Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)

Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)
K-O-D part 41


__ADS_3

Hamiz terbangun dan mendapati sang kekasih masih lelap tertidur di sampingnya sambil memeluk dirinya. Ia memperhatikan wajah cantik Kyra yang begitu tenang saat tertidur.


Entah mengapa hatinya justru menjatuhkan pilihan pada gadis belia itu. Walaupun pada awalnya ia sempat meragukan perasaannya sendiri pada Kyra namun seiring berjalannya waktu ia yakin bahwa memang Kyralah yang ia mau untuk menjadi satu-satunya wanita di hatinya, pelabuhan cinta terakhirnya.


...Ragu terlintas saat aku melangkah...


...Benarkah aku bisa milikimu cinta...


...Namun katanya semua kan jadi indah...


...Kau genggam tangan ini dan berlari bersamaku...


...Sungguh aku tak menyangka hatimu untukku...


...Awal ragu lalu hilang seiring langkah kita...


...Yang kumau ini semua cinta terakhirku...


...Meski banyak halang rintang...


...Ku berharap ini takdir cinta...


...( Takdir Cinta by. Arsyi Widianto & Syifa Hadju)...


Hamiz mengelus pipi Kyra lalu mencium keningnya. Tak lama ia bergerak turun dari ranjang menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri. Pagi ini, ia akan mengantarkan Kyra kembali ke rumahnya. Entah apa yang akan Pertiwi dan Farhan lakukan kepadanya nanti jika putri kesayangan mereka bermalam bersamanya.


Kyra membuka matanya, ia meraba ke sisi temoat tidurnya sambil meneh ke arah samping namun tak melihat keberadaan kekasihnya itu. Kyra kemudian duduk dan bersandar pada head board ranjang.


" Om Doteng, kemana sih ? " tanyanya lirih.


Tak lama ia memegang dadanya, merasakan debaran yang terus berpacu. Kyra tersenyum sendiri membayangkan jika ia bisa tidur dan bangun setiap harinya disamping Hamiz. Pasti sangat membahagiakan.


Pintu kamarnya terbuka, satu sosok yang sejak tadi dicarinya kini menampakkan diri. Sudah berpakaian rapi dengan kemeja berwarna hitam dan celana formal berwarna abu, Hamiz benar-benar membuat Kyra terpesona.


Dengan gagahnya, Hamiz memasuki kamar dan berjalan menuju ke arah Kyra.


" Kamu sudah bangun ? " tanyanya sambil menatap Kyra dengan tatapan teduh.


Kyra mengangguk, pandangan matanya tertuju pada wajah tampan pemilik hatinya itu.


" Om mau kemana ? " tanya Kyra heran karena sepagi ini, Hamiz sudah berpakaian rapi.


" Ayo, cepat kamu bersiap... ! Aku akan mengantarkanmu pulang " ucap Hamiz sambil duduk di tepi ranjang. Ia membawakan pakaian Kyra yang sudah kering dan menyimpannya di tepi ranjang.


" Aku tunggu kamu di depan ya ! " seru Hamiz lalu meninggalkan Kyra sendiri.

__ADS_1


Tak ingin membuat Hamiz menunggu lama, Kyra lekas-lekas menuju kamar mandi.


Setelahnya, Kyra segera menyusul Hamiz yang telah menunggunya di meja makan. Kekasihnya itu sudah menyiapkan sarapan.


" Ayo kita sarapan dulu ! " serunya saat melihat Kyra.


Kyra pun menghampiri dan duduk berhadapan dengan sang kekasih. Di meja makan sudah tersedia roti bakar juga minuman coklat panas.


" Om siapin ini semua ? " tanya Kyra merasa tak enak hati karena ia tak bisa membantu.


" Heem... Hanya ini saja yang tersedia. Semoga kamu suka " jawabnya sambil tersenyum.


Hah... Bagaimana mungkin hati Kyra tidak luluh dengan sikap manis Hamiz. Walaupun sudah berumur, tapi tak melunturkan pesonanya.


" Hei... Dimakan dulu Kyra sayang... " ucapnya lagi membuat Kyra terperangah.


Mereka pun akhirnya menghabiskan sarapan bersama.


Kyra dan Hamiz kini berada di dalam mobil. Hamiz melajukan kendaraannya meninggalkan vila. Mereka akan kembali menuju kediaman Kyra.


" Om... Tolong antar Kyra ke rumah Bunda Dinda saja " pinta Kyra.


Hamiz menautkan kedua alisnya.


Kyra menggelengkan kepala.


" Kyra hanya tidak ingin Mami menyalahkan Om karena kepergian Kyra kemarin. Setidaknya Ayah dan Bunda tidak akan memojokkan Om... " jawab Kyra.


Hamiz menepikan mobilnya, lalu menatapi kekasihnya itu. Ia bisa merasakan kekhawatiran dari wajah Kyra. Hamiz menggenggam jemari tangan Kyra yang tersemat cincin pemberiannya.


" Kyra... Semua halangan dan rintangan akan aku hadapi demi mendapatkanmu. Aku tak peduli apapun yang akan kuhadapi selama bisa bersamamu. Yang terpenting kita tidak menyerah dalam memperjuangkan cinta kita " tegas Hamiz.


Kyra menatap Hamiz, ia menganggukkan kepalanya pertanda setuju dengan ucapan Hamiz.


" Ya... Kyra akan berjuang bersama dengan Om. Sesulit apapun rintangan di depan kita, Kyra tidak akan menyerah. Asalkan Kyra bisa hidup bersama dengan Om... " ucap Kyra.


" Kita hadapi semua ini sama-sama " ucap Hamiz kemudian mencium jemari tangan Kyra yang ada dalam genggamannya.


Hamiz kembali melajukan kendaraannya menuju ke kediaman Adinda dan Zaid.


Mereka akhirnya sampai di tempat tujuan. Kedatangan mereka rupanya sudah ditunggu oleh Zaid dan Adinda.


" Kyra... Kamu baik-baik saja ? " tanya Adinda sambil memeluk Kyra.


" Kyra baik-baik saja, Bunda... " jawab Kyra lirih.

__ADS_1


" Ck... Kamu ini, selalu bikin orang jantungan. Kenapa sih pakai acara kabur segala " sembur Adinda.


" Maaf, Bunda... " cetus Kyra sambil menundukkan kepala.


" Maaf sudah merepotkanmu " ucap Zaid pada Hamiz yang berada di belakang Kyra.


" Terima kasih, Kak Hamiz mau menjaga dan mengantarkan Kyra ke sini " ucap Adinda tulus.


" Sama-sama Dinda... Sudah kewajibanku menjaganya " jawab Hamiz.


Mereka semua masuk ke dalam rumah. Mereka menunggu kedatangan Pertiwi dan Farhan yang sudah dihubungi oleh Zaid saat Kyra dan Hamiz sampai.


Tak menunggu lama, Farhan dan Pertiwi tiba di kediaman Adinda. Pertiwi secepatnya masuk ke dalam rumah diikuti oleh Farhan.


Sungguh, Pertiwi merasa sangat kesal saat melihat Hamiz disana. Ia segera mendekati Hamiz dan kemudian segera menamparnya.


Plak...


" Berani-beraninya kamu mempengaruhi Kyra sampai dia kabur dari rumah... " bentak Pertiwi.


" Mami... Ini bukan salah Om Hamiz... " bela Kyra.


" Diam Kyra ! Kamu sudah berani melawan Mami karena laki-laki ini ? " sentak Pertiwi tak suka karena Kyra membela Hamiz.


" Mi... Tenang mi... " ucap Farhan memegang tangan sang istri.


" Kak... Sebaiknya kita bicarakan ini baik-baik, dengan kepala dingin... " ucap Adinda berusaha menenangkan sang kakak yang terlanjur emosi.


" Ayo, Mi... Kita duduk dulu ! " seru Farhan lalu membawa sang istri duduk di sofa.


Zaid duduk di samping Hamiz, sementara Kyra duduk di samping Adinda berhadapan dengan Farhan dan Pertiwi.


" Baiklah, kita selesaikan ini semua sekarang ! " ucap Zaid memulai pembicaraan.


" Kyra ada yang ingin kamu sampaikan ? " tanya Zaid terlebih dahulu bertanya kepada Kyra.


Kyra meremas jemari tangannya sendiri. Menyadari keponakannya itu dilanda keresahan, Adinda menggenggam tangan Kyra, menentramkan perasaannya. Kyra menatap sang tante yang senantiasa mendukungnya. Adinda mengangguk dengan senyum teduh, membuat Kyra merasa lebih tenang.


Kyra menghela nafasnya sebelum akhirnya mengutarakan isi hatinya.


" Mi... Pi... Kyra minta maaf ! Maaf karena Kyra pergi dari rumah kemarin... Tolong mengerti perasaan Kyra. Kyra mencintai Om Hamiz... Tolong, restui kami " pinta Kyra.


Mendengar hal itu membuat Pertiwi memijat pelipisnya. Sementara Farhan mengelus punggung sang istri berusaha menenangkannya.


" Tolong, Mi... Kyra mohon... Tolong Restui hubungan kami !! " mohon Kyra sambil bersimpuh di hadapan Pertiwi dan Farhan.

__ADS_1


__ADS_2