Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
10. Ajang pencarian bakat


__ADS_3

Dengan ekspresi yang penuh tanya Liu jie mencoba mengorek info tentang tahapannya kepada dewa naga emas.


"uhmmm sekarang ini kamu berada ditahap pendekar Dewa tingkat 1, andai dulu kamu rajin belajar di alam dewa dan tidak menghabiskan waktu makan permen dengan para dewi tentunya sekarang kamu sudah ditahap pendekar dewa tingkat 3" ucap dewa naga yang mencoba memberi penjelasan kepada muridnya sambil mendengus kesal mengingat kelakuan muridnya yang suka menghilang dan kabur kaburan saat latihan demi mengemut permen.


"Ehhh anak muda mengapa dari tadi kamu hanya diam, sudahlah jangan sungkan dengan kakek dan makanlah sepuasmu" cheng tersenyum dengan mengedipkan matanya tanda mengijinkan Liu jie makan sepuasnya.


Empat mangkok sop ayam dihabiskan Liu Jie, entah itu pengaruh lapar atau doyan tapi dia tak sungkan karena memang cheng telah memberinya keleluasaan.


"hahaa Jie'er ternyata nafsu makanmu besar juga, kamu mengingatkan kakek pada Xia Yu cucu kakek. meski dia perempuan namun saat makan dia sangat rakus hahaha" cheng tertawa terbahak bahak sampai sampai dia tersedak dengan araknya sendiri.


Trang tring trenggg...


Suara pedang yang saling beradu terdengar dari arah luar restoran, penduduk yang ketakutan mencoba untuk menjauh agar tak terkena serangan nyasar dari kedua pendekar tahap Bumi tingkat 5 yang sedang beradu pedang.


Pendekar yang berada dalam restoran berlarian keluar untuk melihat pertarungan, namun Cheng memberi isyarat kepada Liu jie agar tak beranjak dari tempatnya karena ia berpikir akan merepotkan jika ada serangan nyasar menuju ke Liu jie sedangkan Liu jie tampaknya masih berada pada tahap pendekar Bumi tingkat 1.


"Mu yen hentikan" teriak wanita berjubah hitam namun parasnya sangat cantik dan dingin, dia adalah salah satu master dari perguruan kalajengking ungu yang cukup terkenal di benua besi karena jurus jurus jarak jauhnya yang mengandung racun sangat mengerikan.


"Mao perkenalkan saya kong dari sekte Teratai darah, oh jadi ternyata dia muridmu saudari Mao, kalau begitu maafkan muridku yang sedang latihan dengan muridmu?" tiba tiba suara dari belakang terdengar sangat bersahaja menyapa mao.

__ADS_1


Dengan ekspresi datar Mao tak mempedulikannya dan hanya menarik kuping muridnya sambil kembali berjalan menuju meja makannya di lantai 2. setelah keributan itu keadaan kembali normal.


"Baiklah Jie'er mungkin dari sini kita akan berpisah, ambillah ini sebagai bekal mu dan siapapun atau dari manapun asalmu tetap ingat, dibenua besi ini situasi damai bisa menjadi kacau hanya dalam hitungan detik jadi hati hatilah dan hindari keadaan yang akan menyulitkanmu" Cheng yang memberi nasihat sembari memberikan sekantong keping emas sekitar 50 keping emas dan 30 keping perak.


"terima kasih kakek, Tapi tapi kakek cheng apa ini tidak berlebihan?" meski Liu jie butuh tapi tetap saja ada rasa sungkan dan berniat mengembalikannya. namun Cheng yang merasa sedang memandangi cucunya sendiri merasa tak terbebani oleh hal itu malah dia senang melakukannya.


"Sudahlah Jie'er kakek sudah makan asam manisnya dunia jadi kakek ini sangat faham dengan kondisimu sekarang. baiklah kalau begitu kita berpisah disini ya karena ada beberapa hal yang ingin kakek selesaikan" sahut cheng sambil berjalan melambai meninggalkan Liu jie.


"Apa rencanamu sekarang Jie'er?" tanya dewa naga emas kepada muridnya yang tampak bingung harus kemana.


"Ahhhh guru bagaimana kalo kita berkeliling kota melihat lihat dulu keadaanya dan setelah itu kita membuat kartu identitas, bagaimana guru?" sambil menganggukan kepala naik turun seakan Liu jie memahami sesuatu.


Liu jie tampak senang mengelilingi kota dengan permen dimulutnya apalagi dia kini sudah punya uang dan kartu identitas yang terlebih dulu dia urus tadi. "Asikkk ckck kini saya bebas beli permen, trus mau kemana lagi ya" batinnya yang betul betul merasa bebas.


Liu jie yang buta arah bagaikan layang layang putus akhirnya tiba disebuah keramaian, tentu saja bagi bocah 10 tahun yang baru di alam manusia masih bingung dan segera menghampiri keramaian itu. sambil mendegarkan pembicaraan para pendekar muda yang sangat antusias dengan info dipapan pengumuman tersebut.


"ohh pengumuman pendaftaran ajang pencarian bakat ternyata, ahhhhaaa sepertinya tempat ini bisa menghasilkan uang yang banyak untuk beli permen, hadiah 10 ribu keping emas bisa membuatku tak kehabisan permen khikhikhi, meski juara 3 tetap saja banyak 5 ribu keping emas wowwww" dengan senyum liciknya dia berencana untuk mendaftar dan memenangkan hadiah uang tersebut.


sebenarnya dia tidak sadar bahwa dalam dunia persilatan jumlah itu bukanlah hal yang sanagt istimewa, pengakuan dalam menorehkan nama didunia persilatan adalah hal yang sangat penting bagi para pendekar. tentu saja itu bukanlah hal penting bagi Liu jie, sekarang yang terpenting adalah uang itu dalam batinnya yang tiada hentinya membayangkan banjir permen.

__ADS_1


Liu jie pun diam diam mengikuti para pendekar muda mudi yang pergi ke ruang pendaftaran, mau gimana lagi Liu jie tak tahu menahu tentang cara mendaftar dan dimana lokasinya. kini giliran Liu jie setelah menunggu 10 menit diantrian para pendekar.


"Sebutkan nama, umur dan asal mu?" ucap tim verifikasi ajang itu.


"Nama saya Liu jie, umur 10 tahun dan asal saya tidak jelas karena saya hanya pengelana yang beratapkan langit dan bertikarkan bumi." penjelasan itu sontak membuat semua yang ada diruangan itu tertawa. namun karena lelah mengurusi pendaftar yang sangat banyak, urusan Liu jie tak diperpanjang dan dia segera mendapatkan nomor antrian untuk bertarung.


"Hei anak muda disini bukan ajang melawak, jika bertemu denganku di arena mending kamu menyerah hahaa" teriak seorang pemuda dengan kapak besar dipunggungnya sambil meludah dan merendahkan Liu jie dan tidak percaya bahwa dia berusia 10 tahun. ya wajar saja karna Liu jie memiliki fisik anak susia 17 tahun apalagi aura yang dipakai Liu ji kini hanya pendekar bumi tahap 1.


Liu jie tak merespon pemuda tersebut, melainkan hanya asik mengemut permennya. dia melihat seorang wanita yang tengah asik tersenyum melihat tingkah Liu jie, kemudian Liu jie menghampirinya dan mengocek ngocek kantongnya, ah dapat fikirnya.


"Hei kakak cantik, nih mau permen?" dengan ekspresi bagai bocah, Liu jie menyodorkan permen kepada wanita itu.


"Terima kasih, oh iya saya Wen wen dan kalau tidak salah tadi nama kamu Liu Jie kan, oh iya kamu disini sendiri atau terpisah dari kelompokmu?" wen wen yang mencoba untuk akrab agar suasana nyaman.


"iya aku Liu jie dan seperti yang kakak cantik lihat saya sedang sendiri dan tak memiliki siapapun didunia ini, tapi sebenarnya kata kakekku yang sudah pergi jauh bahwa saya memiliki nenek tapi sekarang saya tak tau dimana nenek ku berada jadi yahhh saya menjalani hidup tak tenti arah khikhikhi" tanpa rasa bersalah atau minder Liu jie memberi penjelasan tersebut.


tentu saja itu membuat Wen wen tak percaya sepenuhnya tapi diliat dari kondisinya ya ada kemungkinan apa yang Liu jie sampaikan itu benar. itulah yang ada dibenak wen wen saat ini. "ya sudah kalau memang begitu bagaimana kalau kamu jadi Adikku dan ikut aku bergabung dikelompokku?" karena kasian melihat Liu jie akhirnya wen wen mengajaknya.


"ahhhh asikkk sekarang saya tidak perlu sendiri lagi, baiklah sekarang sampai selamanya kakak cantik akan menjadi kakakku dan saya akan selalu menjaga kakak" senyum bahagia tersirat diwajah Liu jie saat berjalan dibelakang wen wen.

__ADS_1


__ADS_2