
"Dasar Kakek kakek busuk, sudah bau tanah di dunia persilatan tapi kalian masih saja arogan saat kekalahan kalian ada didepan mata" kali ini dengan ekspresi yang miris sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Kondisi chang sin yang mati mengenaskan dengan tubuh yang tak utuh lagi membuat Chang gong depresi, dia histeris melihat kakaknya yang terbujur kaku tanpa kepala. Chang gong mencoba untuk merayap dan menyisir area sekitarnya dan berharap dapat menemukan kepala kakaknya namun sayang dia tak dapat menemukannya.
Liu jie sebenarnya ingin meninggalkan Chang gong agar bisa mati mengenaskan karena kehabisan darah setelah organ dalamnya hancur dan tangannya putus akibat mencoba menahan serangan gabungan mereka sendiri.
"Jie'er jika dia selamat hari ini maka orang orang yang penting dalam hidupmu akan selalu dibayang bayangi marabahaya kedepannya" Melihat muridnya berencana untuk melepaskan chang gong memvuat dewa naga emas angkat bicara.
Setelah mendengar hal tersebut, Liu jie terdiam. Dia mencoba memahami jalan kehidupan, tidak akan ada kedamaian selama dendam seseorang masih ada. Liu jie menghampiri Changgong dan melihat tatapan matanya seakan mata itu terbakar amarah dendam. Liu jie membulatkan tekadnya agar tak ada rantai dendam dimasa mendatang.
"Kakek tua, kamu tak boleh hidup agar tak ada rantai dendam di masa depan" kemudian Liu jie mengarahkan telunjuk kanannya ke arah changgong.
"Jurus elemen api : Api tungku jiwa" seketika telunjuk liu jie mengeluarkan api berwarna merah dan perlahan lahan berubah semakin pekat dan semakin pekat hingga akhirnya menjadi hitam.
Liu kemudian menyentuh kening Changgong dengan telunjuknya dan api yang tadi berada di ujung telunjuknya perlahan terserap ke dalam kening changgong. Dalam 1 tarikan nafas, tubuh changgong menghitam dan perlahan menjadi debu tak bersisa.
"Guru apa tindakanku akhir akhir ini, seperti membunuh bandit dihutan dulu dan membunuh orang orang malam ini tak akan membuat kakekku dan kaisar langit marah?" Liu jie tampak bimbang sejenak setelah beberapa kali melakukan pembunuhan.
Melihat muridnya sedikit gusar, Dewa naga emas menjawabnya dengan beberapa kalimat yang bahkan dirinya sendiri tak mengetahuinya secara pasti "Yang tak ada akan diadakan, Yang sudah ada akan ditiadakan, hukum dapat dikatakan hukum jika timbangannya adalah keadilan dan keadilan tak akan dapat diukur batasaannya hingga kau memutuskan sebuah hukuman atas sebuah kesalahan. Langit dan bumi memiliki cara menghukum sendiri namun satu kesamaan hukum dilangit dan hukum dibumi yaitu timbangannya".
Mendengar ucapan gurunya, liu jie bergumam pelan sambil mengangguk anggukan kepalanya "uhmmm ya ya".
"Apa kamu sudah faham?" Dewa naga kembali membuka bicara karena merasa muridnya sungguh cerdas kali ini, hanya dengan sekali mendengar dia sudah faham kalimat yang disampaikan Kaisar langit semasa dia masih muda.
__ADS_1
Sambil mengelus dagunya seakan berfikir disertai dengan tatapan yang sangat meyakinkan, Liu jie menjawabnya "Tenang guru saya Liu Jie Cucu dari Dewa Matahari sekaligus murid dari Dewa Naga Emas memastikan faham dengan kalimat guru, tapiii guru mungkin bukan sekarang hee"
Mendengar jawaban muridnya barusan, Sungut/kumis dewa naga menggeliat ditubuh liu jie sambil berteriak "Huaaaaaaaaaaa bilang saja belum faham, tak usah memperhalusnya dasar cucu dan kakek sama saja, sama sama bodohnya. Sudah tengah malam sebaiknya ajak wen wen pulang cepatttttttt".
Mendengar nada gurunya yang sedikit menakutkan akhirnya Liu jie segera berteleport ke arah wen wen kemudian menarik kembali rantai segel kubah kedalam mulutnya dan dengan mengibaskan tangannya kubah pelindung buyar terbawa angin.
tanpa berbasa basi, Liu jie membisikkan sesuatu ditelinga wen wen "Kakak, saya tau sekarang isi kepala kakak penuh dengan pertanyaan tapi belum waktunya kakak tau identitas saya".
Wen wen hanya bisa diam, dia tak tau harus berbuat apa atau harus bicara apa dan sebelum dia sadar dari keterkejutannya dengan apa yang dia saksikan malam ini, Liu jie sudah membawanya kembali kepenginapan. Tiba tiba sebuah tangan menepuk pundaknya "Wen ternyata kamu disini, dari tadi guru mencarimu. lekas temui guru jun, ada hal penting yang mau dia sampaikan soal pertandingan ronde ke dua besok".
"Eh senior, ii iiya saya akan kesana sekarang. oh iya Jie'er tenang saja semuanya aman ditangan kakak" wen wen kemudian berlari menuju ruangan gurunya sambil.
>>>>>>>
Jiwanya yang dulu mengalami goncangan hebat, kini perlahan lahan sudah mulai membaik. Dia berencana untuk mengasingkan diri dan pensiun dari dunia persilatan. Dia ingin menghabiskan sisa sisa hidupnya yang sebatang kara dengan bertualang kemanapun jiwa dan langkah kakinya menggiring. "Selatan, timur, barat maupun utara semuanya sama saja" begitulah bathinnya.
Long fey kini duduk diatas sebuah pohon sambil memandangi para murid yang serius berlatih pedang, tiba tiba dia bersiul kearah master kun yang sedang melatih murid murid sekte bermain pedang.
"Master Kun, tolong beritahukan kepada semua master lainnya bahwa tiga hari lagi akan ada pertemuan penting di Aula sekte dan saya berharap tidak ada yang melewatkannya" Tatapannya yang tajam serta nada yang berat mengisyaratkan bahwa Long fey akan menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
"Sepertinya ada sesuatu yang sangat darurat, sebaiknya saya tak menundanya. entah apa itu tapi mengapa firasatku jadi tidak enak ya" begitulah fikiran master kun dan melanjutkan melatih para murid menggunakan pedang.
Dibelakang sebuah gubuk tua milik Long fey, terlihat sosok pria sepuh berjubah putih sedang sibuk menggali lobang. sambil sesekali dia menoleh ke arah sekitar untuk memastikan tak ada orang yang melihatnya.
__ADS_1
Setelah selesai menggali sebuah lubang yang kira kira sedalam 2 meter, dia mengubur sebuah peti persegi empat yang berukuran 30 centimeter. Kemudian dia membuat segel Pengunci dipeti tersebut, dia mengalirkan tenaga dalam dengan jumlah yang besar bahkan hampir menguras semua tenaga dalamnya.
Muncul sebuah rantai di masing masing telapak tangannya, satu berwarna putih dan satunya lagi berwarna hitam. jurus segel ini adalah gabungan dari dua jurus segel kuno yang dia pelajari dalam kitab terlarang aliran putih dan aliran hitam. jurus ini sangat sulit dipatahkan karna seseorang harus memiliki jurus tingkat tinggi dari aliran putih dan hitam.
Sedangkan sangat jarang bahkan bisa dihitung jari seseorang yang mempelajari dua aliran sekaligus.
Kitab segel terlarang aliran putih itu dia dapatkan dari gurunya dahulu sedangkan kitab segel terlarang aliran hitam dia dapatkan dari salah satu lawannya yang dia bunuh dalam sebuah misi sewaktu masih muda.
Setelah melakukan penyegelan dan penguburan kotak dalam lobang, kini dia duduk bersila dan mengumpulkan energi alam disekitarnya dengan bantuan sebuah pil berwarna putih seketika juga tenaga dalamnya kembali pulih.
"Sekarang tahap berikutnya" Gumam pria sepuh tersebut yang tak lain adalah Long fey.
"Tahap kuasa jurus segel ilusi "
Jurus ini akan membuat siapa saja dalam radius segel akan tenggelam dalam sebuah ilusi dimana diri orang tersebut akan berada di hutan tak berujung dan mengalami pertarungan tanpa henti dengan sosok yang menyerupai dirinya baik dari segi fisik maupun kekuatan hingga orang tersebut akan mati karena kelelahan, selain itu jurus ini juga akan membuat orang yang terjebak menghadapi ketakutan terdalamnya, Akan sangat mustahil untuk bisa lepas dari segel ilusi ciptaan Long fey yang satu ini, kalaupun berhasil selamat maka orang itu akan menjadi gila.
"Hufttt akhirnya saya bisa pergi bertualang dengan tenang, saya anggap ini sebuah harta karun peninggalanku hehehehe" Long fey cengengesan dengan mata yang mulai menyipit.
Dia menepuk nepuk jubahnya yang kotor dan kembali kegubuknya untuk menyiapkan barang yang akan dia bawa untuk bertualang. didalam hatinya dia bergumam "rasa rasanya semua wajah dalam petualanganku saat muda dulu kini mulai muncul satu persatu".
Note: LDP "Legenda Dewa Perang" adalah karya pertama saya dan Up 2 episode perhari, untuk itu terima kasih atas respon positif dari sob reader. Saya akan berusaha membuat kalian ikut berimaginasi disetiap episodenya.
Oh iya mungkin ada beberapa kesalahan dalam ketikan tapi saya mohon maaf untuk itu, maklum alur ceritanya mengalir diotak seperti air sungai jadi jari jari keteteran hahaha.
__ADS_1