Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
35. Tugas dari Liu jie


__ADS_3

"Baiklah jika memang itu sudah menjadi keputusanmu, saya yakin kelak mereka akan berutang budi sehingga tak akan menyerang kerajaan kami lagi. tak diragukan lagi Tuan pendekar memang pantas menjadi seorang pemimpin, pemimpin yang kuat, cerdas dan bijaksana" Songhye sangat kagum dan memberi hormat kepada Liu jie.


"Sebaiknya kita segera menyelesaikan ini... Xie xue kamu sembunyi dulu dialam dimensiku bersama Sirei, kak Wen pegang tanganku. Raja Song, perintahkan pasukanmu bersiap siap" Liu jie memberi arahan sebagai bagian kecil dari rencananya.


Mendengar perintah Liu jie, Songhye segera mengutus Xiaohe untuk menjalankan keinginan Liu jie. Dengan jurus andalannya, Liu jie membawa Wen wen berteleport kehadapan barisan musuh yang belum bergerak.


Fiusssstttttt


kemunculan Liu jie dihadapan jenderal kekaisaran benua api dan pasukannya yang disertai hembusan angin membuat semua pasukan tersebut kaget dan spontan memasang kuda kuda siaga.


"Siapa kau?" Salah seorang komandan di barisan terdekat Liu jie segera menghunuskan Goloknya karena merasakan aura kekuatan yang dahsyat.


Kemunculan dengan jurus teleport memang hanya dapat dilakukan pendekar pendekar dengan kemampuan yang tinggi. itulah yang menjadi alasan komandan tak perlu meragukan kehebatan pendekar bertopeng dihadapannya.


"Melihat kesiapan kalian, Sepertinya pasukan pengintai digerbang timur sudah menyampaikan situasinya ya haha" Liu jie memprovokasi untuk menjatuhkan mental pasukan tersebut. namun tidak dengan para komandan, pendekar kaisar, pendekar langit dan ketiga jenderal tersebut.


Salah seorang dari pendekar kaisar berjalan menerobos barisan pasukan, dia menghampiri liu jie dan berhenti pada jarak aman sekitar 10 meter.


"Jika hanya si benang maut, bahkan saya sendiri bisa membunuhnya tanpa bergerak. jangan sombong kau cuihhhhh" pria yang berada pada tahap pendekar kaisar tersebut meludah kearah liu jie karena merasa Liu jie terlalu angkuh dan meremehkan mereka dengan datang hanya bersama seorang gadis muda.


"Sepertinya ulat kecil seperti kamu cocok menggunakan topeng motif ular tersebut, jangan berharap untuk kembali dalam keadaan utuh, kecuali gadis itu, dia akan kubiarkan hidup untuk menjadi boneka pemuas nafsuku" lagi lagi pendekar tersebut merendahkan Liu jie dan wen wen.

__ADS_1


Mendengar dirinya dihina mampu membuat Liu jie tetap tenang namun mendengar Wen wen dihina seperti itu, Mata Liu jie mendadak merah. Kini dia tiba tiba melayang sekitar dua jengkal dari tanah, rambutnya ibarat sebuah bendera yang dikibaskan angin, Urat urat dikepalanya mulai muncul.


Liu jie yang dalam kondisi seperti ini membuat semua yang ada disitu tak terkecuali Wen wen terduduk ketakutan.


Wen wen masih ingat jurus pemusnah dewa Liu jie saat dibukit menyerang Xie xue, saat itu dalam kondisi sepenuhnya sadar, Liu jie hampir membunuh semuanya. Wen wen semakin takut, dia membayangkan apa yang akan terjadi jika Liu jie mengamuk dalam kondisi emosi.


Wen wen melawan rasa takutnya dan berniat menarik Liu jie untuk segera sadar dan mengontrol diri Namun baru selangkah dia maju tiba tiba Liu jie mengarahkan telapak tangannya mengarah pendekar itu dan mengucapkan suatu jurus dengan suara yang pelan dan dingin.


"Jurus penyiksa neraka ketujuh" tiba tiba masing masing telapaknya mengeluarkan dua tangan kurus berwarna hitam pekat dan berbau busuk. keempat tangan itu masing masing memegang tangan dan kaki pendekar tersebut dan mengangkatnya sehingga tubuhnya melayang di udara.


Tangan tersebut menyegel tenaga dalam pendekar itu sehingga tampak dia hanya pasrah mengambang diudara, tubuhnya serasa dikuliti dari dalam dan bahkan kulitnya kini perlahan lahan menjadi kering.


setelah mengamankan wen wen, kini Liu jie berteriak "Kau manusia sombong jangan mati dulu, saya akan memperlihatkanmu arti sebuah kesombongan. Sirei, Xie xue, Moyu keluar sekarang juga".


Jeeeddddaaaarrrrrrrrrrr


Sirei Muncul dengan seringainya yang memancarkan aura kegelapan malam hingga membuat semua orang terasa sesak nafas bahkan pendekar langit dan ketiga jendral pun turut merasakan hal tersebut. Kemudian disusul Xie xue dan Moyu.


Pasukan yang melihat Sirei, Xie xue dan Moyu berhamburan tak tentu arah, mereka semua tau betul kekuatan Xie xue, namun Sirei dan Moyu meski tak ada info yang jelas tentangnya tetap saja bagi mereka sosok sirei dan moyu tak kalah hebatnya dari Xie xue. merasa kematian ada didepan mata, salah seorang Jenderal memerintahkan untuk mundur "Mundurrrrrrrrrrrrrrrr".


"Setelah membuat tuanku marah, jangan bermimpi akan bisa pergi begitu saja" Xie xue melompat dan menyemburkan api biru yang besar sehingga membentuk sebuah lingkaran yang mengurung semua pasukan tersebut.

__ADS_1


"Moyu tugas untukmu adalah memberikan siksaan kepada pria sombong ini karen telah menghina Wen wen, Xie xue saya mau kamu menjaga agar tak ada yang bisa lari dan jika perlu bunuh mereka yang berniat menyerangmu, sedang kau Sirei bersenang senanglah dengan ketiga jendral itu setelah itu binasakan mereka bertiga beserta pendekar langit dan kaisar yang melindunginya, biarkan prajurit prajurit yang lain hidup". Liu jie tak menampakkan ekspresi bercanda, mereka tau bahwa selama mengenal sosok Liu jie, baru kali ini tuannya tersebut menunjukkan hal seperti ini.


Moyu yang muncul sebagai ular dengan ukuran monster kini menghampiri pria yang sombong tadi, Dia menjulurkan lidahnya yang ujungnya setajam belati basah berlumur cairan asam. sejengkal demi sejengkal Moyu menguliti tubuh pria tersebut dengan lidahnya, rasa perih dan pedih akibat sayatan dan cairan asam membuatnya menangis dan berteriak histeris. Moyu terlihat sangat menikmatinya, setiap satu teriakan sakit dari pria itu seakan memberi satu semangat kehidupan kepada moyu "Ya menjeritlah sekeras kerasnya, ekspresi dan teriakanmu sungguh membuatku ketagihan" ucap moyu sambil terus menguliti tubuh pria tersebut.


Kini tampak dari ujung kaki hingga leher pria itu sudah tak memiliki kulit, hanya daging merah yang tersisa, perlahan lahan Moyu menguliti kulit kepala pendekar tersebut, turun ke pelipis dan memutar kehidung, telinga dan bibir. tak ada sedikitpu yang terlewatkan.


Liu jie yang merasakan pria itu akan mati, kini segera melayang dan menghampiri pria tersebut dan berkata "Tataplah wajahku, dikehidupan berikutnya sebaiknya kamu lari jika melihatku" setelah mengucapkan beberapa kalimat, Liu jie kemudian menatap mata pendekar itu, sebuah api berwarna hitam keluar dari tatapannya dan seketika itu juga tubuh yang mengambang tanpa kulit terselimuti api hitam yang membakarnya hingga menjadi abu.


"Kamu takkan layak mendapatkan sebuab pemakaman cuihhhhh" Liu jie kemudian meludah keudara seakan meludahi debu debu pendekar kaisar yang melecehkan Wen wen tadi.


Setelah merasa puas, Liu jie kembali mendarat dan dengan segera memerintahkan Moyu untuk masuk ke alam dimensinya menenangkan Wen wen yang kemungkinan sedang mengalami ketakutan yang luar biasa.


Liu jie menatap Xie xue yang bersiaga di area luar lingkaran pembatas api biru miliknya, Xie xue berubah menjadi lebih besar dan taringnya tampak memanjang turun melewati dagunya sepanjang dua jengkal. taring itu lebib mirip sebuah api biru dibanding taring alami seekor singa. Matanya yang tadinya hanya dua kini bertambah satu dikeningnya.


Xie xue mengaum keras sehingga membuat tanah didalam lingkaran bergetar, terlihat retakan retakan kecil ditanah.


"Andaikan bukan karena perintahku, sudah dipastikan Xie xue sudah membakar mereka semua bagaj daging dalam kuali". Gumam Liu jie dalam hati.


Sedangkan Shangdi lebih memilih diam karena menurutnya, memang sudah sepantasnya sosok calon dewa perang mulai belajar arti membunuh dan menyiksa.


"Baiklah Sirei, saya akan menunggumu dengan Xie xue. sekarang bersenang senanglah" Liu jie menepuk pundak Sirei yang kini menampakkan wujud aslinya, wujud seekor Serigala hitam berekor sembilan dengan seragam perang kebanggaannya.

__ADS_1


__ADS_2