Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)

Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)
K-O-D part 32


__ADS_3

Fabian mengantarkan Andara hingga ke depan rumah. Andara melepaskan seat belt, lalu menarik tuas pintu.


" Dara... " cegah Fabian sesaat sebelum Andara keluar dari dalam mobil.


Tangan Fabian meraih tangan Andara.


" Dara... Berjanjilah untuk selalu percaya padaku apapun yang terjadi. Percayalah  hanya kamu yang ada dalam hatiku " ucap Fabian lagi dengan raut wajah risau.


" Iya, Kak... Dara janji. Memangnya ada apa sih ? Dari tadi Kak Bian nyuruh Dara janji terus " sahut Andara menatapi Fabian.


Fabian menggeleng pelan, lalu menghela nafasnya. Andara yang semula akan keluar dari mobil lantas mengurungkan niatnya karena melihat keadaan Fabian.


" Kak... Sebenarnya ada masalah apa ? " tanya Andara, tangannya terulur menyentuh tangan Fabian yang berada di atas kemudi.


Fabian meraih tangan Andara lalu mengecupinya.


" Kak Bian lagi ada masalah ya ? Sejak tadi, Dara perhatiin Kak Bian banyak melamun " ucap Andara khawatir.


Fabian menatap wajah kekasih hatinya itu, kemudian tanpa ba bi bu, Fabian memeluk Andara.


" Dara... Seandainya saja, aku menemukanmu sejak lama... " keluh Fabian lirih.


" Kak, sebenarnya ada apa ? " tanya Andara lagi. Ia kini mencemaskan sikap Fabian.


" Janji padaku, apapun yang aku katakan takkan membuatmu berpaling dariku... " jawab Fabian tanpa melepaskan pelukannya. Andara sedikit ragu, namun akhirnya menganggukkan kepala.


" Baiklah... Dara berjanji "


Fabian melepaskan pelukannya, lalu mengatur nafasnya. Tangannya tak sedikitpun melepaskan tangan Andara dari genggamannya.


" Dara... Sebenarnya, aku... Orang tuaku... " Fabian tak melanjutkan ucapannya, ia melihat ke arah Andara yang begitu penasaran dengan apa yang akan ia katakan.


Fabian kembali menghela nafas. Ia mencoba mengumpulkan keberanian untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya.


" Sebelum aku bertemu denganmu kembali, orang tuaku sudah menjodohkanku dengan anak rekan bisnis mereka. Saat itu, aku tak kuasa menolak karena aku belum bertemu denganmu. Dan akhir pekan ini, orang tuaku akan meresmikan pertunangan kami... " ungkap Fabian.


Andara membelalakkan matanya, ia menarik tangannya yang ada dalam genggaman Fabian namun Fabian menahan tangannya.


" Dara... Percaya padaku, hanya kamu yang aku mau... Itu hanyalah perjodohan bisnis. Aku sama sekali tidak mencintainya... " jelas Fabian.


" Ini salah Kak... Seharusnya kita tidak..."


" Tidak... Aku akan mencari cara untuk membatalkan perjodohan ini. Ku mohon percayalah padaku, aku hanya mencintaimu. Hanya kamu yang ku mau, Dara ! " tegas Fabian.


" Tapi Kak... "


" Sstt... Aku hanya ingin kamu memenuhi janjimu. Percaya padaku, apapun yang terjadi nanti. Ku mohon ! " pinta Fabian dengan sangat.

__ADS_1


Andara menghembus nafasnya... Ia tidak tahu harus menjawab apa. Rasanya sakit mengetahui kenyataan yang baru saja diketahuinya.


" Dara... Aku benar-benar mencintaimu. Cincin ini adalah bukti perasaanku padamu. Cincin ini dulu diberikan nenek untuk calon istriku nanti. Dan aku memilihmu sebagai calon istriku. Hanya kamu, Dara " tegas Fabian.


" Tapi... Kita tak bisa melanjutkan hubungan ini tanpa restu, kak... Aku tidak bisa... Orang tua Kak Bian pasti kecewa dan wanita itu pasti akan tersakiti " tukas Andara.


" Bahkan jika seluruh dunia menentang, aku akan menghadapinya. Kumohon Dara... Berdirilah disampingku, aku akan memperjuangkan cinta kita. Beri aku waktu untuk menyelesaikan semua ini... "


Andara mengusap kasar wajahnya.


" Dara... Ku mohon, jangan pernah tinggalkan aku ! Kamu yang aku tunggu selama ini... Kamulah kebahagiaanku " mohon Fabian lagi.


" Aku bisa mati jika harus kehilanganmu lagi " tambah Fabian putus asa.


" Baiklah, Kak... Asalkan Kak Bian bahagia, Dara tidak akan meninggalkan Kak Bian " ucap Andara memutuskan untuk tetap berada di sisi Fabian.


" Terima kasih, Dara. Aku berjanji akan segera menyelesaikan masalah ini dan kita akan segera bersama " janji Fabian.


" Ya udah, Kak... Kalau gitu Dara masuk ya. Kakak hati-hati, jangan banyak pikiran...! " seru Andara lalu membuka pintu mobil dan segera keluar.


Fabian melambaikan tangannya, kemudian melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Andara. Andara menatap  kepergian Fabian dengan tatapan sendu.


Tuhan... Jika kami memang berjodoh, tolong berikan jalan keluar agar bisa bersama. Dan jika kami tidak tercipta untuk bersama... Ikhlaskan kami agar bisa menerima dengan lapang dada kenyataan ini...


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


" Darimana sayang ? " tanya Pertiwi saat melihat Kyra masuk.


" Hah... ? Mami kok disini ? Kapan datang ? " tanya Kyra kaget karena melihat sang ibu yang sedang duduk santai di sofa.


Kyra segera menghampiri sang ibu lalu meraih tangan Pertiwi dan menciumnya.


" Mami baru datang sayang. Hari sabtu ini, mami ada undangan dari temen Mami " jawab Pertiwi.


" Mami sendirian ?" tanya Kyra lagi sambil mencari keberadaan sang ayah.


" Sama Papi... Papi lagi mandi di kamar " jawab Pertiwi.


" Ooh... " ucap Kyra lalu duduk di samping sang ibu.


" Kamu darimana sayang ? " tanya Pertiwi kemudian.


" Habis jalan sama Om Doteng, Mi " jawab Kyra jujur.


" Oh ya ? Mana orangnya kok gak diajak masuk ? Mami kan mau ketemu " ujar Pertiwi.


" Orangnya udah pulang Mi... " sahut Kyra.

__ADS_1


" Padahal Mami mau ketemu sama Om Doteng kamu itu. Mami kan mau kenalan " ucap Pertiwi.


" Iya Mi... Nanti Kyra kenalin sama Mami " sahut Kyra.


" Kalau gitu, mumpung Mami sama Papi disini kamu bawa pacar kamu itu besok ! " seru Pertiwi.


Mendengar permintaan sang ibu, membuat Kyra terbatuk.


" Uhuk... Uhuk... " batuk Kyra.


" Ya ampun sayang... Kamu batuk ? Sini Mami periksa... Makanya kalau pulang malem tuh pakai jaket biar gak kena angin " cerewet Pertiwi.


" Ada apa sih Mi... ? Rame bener... " tanya Farhan yang baru saja keluar dari kamar.


" Ini nih Pi... Kyra tuh batuk, terus Mami suruh Kyra pake jaket biar gak keanginan kalau pulang malam " jawab Pertiwi.


" Kyra kan naek mobil, Mi... Gak angin-anginan " tukas Kyra.


" Sudah... Sudah... Mami kamu betul Kyra, lebih baik menjaga kan, antisipasi " ucap Farhan menyudahi perdebatan.


" Pi... Tadi Mami suruh Kyra bawa pacarnya kesini besok " ungkap Pertiwi sambil memberikan kopi untuk sang suami yang sudah ia siapkan di atas meja.


Ucapan Pertiwi itu tak ayal membuat Farhan yang sedang meminum kopi tersedak.


" Uhuk... Uhuk... "


" Ya ampun, Pi... Kalau minum tuh pelan-pelan, biar gak keselek " oceh Pertiwi sambil mengusap-usap dada sang suami serta mengambil cangkir kopi dari tangan Farhan.


Dengan cepat tanggap Kyra beranjak mengambilkan segelas air putih untuk sang ayah.


" Terima kasih, sayang " ucap Farhan sambil meminum air putih yang dibawakan oleh Kyra.


" Nah bagaimana Kyra, besok kamu bisa kan ajak Om Doteng kamu itu ? Ah siapa namanya ? " tanya Pertiwi.


" Hamiz, Mi... " jawab Farhan.


" Nah itu, Hamiz. Bisa kan sayang ? " tanya Pertiwi penuh harap


" Ng... Kyra gak tahu, Mi. Soalnya kan Om Hamiz tuh sibuk. Jadi gak bisa dadakan " jawab Kyra memberikan alasan.


" Iya, Mi... Kan bisa lain kali " ucap Farhan sambil melirik sang anak.


" Oke... Kalau gitu, hari minggu ini suruh dia ketemu Mami sama Papi. Masa hari minggu gak libur " seru Pertiwi lagi.


" Tapi, Mi... " sela Kyra.


" Kyra sayang... Kalau dia memang sayang sama kamu, dia seharusnya mau kenalan sama Mami dan Papi. Itu menandakan dia serius menjalin hubungan sama kamu " ungkap Pertiwi.

__ADS_1


__ADS_2