
Andara tengah menunggu Fabian di cafetaria kampus. Kyra baru saja pulang dijemput oleh Jodi.
Tak lama Fabian menghubungi Andara.
" Iya, Kak... "
" Dara... Aku ada di parkiran mobil. Kamu bisa kesini kan " seru Fabian.
Andara mengangguk meskipun Fabian tidak melihatnya.
" Oke deh, tunggu sebentar ya kak " sahut Andara kemudian menutup panggilan telponnya.
Andara bergegas keluar dari cafetaria menuju tempat parkir mobil. Andara mengedarkan matanya kemudian tersenyum saat melihat Fabian melambaikan tangannya dari jendela mobil. Andara berjalan menuju Fabian yang kini telah keluar dari mobil dan membukakan pintu untuk Andara.
" Silakan masuk tuan putri ! " ucap Fabian sambil sedikit membungkuk membuat Andara tersenyum.
" Makasih ya, Kak... " ucap Andara tulus lalu memasuki mobil.
Fabian berjalan memutari mobil, lalu masuk ke dalam mobil.
Fabian mendekatkan diri pada Andara hingga wajah mereka berjarak sangat dekat.
" Eh, kakak mau ngapain ? " tanya Andara waspada. Ia tak ingin lagi kecolongan setelah Fabian mencium pipinya kemarin.
" Pasangin seat belt, sayang... Kamu pikir mau apa ? " tanya Fabian sambil memasangkan seat belt pada Andara.
" Nah, sekarang kan udah aman " ucap Fabian lagi sambil kembali ke posisinya.
Andara menghembus nafas lega. Namun itu tak berlangsung lama, karena sedetik kemudian Fabian justru mengecup singkat bibirnya.
Mata Andara membola dengan debaran jantung yang cukup kencang.
" Ih, Kak Bian... " pekik Andara kemudian memukulkan buku yang ada dalam pangkuannya ke tubuh Fabian.
" Aw... Aw... Ampun Dara... " ucap Fabian diiringi kekehan dari bibirnya.
" Kebiasaan deh ! Bawaannya nyosor kayak soang ! " cibir Andara kesal.
" Tapi suka kan... " goda Fabian tanpa rasa bersalah.
Andara memalingkan wajahnya keluar jendela.
__ADS_1
" Dara... " panggil Fabian, namun tak diindahkan oleh Andara.
" Dara sayang... " panggil Fabian sekali lagi, namun Andara bersikap tak acuh tanpa menoleh pada Fabian
Fabian menghembus nafas kasar. Ia merogoh sakunya, kemudian mengambil benda berkilau yang sengaja disiapkan untuk kekasih hatinya itu. Fabian meraih jari manis Andara lalu menyematkan benda tersebut di jari Andara.
Andara refleks menarik jarinya, namun ditahan oleh Fabian.
" Andara, dengan disematkannya cincin ini di jari manismu. Aku pastikan kamu menerimaku sebagai calon suamimu ! " ucap Fabian sambil tersenyum dan mengecup punggung tangan Andara.
Mata Andara melebar, tak menyangka jika Fabian akan melakukan hal seperti itu.
" Kak... "
" Kamu gak boleh nolak, karena aku gak mau lepas kembali cincin ini dari jari manis kamu ini. Sama halnya seperti cintaku yang sudah menemukan pelabuhan cinta pada dirimu. Aku tak bisa mencari wanita lain selain dirimu. Aku berharap kita bisa menjalani hari-hari bersama-sama " tegas Fabian.
" Kamu mau kan jadi istri aku ? " tanya Fabian menatap lekat Andara.
Andara meneteskan air matanya. Air mata haru dan bahagia. Bahagia karena bisa dicintai oleh Fabian.
Fabian menghapus air mata di wajah cantik Andara.
" Jadi jawabannya apa ? " tanya Fabian lagi.
" Iya... Iya... Aku sudah tahu kalau jawaban kamu pasti iya kan ? Lagian gimana mungkin kamu bisa nolak aku... " ucap Fabian dengan percaya diri.
" Terima kasih, Kak... " Andara mengucapkan dengan tulus.
" Untuk... ? " tanya Fabian bingung karena Andara tiba-tiba mengucapkan terima kasih.
" Terima kasih karena Kak Bian sudah mau mencintai Dara sebegitu besarnya. Kak Bian sudah mau menunggu Dara. Bersedia menjadikan Dara istri untuk menjalani hidup bersama-sama... Terima kasih " ucap Andara kemudian memeluk Fabian.
Fabian membelai rambut Andara dengan lembut.
" Terima kasih juga karena kamu sudah mau kembali padaku. I love you Andara !! " ucap Fabian lembut.
Mereka berdua akhirnya meninggalkan kamous dengan perasaan bahagia. Fabian membawa Andara untuk bertemu dengan orang tuanya.
Mobil Fabian memasuki pekarangan rumah kedua orang tuanya. Fabian membukakan pintu lalu mengulurkan tangannya. Andara meraih tangan Fabian lalu menggenggam erat tangan kekasihnya itu.
Telapak tangan Andara terasa dingin, mungkin dikarenakan rasa gugup yang melanda. Menyadari sang kekasih tengah risau, Fabian semakin mengeratkan genggaman tangannya seolah menguatkan sang kekasih.
__ADS_1
Fabian menatap wajah sang kekasih.
" Jangan khawatir, orang tuaku baik kok. Mereka sudah menerimamu... Gak usah grogi gitu, ini bukan ujian. Lagian kalau pun ini ujian, kamu kan sudah dapat golden tiket untuk memenangkan hati aku " ucap Fabian menenangkan Andara.
" Tarik nafas panjang lalu keluarkan perlahan-lahan... Aku yakin kamu bisa membuat orang tuaku menyukaimu " tambah Fabian lagi.
Andara mengikuti saran dari Fabian, menarik panjang nafasnya lalu menghembuskannya perlahan. Itu sedikit membantunya memberi ketenangan.
Mereka kini telah berada di depan pintu, Fabian membuka pintu sambil mengucapkan salam. Seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik berdiri tak jauh dari pintu. Senyuman tersungging di wajahnya saat melihat kedatangan Fabian dan Andara. Ia kemudian berjalan mendekati Andara yang kembali ke mode grogi karena bertemu calon mertuanya.
" Akhirnya kalian datang juga... Mama pikir kalian tidak jadi kemari " ucapnya ramah.
" Maaf, Tante... Kami terlambat datang " sahut Andara sopan.
Andara meraih tangan wanita yang merupakan ibu dari kekasih hatinya lalu mencium tangannya.
Wanita itu tersenyum melihat sikap Andara.
" Wah... Wah... Kamu sudah besar dan cantik... Pantesan aja Fabian tuh gak bisa move on dari kamu " ucap ibu Fabian sambil memeluk Andara.
" Ih, Mama... Gak usah buka rahasia gitu dong ! " ucap Fabian tak terima.
" Lah memang bener kan yang Mama bilang, kalau kamu tuh gak bisa move on dari Andara " ucap sang Mama melirik ke arah Fabian.
" Kalian sudah datang " ucap seorang pria yang berjalan dari arah dalam rumah.
" Baru aja sampai, Pa... " jawab Fabian.
Tante Karin melepaskan pelukannya dari Andara, lalu membawa Andara menuju sang suami.
" Ini lho yang namanya Andara itu, Pi... Yang bikin Fabian gak nyenyak tidur itu... " ucap Bu Karin mengenalkan Andara.
Andara meraih tangan calon ayah mertuanya lalu mencium tangannya.
" Akhirnya, anak nakal itu ketemu jodohnya juga..." ucap Pak Sulis menyeringai.
" Kamu tahu Dara... Dulu kami sempat khawatir jika Fabian tidak bisa mencari pendamping hidupnya karena dia tidak pernah dekat dengan wanita mana pun. Oleh karena itu, kami menjodohkannya dengan Stella. Kami pikir mereka saling mencintai hingga memutuskan untuk mengadakan acara pertunangan yang meriah. Namun ternyata, Fabian hanya berpura-pura dan Stella berikut keluarganya sudah berencana untuk memanfaatkan kami. Beruntung Fabian segera mengetahui niat busuk mereka " beber Pak Sulis.
" Sudahlah Pa... Semua sudah berlalu, kami bahagia melihat Fabian menemukan kembali cintanya " tambah Bu Karin.
Mereka pun melanjutkan pertemuan mereka dengan makan bersama. Setelah makan, mereka kembali berkumpul bersama untuk membahas kejelasan hubungan antara Fabian dan Andara.
__ADS_1
" Kami akan menemui kakakmu untuk melamarmu sebagai istri Fabian. Kamu siap kan nak ? " tanya Bu Karin sambil melihat Andara.
Andara menatap Fabian. Ia tidak menyangka jika kedua orang tua Fabian menerimanya dengan tangan terbuka bahkan kini mereka akan membuktikan keseriusannya dengan melamar Andara.