
" Hah... Papi... " ucap Kyra menatap ke arah sang ayah yang kini berdiri di depan mereka sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana.
" Kamu ini gak bisa dibilangin ya ! Papi kan udah bilang jangan terlihat berduaan di tempat umum. Nanti kalau Mami kamu tahu, bisa panjang ceritanya ! " omel Farhan.
" Lagian, kalian ini gak bisa sabar apa ? Besok kan Papi sama Mami mau pulang. Kalian bisa bertemu setelah itu tanpa khawatir bisa ketahuan Mami kamu " tambah Farhan lagi merasa kesal dengan tingkah sang anak.
" Kyra kan kangen, Pi... Kalau video call doang mah gak afdol. Enaknya ketemu langsung " elak Kyra.
" Maaf, Han... Jangan salahin Kyra ! Ini aku juga yang salah " tambah Hamiz.
" Kalian berdua ini, hah... Dasar bucin ! " geram Farhan lalu meraup wajahnya.
" Kalian sebaiknya segera pergi dari sini sebelum Mami menemukan kalian " seru Farhan melihat ke arah Kyra dan Hamiz.
" Memangnya Mami disini, Pi ? " tanya Kyra sambil mengedarkan pandangannya mencari sosok sang ibu.
" Mami masih di lantai bawah, lagi belanja. Papi tadi duluan ke atas, mau cari tempat buat makan. Nanti Mami nyusul " jawab Farhan.
" Kalian sudah selesai kan ? " tanya Fathan kemudian.
Kyra menganggukkan kepalanya.
" Ya sudah, kalian cepat pergi dari sini sebelum Mami datang " perintah Farhan.
Kyra dan Hamiz segera berdiri, lantas berlalu dari hadapan Farhan. Mereka menuju tangga eskalator untuk menghindari Pertiwi yang kemungkinan akan menggunakan lift.
Pertiwi keluar dari sebuah toko dengan membawa paper bag. Tanpa sengaja ia bertabrakan dengan Jodi.
" Maaf... Lho Tante Tiwi ? " sapa Jodi saat melihat wanita yang baru saja ditabraknya.
" Eh, Jodi... Sama siapa ? " tanya Pertiwi sambil meraih paper bagnya yang sempat terjatuh.
Jodi ikut membantu Pertiwi mengambilkan paper bag belanjaan Pertiwi.
" Jodi sendiri, Tante... Tadi habis janjian sama temen. Tante mau makan siang sama Kyra ya ? " tanya Jodi.
" Kyra ? Memangnya kamu ketemu sama Kyra ? " tanya Pertiwi.
" Iya, Tante... Tadi Kyra lagi makan sama calon suaminya di restoran di atas " jawab Jodi jujur.
" Kyra ada di atas sama calon suaminya ? " tanya Pertiwi lagi memastikan.
__ADS_1
" Iya, Tan... " jawab Jodi lagi.
" Oh....Ya sudah, terima kasih infonya. Salam ya buat Mama kamu ! " ucap Pertiwi kemudian meninggalkan Jodi.
Pertiwi bergegas menuju lift, namun sesaat sebelum masuk matanya menangkap penampakan putrinya dengan seorang pria yang mungkin dikenalnya.
Pertiwi mengurungkan niatnya untuk masuk ke dalam lift. Ia memilih mengikuti sang anak dengan menjaga jarak agar tidak terlalu dekat. Kyra dan pria itu menuju ke basement pusat perbelanjaan. Pertiwi masih mengikuti mereka, tak lupa ia memberi kabar pada sang suami untuk segera menyusulnya ke basement.
Pertiwi merasa seperti mengenal pria yang bersama dengan sang putri. Oleh karena itu, ia terus mengikuti mereka hingga mereka masuk ke dalam mobil.
Sebelum mobil yang ditumpangi mereka melaju, Pertiwi segera mendekati mobil itu lalu mengetuk kaca jendela mobilnya.
Tok... Tok...
Suara ketukan dari luar kaca jendela membuat Hamiz membuka sedikit kacanya.
" Ya, ada yang bisa saya bantu ? " tanya Hamiz sambil melihat sosok yang mengetuk kaca jendela mobilnya.
Deg...
Detak jantung Hamiz serasa berhenti saat melihat wajah wanita yang mengetuk kaca jendela mobilnya.
" Kenapa sih Om ? " tanya Kyra sambil melihat ke arah Hamiz menatap.
" Mami... " pekik Kyra sambil menutup mulutnya.
Pertiwi begitu emosi melihat sang putri bersama dengan laki-laki yang sangat ia benci. Hingga kemudian Pertiwi berjalan mengitari mobil dan langsung membuka pintu mobil lalu menarik Kyra keluar dari mobil Hamiz dengan paksa.
Hatinya merasa sakit mengetahui jika Kyra bersama dengan Mario. Ternyata kecurigaannya selama ini benar, foto pria waktu itu adalah Mario.
" Kyra, ayo pulang ! " seru Pertiwi sambil menarik tangan Kyra dengan paksa.
" Tapi, Mi... Kyra mau pulang sama Om... " sanggah Kyra sambil berusaha melepas cengkraman tangan Pertiwi.
" Mami tidak akan pernah mengijinkan. Jangan harap kamu bisa bersamanya !! " tegas Pertiwi sambil terus menarik Kyra, tak peduli jika sang anak terus memberontak.
Hamiz hanya bisa mengikuti Kyra yang ditarik paksa oleh Pertiwi.
" Om... Tolongin Kyra " pinta Kyra sambil menatap Hamiz, sebelah tangan Kyra yang bebas menggapai-gapai tangan Hamiz.
" Wi... Lepasin Kyra, aku mohon ! " pinta Hamiz lalu menahan tangan Kyra yang sedari tadi meminta untuk digapai.
__ADS_1
" Lepasin anakku. Kamu tidak pantas menyentuhnya ! " pekik Pertiwi.
" Mami... Lepasin, Mi... " mohon Kyra.
Ia masih berusaha melepas cekalan tangan sang ibu hingga akhirnya berhasil terlepas. Secepat mungkin Kyra menuju Hamiz lantas bersembunyi di balik tubuh Hamiz.
" Kyra... Ayo ikut Mami ! " seru Pertiwi berjalan mendekati Kyra namun dihalangi oleh Hamiz.
" Wi... Kita bisa bicarakan ini baik-baik " ucap Hamiz kepada Pertiwi.
" Apa ? Bicarakan baik-baik ? Dengarkan saya baik-baik Tuan Mario... Tidak ada lagi yang perlu saya bicarakan dengan anda... " tukas Pertiwi dengan emosi.
" Aku mohon, Wi... Aku mencintai Kyra, aku sungguh-sungguh mencintai Kyra " Hamiz memberanikan diri mengutarakan isi hatinya.
Plak...
Sebuah tamparan keras mendarat di pipi Hamiz.
" Itu untuk menyadarkan kamu, bahwa kamu tidak pantas untuk mendampingi putriku. Jangan pernah berharap untuk bisa bersamanya karena aku tidak akan pernah membiarkannya. Aku tidak akan pernah membiarkan siapapun menghancurkan kehidupan putriku. Apalagi kamu , jadi menjauhlah dari putriku !! " ucap Pertiwi menatap nyalang kepada pria yang berada di hadapannya itu.
Kyra yang sejak tadi bersembunyi di balik punggung Hamiz kini memperlihatkan diri di hadapan sang ibu.
" Cukup, Mi... ! Cukup ! Kyra cinta sama Om Doteng, kami saling mencintai. Mengapa Mami menghalangi hubungan kami ? " tanya Kyra tak terima.
" Diam Kyra ! Kamu tidak tahu, siapa laki-laki brengsek ini... " geram Pertiwi.
" Kyra tahu, Mi... Kyra tahu semuanya dan Kyra menerimanya... Kyra menerima semua kekurangan dan kelebihannya " tegas Kyra menatap sang ibu dengan tajam.
" Kamu sudah dibodohi oleh laki-laki ini... Dia tidak pantas untuk kamu ! " sahut Pertiwi tak kalah tajam.
" Lalu siapa yang menurut Mami pantas mendampingi Kyra ? " tanya Kyra menantang sang ibu.
" Siapapun asalkan bukan dia " jawab Pertiwi tak kalah tegas.
Kyra tersenyum sinis.
" Sayangnya... Yang Kyra mau hanya dia. Laki-laki yang menurut Mami laki-laki paling brengsek inilah yang Kyra cintai " tegas Kyra membuat sang ibu mengepalkan erat tangannya.
" Kyra... Kamu... " Pertiwi menghentikan ucapannya saat melihat Hamiz berlutut di depannya.
" Wi... Aku mohon, maafkan aku ! Ampuni aku ! Aku akan melakukan apapun asalkan kamu merestui hubungan kami... Aku tulus mencintai Kyra... Sumpah demi apapun, aku akan melakukan apapun agar kamu merestui hubungan kami. Walaupun aku harus bersujud kepadamu supaya kamu merestui hubungan kami, aku akan melakukannya " tutur Hamiz masih dalam posisi berlutut.
__ADS_1