
" Kalau Kyra mau bunda restuin hubungan Kyra sama Om Doteng, apa bunda setuju ? " tanya Kyra lirih, matanya menatap sang tante dengan tatapan memohon.
Adinda menghembus nafas perlahan kemudian meraih tangan Kyra yang tidak terpasang infus.
" Kalau itu membuat Kyra bahagia, tidak ada alasan untuk Bunda menentang hubungan kalian. Bunda hanya ingin yang terbaik untuk Kyra, untuk anak-anak Bunda " ucap Adinda sambil membelai lembut kepala Kyra kemudian mengecup pipi keponakan tersayangnya.
" Terima kasih... Terima kasih, bunda... Bunda Dinda memang bunda terbaik di dunia " sahut Kyra menciumi tangan Adinda.
" Sekarang kamu makan, biar kamu cepat pulih ! " titah Adinda.
Kyra menggelengkan kepalanya.
" Kyra gak mau makan sebelum ketemu Om Doteng " tukas Kyra.
" Om Doteng... Om Doteng aja yang ada di otak lo... Gara-gara siapa coba lo sampai masuk rumah sakit ? " gerutu Evan kesal dengan jalan pikiran Kyra.
" Bunda... Evannya tuh " rajuk Kyra.
" Evan ! " ucap Adinda dengan penekanan.
" Ck... Terus aja belain Kyra. Evan heran deh, sebenarnya yang anak bunda tuh Evan atau Kyra sih ? " oceh Evan lagi.
Adinda tersenyum tipis, Evan sudah biasa bertingkah seperti itu. Padahal ia sangat menyayangi Kyra.
" Kalian anak-anak Bunda... " tegas Adinda kemudian merentangkan tangannya meminta Evan mendekat dan memeluknya.
" Ish... Ayah ketinggalan nih. Mau peluk Bunda juga dong ! " ucap Zaid saat memasuki kamar rawat Kyra dan melihat pemandangan sang istri memeluk Kyra dan Evan.
Evan langsung menyingkir saat sang ayah mendekati mereka.
" Kok udahan peluknya ? " tanya Adinda heran saat Evan melepaskan pelukannya.
" Yang punya udah datang " jawab Evan asal membuat Adinda dan Kyra terkekeh.
" Good Son " ucap Zaid lalu mengalungkan tangan ke pundak sang istri kemudian mengecup kepalanya.
" Kok udah pulang, Mas ? " tanya Adinda.
" Begitu Evan kasih kabar tadi, Mas langsung pulang... " jawab Zaid.
" Kamu gak apa-apa Kyra ? " tanya Zaid sambil melihat Kyra yang terbaring lemah.
" Kyra baik-baik aja, Yah " jawab Kyra.
" Syukurlah...! " ucap Zaid.
__ADS_1
" Mas... Mau temenin Dinda ? " tanya Adinda kemudian.
" Mau kemana, sayang ? " tanya balik Zaid.
" Mau nemuin Kak Mario " jawab Adinda yang langsung membuat Zaid mengangkat sebelah alisnya.
" Biar dia bisa obatin Kyra " tambah Adinda lagi.
" Maksudnya ? " tanya Zaid tak mengerti. Bukankah Kyra sudah berada di rumah sakit ? Lalu mengapa harus diobati Mario ?
Adinda paham jika sang suami tak mengerti maksud dari ucapannya. Adinda lantas berdiri dan menggandeng tangan Zaid menuju ke arah pintu.
" Obat apa sih sayang ? " tanya Zaid yang masih belum mengerti.
" Obat kangen, Mas Zaidku sayang " bisik Adinda dibalas senyuman oleh Zaid.
" Evan, sayang... Bunda titip Kyra ya ! " seru Adinda sambil mengikuti langkah Zaid yang sudah melangkahkan kakinya keluar dari ruang rawat Kyra.
" Siap bun... " jawab Evan.
Zaid berjalan bersama sang istri. Tangannya terus menggenggam mesra tangan milik sang istri hingga menuju mobilnya.
" Kamu yakin mau nemuin Mario ? " tanya Zaid meyakinkan langkah yang diambil oleh sang istri.
Adinda mengangguk,
" Kamu benar sayang... Mas bangga karena kamu bisa bersikap bijak. Ini baru istrinya Mas Zaid... Ah, Mas makin sayang deh sama kamu " puji Zaid mencubit dagu sang istri kemudian mengecupi wajahnya dengan gemas.
" Mas iih... Udah ! Mas tuh kalau udah kayak gini pasti ada ujungnya deh " elak Adinda.
" Memang ujungnya apa yang ? " canda Zaid dengan seringai tipis.
" Ujungnya pasti ngamar ini mah ! " decak Adinda.
" Pinter banget sih kamu " sahut Zaid sambil mencuil hidung mancung Adinda.
" Udah, ayo berangkat ! " seru Adinda menghentikan tingkah sang suami yang selalu terpancing jika hanya sedang berduaan saja.
Zaid pun segera melajukan kendaraannya menuju alamat yang ditunjukkan oleh sang istri.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Adinda dan Zaid tiba di kediaman Andara. Mereka kemudian mengetuk pintu rumah, kebetulan Andara sendiri yang membuka pintu karena Andara baru saja pulang dari kampus.
" Tante Dinda... Om... " ucap Andara terkejut, ia tak menyangka dengan kedatangan kedua orang tua wali dari sahabatnya itu.
__ADS_1
" Halo, Dara... Apa kabar ? " sapa Adinda ramah.
" Baik, Tante... Silakan masuk " sahut Andara mempersilakan kedua tamunya umtuk masuk.
Andara kemudian meminta asisten rumah tangga untuk membawakan minum.
" Kyra apa kabar, Tante ? Sudah 4 hari ini Kyra tidak masuk kuliah. Evan bilang, Kyra sakit... " selidik Andara.
Jujur saja Andara kini sedikit sungkan karena sudah mengetahui semua duduk persoalan antara kakaknya dengan maminya Kyra.
" Iya... Kyra sekarang dirawat di rumah sakit. Kami kemari untuk meminta kakakmu menemui Kyra " jelas Adinda.
" Tante... tolong maafin Kak Hamiz ! Dara tahu kesalahan Kak Hamiz dulu begitu besar... Tapi Kak Hamiz sudah berubah. Dara jamin Kak Hamiz sudah banyak berubah. Tolong Tante dan Om restui hubungan Kyra dan Kak Hamiz. Seumur hidup Dara, cuma Kyra yang bisa masuk ke dalam hatinya Kak Hamiz... Tolong, Tante... Om... Jangan menentang hubungan mereka " ucap Andara sambil terisak.
Adinda saling berpandangan dengan Zaid. Adinda kemudian mendekati Andara lalu memeluk gadis cantik sahabat Kyra itu.
" Dara... Kami berdua datang kemari untuk meminta kakakmu menemui Kyra. Kami menyadari kekeliruan kami. Kami tahu jika kakakmu adalah sumber kebahagiaan Kyra. Kami sudah merestui hubungan mereka " ungkap Adinda sambil mengelus punggung Andara.
" Benarkah Tante ? Tante dan Om tidak menentang hubungan mereka lagi ? " tanya Andara menatap Adinda tak percaya.
Adinda mengangguk dengan senyuman terpasang di wajahnya.
" Terima kasih... Terima kasih Tante... " ucap Andara kembali memeluk Adinda.
" Sekarang dimana kakak kamu ? " tanya Adinda kemudian.
" Kak Hamiz, hanya sesekali pulang ke rumah. Biasanya kakak pulang ke apartemen. Tapi jam segini biasanya masih praktek di klinik " jawab Andara.
Adinda kemudian meminta alamat klinik Hamiz kepada Andara. Setelahnya ia pamit untuk menemui Hamiz.
" Tante... Boleh Dara nengokin Kyra ? " tanya Andara sesaat sebelum Adinda dan Zaid berlalu.
" Boleh, sayang... Kyra pasti seneng kalau kamu datang ke rumah sakit " jawab Adinda sambil menuliskan rumah sakit tempat Kyra dirawat dan memberikannya kepada Andara.
" Terima kasih, Tante... " ucap Andara.
" Tante... " panggil Andara sebelum Adinda masuk ke dalam mobil mengikuti sang suami.
" Iya, sayang ? " Adinda kembali menghadap Andara.
" Tante gak benci kan sama Dara ? tanya Andara sendu.
" Kenapa tante harus benci sama Dara ? " Adinda bertanya balik.
" Karena Dara itu anak dari perempuan yang sudah menghancurkan hubungan kakak dan maminya Kyra " jawab Andara berupaya menahan tangisnya.
__ADS_1
" Dara, sayang... Kenapa Tante harus membenci Dara ? Yang Tante benci itu perbuatannya duku. Setiap anak terlahir suci, kamu tidak bersalah... Lagi pula tante yakin kakakmu itu memang sudah berubah karena dia sudah bisa merawat dan mendidik kamu dengan baik. Jadi kamu harus semangat ya... Jangan menyalahkan diri sendiri. Jangan lupa untuk mendoakan selalu kedua orang tua Dara " jelas Adinda lalu memeluk Andara sebelum akhirnya masuk ke dalam mobil.
Adinda dan Zaid kini kembali berada di dalam mobil segera meluncur menuju klinik tempat Hamiz bekerja.