
Hamiz meneguk salivanya saat melihat sang istri yang dengan lahapnya menghapiskan 3 porsi es dung dung dengan 2 mangkuk baso tak bersisa.
" Sayang... Kamu gak kekenyangan ? " tanya Hamiz melihat sang istri yang sudah mengusap perutnya.
" Udah kenyang sih Om... Tapi gak tahu nih bentar lagi " jawab Kyra sambil terkekeh dan tentu saja membuat Hamiz geleng-geleng kepala.
" Pulang yuk, Om say... " ajak Kyra.
" Om say ? " tanya Hamiz mengerutkan dahi.
" Iya, Om say... Panggilan kesayangan dari Kyra, kepanjangannya Om Sayang " jawab Kyra memperlihatkan deretan giginya yang putih.
Mereka pun segera berlalu, di perjalanan karena kekenyangan Kyra langsung tertidur. Bahkan ketika mereka sampai di depan rumah mereka, Kyra masih memejamkan matanya. Dengan telaten Hamiz membuka seat belt lalu menggendong istri kecilnya itu hingga sampai di kamar.
Hamiz membaringkan Kyra dengan hati-hati di atas ranjang. Kemudian ia membetulkan posisi tidur Kyra. Baru setelahnya, ia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.
Baru saja Hamiz keluar dari kamar mandi, Kyra langsung menerobos ke dalam kamar mandi dengan tergesa.
" Hoek... Hoek... Hoek... " Kyra mengeluarkan isi perutnya ke dalam wastafel.
Melihat hal itu, Hamiz masuk dan memijit tengkuk sang istri. Selesai memuntahkan isi perutnya, Kyra berkumur lalu membasuh wajahnya. Sang suami dengan setia berada disampingnya. Kini Hamiz membawa sang istri kembali ke ranjangnya.
" Masih mual ? " tanya Hamiz.
Kyra menggeleng lemah.
" Lain kali jangan makan baso sama es banyak-banyak. Lagian kamu makan kayak orang gak pernah makan aja " ucap Hamiz sambil mengelus wajah dan rambut sang istri.
Hamiz beranjak meninggalkan kamar, ia berniat membuatkan minuman hangat untuk Kyra. Namun belum sempat keluar dari kamar, ia mendengar sang istri terisak.
" Hiks... hiks... " isak Kyra.
Hamiz yang baru akan keluar, mengurungkan niatnya. Ia kembali mendekati sang istri yang kini telah duduk bersandar pada headboard ranjang.
" Eh, kamu kenapa sayang ? " tanya Hamiz khawatir.
" Omsay jahat ! " jawab Kyra sambil membuang muka.
" Jahat ? Jahat kenapa ? " tanya Hamiz bingung.
" Coba kamu bilang sayang, aku jahat kenapa ? " tambah Hamiz lagi.
" Itu tadi bilangin Kyra jangan makan baso sama es. Kyra kan lagi pengen... " jawab Kyra sambil mengerucutkan bibirnya.
" Sayang... Aku kan cuma gak mau kamu sakit. Kalau kamu sakit kan nanti aku juga yang repot " jawab Hamiz.
" Oh, jadi Om gak mau direpotin Kyra, gitu ? " timpal Kyra sewot.
Astaga... Kok jadi ngambek sih ? Lagi PMS apa ?
Batin Hamiz sambil menghela nafasnya.
__ADS_1
Sebelum semakin menjadi, Hamiz segera memeluk sang istri, membawa Kyra ke dalam dekapannya yang masih mengenakan bath robe.
" Gak gitu, sayang... Aku cuma khawatir sama kamu. Aku gak mau kamu sakit... " ucap Hamiz lembut.
" Beneran ? " tanya Kyra.
" Iya, sayang... Selama aku sanggup, aku bakal lakuin apapun yang kamu mau " jawab Hamiz mengecupi pucuk kepala sang istri menyalurkan semua kasih sayang yang dimilikinya.
" Kalau gitu, Kyra mau gado-gado yang di deket rumah Bunda Dinda " ucap Kyra sambil menatap wajah Hamiz dengan manja.
" Please, Omsay... Kyra pingin banget makan gado-gado itu " rayu Kyra dengan tatapan puppy eye.
" Kamu yakin perut kamu gak bermasalah ? Kamu kan baru aja muntah-muntah lho ! " ingat Hamiz.
" Kyra udah baikan kok... Please ya Om, please ! " mohon Kyra.
Dan Hamiz hanya bisa mengiyakan keinginan ratu di hatinya itu. Walaupun ia sedikit khawatir, namun ia dengan terpaksa menuruti keinginan sang istri tercinta.
Mereka kini kembali ke dalam mobil. Sepanjang jalan Hamiz berpikir, belakangan ini mood Kyra mudah berubah. Belum lagi, banyak keinginannya yang aneh-aneh.
Deg...
Apa Kyra hamil ya ?
Pikir Hamiz.
" Sayang... " ucap Hamiz meraih tangan sang istri.
" Kamu terakhir datang bulan kapan ? " tanya Hamiz.
Entah mengapa, instingnya mengatakan jika sang istri kini tengah mengandung.
" Emangnya kenapa Omsay ? " tanya Kyra heran.
" Semenjak kita menikah, perasaan kamu belum pernah datang bulan " telisik Hamiz.
Kyra nampak berpikir. Terakhir kali ia mendapatkan siklus bulanannya itu adalah sebelum hari pernikahannya.
" Sebelum kita menikah, Kyra baru selesai datang bulan. Memangnya ada yang salah ya Omsay ? " tanya Kyra penasaran.
Berarti pas menikah, Kyra sedang masa subur. Belum lagi tiap hari digempur. Sepertinya, perkiraanku benar.
Batin Hamiz, ia terlihat sangat bahagia.
" Om... Omsay kenapa sih ? " tanya Kyra merasa heran karena melihat Hamiz tersenyum sendiri.
" Sayang... Kita ke dokter dulu sebentar ya ! " seru Hamiz.
" Kyra kan udah baikan, Omsay. Lagian kan bisa diperiksa sendiri sama Omsay. Jadi buat apa ke dokter ? " tolak Kyra.
" Aku cuma ingin memastikan sesuatu. Aku janji setelah dari dokter, kamu boleh minta apapun... "
__ADS_1
ucap Hamiz kemudian.
" Beneran Kyra boleh minta apapun ? Minta tas limited edition, boleh ? " tanya Kyra antusias.
" Hem... Boleh sayang... Semua yang kamu mau, aku akan melakukannya " jawab Hamiz pasti.
" Yeay... Thank you, Omsay... You are the best ! Tambah cinta deh sama Omsay " sorak Kyra kemudian mengecup pipi sang suami.
Aku akan melakukan apapun untukmu, Kyra... Karena aku yakin di dalam dirimu, ada anak kita. Buah cinta kita berdua...
Mereka akhirnya tiba di rumah sakit. Hamiz mendaftarkan sang istri ke klinik Obgyn. Setelah menunggu beberapa saat, mereka segera masuk ke ruangan dokter.
Sesuai dugaan Hamiz, rupanya sang istri kini tengah mengandung. Dan usia kandungannya kini memasuki usia 6 minggu.
Mereka keluar dari ruangan dokter dengan perasaan tak terkira. Mereka berjalan bergandengan tangan dengan mesra hingga masuk ke dalam mobil. Hamiz dan Kyra begitu bahagia, bahkan sangat sangat bahagia mengetahui kenyataan ini. Mereka tak henti memandangi foto hitam putih, hasil USG Kyra, dimana terdapat calon anak mereka di dalam rahim Kyra.
" Terima kasih, sayang... Terima kasih karena sudah memberikanku kebahagiaan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya... " ucap Hamiz sambil mengecup kening sang istri.
Kyra tersenyum, bahkan ia begitu terharu hingga meloloskan air mata bahagia dari sudut matanya.
" Disini ada anak kita, Omsay... Anak kita... " ucap Kyra sambil mengelus perutnya yang masih rata.
" Iya... Anak kita... Penambah kebahagiaan dalam hidup kita... " sahut Hamiz lalu beralih mencium perut sang istri dan mengelusnya penuh kasih sayang.
" I love you, Kyra... You are my everything " ucap Hamiz kemudian mengecup bibir sang istri dengan lembut.
" I love you more, Omsay... " jawab Kyra sambil membalas ciuman sang suami.
Tautan bibir mereka terlepas saat Kyra melepaskannya.
" Beli tas limited editionnya jadi kan Omsay ? " tanya Kyra.
Hamiz mengacak gemas rambut sang istri.
" Hem... Tentu saja, apapun untukmu, sayangku " jawab Hamiz dengan senyuman yang sangat manis.
" Gado-gadonya juga ya, jangan lupa ! " ingat Kyra lagi.
" Iya, sayang... Apapun mau kamu, akan aku penuhi " jawab Hamiz sambil membelai rambut sang istri.
Delapan bulan kemudian...
Hamiz membawa sang istri menuju ke rumah sakit, setelah sang istri merasakan nyeri pada perutnya. Hamiz yakin, jika Kyra akan segera melahirkan.
Di ruang bersalin Kyra sudah bersiap melahirkan. Hamiz dengan setia menemani Kyra demi memberi semangat serta dukungan kepada sang istri saat melahirkan buah hati mereka.
Pertiwi, Farhan, Farel serta Tuan Esa pun datang untuk menyambut kelahiran cucu mereka. Tak ketinggalan Adinda, Zaid, Evan, dan Indira juga turut hadir menantikan kehadiran bayi Kyra dan Hamiz.
30 menit berselang, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruangan bersalin. Tak lama, Hamiz keluar memberi kabar jika bayi mereka berjenis kelamin laki-laki.
Seluruh keluarga menyambut bahagia kelahiran bayi laki-laki yang diberi nama Haky Ardiaz Daviandra, dengan makna Haki merupakan gabungan kata Hamiz-Kyra, Ardiaz yang berarti kebahagiaan, kehormatan, serta Daviandra yang berarti anak lelaki yang disayangi.
__ADS_1
Mengingat perjalanan cinta Kyra dan Hamiz yang penuh lika-liku. Penuh halangan dan rintangan, tetapi mereka dapat melalui semuanya. Berbekal kesabaran, keyakinan serta keteguhan hati dalam memperjuangkan cinta mereka. Akhirnya, mereka pun hidup bahagia.