
Liu jie yang telah berhasil mencuri perhatian ribuan pasang mata disekitar arena ternyata mengundang berbagai macam respon. tidak sedikit diantara mereka yang hadir baik rakyat biasa maupun dari kalangan pendekar berdecak kagum dan berkhayal andai Liu jie menjadi bagian dari hidup mereka pasti itu akan sangat membahagiakan, namun tak sedikit juga yang kebalikannya. Liu jie dianggap sebagai ancaman di masa depan dan harus segera dilenyapkan sebelum berkembang pesat.
Akan tetapi wen wen yang jenius mampu menganalisa dan merasakan ke dua respon tersebut. Dengan sigap Wen wen bergerak ke arah Liu jie dan mengajaknya untuk segera meninggalkan arena "Ayo Jie'er kita kembali ke penginapan dengan master jun dan senior yang lain".
Mereka pun bergerak meninggalkan arena menuju ke penginapan. "Liu jie apa kamu menguasai jurus menyembunyikan aura?" salah seorang senior wen wen mencoba untuk mengorek informasi dari Liu jie.
"Bagaimana ya, uhmm sebenarnya saya memang masih di tahap bumi pertama tapi mungkin karena ketekunan dan latihan yang keras selama ini jadi saya mampu mengoptimalkan berbagai jurus, ya salah satunya jurus menyembunyikan aura" Liu jie menjawabnya apa adanya namun tetap memperhalus jawabannya agar mudah dicerna.
"Kalau begitu sebenarnya kamu ada ditahapan apa?" wen wen yang mendengar jawaban Liu jie kemudian menyambarnya dengan jawaban karena menurut mereka semua besar kemungkinan Liu jie sebenarnya ada ditahap pendekar kaisar.
"uhmmm bagaimana ya kak, apa saya harus menjawabnya? apa ini persyaratan menjadi adiknya kakak dan ikut bergabung dalam kelompok ini kak?" Liu jie menjawab wen wen dengan pertanyaan namun ekspresi yang dia tunjukkan sebenarnya seakan berkata Jangan memaksaku dan jika ingin mengakhiri hubungan ini sebaiknya akhiri sekarang.
Wen wen yang segera menyadarinya kemudian tiba tiba memeluk Liu jie dan berbisik ditelinganya "Jie'er apapun masa lalumu maka itu adalah milikmu, maafkan kakak telah melukai perasaanmu".
Sebelum wen wen melepaskan pelukannyanya, Liu jie juga membisikkan sesuatu sehingga membuat wen wen terharu "Kakak, terima kasih".
meskipun mereka saling bisik namun tetap saja master Jun dan anggota kelompok wen wen mampu mendengarnya, melihat dan mendengar hal tersebut akhirnya mereka memutuskan untuk tak mencoba mempersulit keadaan Liu jie.
"Sebelum kembali ke penginapan, bagaimana kalau kita mampir kerestoran itu tampaknya perut Liu jie semakin tak bersahabat , sekaligus kita rayakan lolosnya wen wen dan Jie'er di ronde pertama" Guru jun mencoba memecah situasi yang semakin canggung.
"Sepertinya manusia ini cerdas, tak heran muridnya pun jenius" kini giliran dewa naga yang mencoba menganalisa situasi namun tentunya itu hanya dalam bathinnya.
Kini mereka semua kembali ceria dan bersemangat seakan situasi canggung tadi hilang bersama dengan angin. raut wajah yang bahagia serta situasi kekeluargaan yang kental terasa dalam kelompok ini. Liu jie memang bodoh namun dia mampu menyadari hal itu. kini setelah merayakan kemenangan wen wen dan liu jie, mereka kembali kepenginapan untuk segera beristirahat.
__ADS_1
"Guru disini hanya ada 1 kamar untuk untuk kelompok pria, kalau saya mau mandi tentunya mereka akan melihat guru yang melingkar ditubuhku. Apa guru bisa menyembunyikan aura guru seakan guru hanyalah sebuah Tatto di tubuhku?" ucap Liu jie dalam komunikasi fikiran.
"Bodohnya cucumu ni dewa tua" gumam dewa naga ke rekan nya di alam dewa yang tak lain dewa matahari. kemudian dia melanjutkan gumamannya "muridku jie'er buka sedikit otakmu, saya ini gurumu dan menyandang gelar Dewa Naga Emas, jangankan menyembunyikan auraku sampai titik nol, bahkan dihadapan para dewa pun saya bisa menyembunyikan auraku kecuali Kaisar langit, Kakekmu, Dewa Bulan dan Dewa neraka. hebat kan gurumu ini? ya sudah cepat selesaikan urusanmu, guru bisa menjaga diri".
Liu jie perlahan lahan membuka bajunya dan tampak tatto seekor Naga emas meliuk liuk ditubuhnya. jelas hal tersebut menarik perhatian teman teman sekamarnya.
"Liu jie, itu ditubuhmu aungguh tatto yang indah. dimana kamu membuatnya? ah nanti saya juga mau membuatnya tapi hanya melingkar di lengan saja biar tampak gagah haha" dengan tatapan mata yang sangat menginginkan tatto seperti liu jie, Hao ling berkhayal lenganny yang bertato terua menghajar musuh musuhnya sehingga dikenal dengan pendekar tatto naga hitam. "Uaahhhhh saya sudah tak sabar" teriak hao ling secara tiba tiba sehingga membuat semua yang ada dikamar melompat kaget.
mereka saling menatap dan kemudian serentak tertawa uahahahahaaaaaa.
Tok tok tok...
"Jie'er ini wen wen, apa kamu didalam?"
"Eh kakak, ada apa malam malam begini mencariku?" sahut Liu jie namun tampaknya dia masih bingung karena sekarang sudah pukul 23.15
"Kak, tutup matamu dan jangan buka sebelum saya menyuruh kakak membukanya" Liu jie segera memeluk wen wen dan hilang bersama dengan angin lewat jurus teleportnya.
Liu jie kemudian tiba diatas sebuah batu besar ditengah tengah sungai, sungai itu sungguh jernih bahkan dengan bantuan sinar rembulan kini dasarnya tampak jelas, ikan berenang melawan arus serta tumbuhan air meliuk liuk mengikuti irama sungai membisikkan. kanan kiri sepanjang mata memandang hanya terlihat padang rumput hijau dengan kunang kunang beterbangan. namun liu jie tetap memeluk wen wen karena dia takut keterketujan kakaknya akan membuatnya terpeleset jatuh sama seperti dulu saat pertama kali dia mendatangi alam dunia beserta kakek dan gurunya dewa naga emas.
"Kak, jangan lepaskan peganganmu dan disaat kakak membuka mata mata maka nikmatilah, sekarang bukalah matamu kak" Liu jie tetap memeluk kakaknya, namun kali ini gantian liu jie yang memejamkan matanya seakan membiarkan kakaknya menikmati keadaan hingga puas.
Setelah membuka mata, wen wen bukan hanya kagum dengan apa yang dia lihat. kali ini matanya melihat namun mulutnya terdiam, rasa bahagia dia penjarakan selamanya dihatinya dan rasa kegelisahan dia bebaskan keluar dari hatinya. setelah puas melihat sekelingnya kini dia baru sadar bahwa adiknya menutup mata dan masih memeluknya, dia memandangi adiknya yang bertopeng dengan diiringi butiran air mata kebahagiaan, ternyata adiknya bukan hanya konyol tapi sangat pandai membuat seseorang bahagia meski dalam diamnya.
__ADS_1
"Jie'er kakak sudah puas, entah kenapa hal yang selama ini mengganjal dalam hati kakak tiba tiba sirna. kini kk jadi faham ternyata perasaan itu adalah kesepian dan kerinduan yang mendalam kepada Almarhum adikku yang dulu satu satunya harta berharga peninggalan orang tuaku, tawa dan kekonyolannya sungguh membuatku rindu. meskipun selama ini kakak ada ditengah tengah keramaian namun kakak masih merasa sepi, sekarang meski ditengah kesunyian tetapi rasa kesepian itu menghilang dengan sosokmu, semenjak kau hadir dalam hidup kakak, kakak merasa hidup ini jadi berwarna. Terima kasih Jie'er"
Tiba tiba Liu jie dengan gesit memutarbtubuh wen wen, dan menangkap sesuatu diudara yang melesat dengan cepat. mata wen wen langsung terbelalak melihat anak panah yang ditangkap Liu jie tepat diposisi jantung wen wen sesaat sebelum Liu jie memutar tubuh kakaknya.
Suasana hatinya yang tadi sangat bahagia, kini seratus delapan puluh derajat berubah menjadi siaga penuh. dalam hati ia berfikir "kenapa saya begitu ceroboh bahkan tak mampu merasakan ancaman yang datang, andai Liu jie tak segera memutar tubuhku dan menangkap anak panah itu tentunya sekarang dijantungku akan bersarang anak panah".
"Kakak maaf ya, saya harus menghentikan kebahagiaan kakak tadi tapi tenang saja sebagai gantinya, kakak sekarang silahkan duduk disini dan nikmatilah pertunjukan menarik dibawah sinar rembulan yang indah ini, oh iya kak apapun yang kakak lihat sebentar anggap itu hadiah dari adik barumu ini dan jangan bilang siapa siapa dengan apa yang akan kakak lihat okey" Liu jie mengedipkan matanya ke arah wen wen dan kemudian menghilang.
kini dengan bantuan sinar rembulan, wen wen dapat melihat Liu jie berdiri ditengah tengah padang rumput penuh kunang kunang. Sebuah pemandangan yang menakjubkan melihat seseorang bertarung dipadang rumput hijau, dibawah sinar rembulan serta dihiasi dengan kunang kunang.
"Saya hanya tau berhitung satu sampai tiga, jika kalian tak muncul dalam hitungan ke tiga maka saya akan menyeret kalian kesini agar mau bertarung, hummm siapa suruh cari masalah denganku?" Liu jie memberikan peringatan yang disertai energi kuat membuat mereka yang mendengarnya seakan mendengar seorang malaikat maut berbicara.
"SATUUUUUU"
"TIGAAAAAAA"
Arghhhhhhhhhhhh
oaaahhhhhhhhh
Khiaaaaaaaaaaaaa
Teriakan demi teriakan menggema dibalik hutan, setelah beberapa detik kemudian Liu jie muncul dari balik hutan yang gelap dan perlahan menuju ke tengah padang rumput, namun wen wen sontak kaget bukan kepalang melihat Liu jie yang berjalan gontai santai kaya dipantai sambil menenteng tiga kepala manusia tanpa tubuh.
__ADS_1
pemandangan yang sangat mengerikan bagi seseorang meskipun dia adalah seorang pendekar namun jika mentalnya belum kuat pastinya dia seakan melihat malaikat maut.
Melihat secara langsung membuat Wen wen hanya mampu memikirkan 1 kesimpulan "Liu Jie adalah sosok dewa bagi orang yang dia sayangi sekaligus sosok Malaikat maut bagi musuhnya".