
Andara dan Fabian telah menyelesaikan makan mereka. Kini mereka kembali duduk di kursi taman menghadap danau, menikmati suasana sore hari. Matahari yang bersiap untuk pamit kembali ke peraduannya. Gemerlap lampu yang kini mulai menyala menyambut datangnya malam ditambah tiupan angin sepoi-sepoi membuat suasana terasa begitu romantis.
Fabian meraih tangan Andara sambil menatapnya lekat. Andara yang merasa malu ditatap seperti itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Fabian meraih dagu Andara membuat Andara mengangkat wajahnya hingga kedua netra mereka bertemu.
" Dara... Apa kamu tidak merasa heran mengapa aku mengajakmu datang kesini ? " tanya Fabian sambil terus memandangi wajah gadis cantik itu.
Andara menggerakkan kepalanya, ia menggeleng pelan. Ia pun tak mengerti mengapa Fabian membawanya ke tempat ini. Padahal jika ia hanya meminta jawaban atas pertanyaannya 3 hari yang lalu, tidak perlu sampai datang ke taman bermain.
Fabian menghela nafasnya...
" Dara... Aku berusaha mengingatkanmu pada sesuatu..." ucap Fabian jujur.
Andara menautkan kedua alisnya.
" Mengingatkan pada apa, Dok ? " tanya Andara.
" Dara... Tadi kamu bilang kalau dulu kamu dan kakakmu menolong seorang anak laki-laki. Akulah anak itu, anak yang kalian temani sampai orang tuaku menjemputku " jawab Fabian.
Andara menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Ia tak menyangka jika Fabianlah anak laki-laki yang dulu ditolongnya.
" Andara... Aku sudah menunggu bertemu denganmu sejak lama, sampai akhirnya kita bisa bertemu kembali. Dengan cara yang sama. Mungkin Tuhan memang menakdirkan kita untuk bertemu dengan cara seperti ini. Dulu kamu menolongku dan kini kita bertemu lagi dengan cara yang sama walaupun jalannya berbeda " jelas Fabian.
Andara masih belum bisa berkata-kata. Ia masih sibuk mencerna penjelasan Fabian.
" Setelah melihat Dokter Hamiz, aku yakin bahwa kamulah gadis kecil yang menolongku itu. Dan aku memantapkan hati memintamu untuk menjadi kekasihku " sambung Fabian.
Andara menatap Fabian.
" Kak Bian ? Jadi dokter itu Kak Bian ? " tanya Andara ragu.
Fabian mengangguk. Ia begitu bahagia karena akhirnya Andara mengenalinya. Fabian pun memeluk gadis cantik itu.
" Iya, Dara... Aku Bian, Bian yang dulu pernah berjanji untuk menjadikanmu istriku " ungkap Fabian.
Andara tersenyum lalu melepas pelukan Fabian.
" Itu kan dulu, Kak... Sekarang kan belum tentu " sahut Andara.
" Bagiku dulu atau sekarang sama saja... Aku tetap ingin memperistri dirimu " tegas Fabian.
" Tapi, Kak... "
__ADS_1
" Tidak ada tapi-tapi Dara...Aku memberimu waktu 3 hari setelah 14 tahun lamanya menunggumu. Dan aku tidak ingin penolakan ! " potong Fabian.
" Ck ... Itu mah maksa namanya " tukas Andara sambil mengerucutkan bibirnya.
" Jadi apa jawaban kamu ? " tanya Fabian lagi.
" Kalau Dara bilang enggak, pasti Kak Bian tetap maksa supaya Dara bilang iya ! " jawab Andara.
" Lalu ? "
" Ya udah... "
" Udah apa Dara ? " tanya Fabian tak sabar.
" Ya udah, Dara terima Kak Bian " jawab Andara.
" Beneran ? " tanya Fabian meyakinkan.
Andara mengangguk.
" Terima kasih Dara... Terima kasih... Aku akan memastikan kamu selalu bahagia bersamaku " ungkap Fabian.
" Memangnya kenapa ? " tanya Fabian tak mengerti.
" Karena dulu, maminya Kyra itu mantan tunangannya Kak Hamiz " jawab Andara.
" Apa ? " pekik Fabian tak percaya.
" Kak Bian akan lebih kaget kalau tahu yang sebenarnya. Hubungan mereka pastinya akan jauh lebih rumit lagi " tambah Andara.
Fabian menghela nafasnya,
" Sudahlah... Bagiku yang terpenting adalah hubungan kita berdua " ucap Fabian.
" Tapi ini juga akan berimbas pada hubungan kita, kak... " sahut Andara.
" Jelaskan padaku mengapa bisa berimbas pada hubungan kita ! " seru Fabian.
Andara mau tidak mau menceritakan semuanya pada Fabian. Ia tidak ingin terjadi masalah di kemudian hari hanya karena ketidak jujuran dalam hubungan.
Fabian mendengarkan dengan seksama. Ia tak pernah berpikir jika keadaan keluarga gadis yang dicintainya itu begitu rumit. Fabian memeluk Andara yang kini terlihat begitu sendu.
__ADS_1
" Apapun yang terjadi, aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sudah berjanji akan selalu membahagiakanmu. Kita hadapi bersama-sama " tegas Fabian sambil mengelus kepala Andara.
Untuk pertama kalinya, Andara merasakan kenyamanan serta ketenangan dari seorang pria selain kakaknya.
" Terima kasih, Kak... Terima kasih sudah mau menerima keadaan Dara " ucap Andara mengeratkan pelukan pada Fabian.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kyra menggandeng tangan Hamiz dengan mesra. Keduanya kini masuk ke gedung apartemen. Kyra sebenarnya belum diijinkan oleh Adinda untuk tinggal kembali di apartemennya.
Tadi selepas Andara dan Fabian pergi, Kyra menuju klinik milik Hamiz. Setelah menemui Hamiz, mereka pun sepakat untuk pulangvke apartemen. Kyra akan memasak makan malam di apartemen Hamiz dan makan malam bersamanya. Setelah itu, ia akan kembali ke rumah Adinda diantar oleh Hamiz.
Hamiz membuka pintu apartemennya, kemudian masuk ke dalamnya diikuti oleh Kyra.
" Sayang, kamu sudah ijin pada bundamu ? " tanya Hamiz lagi.
" Ya ampun, Om....Gak percaya banget sih sama Kyra. Dari tadi nanyain itu terus " gerutu Kyra.
" Sayang... Aku tidak ingin keluargamu salah paham. Kamu tahu sendiri kan, sulitnya mendapatkan restu dari keluargamu " ucap Hamiz sambil memjawil dagu Kyra.
" Iya, Om... Kyra tahu. Kalau gitu Kyra video call aja deh sama Bunda, supaya Om tenang " ucap Kyra kemudian ia meraih ponselnya dan segera menghubungi sang tante.
" Iya, Kyra... Kamu sudah sampai ? " tanya Adinda di layar poselnya.
" Iya, bunda... Nanti kalau udah selesai makan malam, Kyra dianterin Om Doteng pulang ya " ucap Kyra.
" Iya sayang... Tolong bilang sama Kak Mario eh Kak Hamiz jangan terlalu malam mengantar kamu pulang ! " seru Adinda yang bisa didengar oleh Hamiz.
Hamiz pun dengan cepat menyahuti ucapan Adinda.dengan berdiri di belakang Kyra sehingga Adinda bisa melihatnya.
" Kamu tenang saja, Dinda... Aku akan mengantarkan Kyra sebelum jam 9 " ucap Hamiz.
" Iya, terima kasih Kak... Dinda titip Kyra ya ! " sahut Adinda lantas mengakhiri panggilan video mereka.
" Tuh, Kyra ga bohong kan Om... " ucap Kyra sambil memasukkan ponselnya ke dalam saku celana panjangnya.
Mereka berdua pun lantas memasak bersama-sama kemudian menikmati hasil karya mereka. Setelah selesai makan malam, Hamiz pun mengantarkan Kyra ke rumah Adinda.
Hamiz dan Kyra sudah menjadi dua sejoli yang tak bisa dipisahkan. Hamiz ingin segera menghalalkan Kyra sebagai istrinya. Ia sudah siap jiwa dan raga dengan resiko yang harus dihadapinya jika bertemu dengan Pertiwi dan Farhan bahkan sudah menyiapkan mental jika mendapatkan penolakan dari kedua orang tua gadis yang dicintainya itu.
Hamiz dan Kyra keluar dari apartemen, setelah memasuki lift, mereka turun ke basement menuju mobil dan memasuki mobil milik Hamiz. Mobil pun segera melaju menuju kediaman Adinda. Tanpa Hamiz dan Kyra sadari, ada orang yang senantiasa mengikuti mereka, mengambil foto mereka, juga mengirimkan laporan kepada Bos besar mereka yang tak lain adalah Farhan, ayah kandung dari Kyra sendiri.
__ADS_1