
Kyra berjalan tergesa keluar dari unit apartemen miliknya. Ia terlambat bangun dan kini ia terburu-buru untuk pergi kuliah. Ia secepatnya berlari menuju lift saat melihat pintu lift yang terbuka. Dan akhirnya Kyra berhasil masuk ke dalam lift sesaat sebelum lift itu tertutup.
" Huh... Hampir aja " gumam Kyra sambil mengatur nafasnya.
Ia tidak menoleh ke kanan dan ke kiri. Ia fokus membaca buku, karena hari ini akan diadakan kuis. Sementara itu ada sepasang mata yang sedari tadi tak lepas memandangnya. Memandang gadis cantik yang berpakaian casual dengan rambut yang diikat asal.
Lift berhenti di basement apartemen, Kyra segera keluar dari lift. Ia menuju mobilnya yang terparkir, namun ia tak bisa menemukan kunci mobilnya.
" Aih... Perasaan tadi udah dibawa deh. Apa jatuh di lift tadi ya ? Sial banget sih gue pagi ini " gerutu Kyra.
Kyra memutar langkahnya untuk kembali lagi menuju lift, namun baru saja ia berbalik seseorang menyodorkan kunci mobil kepadanya.
" Om Doteng ! " pekik Kyra saat melihat sang pujaan hati berdiri di hadapannya sambil menyodorkan kunci mobilnya.
Kyra mengambil kunci mobilnya dari tangan Hamiz.
" Terima kasih " ucap Kyra.
" Lain kali hati-hati ! " ucapnya singkat, kemudian berjalan meninggalkan Kyra yang seolah kehabisan kata-kata setelah bertemu dengannya.
Sejujurnya Kyra ingin menyusul Hamiz, namun ia sadar jika ia sudah terlambat. Ia segera masuk ke dalam mobilnya, lantas melajukannya menuju kampus.
Berarti yang kemarin aku lihat itu beneran Om Doteng... Yes ! Aku bisa lebih deket sama dia. Emang kalo udah jodoh tuh gak kemana...
sorak Kyra dalam hati.
Setelah menyerahkan kunci mobil Kyra, Hamiz pun segera menuju mobilnya. Ia akan berangkat menuju klinik miliknya. Saat ia melajukan mobil keluar dari area parkir, ia melihat mobil Kyra. Entah apa yang merasukinya, hingga Hamiz pun menjalankan mobilnya membuntuti mobil yang dikendarai oleh Kyra sampai ke kampusnya.
Astaga... Apa yang aku lakukan ? Mengapa aku malah datang kemari ?
__ADS_1
Hamiz mengusap kasar wajahnya, tak lama kemudian ia pun segera melajukan mobilnya menjauhi kampus.
" Ya Tuhan... Mengapa sepertinya ada yang salah denganku sejak bertemu dia ? Kyra... Kyra... Apakah kamu wanita yang dikirim Tuhan untukku ? Ah... Aku pasti sudah gila ! " Hamiz berusaha menyadarkan dirinya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
Ia kembali fokus mengendarai mobilnya, membelah jalanan ibukota agar segera sampai ke klinik.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sore itu, Kyra sangat sibuk di dapur apartemennya. Ia sedang memasak spagheti serta puding buah untuk ia berikan kepada Hamiz sebagai makanan untuk makan malam.
Ya, tadi siang Kyra sempat bertanya kepada Andara tempat tinggal Hamiz. Meskipun Andara tidak tahu pasti, tapi ternyata Hamiz tinggal di satu gedung apartemen yang sama dengan Kyra. Tentu saja hal itu semakin meyakinkan Kyra, jika penghuni apartemen ujung adalah Hamiz.
" Hm... Rasanya enak ! Om Doteng pasti klepek-klepek deh kalau makan makanan yang aku buat ini " Kyra tersenyum bangga setelah selesai mencicipi makanan buatannya.
Selesai memasak, ia membersihkan dirinya. Kemudian memakai dress tidur selutut berbahan kaos dengan motif tiger kesukaannya dilapisi cardigan rajut berwarna hitam. Rambutnya ia cepol asal dengan menyisakan beberapa helai poni.
Kyra keluar dari apartemennya dengan membawa makanan di dalam paper bag. Ia nampak begitu bahagia melangkahkan kakinya menuju unit apartemen Hamiz. Kyra menekan bel, namun pintu belum terbuka. Hingga setelah 3 kali menekan bel, akhirnya pintu terbuka.
" Lho kamu ? "
Tanpa permisi, Kyra segera masuk ke dalam unit apartemen milik Hamiz.
" Wah, apartemen Om Doteng, rapi banget ya " ucap Kyra sambil duduk di sofa serta melihat-lihat sekeliling.
Hamiz masih berdiri di depan pintu sambil melihat ke arah Kyra yang dengan cueknya melenggang masuk kemudian duduk di sofa tanpa dipersilakan oleh tuan rumah.
Hamiz memutar bola matanya dengan malas.
" Kamu ada perlu apa ? " tanya Hamiz dingin dengan tangan bersedekap di dada.
__ADS_1
Padahal jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa senang bisa bertemu Kyra kembali.
" Eh, ini Kyra buatin spagheti sama puding buah buat Om " jawab Kyra sambil mengeluarkan makanan yang dibawanya dari dalam paper bag.
" Terima kasih ! Simpan saja di meja. Sekarang kamu sebaiknya pulang ! " seru Hamiz masih berdiri di depan pintu tidak berniat menghampiri Kyra sama sekali.
" Om ngusir Kyra ? " Kyra menatap Hamiz sambil berdiri dari sofa.
" Bukan ngusir... Hanya saja tidak baik perempuan dan laki-laki berduaan, nanti bisa timbul fitnah. Bisa-bisa digerebek lagi " jawab Hamiz santai.
Kyra berjalan menuju Hamiz, setelah berada di dekat Hamiz Kyra mendekatkan dirinya pada pria yang seolah menjaga jarak darinya.
" Kyra rela kok digerebek, biar cepet dinikahin sama Om " bisik Kyra sambil berjinjit agar bisa berbisik di telinga Hamiz.
Hamiz tergugu lalu menoleh ke arah Kyra hingga wajah mereka bertemu begitu dekatnya. Kyra tersenyum puas melihat wajah Hamiz yang sedikit merona.
" Ehem... " dehem Hamiz sambil mengalihkan wajahnya.
" Ya udah deh Om... Kyra pulang dulu ya ! Makanannya jangan lupa dimakan. Kyra tahu kok, kalau Om pasti belum masak. Bye Om ! " ucap Kyra kemudian keluar dari apartemen Hamiz.
Kyra berjalan menuju apartemennya kembali. Tangan kanannya memegangi dadanya yang terasa berdetak hebat. Sungguh ia tak pernah menyangka bisa seberani itu di depan Hamiz. Sejurus hal itu, senyuman terbit di wajah Kyra yang cantik. Ia yakin bisa membuat Hamiz jatuh hati dan bertekuk lutut padanya.
Kyra memasuki unit apartemennya, sebelum masuk ia melirik ke arah ujung. Sayangnya pintuK apartemen Hamiz sudah tertutup.
" Gak apa-apa, Kyra... Nanti dia juga pasti melting sama kamu ! " gumam Kyra menghibur diri kemudian menutup pintu.
Hamiz masih berdiri di belakang pintu saat Kyra masuk ke apartemennya. Sama halnya dengan Kyra, jantungnya pun berdegup dengan kencang. Ia tak menyangka jika Kyra adalah tetangganya. Walaupun tadi pagi ia sudah menyangka jika Kyra tinggal di gedung apartemen yang sama namun ia tak menduga jika mereka berada di lantai yang sama.
Hamiz meraih gelas kemudian mengisinya dengan air. Ia segera meminumnya untuk menenangkan hatinya. Hamiz kemudian duduk di sofa. Ia melihat makanan yang dibawa Kyra tadi berada di atas meja. Ia kemudian membawa makanan itu ke meja makan.
__ADS_1
Derrt... Derrt...
Ponselnya berdering, Hamiz meraih ponselnya yang kebetulan tergeletak di atas meja makan. Satu pesan dari nomor tidak dikenal kini masuk, ia membukanya dan sesaat kemudian matanya membuka lebar.