
Adinda menatap layar ponselnya sambil mengatur nafasnya.
" Iya, Kak... " ucap Adinda sambil menggeser tombol hijau pada ponselnya.
" Kamu dimana, Din ? " tanya Pertiwi langsung.
Haduh... Jawab apa nih ?
" Din... Dinda... " panggil Pertiwi.
" Eh iya Kak... Ini lagi di rumah sakit " jawab Adinda jujur.
" Kamu sakit ? " tanya Pertiwi kemudian.
" Ng... Ngga Kak, Dinda baik-baik aja kok " jawab Adinda dengan sedikit gugup.
" Terus ngapain ke rumah sakit ? " tanya Pertiwi lagi.
Bilang gak ya kalau Kyra yang sakit...?
Adinda berperang di dalam hatinya.
" Din... Dinda... Halo... Dinda... " Pertiwi memanggil-manggil sang adik.
" Iya, kak... Maaf Dinda lagi nengok yang sakit " sahut Adinda.
" Ohh... Ya udah, nanti kakak telpon lagi kalau kamu udah pulang ya " ucap Pertiwi.
" Memangnya ada apa, Kak ? " tanya Adinda sedikit menggigit bibir bawahnya.
" Mau nanyain Kyra...Tapi entar aja lah " jawab Pertiwi kemudian pamit dan selanjutnya menutup panggilan.
" Siapa sayang ? " tanya Zaid karena melihat sang istri menghembus nafas lega.
" Kak Tiwi... Katanya mau nanyain Kyra. Apa Dinda bilang aja kalau Kyra dirawat ya Mas ? " ucap Adinda bertanya pada Zaid.
" Kamu yakin akan memberi tahu Tiwi semuanya tentang Kyra ? " tanya Zaid menatapi istri cantiknya itu.
" Entahlah, Mas... " Adinda menatap ke arah Kyra dan Hamiz yang tengah menikmati kebersamaan mereka.
Layaknya memakan buah simalakama perasaan Adinda saat ini. Di satu sisi ia merasa bersalah karena menyembunyikan kebenaran kepada sang kakak. Di sisi lain, ia tidak ingin keponakannya itu terluka.
Tuhan... Aku tidak ingin melihat mereka semua terluka. Aku harus apa ?
Batin Adinda.
Zaid merangkul pundak sang istri, menyalurkan energi positif kepada Adinda.
__ADS_1
" Kita bisa melewatinya, sayang. Ingatlah apapun yang kita lakukan ini semata-mata untuk kebaikan. Ketika kita sudah memutuskan langkah yang akan diambil, apapun resikonya harus kita hadapi. Aku akan selalu ada bersamamu " ucap Zaid menenangkan Adinda.
" Semoga keputusan Dinda gak salah ya Mas... Terima kasih, Mas ! Terima kasih karena sudah mendukung Dinda... " balas Adinda sambil melingkarkan tangannya di pinggang Zaid.
Adinda, Zaid serta Evan akhirnya pamit pulang meninggalkan Kyra bersama dengan Hamiz dan Andara. Hamiz meminta ijin untuk menunggu Kyra di rumah sakit. Awalnya Adinda sempat menolak untuk membiarkan Hamiz menunggu Kyra. Namun, akhirnya memberikan ijin setelah mengetahui jika Andara ikut menemani sang kakak menunggu Kyra dikarenakan Kyra baru bisa meninggalkan rumah sakit keesokan harinya.
Lain halnya dengan Pertiwi. Tadinya ia menelpon sang adik untuk memberi tahu kepada Adinda mengenai pria yang menjadi kekasih Kyra.
Pertiwi dan Farhan mendapatkan informasi tentang Hamiz dari anak buah Farhan yang ditugaskan untuk menjaga Kyra. Ya, Kyra tetap diberikan pengawasan oleh sang ayah meski secara sembunyi-sembunyi.
" Gimana, mi... Sudah tanya Adinda tentang pacarnya Kyra ? " tanya Farhan yang melihat Pertiwi baru saja menutup panggilannya.
" Belum, pi... Dinda lagi di rumah sakit, nengokin temennya kali " jawab Pertiwi.
" Ya udah sayang... Nanti aja telpon lagi " ucap Farhan santai.
" Lagian kamu parno banget sih, mi... Baru lihat fotonya aja udah gitu " tambah Farhan lagi.
" Siapa yang gak parno sih, pi... Wajar kan mami khawatir. Mami takut Kyra mencintai orang yang salah. Makanya mami mau tanya Adinda. Adinda pasti tahu siapa pacarnya Kyra " ucap Pertiwi sambil menghempaskan diri duduk di sofa.
Pertiwi menatap kembali sesosok pria yang ada di foto yang tengah makan bersama sang putri. Meskipun tak terlihat jelas wajahnya, tapi postur tubuhnya mengingatkan Pertiwi pada seseorang di masa lalunya.
" Udah... Belum tentu juga dia orangnya. Lagian udah lama banget, masih aja mami keingetan. Mami masih ada rasa ? " tanya Farhan menggoda sang istri.
" Hus... Papi nih kalau ngomong asal nyeletuk aja. Memangnya papi mau kalau mami masih mikirin dia ? Ih... Amit-amit ! " ucap Pertiwi bergidik.
" Mami sayang... Papi tahu, mami khawatir terhadap Kyra. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya. Lagi pula Adinda dan Kak Zaid tentu akan memberi tahu kita jika ada sesuatu " ucap Farhan memberi pengertian kepada sang istri.
" Tapi kan Pi... "
" Sudah, Mi... Papi kan sudah menyuruh anak buah papi mengawasi Kyra. Jadi kita lihat saja nanti. Sekarang mendingan mami bantuin papi " seru Farhan.
" Bantuin apa Pi ? Kalau kerjaan kantor mami gak mau ah. Suruh aja Farel, biasanya juga dia yang bantuin papi " tolak Pertiwi.
" Bukan itu, mi... Bantuan ini bisa bikin mami dapet pahala " ucap Farhan menaik turunkan alisnya.
Pertiwi berusaha melepaskan diri dari rangkulan sang suami. Ia tahu betul jika sang suami menginginkannya, maka ia pasti akan dikurung di dalam kamar.
" Come on, mami... Papi kangen nih ! " rayu Farhan sambil mengusakkan wajah ke ceruk leher sang istri.
" Papi, geli ih ! " ucap Pertiwi berusaha menghindar dari serangan sang suami.
Namun bukannya berhenti, Farhan malah semakin menjadi. Ia langsung menggendong sang istri dan membawanya ke kamar mereka untuk melakukan ibadah yang juga membawa kenikmatan bagi mereka berdua.
" Iya, kenapa Din ? " tanya Pertiwi saat mengangkat panggilan dari sang adik.
Pertiwi baru saja selesai membersihkan diri saat ponselnya berdering.
__ADS_1
" Ini, Dinda baru pulang Kak. Kakak tadi mau ngomongin apa ? " tanya Adinda.
" Oh... Itu, kakak mau nanyain tentang pacarnya Kyra. Kamu udah ketemu sama orangnya ? " tanya Pertiwi sambil menyiapkan pakaian ganti untuk Farhan.
Deg...
" Pacarnya Kyra ya Kak ? " tanya Adinda bingung.
" Iya, kamu udah ketemu sama orangnya ? Kyra bilang katanya mau kenalin sama kamu dan Zaid dulu karena kami sedang di Singapur " jawab Pertiwi.
" Ooh... Masalah itu " ucap Adinda merasa bingung dengan jawaban yang harus ia berikan pada sang kakak.
" Gimana ? Kyra udah bawa pacarnya ketemu kalian ? " tanya Pertiwi penasaran.
" Be... Belum sih Kak... Mungkin nunggu waktunya pas " bohong Adinda.
" Kenapa kakak nanya itu ? " tanya Adinda heran.
" Perasaan kakak gak enak aja... Kakak dapet foto Kyra dan pacarnya itu dari orang suruhan Farhan tapi kok agak mirip sama Mario. Makanya kakak mau pastiin sama kamu. Eh, gak tahunya kamu juga belum ketemu " jelas Pertiwi.
Adinda tak berkomentar, ia berpikir keras. Jika kakaknya itu mengirim orang untuk mengawasi Kyra tentunya semua akan segera terbongkar.
" Din...Dinda... " panggil Pertiwi karena tak terdengar pergerakan suara dari Kyra.
Duh... Aku ceritain jangan ya ?
" Din... "
" Iya, Kak... " sahut Adinda.
" Idih, dikirain kamu tidur " oceh Pertiwi.
" Kak... Sebenarnya ada yang mau Dinda omongin sama kakak " ucap Adinda sedikit ragu.
" Mau ngomongin apa sih, Din ? " tanya Pertiwi penasaran.
" Maaf kalau tadi Dinda gak cerita yang sebenarnya " ucap Adinda.
" Ada apa Din ? Ayo dong cerita, jangan bikin kakak penasaran ! " pinta Pertiwi.
" Sebenarnya... Kyra... " Adinda menjeda ucapannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Nah, kira-kira Adinda bakalan cerita apa ya sama Pertiwi ? Terus gimana reaksi Pertiwi saat kekhawatirannya itu terjadi.
Ikuti terus kisah cinta beda usia antara Kyra dan Hamiz. Jangan lupa dukungannya ya bestie 🤗🙏
__ADS_1
Thank you all 😘😘