Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
49. Mengamati


__ADS_3

Kini mereka bertiga telah menjauh dari kelompok Pisau terbang, Long fey berbalik dan menatap Tian Ma. tatapan yang tajam tanpa sepatah kata membuat kedua kuda tersebut saling memandang dan tiba tiba Long fey Salto kebelakang sambil menunjuk Tian Ma dan tertawa dengan keras "Hahahaaaaaa bagussss bagusssss Tian Ma, Bagussss saya suka gayamu. Kamu tadi harusnya membantu Tian Ma kalau perlu tadi patahkan kaki mereka semua, nanti saya yang awasi hahahaaa"


Kedua kuda tadi yang sempat diam akhirnya ikut ikutan tertawa melihat sikap Long fey. kini mereka bertiga melanjutkan perjalanan sambil sesekali saling mengganggu.


"Sepertinya malam ini kita harus mencari tempat beristirahat" Longfey menarik nafas sambil menengok keadaan sekitar.


Settttthhh


Longfey melompat dengan gesit dan menebaskan pedangnya disemak semak dan darah seketika juga terpercik kededaunan.


"Asikkkk rejeki nomplok, malam ini saya makan ayam dan kalian cari sendiri disemak semak banyak rumput segar tadi disitu haha" Longfey tertawa sambil menenteng ayam hutan 2 ekor.


Dia kemudian mengumpulkan ranting ranting kering dan menyiapkan makanan sekaligus tempat beristirahat.

__ADS_1


>>>>>>>


Bummmmmmmmm


"Suara apa itu?" Xie xiu menghentikan langkah kakinya dan memasang sikap siaga. merasa belum aman, dia langsung melompat keatas pohon besar dan mengamati keadaan.


"Uhmmmm sepertinya ada yang lagi bertarung, sebaiknya kita menonton dan jgn ikut campur" Liu jie mengedipkan mata kearah Xie xue tanpa ada rasa gentar sedikitpun.


Bagi kelompok bintang surgawi, pertarungan tersebut cukup menarik karena melibatkan beberapa pendekar tahap Langit tingkat menengah dan empat.


Menyadari aura pertarungan yang hebat, Shangdi dan Sirei segera menjalin komunikasi dengan Liu jie. Namun Liu jie menahan agar tidak ada yang bertindak karena kali ini dia sangat ingin bersantai menikmati pertarungan.


"Tuan yakin kita diam saja?" Sirei bertanya sekali lagi untuk memastikan keputusan Liu jie.

__ADS_1


"Tenanglah, andai kita ikut campur toh kita tak tau masalahnya apa, terus bukankah kita sesekali harus bersantai khihihi" Liu jie tertawa kecil sambil menutup mulutnya.


"Baiklah kalau itu mau tuan" Sirei kemudian memutuskan komunikasi dan kembali mengawasi Yura yang sedang berladang mawar api.


"Jie'er saya yakin kamu tertarik dengan ptia sepuh berwajah mayat itu kan?" Shangdi angkat bicara karena merasa hal seperti ini pasti akan menarik perhatian muridnya yang masih kurang mengenal jurus jurus didunia manusia.


"Iya guru, saya merasa ada yang salah dengan pendekar itu tapi entah jurus apa yang dia gunakan" Liu jie mencoba menganalisa pendekar yang seakan abadi tersebut dari kejauhan.


Liu jie kembali melanjutkan ucapannya "tapi guru meski dia tampak abadi, jika saya tak salah, setiap lukanya sembuh dengan sendirinya maka Taringnya semakin nampak".


"Hahaha pengamatanmu cukup jeli Jie'er, Nah Sirei sekarang jelaskan jjrjs yang digunakan orang itu ke Liu jie. saya mau tidur, pertarungan dibawah tahap dewa tak membuatku puas hahaha" Shangdi kemudian kembali tidur dan menyerahkan penjelasan kepada Sirei yang memang murni sosok iblis terlebih lagi Sirei adalah Legenda dari para iblis.


Mendengar perintah Shangdi maka Sirei segera menjelaskan jurus yang sedang digunakan pendekar tersebut "Sebenarnya jurus itu salah satu jurus yang dapat digunakan manusia jika dia telah menjual jiwanya kepada iblis kegelapan, namun sebagai gantinya Jika manusia tersebut terus menerus menggunakan jurus tersebut maka dia akan berubah menjadi iblis kemudian akan menjadi budak dari iblis kegelapan".

__ADS_1


"Ohhh begitu, memangnya kamu kenal dengan Iblis kegelapan?" Liu jie mengorek informasi sambil mengorek hidungnya mencari upil.


__ADS_2