
Hamiz membawa pakaian Kyra yang basah, ia lalu memasukkannya ke dalam mesin cuci lantas mengeringkannya.
Melihat penampilan Kyra tadi tentu saja membuatnya tergoda. Tapi ia berusaha menahannya. Jika saja ia masih pria yang sama seperti dulu,tentu saja ia tidak akan melewatkan kesempatan baik ini.
Kyra yang sudah selesai menyantap makanan yang dibuat oleh Hamiz, kini bergerak mencari keberadaan sang kekasih. Dan akhirnya ia menemukan Hamiz sedang menekan tombol mesin cucinya.
Kyra mendekap Hamiz dari arah belakang.
Deg...
Debaran jantung Hamiz begitu kencang. Serasa seperti sedang bermaraton. Belum lagi ia bisa merasakan gundukan milik Kyra yang beradu dengan punggungnya.
D**n... Racau Hamiz dalam hati.
Ketika ia berusaha menurunkan gairahnya, justru Kyra memancingnya. Tangan Hamiz sedikit mengepal, ia masih berusaha melawan gempuran hasrat yang menyerangnya kini.
" Kyra... Jangan seperti ini ! " seru Hamiz lalu mencoba melepaskan tangan Kyra yang membelit pinggangnya.
Kyra melepaskan tangannya, lalu mundur beberapa langkah.
" Kenapa ? Om gak suka ? " tanya Kyra kecewa.
" Bukan begitu... " Hamiz membalik badannya hingga berhadapan dengan Kyra.
Manik matanya beradu dengan manik mata milik sang kekasih yang tengah menatapnya.
" Aku hanya... Aku hanya... " Hamiz tak meneruskan kalimatnya.
" Hanya apa Om ? " tanya Kyra menatapnya dengan lekat.
Hamiz membuang pandangannya, lalu menghela nafasnya. Bagaimana mungkin ia mengatakan jika ia takut tak bisa menahan dirinya untuk tidak menyentuh sang kekasih.
" Om... " Kyra memanggilnya dengan lembut sambil meraih tangan Hamiz.
Hamiz seperti tersengat saat Kyra memegang tangannya. Layaknya seseorang yang baru saja bersentuhan dengan lawan jenis.
Tanpa basa basi, Kyra segera memeluk Hamiz. Membuat Hamiz semakin menegang. Jantungnya terus berpacu.
" Om... Kita kawin lari saja... " ucap Kyra mendekap tubuh Hamiz erat.
__ADS_1
" Hah... Apa ? " tanya Hamiz lalu mengangkat wajah Kyra hingga kedua netra mereka kembali bertemu.
" Kita menikah saja, tak perlu restu dari Mami... Yang penting Papi sudah merestui dan Papi mau menikahkan kita " jawab Kyra kemudian.
Hamiz menatap lekat wajah cantik Kyra, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.
" Kyra... Yang aku inginkan hubungan kita berjalan dengan restu. Restu dari kedua orang tuamu... " ucap Hamiz sambil mengusap pucuk kepala Kyra.
" Tapi restu Mami pasti sulit kita dapat, Om... " keluh Kyra.
" Yang penting kita tidak menyerah dalam memperjuangkan hubungan kita " ucap Hamiz lalu membawa Kyra ke dalam pelukannya.
" Sudah, sekarang kamu istirahat dulu... Besok aku akan mengantarkanmu pulang " ucap Hamiz kembali.
Hamiz membawa Kyra ke kamar tamu.
" Kamu tidur disini ! Kalau butuh sesuatu, aku ada di kamar sebelah " seru Hamiz sambil membawa Kyra masuk ke dalam kamar tamu.
Kyra duduk di tepi ranjang sambil mengamati sekeliling ruangan berwarna putih yang nampak rapi dan bersih.
" Aku keluar ya... Tidur yang nyenyak ! " ucap Hamiz lalu melangkahkan kakinya keluar dari kamar yang ditempati oleh Kyra.
" Om... " pekik Kyra lalu mencoba melangkahkan kakinya dalam kegelapan.
Kyra berjalan meraba-raba hingga akhirnya ia menyentuh tubuh Hamiz.
" Om... Kyra takut !! " ucap Kyra sambil memeluk tubuh sang kekasih.
" Jangan takut, aku disini... " sahut Hamiz yang membalas pelukan Kyra.
Hamiz membawa tubuh sang kekasih menuju ke ranjang dengan berjalan perlahan. Setelah memastikan Kyra duduk di ranjang, Hamiz bergerak meninggalkan Kyra. Tetapi Kyra menahan tangannya.
" Om mau kemana ? Temenin Kyra disini " pinta Kyra sedikit takut.
" Aku akan mengambil lampu emergency di kamarku. Kamu tunggu sebentar ! " seru Hamiz.
" Enggak... Kyra ikut... Kyra gak mau sendirian " sahut Kyra sambil memegang tangan Hamiz.
" Kyra tunggu sebentar aja. Aku akan segera kembali " tukas Hamiz sambil melepas pegangan tangan Kyra.
__ADS_1
" Enggak... Kyra gak mau sendirian, Om... " Kyra menarik kembali tangan Hamiz sekuat tenaga hingga akhirnya tubuh Hamiz menimpa tubuhnya.
Walaupun tidak dapat melihat di kegelapan tetapi Kyra bisa merasakan wajah Hamiz berada tepat di depan wajahnya dengan hembusan nafas hangat begitu terasa di wajah Kyra.
Jantung Kyra berdegup kencang, walaupun ia dekat dengan Hamiz tetapi tak pernah sedekat dan seintim ini. Dan entah bisikan dari mana Kyra kini memberanikan diri mengecup benda kenyal milik Hamiz. Awalnya hanya kecupan ringan saja, namun gayung bersambut kini Hamiz membalas kecupan Kyra dengan l*****n pada bibir Kyra. Hamiz semakin menahan tengkuk kekasihnya itu juga memperdalam c****n mereka.
Mereka saling memberi dan menerima, hingga akhirnya melepaskan tautan bibir mereka untuk menghirup oksigen. Kyra melingkarkan tangannya pada leher Hamiz, sementara Hamiz kini menciumi wajah juga leher Kyra. Tangannya pun mulai nakal dengan membuka kancing kemeja yang Kyra kenakan. Meski tak bisa terlihat jelas tapi Hamiz bisa merasakan dada Kyra membusung terbakar gairah. Hamiz mulai mengungkung tubuh Kyra di atas ranjang, ia kemudian mencium kembali sang kekasih dengan penuh nafsu hingga ******* lolos begitu saja dari bibir Kyra.
" S**t " pekik Hamiz menyugar rambutnya, lalu segera beringsut turun dari ranjang. Ia terduduk di lantai sambil menyenderkan tubuhnya di badan ranjang.
Kyra yang terlanjur terbawa gairah hanya bisa menggigit bibir bawahnya.
" Kenapa Om...? " tanyanya bingung karena Hamiz langsung menghentikan aktivitasnya. Ia kembali membetulkan kancing kemejanya yang telah dibuka oleh Hamiz tadi.
Dengan nafas yang masih terengah, Hamiz mengusap wajahnya.
" Ini salah Kyra... Salah... Maafkan aku ! " ucapnya menyesal karena hampir saja melakukan hal yang melampaui batas.
" Maafin Kyra, Om... Maaf... " ucap Kyra penuh penyesalan atas tindakan bodohnya yang malah memancing hasrat Hamiz.
Hamiz menghela nafas, menghirup oksigen sebanyak-banyaknya lantas membuang nafasnya perlahan. Mengatur nafas agar dapat menenangkan otaknya yang sudah mulai terpapar kemesuman.
" Aku akan keluar dari kamar ini " ucap Hamiz lalu segera berdiri dan merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan.
" Jangan Om... Jangan tinggalin Kyra sendiri ! " mohon Kyra sambil menahan tangan Hamiz.
" Tapi Kyra... Kalau kita berdua seperti ini, aku tak bisa menjamin hal seperti tadi tidak akan terulang kembali " desah Hamiz.
" Kyra percaya sama Om... Om pasti akan menjaga Kyra dengan utuh sampai tiba waktunya kita bersama-sama " tegas Kyra.
" Kamu yakin ? Bahkan baru saja kita... "
" Kyra sepenuhnya yakin, Om... Karena Om bisa mengontrolnya hingga kita tidak melakukan hal yang tak seharusnya " Kyra memotong ucapan Hamiz.
" Aku berjanji akan menjagamu tetap suci hingga tiba waktunya aku menghalalkanmu dan memilikimu seutuhnya " ucap Hamiz bersungguh-sunguh.
" Dan Kyra akan terus menjaganya selalu untuk Om. Hanya untuk Om... Sampai kita resmi menjadi suami istri " sahut Kyra pasti.
Akhirnya, Hamiz tak jadi keluar dari kamar Kyra. Ia setuju untuk menemani sang kekasih hingga tertidur. Dan ia pun kini justru ikut tertidur di samping sang kekasih.
__ADS_1