
" Kak... " panggil Andara setelah mereka berada di dalam mobil Fabian.
" Hem... Kenapa ? " tanya Fabian menengok ke sebelah kirinya sambil melajukan mobilnya.
" Apa tadi Kak Bian gak kelewatan ? "
Fabian menaikkan sebelah alisnya.
" Maksudnya Stella ? " tanya Fabian heran.
Andara mengangguk ragu.
" Dara sayang... Gak usah pikirin dia, ok ! Harusnya kamu seneng karena sekarang aku udah bebas dari Stella " ucap Fabian sambil tersenyum.
" Tapi... Orang tua Kak Bian ? Apa iya mereka menerima keputusan Kak Bian untuk memutuskan pertunangan kalian ? " selidik Andara.
Fabian menepikan kendaraannya. Lalu meraih tangan Andara.
" Kenapa ? Kamu tidak perlu khawatir, semua yang aku katakan tadi itu benar. Orang tuaku sudah tahu semuanya. Mereka juga sudah tahu hubungan kita dan ingin segera bertemu denganmu " ucap Fabian.
" Serius Kak ? " tanya Andara membulatkan matanya.
" Serius... Mereka mau ketemu kamu lagi setelah 14 tahun berlalu " jawab Fabian pasti.
" Tapi... Kalau mereka gak suka sama Dara, gimana Kak ? " tanya Andara khawatir.
Fabian tertawa kecil lalu mengacak rambut Andara dengan gemas.
" Aku aja bisa suka sama kamu... Apalagi orang tua aku. Kamu tenang aja, mereka orangnya terbuka kok... " jawab Fabian kemudian melajukan kembali mobilnya mengantarkan Andara ke kediamannya.
" Besok aku jemput ya ! Kamu kuliah jam berapa ? " tanya Fabian sesaat setelah sampai di depan rumah.
" Besok ada kuliah pagi sih Kak. Tapi mau dijemput Kyra " jawab Andara apa adanya.
" Dijemput Kyra ? Tumben... Rumah Kyra kan beda arah sama kamu " heran Fabian.
" Iya, soalnya Kyra lagi males pergi sendirian. Sekarang Kyra nih kemana-mana diikutin sama Jodi " ucap Andara.
" Jodi ? Jodi siapa ? " tanya Fabian lagi.
" Katanya sih Jodi anak temen Maminya Kyra " jawab Andara.
" Ketemunya pas pesta pertunangan Kak Bian kemarin... " sebut Andara sedikit menurunkan nada suaranya dan menundukkan kepala.
Fabian menatap Andara,
" Maaf ya... Walaupun pertunangan itu sudah kubatalkan tapi pasti kamu masih sakit mengingatnya " tutur Fabian.
Andara mengangkat wajahnya hingga kedua netra mereka bersitatap.
__ADS_1
" Tidak apa, Kak... Yang penting hati Kak Bian hanya untuk Dara. Lagi pula, sekarang semua sudah berakhir kan " ucap Andara dengan senyuman.
Fabian bergerak mendekati Andara kemudian memeluk kekasihnya itu.
" Aku akan segera melamarmu, Dara ! " ucap Fabian.
Andara melepaskan pelukan Fabian.
" Gak bisa Kak... " ucap Andara sambil menggelengkan kepala.
" Maksudnya gimana Dara ? Kamu tidak ingin aku lamar ? " tanya Fabian mengernyitkan keningnya.
" Bukan gitu, Kak... Dara cuma mau lihat Kak Hamiz nikah lebih dulu ! " ucap Andara.
Fabian menghela nafas panjang.
" Ck... Tapi kapan nikahnya kakak kamu itu ? " tanya Fabian penasaran.
" Bukannya sampai sekarang hubungannya masih terganjal restu Tante Tiwi..." cetus Fabian lagi.
" Hem... Begitulah. Semoga mereka secepatnya bersatu. Kasihan Kyra sama Kak Hamiz ... "
" Ya, bukan hanya mereka tapi kita juga... " tambah Fabian asal bicara.
" Ya ampun, Kak... Kok ngomong gitu sih ? " Andara tak terima dengan ucapan Fabian.
" Enggak gitu... "
" Jadi kamu mau ya aku lamar ? Ok... Fix... Aku akan bawa orang tuaku untuk ngelamar kamu " potong Fabian antusias.
" Ih, kok malah gini sih... " gumam Andara sambil menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
Cup... Sebuah ciuman mendarat di pipi Andara.
Mata Andara membelalak, pipinya memerah. Jantungnya terasa akan meledak.
" I love you, Andara... Dulu, hari ini, dan selamanya ... Gak sabar deh halalin kamu " ucap Fabian sembari menaik turunkan alisnya.
Mendengar hal itu, Andara langsung tersipu. Entahlah sudah seperti apa rona wajahnya. Ia hanya bisa menundukkan kepala, menutupi malunya.
" Besok, pulang kuliah... Aku jemput ya ! Aku bakalan ajakin kamu ketemu sama Mama " seru Fabian.
" Iya... " jawab Andara singkat, kemudian membuka tuas pintu.
" Dara... " panggil Fabian sesaat sebelum Andara keluar dari dalam mobil.
" Iya, Kak... "
Cup...
__ADS_1
Sebuah ciuman kembali mendarat di pipi Andara. Andara terkesiap, ia memegangi pipinya yang telah dikecup dua kali oleh Fabian.
" Oleh-oleh, biar kamu inget terus sama aku " ucap Fabian dengan tersenyum sangat manis.
Andara segera keluar dari mobil sambil memegangi dadanya yang berdebar sangat kuat.
" Aku pulang ya ! Sampai ketemu besok " pamit Fabian sambil terus tersenyum memperhatikan sang kekasih yang masih sedikit shock dengan perbuatannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Kyra telah sampai di kediaman Adinda. Buru-buru ia turun dari mobil Jodi.
" Ra... Besok aku jemput pagi ya " ucap Jodi saat Kyta menutup pintu mobilnya.
" Terserah lo deh ! Gak dijemput juga gak apa-apa... Lagian ya, besok gue mau ke rumah Dara dulu " ucap Kyra tanpa melihat Jodi.
" Oke... Kalau gitu habis jemput kamu, kita jemput Andara " ucap Jodi.
" Up to you ! " seru Kyra langsung ngeloyor masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan terima kasih kepada Jodi yang sudah mengantarkannya.
Jodi pun segera meninggalkan kediaman Adinda setelah Kyra masuk ke dalam rumah.
" Dianterin sama siapa Kyra ? " tanya Adinda saat Kyra masuk.
Kyra mencium tangan sang Tante kemudian duduk di sampingnya. Ia bergelayut manja di lengan Adinda.
" Bunda... Please, bilangin sama Mami supaya gak nyuruh Jodi anter jemput Kyra terus. Kyra tuh risih diikutin terus. Mendingan diikutin body guardnya papi aja... " ucap Kyra sambil mengerucutkan bibirnya yang mungil.
" Kyra sayang... Itu tuh udah kemauan Mami kamu. Maaf kali ini Bunda gak bisa bantu... Kamu harus jalani ini semua. Sabar... Toh kalau kamu bisa lewati ini semua, kamu bisa tenang karena Mami kamu itu akan merestui hubunganmu sama Om Doteng kamu itu " sahut Adinda.
" Iya, Kyra tahu Bunda... Tapi Kyra gak suka sama Jodi.. Dikit-dikit bilangnya disuruh Mami. Apa-apa laporan sama Mami. Berasa dimata-matain deh " gerutu Kyra kesal.
Adinda membelai rambut Kyra.
" Sabar ya, sayang... Bunda yakin kamu bisa lewati ini semua... Bunda harap kamu sabar dan ikhlas menjalaninya. Yakinlah setiap kesulitan ada jalan keluarnya. Anggap saja saat ini kamu sedang meniti jalan di terowongan panjang hingga akhirnya kamu menemukan cahaya di ujungnya. Kamu sudah melangkah separuh jalan dan kamu akan segera menemukan jalan keluar yang membawamu ke tempat yang lebih indah. Bunda yakin dan Bunda selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dengannya " tutur Adinda menenangkan Kyra.
" Coba kalau pikiran Mami tuh kayak Bunda. Pasti gak akan seruwet ini... " keluh Kyra.
" Sstt... Sayang... Gak boleh ngomong gitu ! Mami Tiwi itu mau yang terbaik untuk kamu. Mungkin Mami Tiwi hanya takut. Takut kamu terluka sebagaimana Mamimu dulu... " tukas Adinda.
" Berarti Mami gak bisa move on dong Bunda... " sahut Kyra.
" Hus... Kalau Mami Tiwi gak bisa move on, ya gak bakalan ada kamu sama Farel dong ! " ucap Adinda sambil terkekeh.
" Terus kenapa dong, Bun ? Kenapa Mami keukeuh menolak Om Doteng ? " tanya Kyra.
" Kyra... Mami kamu hanya belum bisa menerima kenyataan yang begitu tiba-tiba. Coba kamu bayangin perasaan Mami kamu. Mengetahui laki-laki yang dulu adalah calon suaminya mengkhianatinya bahkan hampir melecehkannya. Lalu sekarang tiba-tiba lelaki itu menjadi kekasih putrinya, tentunya tidak akan semudah itu menerimanya... " jawab Adinda panjang lebar.
" Yang penting, sekarang Mami kamu sudah mau menerima hubungan kalian meskipun bersyarat. Kamu banyak berdoa saja, semoga Tuhan melembutkan hati Mami Tiwi dan merestui hubungan kalian, ok " tambah Adinda dengan bijak.
__ADS_1