
Melihat raut bahagia di wajah Kyra membuat Farhan tertegun. Ia hanya memperhatikan interaksi keduanya, hingga akhirnya Farhan memutuskan untuk masuk ke dalam apartemen Hamiz. Ia berdehem membuat Kyra dan Hamiz segera menoleh ke arah datangnya suara.
" Papi... " ucap Kyra antara terkejut juga khawatir.
" Kyra... Ada yang ingin Papi bicarakan berdua dengannya. Jadi sebaiknya kamu pulang ! " seru Farhan.
" Tapi... Papi gak akan macam-macam kayak tadi kan ? " tanya Kyra was-was.
" Papi hanya ingin berbicara, kamu bisa pegang ucapan Papi " jawab Farhan.
" Pergilah... Aku akan baik-baik saja " seru Hamiz sambil tersenyum pada Kyra.
Kyra keluar dari unit apartemen milik Hamiz. Ia berdiri di depan pintu apartemen Hamiz bermaksud untuk menguping pembicaraan antara dua orang pria yang ia cintai. Namun, ia tak dapat mendengar apapun hingga akhirnya ia putuskan untuk kembali ke apartemen miliknya.
Sementara di dalam apartemen, kedua orang yang dulu pernah bersitegang itu kini duduk saling berhadapan.
Farhan menopangkan sebelah kakinya pada kaki yang lain dengan tangan melipat di dada. Sementara Hamiz, ia duduk bersender di sofa dengan tenang kendati masih menahan sakit akibat serangan mendadak yang tadi diberikan Farhan.
Tidak ada kalimat yang terucap. Keduanya masih mengunci rapat bibir mereka. Farhan menatap tajam ke arah Hamiz, pria yang dulunya adalah mantan tunangan sang istri. Dan kini statusnya berubah menjadi kekasih sang putri.
Farhan menghela nafasnya, lantas menurunkan tangannya.
" Aku meminta maaf atas perbuatanku tadi. Aku hanya tidak ingin kejadian dulu kembali terulang... " ucap Farhan terdengar tulus.
" Tidak apa, aku sudah memaafkanmu. Aku pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisimu " sahut Hamiz memaklumi sikap Farhan tadi.
" Sebenarnya, aku tidak ingin membicarakan ini. Tapi demi kebaikan Kyra, aku harus menanyakannya " ucap Farhan.
Hamiz mengangguk, mempersilakan ayah dari gadis yang dicintainya itu bertanya.
__ADS_1
" Sebesar apa kau mencintai putriku ? Apakah karena kau melihat sosok Pertiwi dalam diri Kyra ? " selidik Farhan.
Hamiz sedikit terkejut mendengar pertanyaan dari Farhan. Namun kemudian ia tersenyum lebar.
" Aku sangat mencintai Kyra. Bahkan melebihi rasa cintaku dulu pada Pertiwi. Aku mencintainya sebagai Kyra bukan karena melihat Pertiwi dalam dirinya. Aku tidak pernah menyangka jika Kyra adalah putri kalian... " jawab Hamiz.
" Aku tahu, semua yang aku lakukan dulu itu tak bisa dimaafkan dengan mudah bahkan mungkin tak akan termaafkan... Aku sadar diri, tentunya berat bagimu mempercayakan Kyra pada laki-laki brengsek sepertiku. Entah dengan apa aku membuktikan diri agar pantas bersanding dengan Kyra " tambah Hamiz lagi.
Farhan hanya menatap Hamiz, menelisik kebenaran dari ucapan Hamiz yang tersorot dari matanya.
" Lalu... Apa yang membuatmu merasa pantas dicintai oleh putriku ? Apa yang bisa kau berikan pada putriku ? " cecar Farhan masih ingin menggali informasi dari pria di hadapannya ini.
" Sejak awal, aku tidak pernah merasa pantas mendampinginya. Setelah kejadian dulu, aku menghukum diriku sendiri. Membatasi diri dari wanita dan cinta. Bagiku hidupku hanya untuk pasien juga adikku. Sampai akhirnya, Tuhan menghadirkan Kyra. Mungkin Tuhan berbaik hati padaku dengan membawa Kyra kepadaku. Kyra yang membuat tembok kokoh yang kubangun menjadi roboh. Kyra yang membuatku kembali merasakan cinta, membuatku merasa pantas dicintai... Kyra menerima dengan lapang dada masa laluku yang buruk. Dengan tangan terbuka memelukku, membuka kembali hatiku yang sudah beku akan rasa cinta. Kyralah yang membuatku kembali bersemangat untuk mendapatkan kebahagiaan dalam hidup " ungkap Hamiz panjang lebar.
" Kau bertanya apa yang bisa kuberikan pada Kyra ? Aku berharap aku bisa memberikan kebahagiaan untuknya. Hidupku, cintaku akan kuberikan segalanya hanya untuk membahagiakannya... " tambah Hamiz.
" Kau yakin bisa membahagiakannya ? " tanya Farhan lagi.
Farhan mengangkat sudut bibirnya. Ia bisa merasakan kesungguhan dan ketulusan dari jawaban yang diberikan oleh Hamiz.
" Baiklah... Aku harus hati-hati memilih laki-laki untuk putriku. Bagiku Kyra adalah harta yang tak ternilai, begitu berharga. Kebahagiaan Kyra adalah prioritasku. Jika dia memilihmu sebagai sumber kebahagiaannya, maka kau harus menjadi sumber kebahagiaannya. Aku harap kau bisa memegang ucapanmu untuk membahagiakannya ! " tegas Farhan sambil berdiri.
Hamiz terkesiap mendengar penuturan Farhan yang baru saja didengarnya.
" Jadi... Kau... " Hamiz tak meneruskan ucapannya saat Farhan mengulurkan tangannya.
Hamiz berdiri lantas membalas uluran tangan Farhan. Farhan menepuk bahu Hamiz.
" Aku merestui hubungan kalian... Bahagiakan Kyra. Aku mempercayakannya padamu. Jika kau berani melukainya, aku akan pastikan kau mengulang apa yang pernah kau rasakan dulu, bahkan ku pastikan jauh lenih buruk ! " seru Farhan dengan ancaman di ujung kalimatnya.
__ADS_1
" Aku tidak akan mengecewakanmu, aku berjanji " balas Hamiz lalu memeluk Farhan, calon ayah mertuanya.
" Tapi kalian masih harus berjuang mendapatkan restu dari Pertiwi " ingat Farhan saat melepaskan pelukannya.
Hamiz mengangguk, dan ini adalah hal terberat yang harus dihadapinya. Menghadapi Pertiwi, wanita yang pernah ia cintai dan juga ia lukai di masa lalu.
Farhan kemudian pamit dari hadapan Hamiz. Meski berat mengambil keputusan itu, tetapi demi melihat sang anak bahagia Farhan rela meruntuhkan egonya. Ia bersedia memberikan restu kepada laki-laki yang dulu hampir melecehkan istrinya.
Kyra berjalan mondar mandir di depan pintu apartemen miliknya. Saat melihat sang ayah keluar dari apartemen Hamiz, Kyra bergegas menghampiri Farhan.
" Papi... Papi ngomongin apa sama Om Doteng ? Kenapa lama banget ? Papi gak ngapa-ngapain Om Doteng lagi kan ?" Kyra memberondong sang ayah dengan banyak pertanyaan.
Farhan sampai harus memijat pelipisnya mendengar pertanyaan putri kesayangannya itu.
Farhan masuk ke dalam apartemen Kyra diikuti langkah kaki Kyra yang berjalan mengekori sang ayah.
Sesungguhnya Kyra ingin sekali kembali ke apartemen Hamiz. Akan tetapi ia menghormati sang ayah sehingga ia menahan dirinya untuk tidak pergi ke apartemen Hamiz.
Farhan merebahkan diri di sofa sambil memejamkan matanya. Kyra segera bergerak ke dapur. Ia membuatkan kopi untuk sang ayah. Setelahnya ia membawa kopi itu ke hadapan Farhan yang masih nyaman memejamkan matanya. Ya tentu saja Farhan merasa sangat lelah... Ia mendadak kembali dari Singapura hanya untuk melihat secara langsung putrinya dan kekasihnya itu. Dan kini ia harus segera pulang kembali ke Singapura sebelum sang istri curiga.
" Pi... Ini Kyra buatin kopi kesukaan Papi. Diminum dulu kopinya " ucap Kyra yang sudah hafal dengan kebiasaan sang ayah yang selalu minum kopi untuk mengusir penat.
Farhan membuka matanya, melihat sang putri yang sudah membawakannya secangkir kopi. Hatinya mencelos, diliputi rasa haru. Putri yang selama ini ia jaga, ia sayangi sepenuh hati kini sudah memiliki tambatan hati bahkan tidak tertutup kemungkinan akan segera membawa sang putri pergi dari sisinya.
Farhan menyimpan kopi ke atas meja, kemudian memeluk Kyra lalu mengecup pucuk kepala sang putri penuh rasa sayang. Hampir saja air mata lolos dari pelupuk matanya jika saja ia tidak segera menghapusnya.
Kyra mendongakkan kepala, menatap wajah sendu sang ayah.
" Papi kenapa ? " tanya Kyra lirih.
__ADS_1
" Papi... Papi merestui hubunganmu dengannya " jawab Farhan sambil menatap lekat Kyra.