Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)

Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)
K-O-D part 55


__ADS_3

Kyra dan Hamiz kini telah sampai di depan kediaman Adinda. Mereka berdua masuk ke dalam rumah. Tanpa mereka sangka, Pertiwi dan Farhan sudah berada di rumah Adinda.


" Lho Kyra ? Kamu kok bisa barengan sama Kak Hamiz ? " tanya Adinda saat melihat Kyra masuk disusul oleh Hamiz.


Farhan dan Pertiwi yang tengah duduk di sofa kini menatap kedatangan putri mereka.


Kyra menggenggam tangan Hamiz dengan erat.


" Kyra... Apa-apaan ini ? Kalian kan belum boleh bertemu ! " ucap Pertiwi tak suka melihat kebersamaan sang anak.


" Kenapa, Mi ? Kaget ? Maunya Mami, Kyra tinggalin Om Hamiz kan " cerca Kyra menatap sinis kepada sang ibu.


" Maksud kamu apa sih Kyra ? Batas waktu yang Mami kasih kan sampai besok. Berarti kalian sudah melanggar syarat yang Mami ajukan " jawab Pertiwi santai.


" Cukup Mi, cukup ! Semua syarat yang Mami minta sudah kami lakukan ! Belum puas Mami mencari cara untuk memisahkan kami ? " pekik Kyra emosi.


Hamiz mengelus bahu Kyra untuk menurunkan emosinya.


" Kyra... Ini ada apa sayang ? " tanya Farhan heran melihat sang putri yang nampak begitu emosi.


" Papi tanya aja sama istri Papi ini apa yang sudah beliau lakukan ! " jawab Kyra menyindir sang Mami.


" Mi... " Farhan menatap sang istri dengan tatapan tajam.


Pertiwi hanya diam sambil meremat kedua tangannya.


" Tolong jelaskan maksud anda, dokter Pertiwi yang terhormat ! " ucap Kyra sambil menatap sang ibu.


" Kak... Ini ada apa sih ? " tanya Adinda melihat ke arah sang kakak.

__ADS_1


Pertiwi masih bungkam tanpa berusaha menjelaskan apapun.


" Mi... Jelasin sama Papi ada apa ini ? " tanya Farhan.


" Biar Kyra yang cerita, Pi... Apa saja yang sudah Mami lakukan untuk membahagiakan Kyra atau justru mengecewakan Kyra " jawab Kyra lantang.


Kyra akhirnya menceritakan yang terjadi hari ini kepada ayah juga om dan tantenya.


" Kak, Kakak apa-apaan sih ? Masa ngasih ujian caranya gitu ? Kakak mau ngetes atau mau misahin mereka sih " oceh Adinda yang merasa kesal sendiri dengan sikap sang kakak.


Zaid menyentuh bahu Adinda sambil mengelusnya, menenangkan sang istri. Sementara Farhan hanya melihat ke arah sang istri tanpa mengatakan apapun. Namun dari tatapan matanya, Pertiwi bisa tahu jika sang suami kecewa kepadanya.


" Aku hanya ingin yang terbaik untuk Kyra... " ungkap Pertiwi akhirnya mengeluarkan suara.


" Kalian bisa mengatakan jika aku keras kepala, tapi aku hanya ingin melihat putriku bahagia. Kalian tidak tahu kan rasanya dikhianati. Aku hanya tidak ingin Kyra mengalami apa yang terjadi padaku " tambah Pertiwi.


" Mami hanya mengantisipasi akan kemungkinan buruk yang terjadi. Mami melakukan ini karena Mami menyayangimu, Kyra... " sanggah Pertiwi.


" Kalau Mami sayang sama Kyra, Mami seharusnya tahu apa yang jadi kebahagiaan Kyra. Bukannya berupaya untuk menjauhkannya... Jangan berkedok untuk kebahagiaan Kyra dalam setiap tindakan yang Mami lakukan sementara Mami sendiri berusaha merampas kebahagiaan Kyra dengan menjauhkan Kyra dari orang yang Kyra sayang " timpal Kyra berapi-api.


" Dinda gak nyangka, kakak bisa bersikap seperti ini... Kakak ini, ibu kandung Kyra tapi kakak tidak berlaku selayaknya seorang ibu. Seorang ibu tidak akan pernah mau melihat anaknya terluka apalagi membuat luka itu ada ! " tambah Adinda semakin membuat Pertiwi merasa terpojok.


" Maaf Wi... Sebenarnya aku dan Adinda tidak ingin ikut campur terlalu jauh dalam masalah ini. Kami paham atas sikapmu terhadap Hamiz. Kami pun tidak mengintervensi agar kamu bisa menerima Hamiz sepenuhnya. Hanya saja, coba kamu renungkan. Tidak ada orang baik tanpa masa lalu. Serta tidak ada orang berdosa tanpa masa depan. Ketika kita sudah bertobat... menyadari akan kesalahan kita juga dosa-dosa kita, kemudian menyesali dan berusaha sekuat mungkin agar tidak melakukan hal itu kembali. Maka, Tuhan pun mengampuni dosa-dosa kita... " tutur Zaid.


" Hamiz sudah bertobat atas semua kesalahan dan khilafnya di masa lalu. Ia sudah berjuang untuk menjadi orang baru yang lebih baik. Aku percaya... Kami percaya jika Hamiz tidak akan menyakiti Kyra. Kami yakin jika cintanya tulus untuk Kyra... " tambah Zaid lagi.


" Sayang... Kamu ajak Kyra ke kamarnya ! Dan kamu Hamiz, ikut saya ke ruang kerja " seru Zaid, segera diikuti oleh Adinda, Kyra dan juga Hamiz.


" Farhan... Cobalah berbicara dari hati ke hati dengan Pertiwi. Aku yakin kamu bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik " ucap Zaid pada saat melalui Farhan. Lalu berjalan menuju ruang kerja dengan diikuti oleh Hamiz.

__ADS_1


Farhan menganggukkan kepala, lalu membawa Pertiwi ke kamar tamu. Pertiwi menundukkan kepala sambil duduk di tepi ranjang. Sementara Farhan memilih untuk berdiri sambil bersedekap dada menatap sang istri dengan intens.


" Mi... Mami sudah sadar dengan kesalahan yang Mami lakukan ? " tanya Farhan.


Pertiwi tak menjawab pertanyaan sang suami. Ia hanya meremas jemarinya di atas pangkuannya.


" Mi... " panggil Farhan yang kini sudah duduk di samping Pertiwi.


" Papi juga menyalahkan Mami ? Mami melakukan itu karena Mami takut Kyra akan mengalami hal serupa dengan Mami. Rasanya sakit mengingat hal itu, Pi... " ucap Pertiwi dengan air mata yang sudah berlinang.


Farhan menghela nafasnya lalu segera merangkul sang istri.


" Mi... Papi tahu yang Mami rasakan, bahkan Papi pun merasakan hal yang sama pada awalnya. Begitu juga dengan Adinda dan Mas Zaid. Kita semua takut hal buruk menimpa Kyra. Tapi... Ternyata apa yang kita takutkan tidak terjadi. Bahkan, kami sepenuhnya yakin jika Hamiz memang benar-benar mencintai Kyra " ucap Farhan.


" Mengapa Papi bisa seyakin itu ? " tanya Pertiwi kemudian.


" Karena Papi bisa merasakan ketulusannya. Jika Hamiz masihlah seperti Mario yang dulu, tentunya sudah sejak awal dia merusak anak kita. Apalagi Kyra cinta mati padanya, tentu tidaklah sulit baginya untuk memanfaatkan Kyra... Tapi nyatanya tidak begitu. Mi... Cobalah berdamai dengan hati Mami. Tidak baik terus hidup dalam dendam... Yang ada Mami tidak bisa hidup dengan tenang " jawab Farhan sambil mengelus punggung sang istri dengan lembut.


Pertiwi tergugu, ucapan Farhan memang benar. Sebenarnya ia pun lelah dengan perasaan yang berkecamuk di hatinya.


" Mi... Lepaskan semua hal yang mengganggu pikiran Mami. Berbaik sangkalah, berpikir positif. Kita doakan saja ini yang terbaik untuk putri kita. Apa Mami tidak menginginkan Kyra bahagia ? "


Pertiwi menggelengkan kepalanya perlahan.


" Mi... Ucapan seorang ibu itu doa dan Tuhan mendengar langsung ucapan seorang ibu. Jadi Papi mohon, Mi... Restui hubungan mereka ! Jadilah seorang ibu yang selalu mendoakan kebahagiaan anaknya, mensupport dan selalu menjadi garda terdepan untuk melindungi anaknya. Mami bisa melakukan itu kan ? "


" Maafkan Mami, Pi... " ucap Pertiwi tulus.


" Papi sudah memaafkan kesalahan Mami. Seharusnya, Mami minta maaf kepada Kyra dan Hamiz ! " seru Farhan.

__ADS_1


__ADS_2