Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)

Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)
K-O-D part 39


__ADS_3

Hamiz melajukan mobilnya selepas Kyra dan kedua orang tuanya berlalu. Ia tak pernah mengira jika perjalanan cintanya akan berjalan seperti ini.


Ia menarik nafasnya yang terasa berat, kemudian menghembus nafasnya perlahan.


" Maafkan aku Kyra... Karena perbuatanku dulu membuat jalan kita penuh liku " gumam Hamjz menyalahkan dirinya sendiri.


Andai saja waktu bisa diputar kembali tentunya ia tak akan berbuat senekat itu saat berniat memiliki Pertiwi. Andaikan hal itu tidak terjadi, mungkin ceritanya akan berbeda saat ini.


Hamiz menyugar rambutnya, sesekali ia memukul kemudi. Ia melajukan mobilnya ke tempat ia biasa menenangkan diri, jauh dari hiruk pikuk kota besar. Berharap ia mendapatkan ketenangan sehingga ia bisa mengambil langkah yang bisa ia ambil dalam menyelesaikan masalah yang menghinggapi.


Hamiz menghubungi Andara terlebih dahulu, memberi kabar jika ia tidak pulang ke kediaman mereka melainkan pulang ke vila miliknya.


Sore itu hujan turun mengiringi laju mobil Hamiz menuju vila. Langit berwarna gelap, sekelabu hatinya saat ini. Tak hanya air hujan yang turun membasahi bumi. Bahkan kini air matanya pun turun membasahi pipinya. Awan berwarna kelabu, sekelabu hatinya.


Ya Tuhan... Benarkah setelah turun hujan, akan terbit pelangi ? Masihkah ada pelangi untukku ?Setelah semua yang kulakukan ? Dengan apa aku harus menebus dosa-dosaku di masa lalu ?


Apakah aku terlalu buruk hingga tak lagi memiliki kesempatan untuk bahagia ? Tuhan... Bisakah aku bahagia ?


Aku mohon, aku hanya ingin hidup bahagia dengannya... Dengannya yang sudah memberikan kembali angin segar dalam hidupku. Dia yang sudah membangkitkan kembali rasa yang telah lama mati. Membuatku merasa pantas untuk dicintai...


Tuhan... Aku mohon biarkan kami bahagia...


Hamiz hanya menundukkan kepalanya di atas kemudi saat ia sampai di vila. Ia tak lantas keluar dari mobilnya setelah menghentikan laju kendaraannya.


Cukup lama ia meratapi jalan hidupnya, hingga akhirnya ia mengusap kasar wajahnya. Kemudian keluar dari dalam mobil dan bergegas masuk ke dalam vila.


Tak jauh berbeda dengan Hamiz, Kyra kini membenamkan wajahnya di atas bantal. Ia mengeluarkan air matanya yang sejak tadi sudah menghiasi wajahnya.


Kyra tak sepenuhnya menyalahkan sikap sang ibu. Hanya saja, ia menyayangkan sang ibu yang masih hidup dalam bayangan masa lalu dan terkesan tak ingin menerima perubahan.


" Kenapa Mi ? Kenapa Mami gak bisa maafin Om Hamiz ? Bahkan jika itu untuk kebahagiaan Kyra, Mami tak bisa... " desah Kyra

__ADS_1


" Kyra harus ngelakuin apa supaya Mami merestui hubungan kami ? Apa Kyra harus memaksa Mami agar menyetujuinya ? " gumam Kyra resah.


Ia tak bisa berpikiran jernih saat ini. Yang ada dalam pikirannya hanyalah bagaimana cara agar bisa bersama dengan Hamiz. Hingga akhirnya Kyra menemukan cara agar bisa bersama dengan sang kekasih.


Kyra kemudian bangkit dari tempat tidurnya, ia mengambil ponsel kemudian menghubungi nomer Hamiz. Sayangnya, ponsel milik kekasihnya itu tak bisa hubungi. Berkali-kali, Kyra mencoba memghubungi Hamiz, tetap saja ponselnya tidak aktif. Hingga khirnya, Kyra menghubungi Andara.


"Ya, kenapa Ra ? " tanya Andara saat menjawa telpon.


"Sorry, Dar ... Lo tahu ga dimana Kakak lo itu ? Dari tadi gue telponin tapi gak aktif " keluh Kyra.


" Abang ada di vila, Ra... Tadi dia telpon katanya mau balik kesana. Masalah gak aktif, mungkin karena sinyalnya gak bagus disana. Apalagi sekarang lagi hujan gede, dan pasti sinyalnya susah banget disana " jelas Andara.


" Ada apaan sih, Ra ? Kalian gak ada masalah kan ? " tanya Andara khawatir.


" Gak apa-apa kok, Ra... Oh iya, gue minta alamatnya ya ! " ucap Kyra meminta Andara memberikan alamat vila milik Hamiz.


Tanpa curiga, Andara memberikan alamat vila milik Hamiz.


" Lo mau ngapain sih, Ra ? " tanya Andara setelahnya.


" Ish, jangan ngaco Ra ! Ini udah mau malem lho, udah gitu hujan gede lagi " tukas Andara.


" Ya udah, thanks ya Dar.. ! " ucap Kyra lalu mengakhiri panggilannya.


Kyra segera beringsut keluar dari kamarnya dengan mengendap-endap. Ia melihat kondisi di lantai bawah. Rupanya Mami dan Papinya sudah masuk ke dalam kamar. Kyra segera menuruni tangga dan keluar dari rumah. Ia keluar dari gerbang rumah tanpa menggunakan kendaraan. Berusaha keluar tanpa diketahui oleh para penjaga keamanan rumahnya. Sebelumnya ia sudah memesan ojek online di ujung jalan.


Walaupun saat itu hujan begitu deras, Kyra tak peduli. Keinginannya saat ini hanyalah bertemu dengan kekasih hatinya.


Kyra tak peduli meskipun hujan membasahi tubuhnya, ia nekad menuju tempat Hamiz berada.


Dan akhirnya sampailah Kyra di vila milik Hamiz. Setelah membayar ongkos, Kyra memasuki halaman vila. Kyra mengetuk pintu, namun pintu tak kunjung terbuka. Kyra mengeluarkan ponselnya, nahas ponselnya ternyata kehabisan daya.

__ADS_1


Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, Kyra mengetuk pintu kembali sambil memanggil-manggil Hamiz.


" Om... Om Doteng ! " teriak Kyra, namun suaranya tak cukup mengalahkan suara hujan yang masih turun begitu derasnya.


Kyra menggosok-gosok telapak tangannya, lalu memeluk tubuhnya sendiri. Kemudian ia mencoba mengetuk pintu kembali sambil memanggil Hamiz.


" Om... Om... Ini Kyra... Om... " panggil Kyra.


Hamiz baru saja memejamkan matanya, saat ia mendengar sayup-sayup suara wanita memanggil namanya.


" Astaga... Mengapa aku seperti mendengar suara Kyra disini ? "


" Mana mungkin, Kyra ada disini sekarang "


Hamiz bermonolog dengan dirinya sendiri. Namun suara Kyra semakin terdengar nyata hingga ia memutuskan untuk keluar dari kamarnya menuju pintu masuk.


Semakin mendekati pintu, suara Kyra semakin terdengar jelas dengan bunyi ketukan di pintu. Hamiz mempercepat langkahnya mencapai pintu, kemudian membukanya.


" Kyra... " ucap Hamiz tak percaya karena melihat sang kekasih kini berada di depannya. Dengan rambut dan pakaian yang basah kuyup serta wajahnya yang pucat dan tubuh menggigil kedinginan.


Hamiz segera memeluk Kyra lalu membawanya masuk ke dalam.


Hamiz mengambilkan handuk untuk menutupi dan menghangatkan tubuh Kyra. Hamiz kemudian meminta Kyra untuk mengganti bajunya yang basah. Karena ia tidak memiliki pakaian wanita, alhasil Kyra hanya bisa ia beri baju miliknya.


Kyra mengganti pakaiannya yang basah dengan kemeja milik Hamiz yang nampak seperti piyama di atas lutut.


" Om lagi ngapain ? " tanya Kyra saat menghampiri Hamiz di dapur yang sedang membuatkan mie instan untuknya.


" Maaf tidak ada makanan untuk dimasak selain mie instan ini. Walaupun bukan makanan sehat, tapi ini bisa dimakan dalam keadaan darurat seperti saat ini. Yang penting bisa menghangatkan dan mengganjal perutmu supaya tidak masuk angin " jawab Hamiz lalu membalik badannya hingga menghadap Kyra.


Hamiz menelan salivanya susah payah saat melihat penampilan Kyra dengan kemeja miliknya belum lagi leher jenjangnya yang juga ikut terekspos karena kyra mencepol rambutnya seolah menggoda Hamiz.

__ADS_1


Namun Hamiz segera mengalihkan pandangannya. Ia menaruh mie yang sudah ia masak ke dalam mangkuk lalu membawanya ke meja makan.


" Kamu makanlah dulu ! " seru Hamiz, kemudian berlalu meninggalkan Kyra yang nampak bingung dengan sikap Hamiz.


__ADS_2