Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)

Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)
K-O-D part 22


__ADS_3

" Kyra kenapa, Din ? " tanya Pertiwi was was.


" Kyra... Sebenarnya Kyra tadi masuk rumah sakit, Kak " jawab Adinda.


" Hah ? Kenapa tadi kamu gak bilang ? Terus Kyra sakit apa ? " tanya Pertiwi panik.


Farhan yang sejak tadi memperhatikan sang istri, mendekati Pertiwi.


" Kyra kecapen aja kak... Telat makan, udah gitu lagi banyak pikiran, makanya tadi pingsan... Sekarang sih udah lebih baik, besok juga udah boleh pulang " jelas Adinda.


" Oh gitu... Pantesan kakak telponin dari tadi nomernya gak aktif " tebak Pertiwi.


" Apa Kakak pulang aja ya sekarang ke Indo " ucap Pertiwi.


" Kak Tiwi, gak usah khawatir gitu. Kyra gak apa-apa kok..." tambah Adinda menenangkan Pertiwi.


" Maaf ya Dinda, jadi ngerepotin kamu dan Kak Zaid terus " ucap Pertiwi sambil menghela nafasnya.


" Gak apa-apa, Kak....Kita ini kan keluarga. Jadi sudah seharusnya saling membantu. Lagi pula Dinda sayang sama Kyra " balas Adinda.


" Ya udah, Kak... Dinda cuma mau ngasih tahu itu aja " sambung Adinda lagi.


" Ya Din... Makasih ya. Eh terus yang nungguin Kyra siapa ? " tanya Pertiwi kemudian.


Aduh... Harus jawab apa lagi nih


" Ada Andara yang nemenin Kyra, Kak. Tadi ditunggu Evan. Terus Evan pulang sama Dinda dan Mas Zaid " jawab Adinda.


" Oh gitu... Ya udah, makasih ya. Maaf kalau Kyra banyak ngerepotin kalian " sahut Pertiwi.


Tak lama mereka mengakhiri panggilan telpon.


" Maafin Dinda ya Kak... Dinda terpaksa bohongin kakak " gumam Adinda dengan rasa bersalah.


Zaid memasuki kamar, ia melihat sang istri duduk termenung di tepi ranjang sambil memegangi ponselnya.


" Kamu kenapa sayang kok kayak orang bingung gitu sih ? " tanya Zaid sembari duduk di samping Adinda.


Adinda menoleh pada sang suami yang menatapnya dengan lembut.


" Dinda jadi gak enak sama Kak Tiwi, Mas... Kita sudah menutupi kenyataan yang sebenarnya tentang Kyra dan Kak Mario " ungkap Adinda tak enak hati.


Zaid membawa sang istri bersandar di dadanya.


" Ini yang terbaik untuk sementara ini. Kita juga harus menjaga perasaan Kyra... Kamu tahu sendiri kan, keponakan kita itu bisa berbuat nekad seperti sekarang " tukas Zaid.


" Tapi, Kak Tiwi dan Kak Farhan sudah mengawasi Kyra Mas. Lama-lama mereka pasti tahu jika pacarnya Kyra itu Kak Mario " sahut Adinda.


" Tentu saja pada akhirnya mereka akan tahu. Saat itu, tinggal Mario dan Kyra saja yang harus berusaha membuktikan cinta mereka pada Pertiwi dan Farhan " timpal Zaid.


" Sudahlah sayang... Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk mereka " tambah Zaid lagi.

__ADS_1


Sementara itu, di Rumah Sakit...


Hamiz dengan telaten menyuapi sang kekasih yang kini begitu manja.


" Satu suap lagi, sayang... " ucap Hamiz saat Lyra menolak untuk membuka mulutnya.


" Engga Om... Kyra gak mau makan lagi " tolak Kyra.


" Ayo Kyra... Bunda kamu bilang, kamu udah mogok makan beberapa hari ini. Jadi sekarang, kamu harus makan ! " seru Hamiz.


" Tapi Kyra gak mau makanan Rumah Sakit " rengek Kyra.


" Iya, nanti kalau udah sembuh kamu boleh makan apapun yang kamu mau. Tapi makanannya habisin dulu " bujuk Hamiz.


" Bener nih Om ? Kalau udah sembuh Kyra mau makan apapun ditemenin sama Om " pinta Kyra.


" Iya... " jawab Hamiz sambil menyuapkan kembali makanan yang ada hingga habis.


" Nah, gitu dong... Ini baru calon istriku " ucap Hamiz sambil mengusap pucuk kepala Kyra dengan mesra.


" Woi... Udah dong mesra-mesraannya. Inget... Disini tuh masih ada anak di bawah umur "oceh Andara dari sofa.


" Sirik aja sih Dar... Gih sana jalan-jalan diluar kali aja dapet gebetan ! " sahut Kyra.


" Oh jadi ceritanya ngusir nih... Mentang-mentang udah ada pujaan hati... " timpal Andara tak terima.


Andara mendekati ranjang Kyra, sementara Hamiz hanya tersenyum sambil berjalan menuju wastafel untuk mencuci tangannya.


" Dar... Lo keluar dulu sana. Gue mau berduaan dulu sama Om Doteng. Kyra kan kangen banget ! " bisik Kyra.


" Gue kan berdua nih, ada lo jadi berapa ? " tanya Kyra.


" Tiga lah... " sambar Andara.


" Nah berarti... Lo yang ketiganya itu " sahut Kyra menyeringai.


" Eh, lo pikir gue setan apa ? " timpal Andara tak terima.


Kyra malah terkekeh mendengar ucapan Andara.


" Ngomongin apa sih, asyik bener kayaknya " ucap Hamiz saat kembali lagi bersama Kyra dan Andara.


" Ini Om... Dara mau nyari setan dulu diluar " kekeh Kyra yang dibalas dengan cebikan dari Andara.


" Hah... ? Maksudnya gimana ? " tanya Hamiz heran.


" Udah ah... Kelamaan disini bisa-bisa jadi setan beneran " ucap Andara sambil melangkahkan kakinya menuju pintu.


" Mau kemana, Dara ? " tanya Hamiz saat sang adik membuka pintu.


" Mau nyari setan dulu ! " celetuk Andara sambil keluar dari ruangan Kyra.

__ADS_1


" Itu Dara mau kemana ? " tanya Hamiz pada Kyra.


" Mau nyari setan ganteng Om... Kali aja disini ada banyak " jawab Kyra asal.


Andara berjalan di koridor Rumah Sakit, berhubung hari sudah malam tak banyak orang berlalu lalang. Hanya beberapa penunggu pasien dan perawat yang sedang jaga malam yang ada.


Andara melangkahkan kaki tanpa tujuan, sepanjang langkah ia terus menggerutu. Ia menyesal karena tadi mengatakan akan menemani sang kakak menunggui Kyra.


" Aaah... Tahu gini, mendingan gue pulang aja. Ngapain nemenin orang yang lagi kasmaran. Yang ada jiwa jomblo gue nih meronta-ronta... " gerutu Andara tanpa sadar ia sudah berjalan hingga ujung koridor yang sepi.


" Ya, ampun... Nih gue ada dimana ? Salah jalan nih kayaknya gue " gumam Andara saat menyadari berada di tempat yang sepi dan sedikit menyeramkan.


Bug...Bug... Bug...


Terdengar bunyi dari balik lift.


" Astaga... Bunyi apaan tuh ? Iih... Jangan-jangan beneran ada setan lagi. Ini kan di rumah sakit, pasti banyak setannya " gumam Andara bergidik ngeri. Tiba-tiba bulu kuduknya berdiri membayangkan yang tidak-tidak.


Bug...Bug... Bug... Bunyi itu terdengar kembali. Hampir saja Andara berlari namun seketika menoleh ke arah lift karena mendengar suara samar-samar dari sana.


Deketin gak ya ? Tapi... Ih tahunya setan lagi...


Andara kembali bergidik, namun rasa penasaran mengalahkan ketakutannya. Andara berjalan menuju pintu lift kemudian mendekatkan telinganya ke pintu.


" Tolong... Tolong... "


Sebuah suara lemah keluar dari balik pintu lift.


" Eh... Kayaknya beneran ada orang " gumam Andara.


Andara menekan tombol lift, dan seketika pintu lift terbuka memperlihatkan seorang pria yang terduduk lemas dengan mengenakan jas putih.


Andara bergegas menghampirinya dan membawa pria itu keluar dari lift.


" Kamu gak apa-apa ? " tanya Andara sambil memapah pria itu, berjalan menjauh dari ujung koridor.


Setelah berada di tempat yang lebih terang, Andara mencari tempat duduk agar pria itu bisa duduk.


" Sebentar ya, Mas... Saya beliin minum dulu ya ! " ucap Andara kemudian meninggalkan pria itu.


Pria itu hanya diam memperhatikan Andara yang berlalu sambil mengatur nafasnya.


" Dokter... Anda baik-baik saja ? " tanya seorang security saat melihat Fabian duduk dengan wajah sedikit pucat.


" Ya, sekarang sudah baik-baik saja " jawab Fabian.


" Pak, lift yang di koridor ujung tolong dicek. Tadi saya terkurung disana. Beruntung ada yang datang menolong membukakan pintu lift " tambah Fabian.


" Oh, yang di ujung koridor memang kadang suka macet, dok. Jadi memang harus dibuka dari luar " jelasnya.


" Kalau gitu tolong dikasih tanda rusak saja Pak. Supaya tidak ada yang pakai sebelum diperbaiki " titah Fabian kemudian bangkit dari duduknya.

__ADS_1


" Baik, dokter " ucap security tersebut kemudian bergegas menuju lift yang ada di ujung.


Fabian pun segera meninggalkan tempat itu tanpa menunggu Andara yang tengah membelikannya minum.


__ADS_2