusaha menebus kesalahannya dengan membiarkanmu tumbuh di rahimnya. Walaupun ia tidak bisa melihatmu tumbuh, tapi percayalah ibumu benar-benar mencintaimu. Ayah kita pun begitu mencintaimu, sayangnya mereka harus pergi mendahului kita..." jelas Hamiz.
Andara hanya diam menerawang... Ia begitu terkejut mendapati kenyataan hidupnya. Air mata kini mengaliri pipinya.
Hamiz mendekati Andara kemudian menghapus air mata di wajah sang adik.
" Kakak tahu kamu terkejut bahkan mungkin terpukul mendapati kenyataan ini. Tapi percayalah, kamu itu terlahir suci meskipun orang tua kita bukan orang suci. Kamulah yang mengubah kami semua menjadi orang yang lebih baik. Kamu adalah anugrah terindah dalam hidup kami. Kami menyayangimu, Andara... " tambah Hamiz lalu membawa sang adik ke dalam dekapannya.
Tangisan Andara kemudian pecah dalam dekapan Hamiz.
" Tidak perlu menangisi masa lalu, Dara... Yang terpenting kita hidup dengan lebih baik ke depannya. Anggaplah semua itu pelajaran agar kita tidak jatuh dalam kesalahan yang sama. Kakak pun terus berusaha memperbaiki diri !" seru Hamiz menenangkan Andara.
" Setelah ini, bagaimana hubungan kakak dengan Kyra ? " tanya Andara setelah mengontrol perasaannya.
Hamiz menghembus kasar nafasnya.
" Kakak sudah pasrah jika kami memang tidak bisa bersama " jawab Hamiz lirih, bahkan terdengar seperti jawaban orang yang putus asa.
" Kenapa kakak tidak berusaha mempertahankan hubungan kakak dulu ? Dara tahu betul perasaan Kyra sama kakak... Lagi pula, seharusnya ini jadi ajang pembuktian bagi kakak untuk memperlihatkan kepada keluarga Kyra jika kakak memang sudah berubah dan layak untuk mendampingi Kyra "
" Sudahlah, Dara... Kakak tidak ingin semakin terluka jika terus memaksakan diri. Lebih baik berhenti saat ini " ucap Hamiz menyudahi pembicaraannya dengan Andara.
" Lalu bagaimana dengan perasaan kakak sendiri ? Sampai kapan kakak menyiksa diri ? " tanya Andara tak mengerti dengan pemikiran sang kakak.
" Dara... Kalau Kyra itu memang jodoh kakak. Kami pasti menemukan jalan untuk bersama " jawab Hamiz sambil berdiri kemudian meninggalkan Andara.
" Gimana bisa ketemu jalannya kalau gak usaha mencari jalan " gerutu Andara yang masih bisa didengar oleh Hamiz yang tengah menuju ke dalam rumah.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
4 hari berlalu, kini Adinda mulai pusing dengan sikap merajuk Kyra. Kyra memulai acara mogok makan sejak Hamiz memintanya untuk melupakan hubungan mereka.
" Kyra... Makan sayang ! Lihat tuh keadaan kamu udah lemes gitu... Ayo makan, sayang ! Aaaaaak " ucap Adinda sambil menyodorkan sesendok nasi beserta lauknya.
Kyra tak bergeming, ia tak membuka mulutnya sama sekali. Justru ia.menggelengkan kepalanya menolak nasi yang akan disuapkan sang Tante.
" Sampai kapan kamu bersikap seperti ini ? " tanya Adinda kesal.
Adinda tak lagi bisa menahan emosinya.
" Sampai Bunda mengijinkan Kyra berhubungan dengan Om Doteng " jawab Kyra bersikeras walaupun dengan kondisi lemas.
" Ya ampun Kyra... Cuma gara-gara seorang lelaki, kamu rela melakukan ini ? Kamu sampai seperti ini apa dia peduli ? " tanya Adinda.
" Dia pasti peduli, dia mencintai Kyra. Hanya saja dia tak ingin Kyra menentang kalian " jawab Kyra.
Adinda menggelengkan kepalanya, tak mengerti dengan jalan pikiran keponakannya itu.
" Jika kalian berdua dapat membuktikan keseriusan dan ketulusan cinta kalian, mungkin kami akan mempertimbangkan untuk merestui kalian " ucap Adinda sambil keluar dari kamar Kyra.
Merasa mendapat angin segar, Kyra beringsut dari kasurnya. Ia mencari ponselnya untuk segera mengubungi Hamiz. Sayangnya nomer ponsel Hamiz ternyata tidak aktif.
Dengan kekuatan yang masih tersisa, Kyra turun dari kasurnya lalu berjalan tertatih menuju pintu. Ia terus berjalan dengan sisa tenaga yang ada. Meskipun lemas dan terasa pusing di kepalanya, ia terus berjalan hingga sampai di ujung tangga.
Adinda yang baru saja keluar dari dapur melihat Kyra berjalan sempoyongan menjauhi tangga, ia mencoba untuk keluar rumah .
" Kyra mau kemana kamu ? " tanya Adinda khawatir lantas mendekati Kyra.
" Kyra mau temuin Om Doteng. Kyra yakin dia tidak akan meninggalkan Kyra " jawab Kyra menjawab dengan nafas pendek-pendek.
" Astaga... Kamu masih percaya sama dia ? " tanya Adinda merasa kesal sendiri karena sikap keras kepala yang ditunjukkan Kyra.
__ADS_1
" Kyra percaya Om Doteng gak bohongin Kyra " ucap Kyra kemudian berjalan dengan langkah kaki terseok menuju pintu.
Namun belum berhasil menuju pintu, tubuh Kyra ambruk di lantai. Kyra pingsan...
" Kyra... " pekik Adinda sambil berlari menghampiri Kyra.
Adinda kemudian memanggil asisten rumah 5angganya untuk membantunya mengangkat Kyra ke sofa.
Ketika keadaan tak terkontrol, Evan masuk ke dalam rumah. Ia baru saja pulang dari kampus. Melihat sang ibu yang nampak kebingungan ditambah melihat Kyra yang dibaringkan di sofa membuat Evan menebak jika ada yang tidak beres dengan Kyra.
" Ini kenapa Bun ? " tanya Evan mendekati Adinda.
" Kyra pingsan... Dia bersikeras ingin menemui Om Dotengnya itu " jelas Adinda lirih.
" Astaga, Kyra... Kyra... " ucap Evan tak mengerti dengan jalan pikiran Kyra.
" Kamu bantu Bunda bawa Kyra ke rumah sakit " titah Adinda.
Dengan sigap Evan membawa Kyra ke dalam mobilnya, kemudian segera berangkat menuju rumah sakit terdekat dari rumahnya.
Setelah ditangani, Kyra diharuskan menjalani rawat inap karena kekurangan nutrisi. Mungkin karena efek mogok makan yang dilakukannya. Adinda dengan setia menunggui Kyra bersama dengan Evan.
Setelah beberapa saat akhirnya Kyra tersadar dan melihat sekeliling ruangan tempat ia berada.
" Ini dimana ? " tanya Kyra lirih.
" Kamu sudah sadar, sayang ? Ini di rumah sakit sayang. Tadi kamu pingsan... Makanya Bunda bawa kamu ke rumah sakit. Alhamdulillah sekarang kamu sudah sadar " jelas Adinda sambil mengelus kepala Kyra.
" Lagian lo ngapain sih sampe mogok makan segala, nyusahin diri sendiri tahu ! " semprot Evan.
Kyra hanya diam tak bersuara, hanya air mata yang meleleh di pipinya.
Adinda menyeka air mata di pipi Kyra. Ia menghela nafas panjang.
__ADS_1
" Kyra... Apapun akan Bunda lakukan untuk membuatmu bahagia, sayang " ucap Adinda yakin.