
Pertiwi membuang kasar nafasnya, apalagi kini Hamiz ikut-ikutan bersimpuh bersama dengan Kyra. Semakin membuat kepala Pertiwi berdenyut nyeri.
" Mi... " panggil Farhan sambil melirik sang istri yang sejak tadi hanya membisu sambil memijit-mijit pelipisnya.
Sampai akhirnya Pertiwi berdiri, lalu menatap Kyra dan Hamiz.
" Baiklah... Jika kalian terus memaksa. Aku akan memberikan kalian restu, hanya jika kalian lulus ujian yang kuberikan "
Ucapan Pertiwi tentu saja memberikan angin segar bagi Kyra dan Hamiz. Keduanya saling pandang sambil tersenyum bahagia.
" Kalian berdua jangan senang dulu. Seandainya kalian tidak bisa melalui ujian ini, maka kalian harus berpisah selamanya dan harus melupakan satu sama lain ! Apa kalian bersedia ? " tanya Pertiwi lagi.
Kyra dan Hamiz mengangguk bersamaan.
" Kami akan berusaha menjalaninya. Kami yakin bisa menghadapi apapun bersama " ucap Kyra yakin.
Pertiwi menyeringai licik.
" Baiklah, kalau begitu kalian berdua dengarkan baik-baik. Selama 2 bulan, kalian tidak boleh bertemu. Untuk Kyra, selama itu kamu harus dekat dengan laki-laki yang Mami pilihkan. Jika selama itu, hatimu tidak berpaling maka Mami tidak akan menentang hubungan kalian... " jelas Pertiwi.
Kyra langsung menyetujui syarat yang diajukan oleh sang ibu. Bagi Kyra, tentu saja itu tidaklah sulit karena ia yakin jika hatinya sepenuhnya hanya untuk Hamiz.
Pertiwi kemudian menatap Hamiz.
" Dan untukmu... Aku akan memberitahumu nanti... Jadi bersiaplah dengan syarat yang akan kuberikan padamu ! " ucap Pertiwi sinis.
" Mami gak ngerencanain macem-macem kan ? Kenapa gak sekarang aja dikasih tahu, biar fair " sanggah Kyra, ia curiga sang ibu sengaja menyusun rencana untuk memisahkan mereka.
" Kenapa ? Kamu takut lelaki pilihan kamu ini tidak bisa melalui ujian dari Mami ? " tanya Pertiwi bernada meremehkan.
" Enggak... Kyra yakin Om Hamiz bisa melewati ujian dari Mami... " jawab Kyra yakin.
Pertiwi tersenyum sinis...
" Kalau begitu, tidak ada yang harus kamu khawatirkan, sayang... Kalau memang kalian ditakdirkan bersatu, maka seberat apapun rintangannya pasti kalian akan bersama. Benar kan ? " ucap Pertiwi.
" Baiklah, aku bersedia menerima syarat yang kau berikan... " jawab Hamiz.
" Bagus... Kalau begitu, Kyra kamu bersiap karena kamu akan tinggal di Singapura selama 2 bulan ini... Dan besok kita akan berangkat ! " titah Pertiwi yang membuat Kyra seketika melebarkan matanya.
__ADS_1
" Kenapa harus ke Singapura, Mi... ? Lalu bagaimana dengan kuliah Kyra ? Kyra gak mau ! " tolak Kyra.
" Ohh... Jadi kamu mau menyerah dengan syarat yang Mami berikan ? " tanya Pertiwi.
" Bukan begitu, Mi... Biarkan Kyra disini, Kyra janji gak akan ketemu Om Hamiz " pinta Kyra memohon.
" Mi... Kamu ini apa-apaan sih ? Kamu mau ngorbanin kuliah Kyra hanya karena keinginanmu itu " Farhan mempertanyakan sikap sang istri.
" Kuliah kan bisa online sementara, Pi... Mami akan meminta ijin ke kampus Kyra " jawab Pertiwi santai.
" Ya, gak bisa seenaknya gitu Mi... " tukas Farhan.
" Sudahlah, Pi... Serahin aja sama Mami " sahut Pertiwi.
Hamiz menatap sang kekasih lalu menggenggam tangannya. Ia memberi isyarat dengan anggukan kepala dengan senyuman tipis untuk menenangkan sang kekasih.
" Tapi... Kami masih bisa berkomunikasi kan ? " tanya Hamiz kemudian.
" Tentu saja bisa... Kalian hanya tidak boleh bertemu sampai waktunya ! " tegas Pertiwi.
" Baiklah... " jawab Hamiz.
Dan akhirnya kesepakatan pun terjadi meskipun ada hal-hal yang dirasa janggal, tetapi Hamiz dan Kyra bersedia menjalaninya.
" Mi... Apa yang sedang Mami rencanakan pada Kyra dan Hamiz ? " tanya Farhan kepada sang istri saat mereka dalam perjalanan menuju kediaman mereka.
" Seperti yang Papi dengar tadi, memberikan mereka ujian " jawab Pertiwi tanpa beban.
Farhan menghela nafasnya.
" Mi... Apapun yang Mami rencanakan, jangan sampai melukai perasaan Kyra " ucap Farhan memberikan peringatan kepada sang istri namun dengan dengan nada lembut.
Pertiwi menatap sang suami dengan heran, ia mengangkat sebelah alisnya.
" Papi pikir Mami setega itu ? Mami hanya ingin yang terbaik untuk Kyra. Mami tidak ingin sesuatu yang buruk menimpa Kyra " ucap Kyra.
" Jadi, Mami masih berpikir jika Hamiz tidak baik untuk Kyra ? Astaga Mami... " ucap Farhan sambil meraup wajahnya.
" Dia itu, Mario... ! Mami harap Papi tidak melupakan hal itu " ungkap Pertiwi.
__ADS_1
" Mario sudah tidak ada, Mi... Dia itu Hamiz... Laki-laki yang anak kita cintai ! " tegas Farhan.
" Mereka orang yang sama, Pi... Dan Mami tidak akan pernah membiarkan dia menghancurkan hidup Kyra " timpal Pertiwi tak kalah tegas.
Farhan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Ia tak mengerti dengan sikap sang istri yang begitu keras hati. Walaupun Farhan menyadari jika sikap sang istri karena semua yang terjadi di masa lalu.
Semoga kamu bisa membuka pintu maaf kamu, Wi... Jangan sampai dendam membuat hatimu tak bisa melihat kebenaran dan menyakiti anak kita...
Sepertinya, aku harus mengawasi Pertiwi. Maafkan aku, sayang... Ini semua aku lakukan demi kebaikan kita.
Sementara itu, Hamiz dan Kyra masih berada di kediaman Adinda. Kyra sengaja tidak ikut bersama dengan kedua orang tuanya. Ia akan menginap di rumah sang Tante sebelum besok ia pergi bersama kedua orang tuanya ke Singapura.
Adinda dan Zaid kini duduk bersama dengan Kyra dan Hamiz.
" Maafkan Kak Tiwi ya, Kak... Kak Tiwi mungkin masih sulit menerima ini semua " ucap Adinda merasa tak enak hati.
" Tidak apa, Dinda... Aku mengerti perasaan Pertiwi. Pastinya terlalu dalam luka yang kutorehkan padanya " balas Hamiz lirih. Tatapan matanya menatap lurus ke depan.
Membaca keresahan yang melanda sang kekasih, Kyra kemudian menggenggam erat tangan Hamiz.
" Kita pasti bisa melewati semua ini, Om... " ucapan Kyra menyadarkan Hamiz jika ia harus berjuang bersama sang kekasih.
Hamiz tersenyum menatap Kyra, gadis muda ini yang membuatnya bersemangat menata kehidupan cintanya kembali. Kyralah yang membuatnya kembali merasa pantas untuk dicintai dan mencintai. Gadis inilah yang membuatnya sadar jika masa lalu itu ada untuk diambil pelajaran berharga dan sekarang adalah waktunya ia menatap masa depannya bersama dengan Kyra. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan restu dari ibu sang kekasih.
" Ehem... " Deheman Adinda menginterupsi dua insan yang tengah dimabuk asmara.
Kyra dan Hamiz, melepaskan tautan tangan mereka lalu menunduk malu. Adinda tersenyum melihat sikap dua insan berbeda generasi itu, ternyata cinta memang tak pandang bulu. Walaupun rentang usia yang cukup jauh tetapi tak menghilangkan esensi cinta itu sendiri.
Adinda kemudian menatap sang suami yang masih nampak gagah meski usianya tak lagi muda. Adinda tersenyum sambil memeluk lengan Zaid dengan mesra.
" Mas... Kita jalan-jalan yuk ! Mumpung Mas cuti..." rayu Adinda sambil berbisik di telinga Zaid.
Hari ini, Zaid mengambil cuti karena mengurusi permasalahan Kyra sejak semalam.
" Kamu mau kemana, sayang ? " tanya Zaid mesra sambil menjawil dagu sang istri.
" Kita nonton yuk ! Jangan kalah sama yang muda. Mumpung ada film baru yang lagi viral, Mas... Kapan lagi coba " jawab Adinda sambil tersenyum nakal.
" Terus, mereka bagaimana ? Kamu mau tinggalin mereka berdua ? " tanya Zaid sambil melirik ke arah Kyra dan Hamiz.
__ADS_1
" Kalau gitu, ajakin aja Mas... Kasihan mereka, besok kan harus pisah dulu " ide Adinda.
Adinda mengajak Kyra dan Hamiz untuk pergi nonton. Baik Kyra maupun Hamiz menyetujui ajakan dari Adinda dan Zaid. Dan akhirnya, dua pasangan itu pun pergi bersama menuju ke bioskop.