Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)

Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)
K-O-D part 49


__ADS_3

Hamiz duduk sambil menikmati kopi dalam kemasan kaleng. Ia menatap langit malam di balkon apartemennya. Langit kelam tanpa kehadiran bintang. Sama halnya seperti hatinya saat ini, kelam tanpa cahaya. Tanpa Kyra yang menerangi hari-harinya.


Kyra... Aku merindukanmu... !


Masih terbayang oleh Hamiz, saat ia melihat sang kekasih di bandara tempo hari dijemput seorang pria muda yang ia tahu pasti jika pria itu tertarik kepada kekasihnya itu. Ya, perasaannya yakin akan hal itu.


Ah, mengingatnya saja membuat hati Hamiz berdenyut nyeri. Entah apa yang akan terjadi padanya jika Kyra meninggalkannya. Sepertinya hatinya akan mati. Tidak... Bahkan raganya pun ikut mati seandainya itu terjadi.


Cinta... Mengapa harus seperti ini ?


Ratap Hamiz.


Hamiz menatap ponselnya, berharap mendapatkan pesan dari sang kekasih. Berulang kali ia melihat ponselnya namun sepertinya keinginannya tak terpenuhi. Membolak-balikkan ponselnya lalu mengusap wajahnya perlahan. Hamiz berusaha mengesampingkan pikiran-pikiran buruk yang menghinggapinya.


Tak tahan, lantas ia segera menekan nomer kontak milik sang kekasih. Sayangnya nomer Kyra tengah sibuk. Berulang kali ia coba menghubungi Kyra, namun tetap saja selalu bernada sibuk.


" Kamu telponan sama siapa sih ? " gumam Hamiz frustasi. Ia mengacak rambutnya sementara matanya terus menatap layar ponselnya.


Tak berbeda jauh dengan Hamiz, Kyra pun tengah menatap ponselnya dengan kesal karena sejak tadi menghubungi Hamiz selalu saja bernada sibuk.


" Om ngapain sih ? Sibuk terus " gerutu Kyra menatap layar ponselnya.


Kyra menjatuhkan badan di atas tempat tidurnya. Ia terus menatap layar ponselnya, berharap sang kekasih segera menelponnya. Sekali lagi ia coba menelpon Hamiz, sayangnya hasilnya masih tetap sama. Nada sibuk...


Kyra melemparkan ponselnya ke samping tubuhnya. Merasa kesal sendiri, namun bingung harus berbuat apa.


Pun demikian dengan Hamiz. Bayangan Kyra sedang menelpon Jodi berseliweran di kepalanya.


Tidak... Itu hanya pikiran bodohku saja. Tidak mungkin Kyra menanggapi Jodi...


Tapi... Bagaimana jika Kyra tertarik dengannya ? Mereka sama-sama muda... Dan terlihat sangat cocok...


Aargh... Mikirin apa sih aku ini ?


Hamiz berperang dengan batinnya sendiri. Sampai akhirnya ia memutuskan untuk menenangkan dirinya serta merilekskan tubuhnya dengan berendam air hangat.


Hamiz baru saja keluar dari kamar mandi saat menyadari ponselnya berdering. Ia segera menyambar ponselnya yang tersimpan diatas nakas. Hatinya sungguh bahagia saat melihat nama yang tertera pada ponselnya.


" Iya, sayang... " ucap Hamiz begitu lembut saat menjawab panggilan telpon dari sang kekasih.

__ADS_1


" Om kemana aja sih ? Dari tadi ditelponin sibuk terus ! Lagi sama perempuan lain ya " cecar Kyra tanpa jeda menuduh Hamiz.


" Astaga Kyra... Kamu kok ngomong gitu sih... Aku dari tadi hubungin kamu lho, sayang... Tapi justru kamu yang sibuk terus. Kamu kali yang telponan sama Jodi " tukas Hamiz.


" Oh, jadi Om pikir Kyra telponan sama Jodi gitu...? " sungut Kyra.


" Bukan gitu sayang... " sahut Hamiz lalu menjeda ucapannya.


" Aku cuma takut kamu berpaling pada Jodi, aku tahu dia selalu bersamamu sejak kedatangan kamu di bandara kemarin " jelas Hamiz mencoba berbicara tanpa emosi walaupun dirinya merasa sangat cemburu.


" Hah ? Jadi Om cemburu nih ceritanya ? " tanya Kyra sedikit menahan tawa.


" Hem... " jawab Hamiz malu mengakui hal itu.


" Om tenang aja, Kyra tuh gak akan berpaling dari Om. Apalagi berpaling sama Jodi... Enggak bakalan deh. Jangankan berpaling, bayangin aja gak mau " sahut Kyra yakin.


" Tapi kan Jodi itu, ganteng, masih muda, juga direstui Mami kamu... " ucap Hamiz, ia merasa sedikit insecure.


" Iya sih... Tapi yang namanya hati gak bisa dipaksain, Om... Berapa kali sih Kyra harus bilang kalau Kyra tuh cuma mau Om ! Titik gak pake koma, koma apalagi tanda tanya " celetuk Kyra membuat Hamiz menarik kedua sudut bibirnya.


" Baiklah, aku percaya. Dan aku juga minta kamu percaya padaku ! Sumpah demi apapun, tidak ada wanita yang paling aku inginkan selain kamu. Jadi jangan berpikiran buruk tentangku... Aku akan selalu menjaga diri dan hatiku untukmu ! " tegas Hamiz.


" Eh, by the way... Om lagi ngapain ? " tanya Kyra kepo.


" Tadi karena kesel kamu gak bisa dihubungi terus. Ya udah, aku mandi. Ini baru keluar kamar mandi pas angkat telpon kamu " jawab Hamiz apa adanya.


" Wah... Seger dong " celetuk Kyra.


" Lumayanlah " sahut Hamiz sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk.


Kyra mengalihkan panggilannya menjadi panggilan video. Hamiz segera mengangkatnya.


Kyra begitu terpesona melihat tubuh Hamiz yang masih terawat dengan baik, walaupun tertutup jubah mandi tetapi dada bidangnya sedikit terlihat. Belum lagi Hamiz yang masih mengusap-usap rambutnya dengan handuk semakin membuatnya terlihat seksi.


" Hai sayang... Kok bengong gitu sih ? " tanya Hamiz. Kini ia sudah berada di depan layar ponselnya melihat sang kekasih.


" Eh... Habis Om menggoda iman sih... " ucap Kyra sambil memperlihatkan deretan giginya yang berbaris rapi.


" Ish... Masih kecil, pikirannya ngeres " tegur Hamiz sambil tertawa.

__ADS_1


" Ih... Om juga sama kan... Buktinya waktu itu gak tahan buat... " Kyra menghentikan ucapannya dengan menutup mulutnya saat Hamiz menggelengkan kepalanya.


" Gak usah dibahas lagi sayang... Aku tidak akan khilaf lagi " kilah Hamiz.


" Khilaf juga gak apa-apa Om...Kyra rela dikhilafin sama Om " ucap Kyra santai.


" Iya nanti aku khilafin kalau udah halalin kamu ! " ucap Hamiz tegas.


" Kalau gitu, Kyra tunggu Om buat halalin Kyra " tantang Kyra.


" Aku akan segera menghalalkan kamu setelah mengantongi restu dari ibumu " ucap Hamiz pasti.


" Kyra akan menunggu saat itu, Om... Saat dimana Om menjadikan Kyra istri satu-satunya untuk Om " sahut Kyra sambil tersenyum.


Serasa penuh dengan kebahagiaan hati Hamiz mendengar penuturan Kyra. Hanya mendengar jika kekasihnya itu bersedia menjadi istrinya saja ia sudah berbunga-bunga. Apalagi jika ia berhasil menjadikan Kyra sebagai istrinya. Entah dengan cara apa ia menggambarkan kebahagiaannya.


" Om... Om tinggal di apartemen lagi ? " tanya Kyra saat mengamati ruangan di sekeliling Hamiz.


" Ya, sesekali. Kalau... " Hamiz menggantung ucapannya kala melihat raut penasaran di wajah cantik sang kekasih.


" Kalau apa Om ? " tanya Kyra tak tahan untuk tak bertanya.


" Kalau kangen sama kamu... Disini aku bisa merasa kamu ada di dekat aku " jawab Hamiz menatap wajah polos kekasih kecilnya.


Semburat merah muncul di pipi Kyra seiring jawaban yang diberikan oleh Hamiz.


Aah... Gak tahan pengen meluk deh...


Batin Kyra. Ia tersenyum sendiri.


" Sayang... Kamu kenapa ? " tanya Hamiz heran dengan sikap Kyra.


" Gak apa-apa Om... Kyra seneng aja, Om bisa sebegitu kangennya sama Kyra " jawab Kyra dengan mata berbinar.


" Ini belum seberapa besar dibanding rasa cinta dan sayangku padamu... " tukas Hamiz tulus.


Dan lagi-lagi jawaban dari Hamiz membuat perasaan Kyra meleleh.


" Semoga kita bisa bersama secepatnya, ya Om " harap Kyra.

__ADS_1


" Iya sayang... Aku yakin cepat atau lambat kita akan segera bersama... "


__ADS_2