
Tiga hari sudah waktu yang diberikan oleh Fabian kepada Andara. Sesuai ucapannya, Fabian menagih jawaban Andara dan Ia menghubungi Andara.
Andara yang kala itu berada di dalam kelas, tidak menjawab panggilan Fabian. Andara baru melihat ada beberapa panggilan dari Fabian setelah keluar dari kelas.
" Haah... Dikirain lupa " gumam Andara saat melihat ponselnya.
" Lupa apaan, Dar ? " tanya Kyra yang berjalan di sisi Andara. Saat ini Kyra sudah masuk kuliah kembali.
" Eh... Itu... Anu... " Andara hanya menggaruk-garuk kepalanya tanpa menjelaskan pada Kyra.
" Apaan sih ? Yang jelas dong kalau ngomong ! " seru Kyra karena Andara tak berterus terang.
" Halo, Kyra... Andara... " sapa seorang pria.
Keduanya lantas menoleh ke arah datangnya suara.
Deg...
Seolah detak jantung Andara terhenti saat melihat sosok pria yang berada di antara mereka.
Pria itu tersenyum, memperlihatkan lesung pipinya.
" Eh... Kak Fabian " sapa Kyra.
" Ada perlu apa kesini ? " tanya Kyra lagi.
" Emm, saya ada janji sama seseorang " jawab Fabian sambil melirik Andara yang hanya diam.
" Oh... Pacarnya ya ? " tebak Kyra menggoda Fabian.
Fabian mengulum senyum.
" Ada janji sama temen kamu ini " jawab Fabian sambil menunjuk Andara.
" Hah... ? OMG... Dara, kamu kok gak bilang sih kalau kamu ada janji sama Kak Fabian ? Bisa-bisanya rahasiain ini dari gue... " ceroscos Kyra tak terima.
" Ah itu... Gue juga lupa, Ra " sahut Andara beralasan.
" Ya udah deh, sana kamu pergi sama Kak Fabian ! " seru Kyra sambil mendorong pelan Andara.
__ADS_1
" Terus lo gimana ? " tanya Andara sambil menatap Kyra dengan tatapan seolah meminta Kyra tidak meninggalkannya.
" Gue mah gampang. Tinggal ke tempat praktek si Om aja " jawab Kyra enteng.
" Ya udah sih, sana pergi ! Kasihan Kak Fabian dah nungguin sampai sini " seru Kyra.
" Ayo, Dara ! Kamu gak lupa kan ? " tanya Fabian menatap Andara dengan tajam.
Andara menggeleng perlahan.
" Ya udah, Kak ! Dibawa aja Andaranya. Tapi jangan diapa-apain ya ! " seru Kyra menggoda Andara.
" Kalau disayangin boleh kan ? " ucap Fabian membuat mata Andara dan Kyra membola.
" Bolehlah ! Boleh banget malah ! Biar dia gak ngerecokin Kyra sama Om Hamiz melulu " jawab Kyra sekenanya.
Seketika Andara mendelik pada Kyra sementara Kyra hanya menahan tawa melihat raut wajah Andara.
Fabian kemudian menarik tangan Andara. Bak kerbau dicocok hidung, Andara hanya bisa mengikuti langkah Fabian.
" Bye... Have fun ya kalian berdua ! " seru Kyra melambaikan tangannya tanpa rasa bersalah.
Fabian membuka pintu depan mobilnya, membiarkan Andara masuk lebih dulu. Setelah itu, ia berlari ke sisi lain mobilnya dan masuk ke dalam mobil. Setelah memasang sabuk pengaman, ia melirik Andara yang duduk dengan bersedekap dada. Pandangan Andara melihat ke arah luar jendela.
Tangan Fabian terulur ke arah Andara.
" Eh... Dokter mau ngapain ? " tanya Andara siaga saat tangan dan tubuh Fabian bergerak mendekati tubuhnya.
Fabian tak menjawab, ia menarik sabuk pengaman yang ada di sisi Andara kemudian memasangkannya.
" Saya hanya ingin memasangkan sabuk pengaman saja. Gak usah negative thinking " sembur Fabian.
Andara hanya menghembus nafa lega. Sampai akhirnya, Fabian pun menjalankan kendaraannya.
" Kita mau kemana, dok ? " tanya Andara karena Fabian tak mengatakan akan membawanya kemana.
" Ke suatu tempat " jawab Fabian singkat, ia fokus mengendarai mobilnya.
Andara pun tak ingin bertanya lebih banyak lagi. Ia hanya diam memperhatikan jalanan. Fabian sesekali mencuri pandang ke arah gadis cantik yang kini melempar pandangan ke jalanan. Sesekali senyuman samar terbit di wajah tampan Fabian.
__ADS_1
Akhirnya, Fabian masuk ke area taman bermain. Andara sempat kaget karena tak menyangka jika Fabian mengajaknya ke tempat seperti itu. Fabian memghentikan laju mobilnya, kemudian membuka sabuk pengaman dan keluar dari mobilnya.
Fabian membukakan pintu untuk Andara. Namun, bukannya keluar, Andara terlihat bingung.
" Ayo ! " ajak Fabian.
" Kita ngapain kesini, Dok ? " tanya Andara sambil melepaskan sabuk pengamannya.
" Mengingatkanmu pada suatu hal " jawab Fabian penuh teka-teki.
Andara kemudian keluar dari mobil. Fabian segera meraih tangan Andara lantas menggenggamnya.
Andara semakin bingung dengan perlakuan Fabian padanya.
" Maaf, dok... Tapi bisakah anda melepaskan tangan saya " pinta Andara yang merasa risih karena Fabian bertingkah seenaknya.
" Bukankah sudah kubilang, aku memberimu waktu 3 hari untuk menjawab pertanyaanku " ucap Fabian tanpa melepaskan tautan tangannya. Bahkan kini ia tidak lagi berkata dengan ucapan formal.
" Tapi saya kan belum jawab pertanyaan dokter " sahut Andara kesal.
" Baiklah, kalau begitu apa jawaban kamu ? " tanya Fabian. Kini ia menatap Andara dengan intens.
Entah mengapa ditatap seperti itu membuat denyut jantung Andara berdebar lebih kencang. Hingga akhirnya ia menundukkan wajahnya, mencoba mengurangi kegugupan dalam dirinya.
Fabian menyeringai melihat sikap Andara itu. Tanpa banyak berkata, ia membawa Andara masuk ke taman bermain. Ia ingin mengingatkan Andara tentang sesuatu yang terjadi di masa lalu, berharap Andara bisa mengingatnya kembali.
Fabian memulai dengan menaiki bianglala raksasa. Karena dulu ia bertemu dengan Andara dan Dokter Hamiz saat mereka turun dari bianglala.
Andara yang tadinya merasa kesal kini berubah menjadi bahagia karena ia kembali teringat masa-masa saat ia kecil dulu. Setelah selesai menaiki bianglala, Hamiz membelikan permen kapas untuk Andara persis seperti yang dulu dilakukan Hamiz dan Andara agar ia tidak menangis sambil menunggu kedua orangtuanya.
Keduanya lantas duduk di kursi yang menghadap danau. Andara begitu menyukainya, ia memakan gula kapas sambil merapikan rambutnya yang melambai tertiup angin.
" Wah... Udah lama banget Dara gak main ke taman bermain gini. Dokter tahu gak, dulu waktu Dara masih kecil, Dara sama Kak Hamiz sering main ke taman bermain waktu di Australia. Suatu waktu kita ketemu sama orang Indonesia. Dia kepisah sama orang tuanya. Dara sama Kak Hamiz nemenin dia sampai akhirnya ketemu lagi sama orang tuanya " cerita Andara sambil memakan gula kapas di tangannya.
Setelah gula kapas di tangan Andara habis, kini Fabian membelikan Andara es krim kemudian mengajaknya naik komedi putar. Andara sangat senang, ia begitu antusias bahkan ia terus bercerita pada Fabian jika dulu, ia pun naik komedi putar sambil memakan es krim bersama seorang anak laki-laki yang hilang itu.
Fabian sangat senang mendapati bahwa Andara ternyata masih mengingat kejadian 14 tahun yang lalu. Walaupun Andara tidak mengingat bahwa dialah anak lelaki yang sedang diceritakan Andara itu.
Selesai menaiki komedi putar, keduanya lantas mencari tempat makan. Suasana kaku yang terjadi di awal kini sedikit demi sedikit mulai mencair karena Andara sudah mulai membuka diri pada Fabian. Fabian tersenyum karena ia merasa maksudnya akan segera tercapai. Jika dulu tujuannya saat bersama Andara dan Hamiz adalah menunggu orang tuanya. Kini ia bermaksud untuk menjadikan Andara sebagai tambatan hatinya.
__ADS_1