Legenda Dewa Perang

Legenda Dewa Perang
55. Datang Bulan


__ADS_3

"Sirei, tarik aura pembunuhmu dulu. itu bisa membuat mereka semua pingsan, sekarang mending kamu ceritakan padaku cara menggunakan pusaka baru ini ikhihihii" Liu jie tertawa kecil karena penasaran roda api yang kecil ternyata adalah pusaka yang sangat istimewa.


Belum berselang lama iblis kegelapan muncul dan menepati janjinya seperti yang diminta Liu jie "Tuan saya sudah menepati janji, saya harap kamu pun demikian".


"Sudah sudah, tak usah banyak omong sini gabung dengan kami makan dulu" Liu jie mengajaknya namun mata, tangan dan mulutnya sibuk bertarung dengan ayam panggang bumbu pedas.


Melihat adanya kesempatan melarikan diri, iblis kegelapan dengan sesegera mungkin membuka portal kegelapan dilangit dan melarikan diri.


"Sudah sudah biarkan saja dia pergi, mari kita makan"


Liu jie dan mereka semua akhirnya melahap habis makanan yang ada dan melupakan sejenak kegaduhan serta area sekitar yang porak poranda.


"Baiklah acara sudah selesai, kami mau melanjutkan perjalanan. saran saya, mending kalian pulang dulu ke sekte kalian sebelum melanjutkan pertarungan okey" Liu jie mengedipkan mata kearah pendekar pendekar yang tadinya bertempur, sambil memberi tanda kepada anggota bintang surgawi bahwa sudah saatnya melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


"kak Wen wen ayo kita jalan berdua, yang lainnya kembali kedimensiku ya" Liu jie kemudian berjalan dengan santainya sambil bersiul siul pertanda hatinya sedang damai karena kenyang.


"Jie'er sekarang kita mau kemana?" Wen wen mencari tau arah tujuan sambil ngos ngosan karena kekenyangan.


"Tujuan kita selanjutnya adalah mencari tempat istirahat sebelum kamu muntah karena kekenyangan hahahaaa" Liu jie tertawa sambil menunjuk wen wen yang memang sdh kewalahan karena kenyang.


Dbukkkkkkkkk


"Auuuhhhhh sakit kak"


"Datang bulannnn? uhmmmm kalau datang bulan emangnya ga boleh ya kak diejek?"


"Ya iyalahhh, pokoknya kamu harus mengalahhhh hummm" Wen wen makin beringas sehingga membuat Liu jie takut.

__ADS_1


"Ahhhh kakak bikin aku takut, awas ya kak kalo nanti saya datang bulan jangan dekat dekat, mungkin saya bisa lebih beringas" Liu jie menengadahkan kepala keatas sambil membayangkan keganasannya.


Djbukkkkkkkkkk


"Hahaha mana bisa laki laki datang bulan, itu kodrat wanita. sudah sudah gosah bahas lagi mending kita cari lokasi istirahat" Wen wen berjalan dengan nafas yang mendengus kesal.


Melihat wen wen bertingkah seperti itu membuat Liu jie menggaruk kepalanya sambil berjalan mengikuti wen wen, Liu jie masih mencoba menganalisa dan memahami seperti apa datang bulan itu dan kenapa hanya wanita yang boleh datang bulan.


"Uhmmmm nanti kalo saya kembali kekhayangan akan saya tanyakan kepada dewi bulan ah kok hanya wanita yang datang bulan, kan gak adil ckckckk" dengan ekspresi berpikir mengusap dagu Liu jie cekikikan sendiri dibelakang wen wen.


"Dasar murid ******, coba berani tanya dewi bulan kalo mau kepalamu benjol buahahaaa" Shangdi yang telah lama mengamati keadaan kini ikut bicara.


"Jiahhhhh guru bangun juga, saya kira guru sudah lupa bangun hahaa. oa guru kok saya merasa makin hari guru makin melemah? ada apa guru?" meski konyol tapi Liu jie memiliki indera yang sangat tajam dalam menganalisa dan mengukur kekuatan kawan maupun lawan.

__ADS_1


"Sebenarnya jika guru terlalu lama dialam dunia maka perlahan lahan tenaga guru akan terhisap oleh inti bumi, maklum energi seorang dewa sangat murni jadi bumi ibarat anak kecil minta jatah hahaha" Shangdi tertawa kecil bercampur sedih karena tidak lama lagi harus meninggalkan murid satu satunya didunia ini.


__ADS_2