Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)

Kyra dan Om Doteng (Dokter Ganteng)
K-O-D part 24


__ADS_3

Andara dengan terpaksa menuruti permintaan Kyra. Saat ini ia berjalan beriringan dengan dokter yang ia tolong semalam. Dokter Fabian, tadi ia mengenalkan dirinya sesaat sebelum mereka meninggalkan ruangan Kyra.


" Maaf nona... " ucap Fabian sambil melirik Andara yang hanya diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.


" Andara... Tapi cukup panggil Dara saja " sahut Andara.


Dokter muda itu menarik salah satu sudut bibirnya.


" Baiklah Dara... " ucapnya kemudian.


" Sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas pertolonganmu semalam " ucap Fabian tulus.


" Sama-sama dok, maaf kalau tadi saya bersikap tidak sopan... " tukas Andara.


" Tidak apa, saya bisa mengerti " sahut Fabian lagi.


Mereka pun akhirnya sampai di cafe rumah sakit yang memang buka 24 jam.


Andara segera memesan roti serta cappucino untuk sang kakak. Sementara ia memesan croisant keju dan minuman coklat panas untuknya.


Fabian pun turut memesan croissant keju dengan cappucino untuknya. Kemudian ia membayar semua pesanan Andara dan pesanannya.


" Tidak usah, dok... " tolak Andara saat ia melihat Fabian membayar pesanannya.


" Tak apa, Dara... Ini sebagai bentuk ucapan terima kasih saya " tukas Fabian sambil melanjutkan pembayaran.


Kini mereka kembali menuju ke ruangan Kyra.


" Em... Dokter gak pulang ? " tanya Andara saat telah sampai di depan ruangan Kyra.


" Setelah kamu masuk, saya akan pulang " jawab Fabian santai.


" Jadi dokter cuma anterin Dara doang kesini ? " tanya Andara lagi menyelidik.


Fabian hanya menjawab dengan senyuman.


Jantung Andara berdebar saat melihat senyuman di wajah Fabian. Tapi ia segera menetralkan laju jantungnya yang mulai berdetak tak karuan dengan segera mengalihkan pandangannya.


" Kamu sudah kembali dengan selamat. Saya pamit ya Dara. Sampaikan salam saya untuk Kyra dan Dokter Hamiz " ucap Fabian tanpa melupakan senyuman manisnya.


Andara yang semula mengalihkan pandangannya kini beralih kembali pada dokter muda itu.


" Dokter mengenal kakak saya dan Kyra ? " tanya Andara penasaran karena ternyata dokter muda berlesung pipi itu mengenal Hamiz dan Kyra.


" Tentu saja, Dokter Hamiz itu senior saya. Dan Kyra adalah anak dari teman orang tua saya " jawabnya kemudian meninggalkan Andara.

__ADS_1


Andara mengejar Fabian, ia khawatir jika Fabian akan mengatakan kepada orang tuanya mengenai hubungan Kyra dan kakaknya dan akhirnya kedua oang tua Kyra mengetahuinya.


" Dokter tunggu dulu ! " seru Andara.


Fabian menghentikan langkahnya kemudian ia berbalik saat mengetahui Andara memanggilnya.


" Iya ? " tanyanya sambil menatap Andara.


" Dokter... Maaf ... Tapi bisakah anda merahasiakan hubungan antara Kyra dan Kak Hamiz pada keluarga anda dan orang tua Kyra " pinta Andara.


Fabian mengernyit heran, ia tak paham dengan ucapan Andara.


" Hubungan kakak saya dan Kyra begitu rumit, saya khawatir orang tua anda akan mengatakan hubungan mereka kepada orang tua Kyra " jelas Andara.


Fabian terlihat berpikir


" Baiklah, dengan satu syarat " ucap Fabian dengan seringai tipis.


" Syarat ? Syarat apa ? " tanya Andara penasaran.


" Syaratnya kamu harus menjadi kekasihku " jawab Fabian santai.


" What ? " pekik Andara membulatkan matanya.


" Keputusan ada di tanganmu, Dara " ucap Fabian lagi seolah menyudutkan Andara.


Huh... Harusnya tadi gue diem aja ! Kalau udah gini kan jadi ribet...


" Bagaimana dengan tawaranku, apa kamu menerimanya ? " tanya Fabian kembali.


Andara menatap Fabian, ia menggigit bibir bawahnya.


" Oke... Saya beri kamu waktu untuk berpikir dan saya tunggu jawaban kamu 3 hari lagi " seru Fabian.


Andara hanya bisa membuka mulutnya tanpa mengatakan apapun.


" Sekarang, berikan ponsel kamu ! " seru Fabian lagi.


" Untuk apa dok ? " tanya Andara heran.


" Tentu saja untuk menyimpan nomer ponselmu, karena saya akan menghubungimu 3 hari lagi " jawab Fabian tanpa bisa ditolak oleh Andara.


Andara memberikan ponselnya setelah membuka kunci. Fabian langsung mengetikkan nomor ponselnya di ponsel Andara kemudian menyimpannya. Tak lama ia menekan tombol panggilan agar nomor Andara masuk ke dalam ponselnya. Setelah itu, ia memberikan kembali ponsel itu kepada Andara.


" Kalau begitu, saya permisi. Dan ingat saya memberi kamu waktu 3 hari ! " ucap Fabian kemudian melenggang meninggalkan Andara yang masih tercengang.

__ADS_1


Fabian melangkahkan kakinya dengan ringan sambil tersenyum samar. Ia bahagia bisa bertemu kembali dengan Andara, gadis kecil yang dulu pernah menolongnya saat ia hilang dari pengawasan orang tuanya saat berada di taman bermain di luar negeri. Saat itu, ia berusia 10 tahun dan Andara berusia 6 tahun. Ia terpisah dari orang tuanya, kemudian bertemu dengan gadis kecil itu beserta Hamiz yang menghiburnya serta menemaninya hingga kedua orang tuanya datang.


Sejak saat itu, ia selalu memikirkan Andara. Bahkan ia sengaja memilih kuliah kedokteran agar bisa bertemu dengan Hamiz. Dan malam tadi secara tidak sengaja mereka bertemu kembali. Mungkin sudah suratan takdir mempertemukan mereka kembali walaupun Andara tidak mengingatnya.


Dara... Aku sudah menemukanmu. Dan aku akan membuat kita bersama selalu.


Fabian menyunggingkan senyuman sambil melangkahkan kaki.


" Hah... Gila aja tuh orang ! Baru ketemu malam, pagi-pagi minta jadi pacar... Pasti gara-gara kekurung di lift tuh jadi rada-rada oleng... " omel Andara saat memasuki ruangan rawat Kyra.


Kyra yang baru saja keluar dari kamar mandi, merasa heran dengan sikap sahabatnya itu. Begitu pula dengan Hamiz, ia melihat adiknya itu dengan tatapan bingung.


" Kamu kenapa, Dara ? " tanya Hamiz mendekati Andara yang menyandarkan tubuhnya di sofa dengan kasar setelah menyimpan makanan dan minuman yang dibelikan Fabian tadi di atas meja.


Hamiz kemudian duduk di samping Andara sambil mengambil makanan dan kopi yang berada di atas meja.


" Gak apa-apa... " jawab Andara sambil mengerucutkan bibirnya.


Kyra berjalan menghampiri mereka kemudian duduk di samping Andara.


" Dokter Fabiannya mana ? " tanya Kyra.


" Dah balik... " jawab Andara singkat.


Kyra dan Hamiz saling menatap penuh tanda tanya. Lalu keduanya menatap Andara.


Menyadari kakak juga calon kakak iparnya menatapnya, Andara tak bisa mengelak. Ia harus memberikan penjelasan kepada keduanya.


" Iya, tadi habis dari cafe. Dokter Fabian langsung pulang " jawab Andara.


" Udah gitu doang ? " tanya Kyra mencari tahu.


" Iya, gitu doang... Emangnya lo ngarepin apa sih ? " Andara balik bertanya.


" Yaah... Kirain tukeran nomer telepon " ucap Kyra kecewa.


Memang gitu Kyra... Tapi bukan tukeran, yang bener tuh dipaksa nyimpen nomer !!


" Yah... Padahal dari yang gue lihat dia kayaknya suka sama lo, Dar " ucap Kyra sesuai pengamatannya.


" Ish... Mana bisa gitu, Ra... Orang baru ketemu tadi malem " sanggah Andara sambil membuka minuman coklatnya lalu menyeruputnya pelan-pelan.


Hamiz hanya mendengarkan obrolan antara Kyra dan Andara sambil menikmati sarapan paginya.


" Sayangnya, gue pulang hari ini. Kalau enggak kan lo bisa ketemu lagi sama Dokter Fabian... " celetuk Kyra.

__ADS_1


Kyra... Kyra... Kalau aja lo tahu. Kalau gue pasti bakalan ketemu lagi sama dia, meskipun kamu udah gak dirawat lagi.


Batin Andara sambil menghembus nafasnya perlahan.


__ADS_2