Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)

Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)
K-O-D part 17


__ADS_3

" Gila lo, Ra... Gak nyangka ya anak sama ibu seleranya sama " oceh Evan spontan.


Kyra mendengus kesal mendengar ucapan Evan.


" Eh, sorry Ra. Sorry... " ucap Evan sambil menutup mulutnya


" Terus gimana ? " tanya Evan kemudian.


Kyra mengangkat bahunya.


" Bunda sama ayah tadi nyuruh Om Doteng tinggalin Kyra... Dan kayaknya dia setuju. Dia suruh Kyra lupain dia " ucap Kyra lirih lalu kembali merengkuh lututnya.


" Ya udahlah, Ra... Mendingan lo lupain dia. Masih banyak cowok yang lebih muda, lebih ganteng, lebih pinter dari dia. Gue yakin lo bisa dapetin yang lebih baik dari Om Doteng lo itu " ceramah Evan yang langsung dihadiahi bogeman mentah di lengan Evan sehingga membuatnya sedikit meringis.


" Kamu tuh bukannya bantuin selesaiin masalah, malah nambah masalah baru ! " gerutu Kyra.


" Terus lo maunya gimana ? "


" Menurut kamu, Kyra harus gimana ? " tanya Kyra sambil mengusap sisa air mata di pipinya.


" Yakin mau dengerin pendapat gue ? " tanya Evan.


Kyra mengangguk sambil menatap Evan dengan penasaran.


" Tapi janji ya, gak boleh marah sama gue. Ini kan menurut pendapat gue " jawab Evan.


" Iya, buruan... Menurut lo, gimana ? " tanya Kyra tak sabar.


" Kalau menurut gue sih, si Om udah bener. Sekarang ayah sama bunda aja menentang hubungan kalian. Apalagi mami Tiwi sama papi Farhan. Lo bisa bayangin gak sih reaksi mereka kayak gimana... Jadi emang yang paling bener tuh lo lupain dia " tutur Evan.


Kyra menghela nafasnya, ia memikirkan semua yang Evan ucapkan. Dan itu memang benar. Tapi ia tak mau berhenti sampai disini. Ia tak ingin menyerah begitu saja.


" Lama-lama, lo pasti bisa lupain dia Ra " ucap Evan lagi.


Kyra menggelengkan kepalanya, ia menolak ucapan Evan untuk melupakan sosok pria yang sudah kadung masuk ke dalam hatinya.


" Gue gak bisa, Van... Gue gak bisa. Lo tahu sendiri kan gimana usaha gue supaya bisa ketemu dia. Sekarang udah dapet justru harus gue lepas gitu aja... " kenang Kyra, air mata kembali lolos dari sudut matanya.


" Terus lo siap ngadepin orang tua lo ? Ngadepin semua yang menentang hubungan kalian ? " tanya Evan mencari tahu.


" Gue siap apapun resikonya ! " ucap Kyra dengan tekad bulat.

__ADS_1


Evan menghembus kasar nafasnya. Ia tahu betul bagaimana perasaan Kyra dan watak Kyra yang pantang menyerah.


" Ya udah, kalau keputusan lo udah bulat. Gue cuma bisa doain lo aja. Semoga Om Hamiz memang pantas lo perjuangin, Ra " ucap Evan menepuk bahu Kyra. Tak lama Evan pun meninggalkan Kyra sendiri di kamarnya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sementara itu, Andara dan Hamiz telah sampai di kediaman mereka.


" Kakak mau langsung pulang ke apartemen ? " tanya Andara sambil melepas seat belt.


Hamiz tak langsung menjawab pertanyaan Andara.


" Lebih baik kakak nginep disini dulu. Jangan mengemudi jika kakak sedang banyak pikiran. Dara gak mau terjadi hal yang buruk pada kakak " ucap Andara.


Hamiz melihat ke arah sang adik kemudian mengusap pucuk kepala Andara.


" Dara gak tahu, ada masalah apa antara kakak dengan keluarga Kyra. Yang Dara tahu, Kyra begitu mencintai kakak... Dara juga yakin kakak mencintai Kyra. Seharusnya kakak berjuang bersama Kyra bukan meninggalkannya " ucap Andara memberanikan diri memberikan pendapatnya pada Hamiz.


" Semuanya tak semudah membalik telapak tangan, Dara... Ini sangat rumit " ucap Hamiz.


" Dara siap mendengarkan Kak... Dara hanya ingin kakak bahagia " tukas Andara menatap sang kakak.


" Baiklah... Kakak akan menginap disini. Besok kakak akan menceritakan semuanya padamu " sahut Hamiz kemudian keduanya masuk ke dalam rumah.


Hamiz masuk ke dalam kamar miliknya setelah berpisah dengan Andara. Ia menarik nafas panjang lalu perlahan menghembusnya. Ia berjalan menuju ranjang besarnya lantas duduk di tepi ranjang.


Hamiz mengusap kasar wajahnya, kemudian memijat pelipisnya. Merasakan kepalanya yang sedikit berdenyut dikarenakan masalah yang tengah dihadapinya.


Hamiz merebahkan dirinya, kedua tangannya dijadikan alas untuk menopang kepalanya. ia menatap langit-langit kamarnya dengan tatapan kosong. Pikirannya berkelana, tak henti memikirkan Kyra. Gadis muda, kekasih hatinya.


" Kyra... Kenapa takdir mempertemukan kita jika akhirnya justru harus terpisahkan " gumam Hamiz merasa putus asa.


Hamiz kembali mengingat masa lalunya yang kelam. Seandainya saja dulu ia tidak bersikap bejat, tentu Tuhan tak akan menghukumnya seberat ini.


Tuhan... Apakah aku tak pantas bahagia ? Inikah hukuman yang harus kutanggung atas perbuatanku di masa lalu ? Ku mohon ampuni aku atas dosa-dosaku dulu !!


Hamiz mencoba menutup matanya, kendati bayangan Kyra selalu datang mengganggunya.


Terlebih lagi Hamiz masih belum lupa raut wajah Kyra yang memintanya untuk berjuang bersama sebelum ia menyatakan agar melupakan hubungan mereka.


Aargh... ! Pekik Hamiz kemudian bangun dari tidurnya.

__ADS_1


Kyra... Maafkan aku... ! Aku ingin berjuang bersamamu tapi terlanjur malu dengan masa laluku. Maafkan aku Kyra... ! Maafkan aku yang mencintaimu namun terlalu takut untuk memperjuangkan cinta kita...


Hamiz membatin dalam hatinya.


Mentari sudah menampakkan sinarnya, Hamiz mengerjapkan matanya saat sinar mentari pagi memaksa menyelinap masuk melalui jendela kamarnya yang tertutup gorden.


Hamiz perlahan.mendudukkan diri di atas ranjangnya, melirik ke arah jam dinding.


" Astaga... Aku terlambat bangun " ucapnya setelah sadar sepenuhnya.


Entah kapan ia bisa tertidur karena semalaman matanya tak dapat memejam, pikirannya selalu melanglang buana memikirkan sang gadis pujaan hati. Hamiz bergegas bangkit kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri.


Setelah berganti pakaian, Hamiz keluar dari kamarnya dan langsung menuju ruang makan. Di ruang makan, Andara sudah menunggu sang kakak dengan tidak sabar.


Andara dapat melihat kesedihan dari wajah Hamiz. Matanya terlihat begitu berat dengan kantung mata yang menggelayut.


" Kakak gak tidur ? " tanya Andara saat menelisik penampilan Hamiz yang terlihat rapi namun wajahnya lesu.


" Tidur " jawab Hamiz singkat.


" Tidur berapa lama ? " tanya Andara lagi.


" Em... Mungkin sekitar jam 2 pagi, kakak baru bisa tidur " jawab Hamiz kemudian.


" Ya ampun, Kak... Mikirin apa sih sampai gak bisa tidur ? Emangnya kalau terus dipikirin, ngerubah semuanya ? " omel Andara.


" Eh... Maafin Dara ya Kak " pinta Andara menyadari dirinya yang sudah kelepasan bicara.


Hamiz hanya tersenyum melihat perhatian yang diberikan oleh sang adik kepadanya.


" Kamu gak ke kampus ? " tanya Hamiz.


" Nanti siangan Kak. Lagian Dara mau nagih janji kakak semalam ! " jawab Andara.


Hamiz mengernyit,


" Memangnya kakak janji apa semalam ? " tanya Hamiz bingung karena seingatnya ia tak berjanji apapun kepada Andara.


" Bukannya kakak bilang mau ceritain semuanya sama Dara ? Biarkan Dara tahu, kak ! Jadi Dara bisa bantuin kakak melewati masalah ini " ucap Andara sambil menatap sang kakak.


Hamiz menatap Andara yang juga tengah menatapnya. Sepertinya ia memang harus menceritakan semuanya kepada sang adik, walaupun itu berarti membuka aib dirinya sendiri, ayahnya dan juga ibu kandung Andara.

__ADS_1


__ADS_2