Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
31. Air mata kebahagiaan


__ADS_3

Songhye segera berbalik dan berlutut dihadapan Liu jie setelah mendengar langsung kehebatan Liu jie dari mulut Xie xue. Songhey dan Xiaohe kini pucat karena takut telah menyinggung sosok pendekar hebat seperti Liu jie, melihat Raja dan Jenderal perang mereka berlutut ketakutan membuat para pasukan kerajaan batu lima yang berada disitupun ikut berlutut.


"Maafkanlah raja yang bodoh dan buta ini yang telah menyinggung pendekar, pengalaman dan kelema-" belum sempat Songhey menyelesaikan ucapannya tiba tiba Liu jie memegang pundaknya dan membantunya berdiri.


"Raja yang terhormat, cukup panggil saya Liu jie. kedatanganku disini untuk membantumu bukan untuk disembah jadi bangkitlah. Disini engkaulah pemimpinnya, Lihat sekelilingmu disaat engkau berlutut maka pasukanmu pun ikut berlutut, jadi daripada engkau membawa pasukanmu berlutut lebih baik kau bangkit dan bawa pasukanmu untuk memenangkan peperangan ini" Liu jie pun menepuk pundak Songhye setelah memberikan semangat.


Melihat sikap yang ditunjukkan Liu Jie, Songhye kini bangkit dan tersenyum "Pendekar, Saya hampir menghabiskan masa muda di medan perang namun baru kali ini saya bertemu dengan pendekar hebat namun sangat rendah hati, saya merasa seperti kedatangan seorang dewa" Songhye membungkuk memberi hormat kepada Liu jie kemudian berbalik kearah pasukannya dan menghunus pedang kearah langit tanpa sepatah kata.


Melihat tindakan Raja Songhey, spontan para pasukan yang berada di gerbang barat menyambut dengan teriakan slogan kebesaran kerajaan batu lima dengan suara yang menggelegar "Panjang umur sang raja dan jayalah kerajaan batu lima Huuuu Haaaaaa Huuuuu haaaaaa huuuu haaaa".


Slogan yang ditutup dengan yel yel Hu ha hu ha tersebut membuat Liu jie melotot dan bergumam dalam hati "Sungguh Raja yang dicintai rakyat".


Lamunan Liu jie kemudian buyar dengan satu tepukan Songhey dipundaknya "Liu jie mari kita masuk dulu, saya takut berlama lama di gerbang barat sehingga melewatkan hal penting di menara benteng pengawas".


"Baiklah... kakak, Xie xue ayo kita masuk nanti didalam baru saya akan memberitahukan rencana hebatku" Liu jie menyipitkan mata dan melambai kepada wen wen yang masih duduk di punggung Xie xue.


Sepanjang jalan menuju menara benteng pengawas, Liu jie dan kelompoknya mendapatkan sambutan yang hangat namun dengan sedikit ekspresi takut dari rakyat, melihat hal ini Liu jie hanya tersenyum memaklumi mengingat ada sosok singa api legendaris dari kekaisaran benua api.

__ADS_1


Songhey dan Xiaohe yang turut merasakan hal ini kembali merasakan semacam rasa bersalah kepada Liu jie dan kelompoknya mengingat rakyatnya memang tak mengetahui apapun tentang niat kelompok ini.


Sesampainya di menara, hal yang pertama dilakukan Songhye adalah memusatkan perhatian keseluruh penjuru kerajaan batu lima, sama seperti sebelumnya namun kali ini Songhye berniat menyampaikan maksud kedatangan Liu jie dan teman temannya.


"Rakyatku yang kucintai, berbahagialah karena kita kedatangan bala bantuan yang melebihi kekuatan tempur kekaisaran benua api, perkenalkan pendekar wanita disamping kiriku ini adalah cucu dari Tetua agung sekte harimau putih, disamping kananku ini pasti kita mengenalnya semua karena dialah sang legendaris Singa api dari kekaisaran benua api dan terakhir Pendekar bertopeng dipunggung Sang legendaris ini adalah Pendekar hebat yang akan membantu kita meraih kemenangan dalam pertempuran, yang lebih penting lagi dia adalah Pemimpin dari kelompok ini" Sebelum Songhye melanjutkan ucapannya, Dia mencoba menahan air mata kebahagiaannya dan kemudian melanjutkan ucapannya dengan sedikit linangan air mata bahagia "Berbahagialah wahai rakyatku, karena para dewa dan dewi pun turut berbahagia melihat keberanian kalian semua dengan mendatangkan bala bantuan yang teramat kuat ini".


Mendengar dan melihat Songhye mengucapkan hal tersebut terlebih dengan suara bergetar hebat menahan tangis harunya, para pasukan dan rakyat kerajaan batu lima serentak bersujud kepada para dewa dewi dilangit sambil menitiskan air mata.


Shangdi yang kini berada ditubuh Liu jie hampir saja keluar dari tubub Liu jie karena merasa manusia manusia dihadapannya ini adalah manusia yang faham dengan arti rasa syukur.


Xie xue, Sirei dan Moyu pun merasakan hal yang sama dan masing masing berjanji takkan membiarkan pasukan Kekaisaran benua api melukai manusia manusia dihadapannya tersebut.


Mendengar ucapan wen wen yang bagaikan api membara membuat Moyu semakin yakin bahwa pilihannya menjadi saudari wen wen adalah pilihan yang tepat.


Sedangkan tidak dengan Liu jie, dia memutar tubuhnya dan berfikir "Andaikan makan permen tak mengancam gigiku seperti dulu, mungkin ini saat yang tepat makan permen".


"Khyaaaaaaaaaaaaa saat saat momen seperti ini kamu malah memikirkan permen, dasar bocah tengik, harusnya sebagai calon Dewa perang harusnya kamu lebih serius" Shangdi kali ini betul betul terkejut mengetahui fikiran Liu jie.

__ADS_1


"Aaa aaapaaaa apa saya tak salah dengar guru? Saya? Calon Dewa Perang? Ahhhh guru kadang kadang suka melantur" Liu jie menyipitkan mata dan berkomunikasi lewat fikiran dengan shangdi karena dia merasa ada hal yang disembunyikan gurunya.


"Ahhhhh Dewa perang apanya, pasti kamu telingamu banyak kotorannya maka salah dengar, Kemampuanmu masih lemah mana mungkin menyamai dewa perang. sudahlah sebaiknya sekarang fokus dengan apa yang akan kamu lakukan sebagai pemimpin". Shangdi memberikan penjelasan tersebut dengan nada yang sangat meyakinkan karena tak ingin membocorkan ramalan kaisar langit yang mengarah pada murid konyolnya itu.


"Uhmmmm benar juga guru, telingaku kananku memang agak tersumbat, apa mungkin kuman dari sungut/kumis guru? kan guru suka menggodaku dengan memainkan sungut ditelinga kananku hahahahaha" Liu jie tertawa dengan cekikikan karena kali ini berhasil membalas gurunya dengan telak yang suka menggodanya dengan sungut sungutnya.


Shangdi sebenarnya mau marah tapi dia berfikir membiarkan Liu jie bahagia agar segera lupa dengan pembahasan dewa perang.


tak berselang lama, salah satu prajurit pengintai Songhye muncul disisinya dan berlutut "Lapor yang mulia, terdapat satu pasukan kecil sedang menunu gerbang selatan dan satu lagi sedang menuju gerbang timur, masing masing pasukan terdiri dari 1000 orang tentara dan disetiap pasukan dipimpin oleh komandan yang setidaknya berada di tahap pendekar Raja tingkat 2. sedangkan sisa pasukan lainnya masih belum bergerak, dipasukan tersebut terdapat sekitar dua puluh pendekar tahap kaisar tingkat 5 dan lima pendekar tahap langit tingkat 3 yang selalu berdiri tak jauh dari para jendral".


Mendengar laporan tersebut, Songhye tidak menampakkan ekspresi gentar. dia memberi tanda kepada Xiaohe untuk segera mengatur dan mengirim pasukan mengamankan gerbang selatan dan timur. Xiaohe pun segera melompat dan memberi aba aba kepada komandan perang yang telah dia tunjuk sebelumnya menjadi penjaga Gerbang selatan dan timur untuk segera membawa pasukannya menghadapi musuh, Xiaohe juga menyampaikan agar mereka masing masing membawa 20 prajurit elit kerajaan, dimana kekuatan tempur prajurit ini setara dengan pendekar raja tahap pertama.


Mendengar perintah dari Xiaohe, empat puluh prajurit elit segera berlutut dan melompat memecah diri menjadi dua kelompok dan berlari dengan rombongan pasukan masing masing ke gerbang selatan dan timur.


"Kakak wen tetaplah disini, ada hal yang telah kurencanakan untukmu" Liu jie mencoba menahan wen wen setelah melihat kakaknya mengeluarkan pusaka golok hijau.


"Baiklah Jie'er, disini kamu pemimpinnya. kakak akan menuruti perintah" sahut wen wen kemudian memasukkan kembali pusaka golok hijau kedalam tubuhnya.

__ADS_1


Semua mata kini tertuju kepada wen wen setelah melihat sebuah senjata dengan aura mengerikan dapat muncul dan menghilang begitu saja ditangan seorang pendekar wanita muda yang berparas cantik nan jelita.


Songhye lagi lagi melotot kaget seakan biji matanya akan jatuh, keningnya mengeluarkan keringat dan wajahnya tiba tiba pucat sambil berfikir "Gadis yang cantik ini ternyata sangat mengerikan, bahkan saya dan xiaohe saja tak mampu melakukan hal itu sedangkan dia melakukannya dengan santai, terus sekuat apa Pria bertopeng ini sehingga mampu menjadi pemimpin mereka, untung saja pertemuan digerbang barat tadi prajurit Yan menengahi kami, jika tidak maka bisa dipastikan Kerajaan ini akan runtuh sebelum berperang".


__ADS_2