Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)

Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)
K-O-D part 31


__ADS_3

Farhan tidak segera menjawab pertanyaan dari sang istri. Ia masih menimang dan menimbang apa yang akan terjadi jika ia berterus terang kepada Pertiwi.


" Pi... Papi... Kok malah ngelamun sih ? Kamu mikirin apa ? " tanya Pertiwi sambil menepuk lengan Farhan.


" Eh... Maaf sayang... Aku hanya lelah di perjalanan tadi " jawab Farhan beralasan.


Ia kemudian meraih sang istri ke dalam pelukannya. Farhan membelai rambut sang istri.


Pertiwi mengelus punggung sang suami. Ia sadar jika sang suami tentunya lelah setelah perjalanan pulang pergi Singapura-Indonesia dan sebaliknya.


Farhan menghela nafas dengan berat. Ia belum bisa berterus terang kepada sang istri mengenai hubungan antara Kyra dan Hamiz. Entah apa yang akan terjadi seandainya sang istri mengetahui jika putri mereka justru menjalin kasih dengan laki-laki yang dibenci oleh istrinya itu.


" Pi... "


" Hem... " jawab Farhan. Ia masih betah menghirup aroma harum sang istri.


" Papi... Mandi dulu, biar segeran ! " seru Pertiwi tanpa melepas pelukannya.


" Biar begini dulu, sayang... " sahut Farhan merasa sangat nyaman saat memeluk sang istri.


" Papi lagi ada masalah ya ? " tebak Pertiwi kemudian membuat Farhan melonggarkan pelukannya. Ditatapnya wajah cantik Pertiwi yang juga tengah menatapnya.


" Mami tahu dari mana kalau Papi ada masalah ? Memangnya Mami peramal ? " ucap Farhan sambil terkekeh. Ia mencoba menyembunyikan hal penting agar sang istri tidak curiga.


" Ish, Papi nih... " cebik Pertiwi sambil mengalihkan pandangannya.


Farhan menarik dagu sang istri, membuatnya kembali menatap intens wajah cantik Pertiwi.


" Mami tuh hidup sama Papi udah lama... Mami kok ngerasa kalau Papi merahasiakan sesuatu dari Mami..." ujar Pertiwi.


" Itu perasaan Mami saja... " tukas Farhan.


" Mungkin... " timpal Pertiwi lirih.


" Sudahlah, Mi... Mami tidak perlu khawatir. Papi tidak akan menyembunyikan apapun dari Mami... " jelas Farhan membuat sang istri mengangguk pelan.


Maafkan aku, Wi... Belum saatnya kamu mengetahui kebenaran ini !


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Dua bulan kemudian...


Andara menunggu sang kekasih di bioskop bersama dengan Kyra. Hari ini mereka melakukan double date.


Mereka sengaja menunggu langsung di bioskop, mengingat kekasih mereka memiliki pekerjaan yang harus mereka selesaikan terlebih dahulu.

__ADS_1


Sambil menunggu, mereka berjalan-jalan lebih dulu dan akhirnya menepi di sebuah restoran siap saji.


" Dar... Kak Bian cinta banget ya sama kamu ? Bisa-bisanya dia nungguin sampai 14 tahun gitu " ucap Kyra sambil meminum minuman yang dipesannya.


Andara tersenyum,


" Katanya sih gitu, Ra... Gue juga gak nyangka dia bisa begitu, padahal gue aja gak begitu inget " sahut Andara dengan seulas senyuman.


" Hebat banget ya, Kak Bian bisa segitu yakin sama perasaannya ke kamu. Padahal kan bisa aja dia dapetin cewek lain tapi dia mau nungguin kamu yang gak tahu juga ada dimana " timpal Kyra.


" Namanya juga jodoh, Kyra. Mau gimanapun kalau udah jodoh pasti bakal ketemu " ucap seseorang sambil duduk di samping Andara.


" Lho kok, Kak Bian bisa disini sih ? " tanya Kyra heran melihat Fabian berada disana.


" Bisa lah... Kan udah ada radarnya " jawab Fabian asal sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Andara.


Kyra memutar bola matanya malas.


" Halah... Palingan dikasih tahu Dara. Nih pasti dishare lok " tebak Kyra.


Andara dan Fabian hanya tertawa kecil melihat Kyra.


Kyra melihat sekeliling, mencari keberadaan sang kekasih yang belum juga menampakkan batang hidungnya.


" Aih... Om Doteng kemana sih ? " gumam Kyra mencebikkan bibirnya.


Kyra menganggukkan kepalanya kemudian meraih ponselnya. Melihat jikalau sang kekasih mengirimkan pesan. Sayangnya, tak ada pesan yang masuk dari Om Dotengnya itu.


Kyra menghembus kasar nafasnya. Terlebih lagi melihat pemandangan di hadapannya semakin membuat Kyra meradang. Melihat Andara dan Fabian begitu mesra membuat Kyra iri.


Hah... Rupanya seperti ini rasanya jadi obat nyamuk. Mungkin inilah yang dulu dirasakan Andara saat melihat kebersamaan dan kemesraan dirinya dengan Hamiz. Rupanya karma itu dibayar kontan...


Pandangan mata Kyra beredar ke segala penjuru. Nyatanya tak jua ia jumpai keberadaan Hamiz. Kyra menekuk wajahnya, tangannya menopang dagunya.


Satu tangkai mawar putih kini berada di hadapan Kyra. Kyra mengangkat wajah, melihat ternyata sang kekasih sudah berada di sampingnya sambil mengasongkan setangkai bunga.


" Ah... So sweet... Makasih ya Om ! " ucap Kyra sembari mengambil bunga dari tangan Hamiz. Perasaan Kyra begitu berbunga-bunga.


" Maaf aku terlambat, sayang... Hari ini pasien lebih banyak dari biasanya... " jelas Hamiz.


" Ya, gak apa-apa Om... Selama Om gak lupain Kyra... " sahut Kyra dengan senyuman di wajahnya.


" Mana bisa aku lupain kamu " balas Hamiz lalu mengecup pucuk kepala Kyra.


" Ehem... Ehem... Udah selesai mesra-mesraannya ? " tanya Andara.

__ADS_1


Hamiz dan Kyra saling berpandangan kemudian mereka pun tersenyum.


" Ya udah, yuk ! Kita ke bioskop sekarang " ajak Andara kemudian beranjak dari duduknya diikuti oleh Fabian.


Kyra dan Hamiz pun bergerak mengikuti kedua orang tersebut. Mereka berempat akhirnya masuk ke bioskop. Mereka menonton film dengan genre action.


Setelah selesai nonton, mereka memisahkan diri. Andara diantar oleh Fabian. Sementara Hamiz mengantarkan sang kekasih pulang ke mansion keluarganya sebelum akhirnya ia pulang ke rumah. Ya, setelah Farhan merestui hubungan mereka, Kyra kini tinggal di kediaman keluarganya. Dan Hamiz pun sekarang lebih sering tinggal bersama Andara di rumah mereka.


Andara dan Fabian kini berada di dalam mobil milik Fabian. Fabian tidak langsung mengantarkan sang kekasih pulang ke rumah, namun ia membawa Andara untuk dinner romantis di sebuah restoran mewah.


" Ya ampun, Kak... Kakak kapan siapin ini semua ? " tanya Andara yang kaget sekaligus kagum dengan kejutan yang disiapkan Fabian.


" Kamu suka ? " tanya Fabian.


" Suka... Suka banget, Kak " jawab Andara jujur.


Fabian hanya tersenyum melihat sang kekasih yang nampak begitu antusias.


Tiba-tiba Fabian mengeluarkan kotak cincin dari dalam saku celananya. Ia membuka kotak itu kemudian mengambil cincin dari dalam kotak. Ia meraih jemari Andara lalu menyematkan cincin indah itu di jari manis sang kekasih.


" Kak... "


" Dara... Ini bukti cintaku padamu. Maukah kamu menjadi istriku ? " tanya Fabian menatap Andara.


" Kakak serius ? " tanya Andara, ia tak pernah menyangka jika Fabian seserius ini.


" Tak pernah seserius ini... Aku tahu, mungkin ini terlalu cepat... Tapi aku akan segera meresmikan hubungan kita. Aku akan menemui kakakmu dan melamarmu " jawab Fabian.


" Jadi apa jawabanmu ? Apa kamu menerima lamaranku ini ? " tanya Fabian lagi.


Andara tak bisa berkata apapun. Air mata bahagia kini lolos dari sudut matanya.


Andara mengangguk pertanda menerima lamaran Fabian. Fabian memeluk sang kekasih lalu mengecup kening Andara.


" Terima kasih... Aku berjanji akan membahagiakanmu ! " ucap Fabian.


" Terima kasih Kak Bian sudah mau menunggu Dara selama ini... " ucap Andara sambil membalas pelukan Fabian.


Keduanya larut dalam kebahagiaan.


" Dara... Bisakah aku meminta satu hal " pinta Fabian.


" Apa itu Kak ? " tanya Andara melepaskan pelukan Fabian lalu mendongak, menatap wajah sang kekasih.


" Apapun yang terjadi, bagaimanapun keadaannya... Aku mohon percaya padaku ! Berjanjilah untuk selalu mempercayaiku ! " pinta Fabian penuh harap.

__ADS_1


Andara mengerutkan keningnya. Matanya terus tertuju pada mata Fabian yang menyorot dengan tatapan tak dapat diartikan.


" Baiklah, Kak... Dara akan selalu percaya pada Kak Fabian " ucap Andara meskipun ia tidak mengerti mengapa Fabian memintanya untuk berjanji seperti itu.


__ADS_2